Minggu, 29 Desember 2013

-=Pandai-pandai Memperlakukan Si Tabung Segi Empat=-

Ilustrasi tabung segi 4 (baca: Televisi)

Wahai kita, para orang tua. . . Jangan bingung bila anak-anak kita yang balita sudah tahu istilah love, pacar, pacaran apabila kita mengizinkan mereka mengkonsumsi tayangan televisi atau lagu-lagu yang isinya tentang itu. Karena mereka adalah perekam luar biasa.

Wahai kita, para orang tua. . . Jangan heran jika anak-anak kita sangat konsumtif terhadap berbagai jenis produk jika setiap hari kita membiarkan mereka melihat bermacam-macam iklan yang berseliweran di tabung segi empat yang konon bentuknya sekarang flat dengan ukuran super gede di rumah-rumah kita. Karena sesuatu yang baru senantiasa ingin mereka miliki.

Wahai kita, para orang tua. . . Berhentilah merasa lega jika anak-anak kita menjadi anteng, tenang, karena matanya, hatinya, dan fikirannya fokus pada tontonannya sehingga kita bebas melakukan kesibukan pribadi kita. Sebab tidak semua yang ia tonton baik dan pasti lebih banyak tidak baiknya. Dan pada akhirnya, kerepotan kita akan semakin bertambah-tambah jika televisi sudah menjadi candu baginya dan mempengaruhi fikir serta tingkah-polahnya. 

Para orang tua yang bekerja di luar rumah, pastikanlah bahwa waktu Anda di rumah bukan lagi milik tayangan televisi, melainkan milik anak. Sudah cukup sebagian besar waktu Anda untuk anak tersita oleh pekerjaan Anda, jangan lagi keberadaan Anda di rumah juga bukan milik mereka. 

Gantilah kegiatan menonton televisi dengan beraktivitas bersama anak. Libatkan mereka dalam aktivitas memasak, mencuci kendaraan, mengurus taman, menata kamar atau rumah, bersepeda, jalan-jalan ke toko buku atau ikut bermain peran dengan mereka. 

Berkomunikasilah dengan mereka. Minta anak menceritakan aktivitasnya saat Anda tidak bersamanya, ceritakan pula aktivitas Anda saat tidak bersamanya. Kegiatan ini sangat mengasyikkan dan sangat membantu dalam membangun kedekatan orang tua dan anak. Anak-anak itu pencerita yang handal dan juga pendengar yang imajinatif. Dengan cara ini, anak-anak juga akan tumbuh menjadi individu yang komunikatif.

Bacakan cerita untuk mereka. Yakinlah, anak-anak sangat senang dibacakan cerita. Tetapi ingat, sebelum membacakan cerita kepada anak, pastikan Anda sudah membaca cerita tersebut terlebih dahulu. Lagi-lagi ini adalah soal kepantasan dan kualitas sajian yang ingin kita berikan kepada anak. Kebiasaan membacakan cerita kepada anak adalah salah satu langkah mengenalkan anak kita untuk akrab dengan buku dan cinta membaca. 

Kenalkan anak pada aktivitas produktif yang melibatkan kognisi dan psikomotorik mereka. Misalnya mewarnai, menyusun balok atau puzzle, atau bermain bersama teman sebaya. Aktivitas-aktivitas ini apabila mereka menikmatinya, akan membuat mereka tidak terlalu merasa butuh menonton televisi.

Yang paling utama, awalilah dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Mulailah untuk membatasi waktu kita menonton televisi dan jika bisa, mulailah belajar untuk hidup tanpa tayangan televisi, terutama saat kita sedang bersama anak-anak kita.


#Hidup tanpa tayangan televisi itu tenang dan menyenangkan. Proved :) 

Sharing VS Collecting

I remember that my husband put some sticker on our fridge, but I just realized and made a deep thought of read it when I cleaned the fridge. It's written in it, 

-=Hidup bukanlah tentang apa yang kau miliki, tetapi apa yang bisa kau lakukan dengan apa yang kau miliki.=-

Indeed, sharing is better than collecting, by sharing you will get even more and more. InsyaALLAH fid dunya wal akhira
h. 

#Let's start our day by make a determination in our heart to share anything we have. . . Our salaam, our smile, our things, our knowledges, or anything. . . 

