Sabtu, 16 Agustus 2014

Curhatan Emak Pedagang Online

I want to start this writing with a praise to Allah. Why? Karena Allah nggak mengijinkan saya menulis ini akhir Juli lalu. Ketika otak saya masih beku. Saat hati saya masih panas. Tapi Allah akhirnya memberi saya waktu yang tepat untuk menulisnya. Saat Dia telah membantu saya menyelesaikan permasalahan ini, with a beautiful ending.

Masalahnya apa sih? Wekekeke...Pembukanya lebay banget, yah?

Sebagai IRT yang ngaku-ngaku pengen produktif, salah satu di antara beberapa hal yang saya kerjakan dari rumah adalah jualan online. Akhir-akhir ini saya lebih memilih jadi dropshipper daripada harus numpuk barang di rumah. Actually, alhamdulillah ngga banyak-banyak amat dinamika yang pahit pernah saya alami sejak jualan model kirim-mengirim barang. Paling customer yang nggak puas dengan kualitas produk trus minta tukar barang. Untuk perkara ini alhamdulillah produsen tempat saya jadi reseller juga welcome.

Baru Ramadhan kemarin ada dua kejadian yang mirip dan tidak sama saya alami. Dua kejadian itu berkaitan dengan proses pengiriman barang. Qodarullah pula keduanya melibatkan ekspedisi yang berbeda.

First case. Setiap Ramadhan perkara paket nyampe terlambat macamnya sudah biasa. Suatu hari saya mengirim dengan JNE Yes (Yakin Esok Sampai) karena paket yang saya kirim memang butuh segera sampai. 24 jam setelah saya kirim, ternyata paket belum sampai. 50 jam setelah saya kirim paket belum nyampe juga. Saya lantas mengambil screenshot setiap saat saya track paket itu. Jaga-jaga siapa tahu saya butuh claim garansi layanan JNE Yes. Setelah lewat 50 jam itu akhirnya saya telepon pihak JNE. Well, mereka profesional. Mereka katakan kiriman paket saya statusnya dinyatakan "gagal". Paket tetap akan diantarkan ke penerima dan saya berhak mengajukan klaim. Proses mengajukan klaim juga mudah. Saya diminta datang ke agen tempat saya mengirim barang dan mengisi beberapa form yang sudah disediakan pihak JNE. Sertakan resi pengiriman asli dan fotokopi KTP, beres deh. Klaim yang saya ajukan cair.

Untuk case pertama, mudah karena paket saya kirim sendiri. Untuk case kedua, lumayan ribet karena saya dropship. Kisahnya berawal dari dropship yang saya lakukan per tanggal 8 Juli 2014. Nominal transaksinya lumayan, almost setengah juta (pake juta biar kelihatan banyak, hahaha). Saya menjanjikan kepada customer bahwa paket akan nyampe sekitar 4 hari berdasar layanan ekspedisi yang digunakan. Tanggal 14 Juli 2014 customer saya mengabari bahwa paketnya belum dia terima. Okay, saya langsung calling supplier minta nomor resi. Setelah dapat dan saya cek, alhamdulillah paket sudah di kota tujuan. Well, saya langsung meneruskan informasi kepada customer. Esok harinya saya track lagi itu nomor. Alhamdulillah udah " SUCCESS" statusnya. Ada yang mengganjal sih di benak saya. Nama receiver bukan nama yang tertera di cover paket. Tapi saya sangka baik aja.

Ganjelan di hati saya mulai terbukti ketika tanggal 24 Juli 2014 customer saya menanyakan paketnya. Kenapa belum nyampe juga?  Nah lo, lalu itu paket nyampenya ke mana dan yang nerima siapa? Saat itu juga saya langsung menghubungi supplier dan ekspedisi buat konfirmasi. Ajib jawaban dua-duanya. Supplier mengatakan bahwa kewajiban mereka selesai begitu paket mereka masukkan ekspedisi. Ekspedisi mengatakan bahwa kewajiban mereka sudah selesai karena paket sudah dikirim ke alamat yang sesuai. Waktu itu pengen ketawa sambil nangis rasanya.

Memang alamat tujuan paket itu adalah sebuah sekolah. Menjadi alasan supplier dan ekspedisi bahwa yang menerima belum tentu nama di cover paket. Buat saya, sekolah adalah tempat umum. Nggak hanya murid, guru dan perangkat sekolah yang bisa masuk, tapi juga tamu. Seharusnya kurir lebih hati-hati menyampaikan paketnya. Kasih ke satpam, kek. Atau paling tidak mintalah nomor hape si receiver. Parahnya lagi, customer saya tidak mengenal nama si receiver itu.

Sudah lengkaplah alasan untuk saya menanggung rugi. Akhirnya terpaksa (jujur aja ada rasa terpaksa) saya mengembalikan uang customer. Lalu saya mengirim surat elektronik ke customer service TIKI (ekspedisi yang digunakan waktu itu). Saya sampaikan kekecewaan saya kepada mereka. Dalam hati saya udah bulat tekad kalau mereka ngga kasih tanggapan positif, saya mau spread ini case ke surat pembaca media massa, blog dan media online lainnya.

Waktu itu cepat banget respon pihak TIKI. Mereka berjanji akan melakukan investigasi. Syukurlah, batin saya. But, that's it rupanya. Sampai hari ini saya tidak menerima hasil investigasinya. Seiring waktu sebenarnya saya mulai ikhlas, memilih introspeksi diri. Kesalahan barangkali ada di saya. Mungkin ada rizqi saya yang harus dibersihkan Allah dengan cara ini.

Sampai akhirnya tiga hari yang lalu customer saya kirim pesan whatsapp. Dia bilang ternyata paketnya diterima sesama rekan di sekolah itu. Langsung dimasukin laci dan lupa menyerahkannya. Dan memang, nama rekan kerja itu berbeda dengan nama yang tercatat di hasil track sebagai receiver. MasyaAllah... Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah jika Dia berkehendak. Nggak akan berpindah rizqi itu jika sudah Allah beri. Saya jadi makin cinta sama Allah. Makin yakin akan kasih sayang, janji dan keadilan-Nya. Makin sadar akan campur tangan-Nya. Alhamdulillah ya Allah... Jika kejadian waktu itu untuk membersihkan rizqi saya, semoga Allah bersihkan terus di dunia, agar ringan hisab saya di akhirat nanti. 

Alhamdulillah waktu itu Allah jaga hati, lisan dan tangan saya dari menyebarkan kekecewaan saat saya masih diliputi emosi negatif. Makasih ya Allah untuk jawaban indah dari-Mu.

Semoga Allah jaga kita dan ahli keluarga kita dengan cara hanya memberi kita rizqi yang halal dan barokah. Aamiin...

Djogdja, 16082014
~eMJe~


Kamis, 14 Agustus 2014

-=Zahro's HS Journal: Peluk & Hafalan Surah Al-Kafirun Story=-

Surah Al-Kafirun ada enam ayat. Ayat ke-3 dan ke-5 sama isinya. Sering ada yang salah baca, nggak? Hehehe... Kenyataannya, Zahro sering terlupa melafalkan ayat ke-4 dan ke-5 saat dia sholat. Begitu selesai tiga ayat, langsung aja dia baca "Lakum diinukum waliyadiin".

Dua hari yang lalu kami memutuskan untuk memperbaiki hafalan Al-Kafirun itu. Karena dia sudah mulai membaca Al-Qur'an, saya minta dia melihat Juz 'Amma anak yang full color dulu. Biar menarik maksudnya. Rupa-rupanya, di juz 'Amma itu ada bahasa Arab yang dilatinkan. Zahro merasa mudah membacanya, sehingga itu yang dia baca dan bukan tulisan Arabnya. Padahal ya kalau salah baca jadi salah bunyi. Malah tambah belepotan makhrajnya. Hehehe... Dan saya alpa, Zahro adalah tipe pembelajar dominan auditori, bukan visual. Kesimpulannya, perbaikan hafalan hari itu... gagal. :D

Lantas saya mencoba metode yang lain. Menyertakan stimulus suara untuknya. Tetap melihat juz 'Amma, sekaligus memutar mp3 Al-Kafirun dengan memilih Qari yang bacaanya tidak terlalu cepat. Alhamdulillaah ada progressnya metode ini. Meski saat murojaah tetap ada " tet-tot"nya, tapi dia udah ngeh mana yang benar dari bacaan yang saya respon "tet-tot" itu.

Sehari-hari, reward yang diminta Zahro amat sederhana. Peluk dia sebelum tidur. Kata Abinya, "Mahar yang amat mudah," hehehe. Karenanya, negative reinforcement Zahro juga sederhana, tidak dipeluk sebelum tidur. Pusing deh dia kalo udah terancam dapat negative reinforcement ini. :D

Nah, dia punya new habits yang bagus-bagus jelek sekarang. Makan sambil baca dan memperagakan yang dia baca. Meski sudah diingatkan berkali-kali untuk menyelesaikan makannya dulu, tetap aja bukunya diintip-intip. Walhasil dua kali nasinya tumpah, dan sekali berserakan remah-remahnya. Akhirnya kemarin terpaksa saya katakan, "Kakak malam ini tidak dipeluk ya, kesepakatannya tidak dilaksanakan. Nih nasinya sampai berserakan di mana-mana."

Well, kalau udah kena negative reinforcement begitu, usually setelahnya pembicaraan hanya akan seputar konfirmasi darinya bahwa hanya malam itu dia tidak dipeluk. Dia goda-goda saya juga pake kartu baca yang berisi kata "PELUK". "Mi, Kakak pengen dapat ini," kekeke...

Malam harinya, ih... Saya pengen peluk dia sebelum tidur. Tapi kan lagi jalanin kesepakatan? Gimana dong? Alhamdulillah ide datang.
Saya tanya dia, "Kak, dikasih quiz mau? Kalau bisa ntar dipeluk, deh."
"Mau!" jawabnya.

Dan quiznya adalah... Murojaah al-Kafirun tanpa "tet-tot", hahaha. Dia langsung sumringah dan mulai murojaah. MasyaAllah, sungguh-sungguh banget sampai tinggal satu aja "tet-tot" nya. Akhirnya... Dapat peluk deh. :-)

And we will have new activity before sleeping, yaitu... Quiz! :D

Djogdja, 14082014
~eMJe~

#homeschooling
#parenting
#journal

Senin, 11 Agustus 2014

Membangun Semangat Belajar Bersama (Our Homeschooling's Notes)

Tak terasa telah 10 bulan kami menjalaninya. Satu tahun kurang dua bulan. Warna-warni hari yang kami lalui, beragam pengetahuan dan keterampilan baru yang kami capai bersama, menjadi nuansa indah di sini. . . di rumah kami.

Saya masih ingat, awalnya Zahro tidak begitu percaya diri dengan statusnya sebagai seorang anak homeschooling. Dan entah kenapa, siapapun orang baru yang kami temui (bahkan sampai saat ini) pasti bertanya "sekolah di mana?" kepada Zahro. Mungkin karena saya selalu membawa Zahro ke mana saja saya ada keperluan, bahkan di jam-jam yang seharusnya anak seusianya bersekolah. Tadinya Zahro selalu menyebut nama PAUD tempat dia pernah bersekolah setiap beroleh pertanyaan itu. Dia malu menyatakan dirinya homeschooling. Tetapi sekarang tidak lagi. Dia sudah percaya diri menjawab bahwa dia homeschooling, sekolahnya di rumah, bersama Uminya. Alhamdulillaah. . . :-)

Dalam perjalanannya, ternyata proses belajar kami adalah by target. Kami berorientasi pada target-target capaian. Setelah satu target kami capai, baru kami beranjak ke target selanjutnya. Di awal menjalani homeschooling saya menargetkan dua kemampuan krusial untuk Zahro, yaitu mampu membaca latin dan mampu membaca Al-Qur'an. Wah, ternyata Zahro tidak mampu mencapai keduanya sekaligus. Karenanya, ketika itu saya fokus pada kemampuan yang lebih sederhana, yaitu kemampuan membaca latin. Alhamdulillah progress-nya baik dan kemampuan ini bisa dicapai Zahro dengan cepat (catatannya ada di sini: journalbelajarmembaca).

Efek kemampuan membaca Zahro memang tidak langsung tampak saat itu juga. Sebab meski sudah mampu, dia belum terlampau lancar membaca. Dia belum lihai menempatkan bunyi huruf "e" apakah tebal ataukah tipis. Yang ada semua huruf "e" dia baca tebal sehingga jika dia membaca kata yang mengandung huruf "e", pasti selalu seperti orang Batak bicara. Tapi kami biarkan saja dia begitu. Dan benar, seiring berjalan waktu, semakin banyak naskah bacaan yang dia mamah, semakin terampil pula dia membaca.

Sepekan setelah Idul Fitri menjadi momen yang begitu berkesan buat saya. Sebab sejak saat itu saya menyaksikan Zahro mulai begitu lekat dengan buku. Dia mulai memanfaatkan setiap waktu luang yang dimilikinya dengan membaca. Kemampuan membacanya juga kian pesat. Sekarang alhamdulillah sangat mudah menemukan momen-momen seperti ini setiap hari.


Target kedua untuk Zahro adalah mampu membaca Al-Qur'an. Saya niatkan target ini bisa dicapai dalam waktu satu bulan, selama bulan Ramadhan, sembari meminta kepada Allah agar memandang niat ini. Awal Ramadhan kami memulai dengan Iqro' 3. Kami istiqomah untuk belajar mengaji di dua waktu, setelah shalat Subuh dan setelah shalat Maghrib. Di akhir Ramadhan alhamdulillaah Zahro telah mencapai Iqro' 6. Saya memutusukn untuk memperlancar bacaannya langsung di Al-Qur'an dengan catatan setiap hari Zahro harus terus mengulang materi-materi yang krusial, misal: perubahan bunyi huruf setelah tanwin, perubahan bunyi huruf pada waqaf, dll dengan merujuk pada materi di buku Deeniyat. Kebiasaan ini (mengaji setelah Subuh dan Maghrib) insyaAllah kami niatkan untuk terus berlanjut.

Nah, di Ramadhan kemarin Zahro sempat menyaksikan hafizh Qur'an. Menyaksikan anak-anak seusianya mempunyai hafalan Qur'an yang banyak menumbuhkan semangatnya. Karena itu kami juga memulai target baru, yaitu menghafal Qur'an. Satu hari satu baris. Zahro menghafal juz 30, Umi menghafal surah-surah pilihan dari Al-Qur'an (ex: QS. Al-Waqi'ah, Ar-Rahman, Al-Mulk, dll).

Satu lagi minat barunya. Ingin tahu kosa kata bahasa Inggris. Untuk yang satu ini Umi memutuskan tidak dulu menargetkan capaian tertentu. Model yang kami gunakan untuk kosa kata ini adalah menjawab pertanyaan Zahro. Kosa kata apa yang ingin dia ketahui bahasa Inggrisnya. Satu hari 5 kata.

Proses yang kami jalani membuat saya mafhum, bahwa dengan homeschooling bukan hanya anak yang belajar, orang tuanya pun harus terus dan ikut belajar bersama. Maka kami merancang salah satu ruang di rumah untuk menjadi ruang belajar kami. Simple dan bikin betah tentunya :D


Di ruangan itulah kami membaca, belajar, searching lembar aktivitas, dan saya berkreasi menyusun lembar-lembar aktivitas untuk anak usia dini. InsyaAllah lembar-lembar aktivitas yang saya susun semoga bisa menjadi buku yang dapat membantu menstimulasi tumbuh kembang anak usia dini lainnya.

Do'akan kami agar istiqomah. . .
Do'akan juga agar kami diberi Allah kemudahan untuk menghafal Qur'an. . .
Allahumma aamiin. . .

Djogdja, 11082014
~eMJe~

Tanyalah, "Are You Happy?"

Kemarin Zahro ikut beraneka ragam lomba dalam rangka hari kemerdekaan. Pengalaman baru dalam enam tahun kehidupannya. Pengennya dia ikut semua cabang lomba; masukin pensil ke dalam botol, lari karung, makan kerupuk, dan ambil koin dalam tepung. Tapi karena saya juga ada acara IIDN Jogja, akhirnya kami terpaksa undur diri setelah lomba makan kerupuk.

Semangatnya begitu luar biasa! Bahkan sejak surat edaran lomba dibagikan kepada warga seminggu yang lalu setiap hari dia bertanya, "Lombanya kapan?" Lihatlah ekspresinya ini,


Kemarin dia menjadi peserta dengan tubuh paling mungil, plus panitia tidak membagi peserta berdasar rentang usia. Jadi dalam lomba yang sama ada anak kecil dan ada remaja, hahaha. Bahkan Ibu-ibu yang pada nonton prihatin melihat Zahro. Tapi dia nggak peduli, nggak toleh kanan-kiri. Binar semangat dan kebahagiaan tak tertutupi dari wajahnya. Alhamdulillah dia berhasil memasukkan pensil ke botol dan berhasil mencapai finish lari karung tanpa terjatuh. Well, makan kerupuknya dia cuma berhasil tiga gigitan, hahaha.

Satu pertanyaan saya saat kami berjalan pulang, "Kakak senang?"
Dia mengangguk gembira sambil berkata, "Kakak pengen ikut semuanya."
Tetapi saya katakan tidak bisa karena kami harus pergi ke acara yang lain.

Sore harinya saya cerita kepada Mama tentang cucunya yang ikut lomba 17 agustusan. Pertanyaan spontan yang keluar dari lisan sang nenek, "Menang?"
Nah siang tadi Eyang Zahro datang ke rumah, dan kamipun menceritakan juga tentang lomba kemarin. Tak saya sangka pertanyaan spontan dari eyangnya sama, "Menang?"

Saya mencoba maklum bahwa orang tua kami masih memandang takaran suatu perlombaan adalah kemenangan. Tetapi saya bukanlah tipe orang tua yang menjadikan "menang" sebagai orientasi dari aktivitas-aktivitas yang diikuti anak. Melainkan dia senang, antusias, enjoy, itulah yang saya inginkan. Yang penting anak menikmati apa yang dilakukannya. Menang itu bonus saja.

Para orang tua, terutama yang senang anak-anaknya ikut lomba, yuk belajar bertanya, "Kamu senang?" pada anak setiap dia selesai mengikuti lomba sebelum kita bertanya, "Kamu menang?"

Djogdja, 11-08-2014
~eMJe~


Minggu, 18 Mei 2014

Bermimpi Bersama Anak

Beberapa hari ini Saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku Einstein Never Used Flashcards. Sebuah buku yang membahas suatu metode untuk melejitkan kecerdasan anak, yaitu dengan mengembangkan kemampuan berbahasa. Saya pribadi termasuk yang meyakini bahwa kecerdasan verbal penting untuk dikembangkan pada anak sejak dini, karena dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, insyaALLAH kesempatannya untuk mengetahui berbagai hal baru akan terbuka sedemikian luas.