Belanja Buku Sepanjang Desember 2013


As a woman, ada masa dalam kehidupanku ketika aku pengennya beli macam-macam baju.... But sekitar setahun ini, not anymore dan semoga tak terulang lagi. Memutuskan menjadi pelaku homeschooling alhamdulillaah juga turut menambah minat baca dan kerinduan pada toko buku. Ini buku2 edisi beli Desember 2013. Belinya pake uang yang tadinya ditujukan sebagai uang sekolah Zahro dan dari keuntungan dagang kecil-kecilan (sudah lepas zakat lho, ya... hehehe). Ada yang dibeli untuk bahan ajar Zahro, ada yang dibeli untuk bahan bercerita buat Zahro, ada yang dibeli untuk referensi tulisannya mother who wanna be a writer ini, ada yang dibeli karena menjadi syarat lomba nulis, ada yang dibeli karena isinya sangat inspiratif (syarat wajib dari buku yang membuatku pengen membacanya), dan ada juga yang dibeli karena bukunya best seller. #Yang nyengir paling depan tidak dibeli lho... 

Lagu Bangun Tidur Yang Ada Sholat Subuhnya

Zaman Zahro masih 2 years old, hehehe. . .
Setiap Zahro bangun pagi, urut-urutan komunikasi saya dengannya biasanya seperti ini:
1. Mengajaknya berdo'a bangun tidur.
2. Memintanya buang air kecil dan berwudhu.
3. Mengajaknya sholat Subuh berjama'ah (kalau dia bangun sebelum atau pas azan Subuh) atau memintanya sholat Subuh (jika dia bangun setelah saya selesai sholat Subuh).

Hari ini dia bangun setelah saya selesai sholat Subuh. Setelah urut-urutan itu disampaikan, dia berkomentar begini,  "Mi, Kakak tahu lagu Bangun tidur. Tapi di lagunya ga ada disuruh sholat Subuh." Hahaha. . .

Coba kita simak. Lagu bangun tidur itu isinya begini:
Bangun tidur 'ku terus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong Ibu
Membersihkan tempat tidurku.

Waaah. . . Lagunya mesti diganti nih.  Jadi begini:
Bangun tidur 'ku baca doa
Lalu aku mengambil wudhu.
Habis wudhu 'ku sholat Subuh
Tidak lupa membantu Ibu (yang ini dari Zahro kalimatnya, hehehe. . .)

Selamat berhari Ahad. . . Happy family time ^^

Bagaimana Berkomunikasi dengan Anak Usia Dini?

Gambar diperoleh dari http://www.exclusivechildcare.com
Anak usia dini biasanya mau berkomunikasi bila mereka merasa aman dan nyaman dengan suasana dan teman bicaranya. Berikut tips sederhana untuk berkomunikasi dengan anak usia dini:
1. Tunjukkan penerimaan Anda yang sempurna terhadap anak. Caranya, tunjukkan antusiasme yang besar saat anak berbicara. Tampilkan sikap tubuh yang positif dan apresiasi apapun yang disampaikan anak. Dengan cara itu, anak akan merasa bahwa apapun yang ia sampaikan dihargai, dan rasa percaya dirinya untuk berkomunikasi akan semakin berkembang.
2. Dengarkan yang disampaikan anak dengan serius. Tinggalkan dulu aktivitas Anda. Anak tahu bahwa dia tidak diperhatikan 100% jika Anda mengatakan bahwa Anda mendengarkannya tetapi Anda sambil memandang layar handphone atau memencet-mencet tombol hp Anda. Untuk membuat komunikasi terus berjalan, ajukan pertanyaan terbuka kepada anak, misalnya: Lalu? Trus gimana? Habis itu? 
3. Jangan lupakan kontak mata. Ini adalah bagian yang sangat penting dalam berkomunikasi dengana anak. Tubuh Anda jelas jauh lebih tinggi daripada anak. Karena itu, jangan buat anak Anda terpaksa mendongakkan kepalanya ketika berbicara dengan Anda, tetapi sejajarkanlah tubuh Anda dengan anak agar ia juga mudah memandang Anda.
4. Gunakan kata-kata yang sopan kepada anak, maka mereka juga akan terbiasa berkata sopan. Menggunakan kata-kata seperti tolong, maaf , terima kasih tidak hanya akan membuat mereka sopan tapi juga akan membuat mereka merasa dihargai.
5. Selalu gunakan kata-kata yang memotivasi mereka. Jangan pernah memutus semangat anak dengan mengatakan bahwa mereka tidak mampu/tidak bisa melakukan sesuatu. Selalu katakan bahwa Anda yakin bahwa insyaALLAH dia pasti bisa.