Ada hal lain yang sebenarnya sedang ingin saya gali dengan mendalam, yaitu tentang peran orang tua dalam melejitkan minat dan bakat anak InsyaALLAH saya akan berbicara tentang ini tanggal 24 Mei besok. Dalam perjalanan saya menggali tentang minat-bakat, cita-cita, future dreams, saya menemukan banyak kutipan-kutipan menggugah yang menarik dan inspiratif. Seperti ini contohnya:




Ah ya, ketika beberapa kali saya menyiapkan tema "Reach My Dreams" untuk anak SMP-SMA, saya begitu  yakin akan apa saja yang ingin saya susun dan sampaikan. Tetapi ketika tema yang sama saya siapkan untuk para orang tua yang memiliki anak-anak usia dini, saya menjadi galau, gamang, khawatir. Saya takut salah menyusun kata dan membuat para orang tua salah menangkap maksud saya. Intinya, saya tidak ingin apa yang saya sampaikan nantinya membuat orang tua berlomba-lomba untuk membuat anak-anak mereka kehilangan masa bermain dengan mengikutkan anak-anak mereka ke berbagai after-school courses demi apa yang mereka sebut "melejitkan potensi".

Buat saya, apa yang sebenarnya penting ketika kita sebagai orang tua berbicara tentang kecerdasan, minat dan bakat anak?

1. Yakinilah Bahwa Setiap Anak Cerdas
Setiap anak yang lahir bukanlah ibarat kertas kosong, yang harus dilukis dan diukir oleh kedua orang tuanya. ALLAH Ta’ala menciptakan hamba-hamba-NYA dalam keadaan fitrah, yaitu dengan membekali potensi-potensi kebaikan pada dirinya. Bila anak tumbuh di lingkungan sehari-hari yang normal, beserta orang-orang yang mencintai dan mengajak mereka berkomunikasi, maka otak mereka akan tumbuh dengan semestinya.

2. Bermimpilah Bersamanya, Tetapi Jangan Bermimpi Untuk Dia
Sering kali ketika saya memberi pelatihan kepada mahasiswa di tahun-tahun awal atau pertengahan kuliah mereka saya bertanya, "Apakah jurusan kalian saat ini pilihan kalian sendiri?", "Apakah kalian sudah merasa bahwa kalian berada di jalan yang memang kalian pilih untuk masa depan kalian?" Sayangnya, masih sering saya temui bahwa mereka kuliah di jurusan yang merupakan minat orang tua mereka, bukan minat mereka sendiri. Mereka menyesal masuk ke jurusan itu, mereka merasa tidak cocok dengan mata kuliahnya, mereka merasa kesulitan mengikuti perkuliahan. Efeknya, mereka menjadi mahasiswa yang banyak mencari kesibukan dan kesenangan yang tidak berhubungan dengan kuliah mereka, mereka berpotensi menjadi mahasiswa yang terlambat lulus, bahkan sampai terancam DO.

Karena itu, saya kira penting saya sampaikan kepada orang tua yang mempunyai anak-anak masih berusia dini:
"Bila sebagai orang tua Anda mempunyai mimpi dan mimpi itu tidak/belum tercapai, janganlah wariskan mimpi itu kepada anak-anak Anda secara sepihak. Sebab anak-anak Anda berhak memiliki mimpi mereka sendiri. Jangan bermimpi untuk dia, tetapi bermimpilah bersamanya. Bersama-sama meraih mimpinya."



3. Amati Minat Anak dan Temukan Bakatnya
Saat ini sudah banyak fasilitas untuk mengetahui minat dan bakat anak dengan metode yang canggih dan mutakhir. Tetapi sebenarnya ada cara yang murah meriah untuk mengetahui bakat anak-anak kita. Prinsipnya, anak-anak kita pasti memiliki banyak hal yang ia minati, hal-hal yang ia sangat senang melakukannya. Nah, amatilah minat-minat tersebut. Fasilitas minat-minat itu. Di antara minat-minat anak kita, insyaALLAH pasti ada yang menjadi bakatnya.

Tetapi di sini poin penting dan kritisnya. Jangan sampai atas nama melejitkan bakat anak, orang tua sampai melanggar hak anak untuk memiliki waktu bermain dengan menyertakannya ke beragam kursus. Jangan buru-buru memasukkan anak Anda ke kursus tari, balet, melukis, musik, vokal, olah raga, dan lain-lain sebelum mengetahui apa yang sebenarnya diminati anak dan menjadi bakatnya. Di dalam buku yang pernah saya baca ada pernyataan, "Memperkaya lingkungan dengan memberikan terlalu banyak stimulus kepada anak belum tentu akan meningkatkan potensi anak. Bisa-bisa malah membuat anak menjadi jenuh."

4. Bermainlah Bersamanya
Satu lagi cara sederhana untuk melejitkan kecerdasan anak. Bermainlah bersamanya. Anak-anak kita akan belajar lebih banyak ketika kita bermain dengannya daripada ketika kita membelikan dia kotak cantik berisi peralatan dengan klaim “paling canggih” untuk membangun kecerdasan. Program komputer, siaran televisi, atau permainan edukatif di gadget mungkin saja interaktif, tetapi mereka tidak adaptif. Anak kita mungkin saja mempunyai pertanyaan yang amat kaya, tetapi komputer, gadget dan televisi tidak akan mampu menanggapi kekayaan pertanyaan mereka saat itu juga. Berbeda halnya ketika mereka berinteraksi dan bermain dengan kita. Objek yang sederhana pun bisa menjadi sumber belajar yang istimewa karena anak bisa berkomunikasi dua arah dengan kita.

5. Manfaatkan Apapun yang Ada di Sekitar
Saat kita berada di kendaraan, ada begitu banyak papan reklame, nama-nama jalan, nama-nama toko, dan gedung-gedung yang bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan anak. Bahkan tulisan di bungkus roti dan di kotak susu pun bisa kita manfaatkan untuk beraktivitas bersama anak.

6. Berdo'alah, Do'a Kebaikan Untuknya
Meraih masa depan itu ibarat sedang berkendaraan, menuju ke sebuah tempat. Orang berkendaraan jika ingin selamat sampai ke tujuan maka perlu tunaikan adab-adab perjalanan. Anak-anak TK pun diajarkan do'a naik kendaraan. Maka mendo'akan, do'a kebaikan untuk anak adalah keniscayaan bagi setiap orang tua yang mendambakan anak-anak mereka selamat dalam meraih mimpinya. Berdo'alah untuk mereka. . . selalu. . . setiap saat.

Wallahua'alam.

Djogdja, 18052014

~eMJe~

Jumat, 16 Mei 2014

Al-Qur'an Recited by Sheikh Abu Bakr Al Shatri

Sheikh Abu Bakr Al-Shatri
This time I want to share direct download link tilawah
Qur'an recited by Sheikh Abu Bakr Al-Shatri, ya.
Salah satu reciter favorit, selain Mishari Rasheed Al Afasy. :-)
Semoga bermanfaat.

  1.  Al-Fatihah
  2.  Al-Baqarah
  3. Ali-Imran
  4. An-Nisa'
  5. Al-Ma'idah
  6. Al-An'am
  7. Al-A'raf
  8. Al-Anfal
  9. At-Taubah
  10. Yunus
  11. Hud
  12. Yusuf
  13. Ar-Ra'd
  14. Ibrahim
  15. Al-Hijr
  16. An-Nahl
  17. Al-Isra'
  18. Al-Kahfi
  19. Maryam
  20. Thaha
  21. Al-Anbiya'
  22. Al-Hajj
  23. Al-Mu'minuun
  24. An-Nur
  25. Al-Furqan
  26. Asy-Syu'ara'
  27. An-Naml
  28. Al-Qasas
  29. Al-Ankabut
  30. Ar-Ruum
  31. Luqman
  32. As-Sajdah
  33. Al-Ahzab
  34. Saba'
  35. Fathr
  36. Yaa-Siin
  37. Ash-Shaffat
  38. Shad
  39. Az-Zumar
  40. Ghafir
  41. Fussilat
  42. Ash-Shura
  43. Az-Zukhruf
  44. Ad-Dukhan
  45. Al-Jathiya
  46. Al-Ahqaf
  47. Muhammad
  48. Al-Fath
  49. Al-Hujurat
  50. Qaf
  51. Adz-Dzariyat
  52. At-Thur
  53. An-Najm
  54. Al-Qamar
  55. Ar-Rahman
  56. Al-Waqi'ah
  57. Al-Hadiid
  58. Al-Mujadalah
  59. Al-Hasyr
  60. Al-Mumtahanah
  61. Ash-Shaff
  62. Al-Jumu'ah
  63. Al-Munafiquun
  64. At-Taghabuun
  65. At-Talaq
  66. At-Tahrim
  67. Al-Mulk
  68. Al-Qalam
  69. Al-Haaqqah
  70. Al-Ma'arij
  71. Nuh
  72. Jinn
  73. Al-Muzzammil
  74. Al-Muddatsir
  75. Al-Qiyamah
  76. Al-Insan
  77. Al-Mursalat
  78. An-Naba'
  79. An-Nazi'at
  80. 'Abasa
  81. At-Takwir
  82. Al-Infithar
  83. Al-Muthaffifin
  84. Al-Insyiqaq
  85. Al-Buruj
  86. At-Thariq
  87. Al-A'la
  88. Al-Ghasyiyah
  89. Al-Fajr
  90. Al-Balad
  91. Asy-Syams
  92. Al-Lail
  93. Ad-Dhuha
  94. Al-Insyirah
  95. At-Tiin
  96. Al-Alaq
  97. Al-Qadr
  98. Al-Bayyinah
  99. Al-Zalzalah
  100. Al-'Adiyat
  101. Al-Qari'ah
  102. At-Takatsur
  103. Al-'Ashr
  104. Al-Humazah
  105. Al-Fiil
  106. Al-Quraisy
  107. Al-Ma'un
  108. Al-Kautsar
  109. Al-Kafirun
  110. An-Nasr
  111. Al-Masad
  112. Al-Ikhlash
  113. Al-Falaq
  114. An-Naas



Resources:
www.assabile.com/abu-bakr-al-shatri-34/quran
http://www.mp3quran.net/eng/shatri_english.html

Djogdja, 16052014
~eMJe~


Kamis, 15 Mei 2014

Cara Bertanam Cabai di Pekarangan

Kenapa posting tentang cara bertanam cabai? Karena tanaman cabai yang ditanam Zahro gagal panen saudara-saudara T.T. Satu hari Umi melihat ada putih-putih di daun cabai yang mulai besar itu. Kemudian daun-daunnya mulai berguguran. Sedih banget rasanya. Pengetahuan tentang bercocok-tanam Umi memang minim sekali. Nggak ada yang namanya sedia-sedia pupuk apalagi pembasmi hama. Modalnya cuma beli tanah kompos aja. Well, setelah posting tulisan ini insyaALLAH kami akan memulai lagi bercocok tanam dengan cara yang benar dan lebih sungguh-sungguh. :-D

Nah, bagaimanakah cara bertanam cabai yang benar?