Komunikasi yang baik dan efektif pada anak usia dini insyaALLAH akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara verbal, komunikatif dan percaya diri. 

Selamat mencoba. . . :)

Sandwich Apa Adanya

Ini sandwich memang apa adanya. . . karena dibuat setelah melihat apa yang ada di dapur dan di kulkas, hahaha. . .


Di dapur ada roti tawar kupas (tinggal 3 slices)
Ada chili sauce

Di kulkas, 
ada telur (tinggal 2 butir)
keju slice (tinggal 2 slices)
tomat (tinggal satu buah)
timun (baru dibeli kalo ini)
mayonaise (hampir kadaluwarsa booo', kekeke. . .)

Jadi demi memanfaatkan apa yang ada dibuatlah sandwich tersebut.

Rasanya. . . ga kalah deh sama resto punya, hehehe. . .

My Dream & The Background

Hidup di perantauan sejak sekolah menengah menyebabkan saya beroleh kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang budaya dan keluarga yang berbeda-beda. Ketika di sekolah menengah kepekaan itu barangkali belum terasah, karena saya pun masih remaja. Memang kerap terbetik rasa penasaran dan terajukan pertanyaan “mengapa begitu?” ketika saya menemukan perilaku yang bersumber dari kegalauan masa remaja pada teman-teman saya. Sampai kemudian perilaku yang semakin beragam saya temukan saat menapaki jenjang perkuliahan. Saya gemar mengamati dan menelaah perilaku orang-orang di sekitar saya. Saya renungkan mengapa seseorang menyikapi suatu hal dengan suatu cara, sementara orang lain menyikapi hal yang sama dengan cara yang berbeda. Saya pun melakukan pengamatan terhadap diri saya sendiri. Ketika saya bersikap terhadap sesuatu, mengambil keputusan atas sesuatu, apa hal terbesar yang mempengaruhi saya.

Pengamatan saya terhadap diri sendiri akhirnya sampai pada satu kesimpulan, bahwa nilai-nilai yang saya dapatkan dari orangtua, yang saya bawa dari keluarga, itulah yang sangat besar mempengaruhi sikap-sikap saya. Maka menurut saya hal yang sama berlaku bagi setiap orang. Dan sejak saat itu pula rasanya saya menemukan pada bidang apa saya ingin berkontribusi sebagai manusia, yakni pengasuhan.

Masa senggang kuliah dulu kerap saya habiskan di perempatan jalan dan stasiun kereta api; demi mengasah empati saya atas bocah-bocah cilik yang semestinya bermain-main di TK namun terpaksa menghabiskan harinya dengan menadahkan gelas bekas air mineral demi seratus-dua ratus rupiah. Bahkan ada di antara mereka yang sering saya temani sejak masih bayi, dimandikan sang ibu setiap sore di selokan besar dekat kampus, kini sudah beranjak remaja dan tetap menghabiskan hari-harinya di perempatan lampu jalan.

Memang, tangan saya terlampau kecil untuk resah saya yang besar. Karena itu, tangan kecil ini hanya bisa berharap dapat memberi sedikit kemanfaatan pada ummat dengan hal kecil dan sederhana yang mampu dilakukannya. Therefore everyone, just feel free if you want to consult about parenting or children education. Maybe I can help you by my educational background. For now, I have a dream to contribute something to parents and children by writing books. I’m still a newbie in this area. But I hope ALLAH will help me to make somethin’ good.


Cheer Up! ^^

Sabtu, 28 Desember 2013

One Day (More Than) One Juz

Saya belum lama bergabung dengan ODOJ community. . . setelah mempertimbangkan kemampuan diri untuk bisa tilawah satu juz per hari, dan menakar kemanfaatan (akhirat) yang dapat saya peroleh dengan bergabung di komunitas tersebut.