Cara menanam cabe dalam pot atau polybag cukup mudah dilakukan. Menanam cabe bisa dilakukan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Secara umum menanam cabe bisa dilakukan pada ketinggian 0-2000 meter diatas permukaan laut. Suhu optimal bagi tanaman cabe ada pada kisaran 24-27oC, namun masih bisa tahan terhadap suhu yang lebih dari itu. Sifat tersebut tergantung dari jenis varietas cabe.

Salah satu jenis cabe yang cocok untuk ditanam di pekarangan adalah cabe kerting. Jenis ini relatif lebih tahan terhadap iklim tropis dan rasanya pedas banyak disukai di pasaran. Berikut ini kami paparkan tentang cara menanam cabe keriting dalam polybag.

Penyemaian benih
Cara menanam cabe dalam polybag sebaiknya tidak langsung dilakukan dari benih atau biji. Pertama-tama benih cabe harus disemaikan terlebih dahulu. Proses penyemaian ini gunanya untuk menyeleksi pertumbuhan benih, memisahkan benih yang tumbuhnya kerdil, cacat atau berpenyakit. Selain itu juga untuk menunggu kesiapan bibit sampai cukup tahan ditanam di tempat yang lebih besar.

Tempat persemaian bisa berupa polybag ukuran kecil (8×9 cm), daun pisang, baki (tray) persemaian, atau petakan tanah. Cara yang paling ekonomis adalah dengan menyiapkan petakan tanah untuk media persemaian. Buat petakan tanah dengan ukuran secukupnya, campurkan kompos dengan tanah lalu aduk hingga rata. Butiran tanah dibuat sehalus mungkin agar perakaran bisa menembusnya dengan mudah. Buat ketebalan petakan tersebut 5-10 cm, diatasnya buat larikan dengan jarak 10 cm.

Masukkan benih cabe dalam larikan dengan jarak 7,5 cm kemudian siram untuk membasahi tanah dan tutup dengan abu atau tanah. Setelah itu tutup dengan karung goni basah selama 3-4 hari, pertahankan agar karung goni tetap basah. Pada hari ke-4 akan muncul bibit dari permukaan tanah, kemudian buka karung goni. Sebaiknya petakan ditudungi dengan plastik transparan untuk melindungi bibit cabe yang masih kecil dari panas berlebih dan siraman air hujan langsung. Tanaman cabe siap dipindahkan ke polybag besar setelah berumur 3-4 minggu, atau tanaman telah mempunyai 3-4 helai daun.

Penyiapan media tanam
Pilih polybag yang berukuran diatas 30 cm, agar media tanam cukup kuat menopang pertumbuhan tanaman cabe yang rimbun. Selain polybag, bisa juga digunakan pot dari jenis plastik, semen, tanah, atau keramik. Atau bisa juga menggunakan wadah-wadah bekas yang tidak terpakai lagi, beri lubang pada dasar wadah untuk saluran drainase.

Cara menanam cabe dalam polybag bisa menggunakan media tanam dari campuran tanah, kompos, pupuk kandang, sekam padi, arang sekam, dan lain-lainnya. Beberapa contoh komposisi media tanam diantaranya adalah:
(1) Campuran tanah dengan kompos dengan komposisi 2:1, 
(2) Campuran tanah, pupuk kandang, dan arang sekam dengan komposisi 1:1:1, atau 
(3) Campuran tanah dan pupuk kandang dengan komposisi 2:1. 

Apabila menggunakan pupuk kandang, sebaiknya pilih pupuk yang telah matang. Buat media tanam sehalus mungkin dengan cara mengayaknya. Campurkan sekitar 3 sendok NPK dalam setiap polybag. Aduk hingga campuran tersebut benar-benar rata. Lapisi bagian dalam polybag dengan sabut kelapa, pecahan genteng, atau pecahan styrofoam. Gunanya agar air tidak menggenangi daerah perakaran tanaman.

Pemindahan bibit
Setelah bibit tanaman dan media tanam siap, pindahkan bibit tanaman cabe dari tempat persemaian kedalam polybag. Lakukan pekerjaan ini saat pagi hari atau sore hari, dimana matahari tidak terlalu terik untuk menghindari stres pada tanaman. Lakukan pemindahan bibit dengan hati-hati, jangan sampai terjadi kerusakan pada perakaran tanaman. Buat lubang tanam pada polybag sedalam 5-7 cm. Apabila persemaian dilakukan di atas polybag atau daun pisang, copot polybag dan daun pisang lalu masukan seluruh tanah dalam tempat persemaian kedalam lubang tanam. Apabila persemaian dilakukan di atas petak tanah atau tray, pindahkan dengan tanah yang menempel pada perakaran dan masukkan kedalam lubang tanam.

Pemeliharaan dan perawatan
  1. Pemupukan, berikan pemupukan tambahan dengan dosis satu sendok makan NPK per polybag setiap bulannya. Atau apabila ingin menanam cabe secara organik, sebagai gantinya semprotkan pupuk organik cair pada masa pertumbuhan daun dan pertumbuhan buah. Tambahkan satu kepal kompos atau pupuk kandang kambing pada saat tanaman mau berbuah. 
  2. Penyiraman, tanaman cabe sebaiknya disiram sekurang-kurangnya 3 hari sekali. Apabila matahari bersinar terik, siram tanaman setiap hari.
  3. Pengajiran, setelah tanaman cabe tumbuh sekitar 20 cm, berikan ajir bambu. Ajir ini berguna untuk menopang tanaman agar berdiri tegak.
  4. Perompesan, tunas-tunas muda yang tumbuh di ketiak daun sebaiknya dihilangkan (dirompes). Perompesan dimulai pada hari ke-20 setelah tanam, perompesan biasanya dilakukan tiga kali hingga terbentuknya cabang. Gunanya agar tanaman tidak tumbuh kesamping ketika batang belum terlalu kuat menopang.
  5. Hama dan penyakit, penggunaan pestisida sebaiknya hanya dilakukan apabila tanaman terlihat terserang hama atau sakit. Apabila terlihat ada hama putih semprot dengan pestida, bila terlihat ada bakal ulat semprot dengan insektisida secukupnya, kalau terlihat jamur gunakan fungisida. 

Pemanenan
Umur cabe dari mulai tanam hingga panen bervariasi tergantung jenis varietas dan lingkungan. Masa panen terbaik adalah saat buah belum sepenuhnya berwarna merah, masih ada garis hijaunya. Buah seperti ini sudah masuk bobot yang optimal dan buah cabe masih bisa tahan 2-3 hari sebelum terjual oleh pedagang di pasar. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah embun kering. Hindari waktu panen pada malam dan siang hari.

Tulisan ini jelas bukan tulisan Umi, ya. Tulisan ini Umi rangkum dari website alamtani. Silakan berkunjung ke www.alamtani.com untuk menemukan artikel pertanian yang menarik lainnya. Semoga bermanfaat.

Djogdja, 15052014
~eMJe~

Kamis, 08 Mei 2014

Serba-serbi Homeschooling: Catatan Webinar Homeschooling Usia Sekolah Sesi #1

Saya masih ingat peristiwa selepas sholat Subuh enam bulan yang lalu. Ketika saya menanyakan hal yang amat penting kepada puteri saya Zahro (5 tahun). Hari itu saya meminta pendapatnya tentang sebuah keputusan besar. 
"Kak, gimana kalau kakak sekolah di rumah aja?" Seperti itulah kalimat saya waktu itu.
Lantas Zahro bertanya, "Gurunya siapa?"
"Gurunya Umi," jawab saya.
"Mau," jawabnya.
Ya, hari itu kami memulai sebuah proses pendidikan baru. Bersekolah di rumah.

Sebenarnya jauh sebelum itu, saya sudah membaca beberapa buku tentang homeschooling. Saya juga sudah bertemu dan mendengar kisah keluarga-keluarga yang menjadi praktisi homeschooling. Bahkan, saya pun sudah beromitmen bahwa suatu hari nanti kami akan menjadi praktisi homeschooling juga. Tetapi saya selalu beralasan, "Anak saya masih satu. Kalau homeschooling sendirian kan sepi?" Saya berharap bahwa Zahro tidak akan HS sendiri, melainkan dengan adiknya. Tetapi adik yang ditunggu tak kunjung datang sampai Zahro berusia 5 tahun. Do'akan ya biar Zahro ALLAH kasih adik. Aamiin :-)

Lalu apakah saya harus terus menunggu? Apakah hanya dengan Zahro sendiri maka homeschooling kami akan benar-benar hambar? Saya belum mencobanya, kan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya menguatkan saya untuk memulai keputusan besar kami.

Kami benar-benar learning by doing dalam menjalani homeschooling kami. Awalnya kami melakukan hal-hal yang acak saja. Menanam sayuran, membuat craft, jalan-jalan melihat tanaman di pinggir-pinggir jalan dekat rumah, mewarnai, tracing, mengerjakan worksheets math, belajar membaca, bercerita. Banyak juga, ya? Hahaha. . .



Well, semakin ke sini alhamdulillaah saya mulai menemukan beberapa komunitas homeschooling di dunia maya, khususnya facebook. Saya pun bergabung ke beberapa group komunitas tersebut. Ternyata fasilitas internet sangat banyak membantu dalam memenuhi sumber belajar dan informasi tentang homeschooling. Alhamdulillaah, ada manfaatnya juga saya langganan internet, kekeke.

Suatu hari saya jalan-jalan ke website rumahinspirasi. Betapa bahagianya saya ketika di situ saya menemukan informasi tentang webinar homeschooling usia sekolah. Sebenarnya rada menyesal sih karena ternyata sebelumnya sudah diadakan webinar HS usia dini. Tapi tak apalah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, hehehe. . . Akhirnya saya pun mendaftar menjadi peserta webinar tersebut.



Dan kemarin malam (07 Mei 2014) webinar sesi #1 telah saya ikuti dengan sangat memuaskan. Begitu banyak pencerahan-pencerahan yang saya peroleh dari penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala kemarin malam. Rasa-rasanya, tak pantas ilmu yang saya peroleh kemarin saya simpan sendiri, ya. Karena itu, saya ingin berbagi ilmu yang luar biasa bermanfaat itu di sini.

1. Apa itu homeschooling?
Kemarin malam Mas Aar mengawali sesi dengan menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian homeschooling. Jadi, homeschooling merupakan sebuah model pendidikan alternatif. Secara prinsipil, homeschooling adalah konsep pendidikan pilihan yang diselenggarakan di rumah, oleh orang tua. Ada banyak alasan sehingga sebuah keluarga memilih untuk menjadi praktisi HS. Alasan-alasan itu tentunya merupakan cerminan karakteristik dan kebutuhan keluarga tersebut. Ada keluarga yang saya ketahui memilih HS karena mempunyai anak dengan special needs yang kurang terfasilitasi di sekolah umum. Beberapa teman saya memilih HS karena ingin anak-anak mereka lebih fokus menghafal Al-Qur'an. Kalau Mbak Lala dan Mas Aar konsep HSnya mengutamakan kepada pengembangan skills. Nah, kami sendiri sebenarnya memilih HS karena ada beberapa idealisme kami tentang sebuah pendidikan yang kami pandang belum mampu dicover oleh sekolah pada umumnya. 

Oya, karena sejatinya homeschooling diselenggarakan di rumah dengan orang tua sebagai pendidiknya, maka orang tua yang keduanya bekerja dan memiliki anak yang masih kecil tidak disarankan untuk menyelenggarakan homeschooling.

2. Filosofi sekolah VS Homeschooling

Kemarin Mas Aar menyampaikan sebuah filosofi indah yang membedakan homeschooling dengan sekolah pada umumnya. Di dalam filosofi sekolah dikenal istilah "tabula rasa", seorang anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Sekolah atau gurulah yang memamahkan ilmu kepada anak. Tetapi dalam filosofi homeschooling, seorang anak dipandang sebagai individu. Dia memiliki potensi, pendapat, dan sudut pandang. Dia bukanlah makhluk yang pasif. Kata Mas Aar lagi, ternyata makna kata education adalah "mengeluarkan". Karena itu, fungsi utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi yang memang sudah ada dalam diri anak, bukan untuk memamahkan ilmu kepada anak.

Ah ya, penjelasan Mas Aar sungguh menguatkan kefahaman saya selama ini. ALLAH Ta'ala menciptakan anak-anak kita bukan sebagai kertas kosong. Tetapi ALLAH Ta'ala menciptakan anak kita, menitipkannya kepada kita, juga dengan menyertakan potensi-potensi kebaikan pada diri anak-anak kita. Tinggal bagaiman kita sebagai orang tua mendampingi, menemani, dan memfasilitasi agar potensi-potensi kebaikan itu tumbuh dan berkembang seiring pertumbuhan dan perkembangan mereka. MasyaALLAH. . . Laa quwwata illaa billaah.

3. Model Pembelajaran Sekolah VS Homeschooling
  • Di Homeschooling, fungsi utama orang tua adalah sebagai fasilitator
Pada umumnya, kita semua yang sekarang jadi orang tua tentu sudah merasakan, bahwa di setiap jenjang sekolah kita dulu, guru adalah orang yang mencurahkan ilmu kepada kepada siswanya. Sedangkan di homeschooling, fungsi utama orang tua bukanlah untuk mengajar, melainkan sebagai fasilitator. Anak-anak tidak diberikan instruksi satu arah, melainkan dengan lebih banyak diskusi.

Saya jadi ingat tulisan saya tentang cara sederhana untuk menumbuhkan kecerdasan anak-anak kita. Apa caranya? Diskusi. Dengan diskusi, kita akan menemukan pemikiran-pemikiran yang masih murni namun menakjubkan dari anak-anak kita. Satu contoh ketika saya berdiskusi dengan Zahro saat kami mencuci piring bersama. Zahro bertanya seperti ini:
Zahro: Mi, emangnya ini piring umurnya berapa?
Saya: Kenapa, Kak?
Z: Kok masih dimandikan?
Saat itu Saya bingung menjawabnya, karena kalau saya menjawab jujur jelas piring tersebut sudah lebih tua usianya daripada dia, karena dibeli sejak Saya dan suami baru menikah. Tetapi jika yang lebih tua daripada dia masih "dimandikan" dia pasti akan protes. Maka saya cuma berguman, “hmm. . . hmm. . .” Lantas dia menjawab sendiri,
Z: Ini masih kecil ini, Mi. Lihat kan badannya lebih kecil daripada Kakak.
S: Iya ya, Kak.
Lalu dia bertanya lagi,
Z: Trus dia sampai kapan dimandikan?
Kali ini saya menjawab pertanyaannya,
S: Dia sampai akhir hayatnya akan dimandikan terus, Kak.
Z: Sampai dipanggil ALLAH (meninggal) seperti Kakek?
S: Iya.
A: Sampai pecah! Serunya.

Ya, akhirnya Zahro membuat kesimpulannya sendiri. Bisa dilihat kan bagaimana dialog sederhana bisa menstimulasi proses berpikir anak-anak kita? Diskusi-diskusi sederhana seperti itu tentu saja memang ada syaratnya, yaitu kita sebagai orang tua harus menyediakan waktu untuk mendengarkan anak dan menghargai pendapat-pendapatnya. Dan alhamdulillaah kesempatan itu banyak kami miliki karena menjalani homeschooling ini.
  • Di Homeschooling, model pembelajarannya modular bukan tingkat/paket
Keistimewaan homeschooling lainnya yang semakin saya insyafi setelah mendengar penjelasan Mas Aar kemarin adalah tentang model pembelajarannya. Di sekolah, kita mengenal tingkat kelas atau paket pelajaran. Ketika anak tinggal kelas, maka dia harus mengulang semua pelajaran yang menjadi paket di tingkat tersebut, termasuk yang sebenarnya sudah dikuasai anak. Sedangkan di HS model pembelajarannya seperti di perguruan tinggi. Materi yang bisa dikuasai anak lebih cepat boleh dipelajari lebih cepat juga. Jadi bisa saja anak usia 10 tahun (setara kelas 4 SD) pelajaran matematikanya kelas 4, pelajaran sains-nya kelas 5, pelajaran bahasanya kelas 6. Nah,  adapun pelajaran yang kurang atau cukup lama dikuasai anak tidak akan menghambat kemajuan pelajaran yang dikuasai anak. Asyik, ya? :-)

Saya jadi teringat lagi nih. Pernah satu hari saya berkunjung ke rumah teman yang punya anak kelas 2 SD. Waktu itu saya minta ditunjukin buku-buku pelajaran sekolahnya. Si anak mengambilkan buku pelajaran sains. Dan ternyata lumayan banyak dari materi di buku tersebut yang sudah dikuasai Zahro, khususnya materi tentang tumbuhan dan hewan. Berarti Zahro udah bisa belajar sains kelas 2 SD, dong? hehehe.

4. Materi Pelajaran & Waktu Belajar
Saya cukup sering ditanyain juga nih soal yang satu ini. Pake buku apa? Materi pelajarannya ambil dari mana? Dari mana aja bisa, hehehe. Kita boleh merujuk materi pelajaran diknas, dari buku-buku yang dijual di toko, boleh juga mengunduh dari sumber-sumber di internet. Sejauh ini saya pun begitu. Beberapa tema saya merujuk pada materi-materi dari diknas. Untuk math saya suka bikin material sendiri, ada juga yang saya unduh dari internet. Untuk sains saya suka lihat-lihat ke charlotte mason dan kids national geographic. Untuk craft kami sering ikut-ikut bikin karya yang dibuat Mister Maker. Karena sekarang saya ikut program menghafal Qur'an ODOL (One Day One Line) dengan metode KQM (Kauny Quantum Memory) via Whatsapp, Zahro juga suka ikut-ikutan menghafal sambil memperagakan. Jadi, sebenarnya sekolah di rumah pun sudah sangat kaya dengan beragam sumber belajar, yang penting sebagai orang tua sekaligus fasilitator kita harus terus belajar juga.