Subhanallaah. . . memang benar, ternyata mampu kok setiap siapa yang punya niat untuk bisa tilawah satu juz per hari memenuhinya. Saya pribadi sudah membuktikannya. Kadang kalau tidak ada kesibukan yang berarti saya bisa menyelesaikan satu juz sekali duduk saja ba'da sholat Subuh. Jika ada kesibukan (duniawi. . . hiks) kadang saya mencicil 3 lembar-3 lembar-4 lembar atau 2 lembar-2 lembar (yang ini agak jarang). Cukup banyak testimoni-testimoni yang sudah beredar dari orang-orang yang cukup padat aktivitasnya tetapi tetap berusaha berkomitmen untuk menyelesaikan menu tilawahnya setiap hari. Artinya, sesiapa yang mengaku orang paling sibuk di dunia pun sesungguhnya bisa tilawah satu juz per hari. :)

Tetapi, ODOJ mungkin benar-benar menjadi ODOJ hanya bagi group ikhwan/laki-laki. Namun, tidak demikian bagi group akhwat/perempuan. As we know, ladies punya uzur. Setiap bulan mengalami haid/menstruasi yang membuat tilawah Qur'an dengan membaca mushaf tidak bisa dilakukan. Saya tahu banyak perbedaan pendapat (khilafiyah soal ini), tetapi di group saya sendiri kebijakannya yang haid tetap wajib membaca terjemah juz yang ia baca, dan jatah juznya dilelang kepada siapa yang bersedia membaca lebih dari satu juz, setidaknya tawaran diberikan kepada tetangga juz di atas dan di bawah.

Rupa-rupanya, ODOJ bisa jadi ODMTOJ (One Day More Than One Juz) bagi akhwat. . . :)

#Baarokallaahu untuk para akhwat yang selalu menyediakan masa menambah tilawah dengan mengambil lelangan saudari yang sedang uzur. :)

-=Lidah Kakak Masih Lidah Susu, Belum Lidah Tetap=-

Membicarakan soal gigi selalu menjadi topik menarik bagi Zahro, siapapun yang dia temui. Tak bosan-bosan dia membahas perbedaan antara gigi anak-anak, gigi orang dewasa, dan gigi kakek-nenek. Jadi isi bahasannya adalah apakah teman bicaranya bergigi susu, gigi tetap atau gigi palsu.

Jika bertemu anak kecil maka dia akan mengatakan bahwa gigi mereka sama, yaitu sama-sama gigi susu.
Jika bertemu dengan orang dewasa maka dia mengatakan bahwa, "Gigi kakak gigi susu, kalau gigi Ibu gigi tetap, kan?"
Jika berbicara dengan neneknya dia sering mengulang-ulang mengatakan bahwa nenek bergigi palsu.

Satu kali dia katakan pada Umi, "Mi, giginya Umi gigi tetap palsu, kan?" Hahaha. . .

Well. . . that's a knowledge for her to understand the difference of teeth by age. So it's quite fun and it's okay.

But this morning, dia mencapai sebuah kesimpulan baru.
"Mi, kakak tuh belum bisa bilang air miral (maksudnya air mineral), karena lidah kakak masih lidah susu. Kalau lidah Umi udah lidah tetap, kan? Makanya bisa bilang air mineral." 
Hahaha. . . Nah lho, itu bisa bilang?

#Celoteh lucu yang sudah semakin jarang muncul seiring pertumbuhannya. Always miss them. . . ^^

Jumat, 27 Desember 2013

-="Karena Kau Istimewa, Bu"=-

Sudah merupakan sunnatullaah bahwa jumlah perempuan ALLAH ciptakan lebih banyak daripada laki-laki, dan jumlah anak-anak di muka bumi ini lebih banyak daripada perempuan dewasa (baca: Ibu).

ALLAH Ta'ala telah pula fitrahkan bahwa anak-anak memiliki kedekatan fisik dan emosi cenderung lebih besar kepada Ibunya daripada ayahnya.

Maka maknanya,
ada peran penting dari sosok bernama "Ibu" bagi pembentukan jati diri anak.

Bila ingin anak-anak menjadi baik,
Maka tiada cara bagi Ibu,
melainkan dengan memperbaiki kualitas dirinya.
Bila mengharapkan anak-anak yang shalih/ah,
maka tiada cara bagi Ibu,
melainkan meminta kepada ALLAH agar menjadikan dirinya wanita shlihah,
dan penuhi syariatnya dengan berikhtiar 'tuk menjadi wanita sholihah.

Karena...
ALLAH ciptakan engkau istimewa, Bu.

Jogja,
Desember, 26 - 2013.

Selasa, 24 Desember 2013

My Hijab Story (Part 1)

Aku lahir dan besar di tanah Batak. Meski begitu, menurutku orang tuaku mendidik kami (anak-anak mereka) dengan pendidikan agama yang baik, setidaknya dibanding keluarga besar kami yang lain. Orang tuaku bahkan rela meninggalkan rumah warisan orang tua Ibu demi bisa memindahkan kami ke lingkungan yang ‘aman’, karena di rumah warisan nenek, kami bertetangga dengan banyak Chinese yang non-muslim.  Kukatakan baik kenapa? Aku ingat sudah mulai belajar puasa sejak umur 4 tahun. Aku ingat satu-satunya momen ketika Abahku marah kepadaku saat aku kelas 6 SD. Karena apa? Karena menunda-nunda sholat Dhuhur. Aku ingat, hampir setiap sholat Subuh dan Maghrib kami sekeluarga sholat berjama’ah di rumah. Momen salim seluruh anggota keluarga kami selepas sholat adalah momen yang akan paling kurindukan sampai kapanpun juga. Tetapi satu, orang tuaku tidak pernah mengenalkan kepadaku bahwa menutup aurat (berhijab) itu wajib bagi anak perempuan yang sudah baligh.

Tahun 2001. Aku lolos seleksi masuk sebuah SMA Plus dengan sistem semi militer di daerah kami. Sebuah sekolah berasrama yang ditujukan untuk memajukan putera daerah.  Tahun ini adalah awal aku berpisah tinggal dengan orang tuaku. Bocah 15 tahun belajar hidup mandiri. Ada 120 orang siswa untuk seluruh tingkatan kelas di sekolahku. Saat aku masuk, dari seluruh siswa, hanya 10 orang yang muslim, selebihnya beragama Kristen Protestan dan Katholik.

Seperti sudah kusebutkan, sekolahku semi militer. Maka cara hidup kami juga penuh kedisiplinan. Di asrama yang terletak di kaki gunung yang dinginnya luar biasa kala pagi menjelang, setiap pagi-pagi buta kami sudah harus berlari 1 sampai 2 kilometer. Biasanya sih hanya anak-anak kelas 1 yang masih patuh dengan aturan ini. Tetap berlari sesuai jarak yang ditentukan. Kalau anak-anak kelas tinggi, alih-alih berlari sesuai jarak tempuh, mereka hanya berjalan sambil ngerumpi. Terkadang baru seperempat perjalanan sudah kembali ke asrama.

Tidak hanya teman-temanku yang mayoritas non-muslim, tetapi  juga pengasuh asrama, guru-guru dan kepala sekolah. Bahkan untuk pelajaran agama Islam, sekolah kami terpaksa mendatangkan guru dari sekolah lain. Jam pelajarannya di luar jam sekolah. Karenanya, jangankan soal pengetahuan tentang kewajiban berhijab, pengetahuan agama yang umum saja sangat minim sekali kami dapatkan di sini.

Segalanya mulai berubah ketika aku mendapat jatah pulang. Oh ya, setiap satu bulan kami mendapat jatah pulang ke rumah. Pulang hari Sabtu selepas makan siang, dan harus tiba kembali di asrama hari Ahad sebelum jam 5 sore. Pada satu kali kepulangan, aku lupa kapan tepatnya, hari itu kakakku yang sudah kuliah di luar kota juga pulang. Dan ada yang berbeda dengan penampilannya. Jilbabnya lebar, dia tidak lagi mengenakan celana kulot melainkan gamis, dan dia berkaus kaki. Kakakku sejak SMA memang sudah berhijab. Tetapi seingatku bukan karena pemahaman tentang kewajiban berhijab, melainkan karena janjian sama teman-temannya.

Jadilah momen kepulangan kami ketika itu berakhir dengan cerita seru kakakku tentang aktivitasnya di kampus. Kakakku bilang dia ikut mentoring, juga aktif di lembaga kampus yang mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Dia menyebutnya dengan lembaga dakwah kampus. Dan ternyata, kakakku juga mengoleh-olehiku sebuah hadiah. Buku kecil berjudul “Panduan Hidup untuk Muslimah.” Besoknya saat kembali ke asrama buku kecil itu kubawa serta. Sungguh penasaran dengan isinya. Sepertinya buku semacam itu memang penting untuk aku yang hidup dengan mayoritas non-muslim.