Beberapa aktivitas homeschooling Zahro

Tentang porsi pelajaran, Mas Aar menyampaikan itu bergantung kebutuhan keluarga. Apa yang menjadi fokus HS maka tema-tema berkaitan fokus tersebut tentu boleh banyak porsinya. Berkaitan dengan waktu belajar juga demikian. Kita menitikberatkan pada apa? Pada komitmen belajar atau kepada hasil belajar? Jika kita menitikberatkan pada komitmen belajar, maka kita boleh menetapkan waktu belajar yang tetap. Misalnya dari jam sekian sampai jam sekian. Akan tetapi jika yang menjadi fokus adalah hasil belajar, maka tak masalah belajarnya mau jam berapa dan berapa lama, yang penting target pelajaran tercapai. Poin penting yang harus dimiliki oleh setiap keluarga yang memilih homeschooling adalah mengenali apa yang sebenarnya ingin dibangun/dicapai keluarga. Apa yang menurut orang tua terbaik untuk keluarga dan anak.

5. Opportunities Homeschooling
Ada banyak sekali peluang yang dimiliki oleh keluarga yang memilih untuk menjadi praktisi HS. Antara lain:
  • Fleksibilitas pendidikan
Dengan HS maka model pendidikan dapat menyesuaikan dengan value keluarga. Apa yang penting buat keluarga kita? Hafalan Qur’an? Sosialisasi? Skill? Tinggal pilih. :-)
  • Fleksibilitas dana
Jika kita memilih menjadi praktisi HS, maka semua dana pendidikan akan fokus untuk pembelajaran anak. Kita tidak perlu membayar uang sekolah, uang seragam, dll. Kata Mas Aar akan lebih mudah untuk trip/jalan-jalan juga, hehehe. Tentu saja menyesuaikan keuangan keluarga.
  • Kustomisasi
Maksudnya apa, nih? Maksudnya, HS akan memberikan peluang kepada anak untuk bisa mengembangkan minatnya masing-masing. Yang suka gambar bisa banyak menggambar. Yang suka matematika bisa banyak mengeksplorasi matematika. Yang suka sains bisa melakukan banyak percobaan. Yang suka keterampilan bisa membuat aneka ragam craft, dll.
  • Eksplorasi dunia nyata
Ini dia satu lagi yang menyenangkan dari HS. Anak punya kesempatan yang banyak untuk bisa belajar dari dunia nyata. Misalnya saat ke pasar anak bisa belajar biologi, belajar bahasa, belajar ekonomi, juga belajar matematika. Well, we've did that, too. Sejak HS, kalau saya mengajak Zahro ke pasar atau ke toko saya bukan lagi sekedar belanja doang. Saya akan meminta Zahro untuk melakukan sendiri transaksi untuk barang-barang yang dia butuhkan, misalnya susu. Dengan bertransaksi itu dia sudah melakukan sosialisasi dan praktek ekonomi, kan? Hehehe. . .  Saya juga sering memintanya untuk mengenal dan menyebutkan nama-nama benda yang dijual. Misalnya cabai. Saya tunjukkan dan terangkan bahwa cabai itu jenisnya beragam. Ada cabai merah, cabai hijau, dan cabai rawit.
  • Kedekatan Keluarga 
Ini yang penting banget. Bonding/attachment/kedekatan keluarga. Saya merasakan betul bagaimana keluarga kami menjadi lebih kompak setelah kami menjalani homeschooling, sebab otomatis intensitas kebersamaan kami sekeluarga menjadi lebih banyak daripada sebelumnya. Nah, karena itu ayah dan ibu harus seide, sejalan, seiya-sekata dalam proses homeschooling di keluarga, supaya HSnya lancar dan berhasil.

6. Risiko Homeschooling
Bagaimanapun juga, HS tentu memiliki tantangan-tantangan atau risiko. Misalnya infrastruktur yang minim atau kurang memadai. Yang lainnya adalah tekanan baik dari keluarga maupun pemerintah. Kami pun mengalaminya juga, kok. Saat kami memutuskan homeschooling, yang paling menentang adalah nenek-nenek Zahro, Ibu saya dan Ibu mertua. Ibu saya sangat mengkhawatirkan perkembangan sosial Zahro, sementara Ibu mertua mengkhawatirkan perkembangan kognitif Zahro. Tetapi alhamdulillaah seiring waktu berjalan kami bisa membuktikan bahwa dengan homeschooling tidak membuat kekhawatiran-kekhawatiran mereka terwujud, malah sebaliknya.

Saya punya cara sendiri untuk tetap melibatkan Zahro pada banyak situasi sosial. Saya selalu membawanya ke tempat-tempat saya berkegiatan. Saat saya mengisi parenting class ke sekolah-sekolah, saat saya mengajar sebagai dosen tamu di sebuah sekolah tinggi, saat saya berkumpul dengan teman-teman komunitas IIDN Jogja, saat saya pergi mengaji, maka Zahro pasti ikut serta. Akhir-akhir ini, sore hari saya juga memberinya kesempatan untuk bermain sepeda bersama dengan teman-teman sebayanya yang tinggal di dekat rumah. Sering sekali teman-temannya kemudian dia ajak ke rumah kami untuk melakukan aktivitas yang dia kerjakan saat HS, misalnya mewarnai, membaca buku, dll. 

Adapun untuk tantangan pemerintah, jujur saja sejauh ini kami belum memikirkannya. Misalnya, bagaimana ujiannya nanti? Hehehe. . . nantilah itu. InsyaALLAH kami yakin ALLAH pasti akan beri kemudahan jika kami bersungguh-sungguh dalam proses ini. Toh tahun ini Zahro baru akan berusia 6 tahun. InsyaALLAH jalan yang akan dia lalui masih sangat panjang. Kami ingin menikmati dulu prosesnya. 

7. Legalitas Homeschooling
Nah, bagaimana posisi homeschooling dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia ada 3 model pendidikan, yaitu:
– Formal: sekolah
– Non formal: kursus-kursus
– Informal: Homeschooling
artinya posisi HS jelas ada dalam model pendidikan di tanah air, ya.
Bagaimana dengan kelulusan? Bagaimana dengan ijazah?
Ada beberapa cara yang dijelaskan Mas Aar untuk memperoleh ijazah bagi anak HS, antara lain:
– Ikut ujian persamaan (paket A setara SD, paket B setara SMP, paket C setara SMA). 
Nah Ujian paket ini legalitasnya sama dengan Ujian Nasional. Dan ijazah paket C yang diterima legalitasnya sama dengan ijazah SMA. Jadi bisa digunakan kalau anak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
– Ikut Umbrella school
Model yang ini adalah anak terdaftar di sebuah sekolah formal, tetapi proses belajar di rumah. Anak hanya ikut ujian dan kegiatan-kegiatan tertentu saja. Biasanya kita tetap membayar uang sekolah untuk model ini. Sekolah yang mau jadi umbrella school juga cari sendiri, ya. Hehehe. . .
– Ujian Cambridge. 
Yang satu ini adalah ujian internasional. It's absolutely a new information buat saya. Kata Mas Aar ujian Cambridge ini per mata pelajaran. Dalam Cambridge ini ada istilah check point yang tujuannya hanya untuk melihat capaian pelajaran anak. Sedangkan yang untuk menentukan kelulusan ada yang namanya IGCSE dan A Level. Info selengkapnya bisa dilihat di sini.

Nah, bagaimana? Complete banget kan penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala? :-) Itu baru satu sesi, lho. Masih ada 3 sesi lainnya. Saya merasa beruntung banget bisa ikut webinar ini. Wawasan bertambah, keyakinan untuk menjalani homeschooling pun semakin kuat. Semoga resume sederhana yang saya buat ini bisa menginspirasi keluarga-keluarga lain yang berniat homeschooling tapi belum tahu seluk-beluk homeschooling, ya.

Hmm. . . saya udah nggak sabar menantikan webinar sesi #2.
Tunggu resume saya selanjutnya, ya. . . :-)


Djogdja, 08052014
~eMJe~

Rabu, 07 Mei 2014

Workshop CHC's Cognitive Theory with Kevin McGrew

Aduh, mau istiqomah nulis di blog itu memang memerlukan niat yang kuat dan kesungguhan luar biasa ya. Faktanya, target nulis sehari satu tulisan aja belum tercapai, hahaha. Tapi nggak papa, yang penting tetap berusaha posting saat bisa dan ingat. :D

Well, kali ini Umi mau cerita pengalaman istimewa Senin (05052014) kemarin. Jadi ceritanya, Umi termasuk orang yang beruntung karena bisa ikut kelas CHC's Cognitive Theory  with Kevin McGrew yang merupakan kerjasama Yayasan Dharma Bermakna dan Fakultas Psikologi UGM. Workshop ini merupakan salah satu proses dalam penyusunan alat tes inteligensi yang akan disusun oleh Psi UGM dan YDB, yang mana Umi mendaftarkan diri sebagai salah seorang penulis aitemnya. Workshop yang sangat menarik ini berlangsung di ruang A203 Fakultas Psikologi UGM, diikuti oleh dosen-dosen di bidang pendidikan dan perkembangan UGM, tim AJT, pihak YDB dan perwakilan dari beberapa universitas dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Apa sih CHC itu? Jenis ayam goreng baru, ya? Hohoho. . . Bukan. CHC itu adalah salah satu teori tentang inteligensi (kecerdasan) dan si Pak Kevin McGrew ini adalah Director of the Institute for Applied Psychometrics, tokoh yang masih aktif meneliti teori tersebut dan mengembangkan alat ukur yang berdasar pada teori itu.




Menariknya apa? Jujur, buat Umi teori ini baru banget. Jadi, excitednya luar biasa mengikuti kelasnya. Walaupun kudu buka mata dan telinga lebar-lebar seharian penuh. Biar ngga ada kalimat dia yang kelewatan dan tak terjemahkan. Maklum, si Pak Kevin ini belum pernah ke Indonesia, jadi ngomongnya dia cepat banget kayak pesawat jet :-p.

Buat Umi sendiri, yang paling menyenangkan tentu saja karena Umi jadi tahu warna-warni inteligensi dari sudut pandang CHC dan bagaimana proses membuat sebuah aitem tes. Untuk mengukur suatu aspek kecerdasan maka kita bisa membuatnya dengan cara seperti ini dengan model soal seperti ini. Sungguh-sungguh menarik. Untuk memudahkan kami memahami, Pak Kevin langsung menyajikan contoh-contoh aitem tes kepada kami. Kelasnya jadi serasa ikut kuis, hahaha. . .

Dalam teori CHC, domain kompetensi individu (baca: inteligensi) dibagi menjadi beberapa, yaitu conceptual domain, practical domain, social-emotional domain, dan physical domain. Tetapi kemarin kami hanya belajar conceptual domain. Nah, domain konseptual itu sendiri masih terbagi menjadi banyak aspek kecerdasan, antara lain: Fluid reasoning (Gf), Short-term working Memory (Gwm), Long-ter retrieval (Glr), Processing speed (Gs), Visual Processing (Gv), Comprehension-Knowledge (Gc), Auditory Processing (Ga), dan Psychomotor abilities (Gp). Banyak banget dan kayaknya nggak usah Umi jelaskan satu per satu, ya :D


Taksonomi Teori CHC

Salah satu bentuk pertanyaan yang juga bisa Ayah-Bunda gunakan bersama anak-anak di rumah adalah model seperti ini:
1. kaki : sepatu =  kepala :   ? (jika kaki pakai sepatu, maka kepala pakai?)
2. ayah : Ibu  =  kakek  :   ? (jika ayah pasangannya ibu, maka kakek pasangannya?)
3. burung  :  terbang = ikan  :  ? (jika burung terbang, maka ikan?)
Waktu Umi cobakan kepada Zahro sungguh mengasyikkan dan dia sangat suka.

Meskipun kami hanya belajar tentang domain konseptual, tetapi Kevin menyampaikan suatu hal yang sangat penting juga. Menurutnya, jika dia harus memilih diantara dua domain inteligensi untuk dimiliki seorang anak, maka dia katakan dia akan memilih domain konseptual dan sosial-emosional. Mengapa? Dia mencontohkan dirinya sendiri. Rupanya saat kecil Kevin pernah mengalami kesukaran membaca. Kesukaran membaca tentu sangat mengganggu proses belajar, ya. Tetapi dia adalah orang yang tidak mudah putus asa, gigih, tangguh dan passionate. Karena itu dia bisa mengatasi kesulitan membaca yang dialaminya sehingga berhasil menjadi seorang ilmuwan seperti sekarang. Artinya, meskipun seorang anak secara kognitif tidak luar biasa, tetapi jika secara sosial-emosional dia tangguh, maka insyaALLAH dia akan bisa mengatasi keterbatasannya. Nah, tampaknya pernyataan dia itu salah satu yang sangat berkesan sepanjang workshop kemarin.

Workshop yang sangat menarik itu berakhir rada molor memang, seharusnya jam 16 jadi jam 16.30, karena peserta sangat antusias untuk bertanya. Walhasil, meskipun panitia meminta ada foto bersama, tapi Umi langsung kabur aja ke parkiran, udah ninggalin anak 9 jam-an euy.  Lagian gue juga nggak akan dicariin kok, hehehe.  Thank you so much ilmunya ya Kevin McGrew.

Semoga menjadi inspirasi juga untuk yang lainnya.

Djogdja, 07052014
~eMJe~

Jumat, 02 Mei 2014

Creamy Spaghetti

Hampir selalu ada alasan dibalik beberapa masakan yang Umi buat. Yang ini salah satunya. Tadi pagi ceritanya Umi menawarkan Zahro sarapan sphagetti. Lalu dia jawab,"Mau, tapi pake keju parut aja ya, jangan pake saos yang merah." Nah lo, masa cuma pake keju parut doang? Karena itu, ya udahlah pagi ini kita coba buat spaghetti yang saosnya nggak merah aja.

Buka kulkas dan telaah isinya yang kira-kira bisa diolah jadi saos pasta. Ada susu segar, ada keju, ada daging giling, ada jamur, ada smoked beef, ada bawang bombay. Naah... gaya-gayanya kita bisa bikin spaghetti yang saosnya nggak merah, kan? :D

Dan... ini dia creamy spaghetty ala Uminya Zahro:



Bahannya apa aja? Bikinnya gimana?

Bahan:
Bawang bombay dipotong dadu kecil-kecil.
Bawang putih dicincang.
Smoked beef potong kecil-kecil.
Jamur kuping potong kecil-kecil.
Daging giling.
1sdm terigu.
Margarin untuk menumis (tadi Umi pake zaitun)
Merica
300ml susu segar
Merica bubuk
Oregano (ada yang pakainya daun peterseli/parsley. Umi pake yang ada aja. Like usual :D)
Keju cheddar parut
Kaldu bubuk (zaman gini udah banyak kaldu non MSG, kan? :-))
Spaghetti ukuran kira-kira 3 porsi.

Cara memasak:
Pertama-tama, masak dulu spaghettinya. Caranya ada di bungkusnya :D.
Untuk saos pasta, tumis bawang sampai harum.
Tumis daging giling, smooked beef, dan jamur sampai matang.
Masukkan susu segar, merica, kaldu, keju parut. Masak sampai mendidih.
Larutkan terigu dengan sedikit air. Masak sampai mengental.
Masukin oregano.
Kalo kurang asin tambahin garam aja dikit.

~Sarapan hari ini, 02052014~

Pohon Bunga Dari Kertas Minyak

Hari Rabu lalu, kami melihat salah satu episode Mister Maker di youtube. Nah, di episode itu si Mister membuat craft berbentuk siput dari kertas minyak yang diuwel-uwel. Jadilah kami berencana untuk membuat yang sama. Tampaknya amat mudah mendapatkan bahannya. Proses mengerjakannya juga sederhana.

Sore harinya kami membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di stationary dekat rumah. Kertas minyak beberapa warna, mata-mataan, spidol besar dan lem kertas. Di rumah masih ada asturo yang belum digunakan, jadi tak perlu beli lagi.

Nah, tadi saat kami akan mengerjakan, Umi baru sadar kalau Umi lupa mengingat kemarin itu yang kami lihat Mister Maker season dan episode berapa, ya? Hahaha... Masalahnya, Umi tidak ingat gambar pola siputnya seperti apa. Wah, kalau mengklik sembarang episode tentu akan menghabiskan banyak waktu. Rasanya tidak efisien. Tapi akan diapakan kertas minyak yang sudah dibeli? Kalau nggak jadi bikin apa-apa si kakak pasti kecewa berat. Bisa diambekin Uminya :D.

Alhamdulillaah Umi sempat juga sembarang klik episode, dan yang muncul adalah Mister Maker sedang membuat pohon dari biji-bijian. Ibarat ada lampu mendadak nyala di samping kepala Umi, Aha! Kenapa nggak bikin pohon-pohonan aja dari kertas minyak? Dengan konsep yang sama, dimodifikasi dengan bahan yang ada.

Akhirnya kami pun membuat pohon-pohonan dari kertas minyak. Mengambil ranting kering sebagai kayu dan dahan dari pohon di depan rumah, memotong kertas minyak jadi ukuran kecil lalu diuwel-uwel, menempelnya dengan lem di atas asturo, jadilah pohon kertas minyak kami.

And, this is the processes:

Menggunting Asturo


Menguwel-uwel kertas minyak :-)
Menempel ranting dan kertas minyak

Merapihkan asturo

Pohon dari kertas minyak sudah jadi :-D

Alhamdulillaah Kak Zahro really enjoy the activity :-)


-=Zahro's HS Journal, 02052014=-














Senin, 28 April 2014

Dadar Gulung Pisang Cokelat

Sejak zaman kuliah S1, kue basah satu ini adalah the most favorite of Umi. Kalau ada acara-acara di kampus maupun di luar kampus, jika si dia jadi salah satu menu di kotak snack, wuih... perasaan langsung happy. Hehehe. . .

Udah lama banget tidak menikmati kue satu ini. Akhirnya kemarin Umi iseng-iseng cari resepnya di simbah gugel. Dan ketemu! Alhamdulillaahnya lagi, semua bahan yang diperlukan untuk membuatnya ada di rumah. Asyik. . . ^^

So, ba'da tilawah pagi tadi, Umi langsung aja ngacir ke dapur untuk membuatnya. Dan jadilah dia: Dadar gulung pisang cokelat ala Uminya Zahro. :-)

Dadar gulung pisang cokelat ala Uminya Zahro ^^

Trus bahan-bahannya apa dan gimana cara membuatnya?
Ini dia:

Bahan-bahan
100 gram terigu protein sedang
40 gram gula pasir halus
3 sdm cokelat bubuk (boleh lebih kalau pengen warna cokelatnya lebih pekat)\
1 butir telur ayam
30 gram margarin leleh.
250 ml susu cair

Bahan isi:
4 buah Pisang raja, bagi dua lalu bagi dua lagi.
Tumis pisang dengan sedikit margarin.
Cooking chocolate dicairkan.

Hiasan:
Keju cheddar diparur.

Cara Membuat:
1. Campur terigu, gula halus, dan cokelat bubuk. Aduk rata.
2. Masukkan telur dan susu. Aduk rata.
3. Tuang margarin leleh. Aduk rata kembali.
For a simple way, adonan tepungnya Umi blender aja biar blended, wkwkwk.
4. Panaskan teflon. Oles dengan sedikit margarin. Buat dadar.
5. Ambil selembar dadar. Taruh pisang dan cokelat leleh, lalu gulung.
6. Hiasi bagian atasnya dengan keju parut.

Dengan bahan-bahan yang ada, sebenarnya bisa dihasilkan 16 dadar. Tapi di akhr-akhir, Zahro yang kebagian jatah menggulung kue pengen banget makan dadarnya doang, hahaha. akhirnya dua dadar terkahir buat Zahro, dan dua pisang yang tersisa, . . . hap, masuk mulut Umi dan Zahro. Alhamdulillaah :D

Djogdja. 28042014
~eMJe~

Sabtu, 26 April 2014

-=Yang Ngasih Nama Satu, Dua, Tiga, Empat=-

Rasa-rasanya, sudah cukup lama Zahro tidak memberi pertanyaan rumit buat saya. Tapi dua hari ini pertanyaan-pertanyaan arti katanya dimulai lagi. Dia bertanya apa itu hakim, kabupaten, vaksin. Kata-kata baru yang dia ketahui asbab bisa membaca. Saya katakan padanya, "Nah, kakak sudah bisa punya kamus sekarang. Nanti kalau mau cari arti kata bisa dilihat di kamus." Hahaha...

Kemarin dia bertanya mengapa kereta api jalannya begitu cepat, sedangkan sepeda motor kami tidak bisa cepat. Saya jawab karena kereta api sendirian saja memakai jalannya, sedangkan di jalan yang kami lalui ada begitu banyak kendaraan yang menggunakan jalan yang sama. Lalu dia bertanya lagi, "Kalau kereta apinya ketemu sama kereta lain gimana?" Waah... dengan kecepatan seperti itu tidak boleh ketemu kereta lain di jalan yang sama. Nanti tabrakan, deh.

Ah ya, kemarin dia ngomel-ngomel saat di jalan macet dan ada kendaraan yang membunyikan klakson di belakang. "Sabar dong, Pak. Itu di depan ada mobil. Kakak aja sabar ini. Bikin Kakak kaget aja." Hahaha.

Saat berhenti di sebuah lampu merah, yang berhenti di sebelah kami adalah sebuah ojek motor. "Itu motor untuk apa, Mi?" Tanyanya. Saya celingak-celinguk mencari kendaraan aneh yang mungkin menarik perhatiannya. Tidak ada. Tiba-tiba Bapak ojek bertanya, "Umur berapa? Udah sekolah?" Dan saya baru paham setelah Pak Ojek dan penumpangnya pergi bahwa motor si Bapaklah yang ditanya Zahro, hehe. Motor kuning dengan Bapak berjaket dan berhelm kuning bertuliskan Ojek Motor. "Oooo... itu namanya ojek motor, Kak."
Z: Ojek motor itu apa?
U: Jadi misalnya kakak mau pergi ke suatu tempat, Kakak telefon Bapak itu, trus minta tolong dianterin. Nanti kalau udah nyampe, bayar deh. Misalnya Kakak mau ke mana?
Z: Ke Jakarta.
U: Hahaha... Kejauhan. Kapan nyampenya? Yang di sini-sini aja.
Z:Ya udah, ke Surabaya.
Hahaha, lucunya dirimu, Kak.

Saat Maghrib, dia sholatnya lama. Selepas sholat dia bertanya.
Z: Sholat Kakak bagus nggak, Mi?
U: Bagus. Kok bagus kenapa?
Z: Karena di hati Kakak ada sholat.
U: Ooo... Lha kalau pas sholatnya cakar ayam di hati Kakak ada apa?
Z: Ada api.
U: Ih, kok seram?
Z: Iya. Makanya sholatnya cakar ayam.
Kalau sholatnya bagus, di hati ini ada syurga.
Hahaha... analogi yang unik tentang sholat khusyuk by Zahro.

Nah ketika makan malam, dia bertanya dan menjawab sendiri?
Z: Mi, Lima tambah Enam berapa? Sebelas. Enam tambah lima berapa? Sebelas.
Pertanyaan bentuk itu adalah pertanyaan gaya neneknya Zahro. Neneknya senang bertanya berapa jumlah 3+7, 4+6, 5+5, 2+8, dst. Sepertinya sangat berkesan buatnya. Dan dia jadi suka bertanya dan menjawab sendiri penjumlahan seperti itu.
Tiba-tiba saja dia nanya,
Z: Mi, siapa sih yang ngasih nama satu, dua, tiga, empat, sampai setrilyun?
U: Maksudnya, Kak?
Z: Kenapa satu dinamai satu, dua dinamai dua, sampai setrilyun? Yang ngasih nama siapa?
#Haduh, Umi tersudut nggak bisa jawab. Hahaha...

~Zahro's Journal 25042014~

Kamis, 24 April 2014

Parenting: Membangun Kelekatan Ayah-Anak

Anak-anak kita membutuhkan kedekatan dan kelekatan tidak hanya kepada Ibunya saja, tetapi juga kepada Ayahnya. Seorang Ayah, bukan hanya penjemput rizqi keluarga. Sebagaimana seorang pemimpin yang akan ditanya mengenai kepemimpinannya, maka Ayah akan ditanya tentang keluarganya di akhirat nanti. Bagaimana Ayah akan menjawab pertanyaan ALLAH nanti jika dia tidak terlibat dalam pengasuhan anaknya?

Anak laki-laki yang dekat dengan Ayahnya pasti bisa seru-seruan bareng, ya. Sedang anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh rasa aman (secure) di dalam dirinya. Banyak saya temui remaja perempuan yang berpacaran dan saya tanya apa alasan mereka berpacaran, hampir semua beralasan agar mendapat kasih sayang dari sosok laki-laki. Kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari Ayah mereka.

Jika ada yang bertanya kepada saya, "Anak Ibu dekat nggak sama Ayahnya?"
Hari ini, saya dengan bahagia mengatakan bahwa antara anak saya dengan Abinya sudah terjalin bonding atau kelekatan yang kuat. Bila 3-5 tahun yang lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada saya, maka saya pasti ragu menjawabnya. Mengapa? Karena memang kelekatan antara anak saya dan Abinya tidak terbentuk sejak awal kelahirannya.

Barangkali ada yang terkejut jika mengetahui kenyataan bahwa saat anak saya bayi, Abinya hanya hitungan jari menggendongnya. Ya, hitungan jari. Bahkan mungkin tak sampai semua jari tangan. Ketika itu alasannya karena takut pakaiannya terkena najis. Alasan yang berlebihan buat saya. Mungkin bagi yang lain juga iya, kan? Masa sih hanya karena takut najis sampai tega tidak menggendong anak sendiri? Tapi itulah kenyataannya. Dampaknya tentu saja sudah terbayangkan, saat toddler Zahro tidak dekat bahkan cenderung takut kepada Abinya.

Saking risaunya, saya ingat sekali suatu kali saya sampai mengatakan kepada suami saya, "Umi tidak bertanggungjawab jika anak Abi tidak dekat dan tidak sayang kepada Abinya."

Ada satu alasan yang amat sering diulang-ulang suami saya, "Aku tidak tahu bagaimana seharusnya dan sebaiknya bersikap kepada anak, karena waktu kecil aku tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari Papa."

Pernyataan suami saya membuat saya mafhum. Ah ya, suami saya tidak punya contoh bagaimana seorang ayah terlibat dalam pengasuhan anak. Memang, Papa mertua saya selalu bertugas di luar kota. Sampai saya menikah dengan suami pun masih seperti itu.

Saya yakin, selain suami saya ada banyak sosok Ayah yang pada masa kecilnya mempunyai ruang kosong dari peran dan kasih ayah mereka. Tapi beberapa orang yang saya kenal ada yang mengambil pelajaran dari kekosongan itu dengan tidak melakukan hal yang sama kepada anak mereka. Mereka menjadi ayah yang sangat peduli, sangat dekat dan terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.

Tentu saja sayapun ingin suami saya juga  menjadi bagian dari Ayah yang seperti itu. Saya tidak mau alasan suami saya menjadi pembenaran bahwa dia berhak untuk tidak dekat dengan anaknya.  Karena dia tidak merasakan kasih sayang Papa saat dia kecil, maka anaknya boleh tidak merasakan kasih sayang. Hello, anaknya punya hak untuk mendapat kasih sayangnya.

So, what should I do? Saya tidak boleh dong hanya menyalahkan doang lalu tinggal diam. Mau sampai kapan kalau cuma menunggu?

Maka saya pun memulai ikhtiyar saya, sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu. Sebuah misi membangunkan kelekatan antara Zahro dan Abinya. Apa yang saya lakukan? Bermula dari hal-hal sederhana saja. Ketika Zahro meminta saya membantunya melakukan sesuatu, misalnya membuka bungkusan makanan, maka saya minta dia agar meminta bantuan kepada Abinya. Ketika Abinya pamit membeli sesuatu ke swalayan dekat rumah, maka saya katakan kepada Zahro, "Sana minta ikut sama Abi." Akhirnya setiap Abinya akan pergi ke tempat yang tidak jauh dan tidak lama Zahro selalu minta ikut. Minta ditemani naik sepeda, minta diantarkan berenang ke homestay dekat rumah, makan sepiring berdua, berangkat dari hal-hal kecil dan sederhana itulah mereka menjalin kelekatan. Dan. . . hari ini saya bisa melihat cinta dan kasih sayang telah tumbuh di antara mereka berdua. Sampai sekarang, saya selalu memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk punya father-daughter moment.

Jadi, ketika seorang Ibu melihat ada fatherless di dalam keluarga, barangkali kita bisa mengulurkan tangan untuk membantu melekatkan anak-anak kita dengan Ayah mereka dengan memberi mereka kesempatan untuk mempunyai momen ayah-anak. InsyaALLAH kebersamaaan yang berulang, momen-momen sederhana namun berharga itu akan menumbuhkan cinta di antara mereka. Wallahua'am.

Momen-momen indah ayah-anak yang sempat terekam:

Makan yoghurt berdua ^^

Makan nasi sepiring berdua ^^

Pompa ban sepeda berdua ^^





























24042014
~eMJe~