Bagian pertama buku tersebut langsung membahas tentang aurat dan kewajiban untuk menutupnya bagi muslimah yang sudah baligh. Ada beberapa bagian yang masih lekat dalam ingatanku sampai saat ini. Kalimat yang menyatakan bahwa siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum tersebut, dan sebuah hadist yang di dalamnya Rasulullaah SAW bersabda kepada Asma’ binti Abu Bakar bahwa wanita yang sudah haid, tidak boleh terlihat dari dirinya selain wajah dan telapak tangan.

Bersambung. . .

Senin, 23 Desember 2013

Ale, Cucu Kakek Gurita Yang Disangka Cumi-cumi


   Ale baru saja menyelesaikan makan siangnya ditemani Kakek Gurita. Semangkuk sup udang yang sudah disiapkan Ibu sebelum berangkat kerja tadi pagi sudah habis dilahap Ale. Siang hari seperti ini biasanya Ale hanya berdua saja dengan Kakek Gurita di rumah mereka. Jika tidak tidur siang, ia sering minta diceritakan pengalaman seru kakek saat menjelajah air waktu masih muda. Kakek bilang, celah-celah terumbu karang adalah tempat paling asyik untuk bersembunyi, lumba-lumba adalah sahabat yang paling menyenangkan, dan kakek sering dianggap saudara kembar cumi-cumi oleh penghuni samudera yang lain.
      “Padahal kan tangan kakek hanya delapan, sedangkan cumi-cumi punya sepuluh.” Ujar Kakek Gurita seraya tertawa. Mendengarkan cerita kakek tidak pernah terasa membosankan. Karenanya, Ale juga ingin merasakan petualangan yang sama dengan kakek.
       “Kau tahu Ale, Kakek ini juaranya main petak umpet. Karena tubuh teman-teman Kakek besar-besar dan tidak lentur seperti Kakek, mereka selalu kesulitan menemukan kakek yang sembunyi di balik terumbu karang.” Cerita kakek dengan penuh rasa bangga.
      “Pernah satu kali saat akan sembunyi Kakek lihat ada sesuatu yang terjepit di antara karang-karang. Ternyata Pak Bebe belut laut yang terjepit di situ. Rupanya dia terlalu serius mengejar ikan kecil dan tidak sadar kalau karangnya semakin menyempit. Dia terlihat sangat kesakitan waktu itu. Kalau kakek tidak ke situ mungkin Pak Bebe tidak bisa bertahan hidup.”
      “Kakek menolong Kakek Bebe? Bagaimana caranya?” Tanya Ale penasaran.
     “Tentu saja dengan delapan tangan kakek yang kuat ini. Kakek dorong sepenuh tenaga batu karang yang menghimpit Pak Bebe. Akhirnya dia selamat.”
      Ale takjub sekali mendengar kisah seru kakeknya. Rasanya dia ingin diajak menjelajah terumbu karang yang  selalu jadi tempat persembunyian kakek saat main petak umpet dengan teman-temannya. Tapi sekarang Kakek Gurita sudah tua. Jalannya sangat lambat. Bahkan kakek sudah mulai kesulitan mengendalikan gerakan tangan-tangannya sehingga kerap menyenggol barang-barang di rumah. Ibu Ale sering mengomel sebab perabotan di rumah banyak yang pecah karena tersenggol kakek. Tapi kakek hanya terkekeh-kekeh saja setiap Ibu Ale mengomel seraya berujar,
      “Kalau begitu janganlah kau taruh terlalu banyak perabotan di dalam rumah ini.”

* * *
     Sepulang sekolah tadi, Ale lihat cuaca di samudera sedang cerah. Cahaya matahari bahkan mampu menembus hingga ke bagian dasar, berwarna-warni menerpa makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya. Hewan-hewan laut yang berpapasan dengannya terlihat sangat gembira dengan hadirnya siluet cahaya di kedalaman air tempat tinggal mereka. Lulu lumba-lumba duduk di sebongkah karang sembari bernyanyi merdu. Sekelompok ikan badut berkejaran dengan gembira di antara rumput laut. Induk pari dan anaknya berenang melesat sembari meliuk-liukkan badan mereka. Rasanya sungguh sayang jika melewatkan hari yang cerah ini hanya dengan tidur siang. Selepas membersihkan sisa-sisa makanan dan mencuci piring, Ale pamit kepada kakek untuk bermain-main ke luar rumah.
      “Memangnya hendak ke mana?” Tanya kakek kepada Ale.
      “Mau naik ke permukaan laut, Kek. Cuacanya cerah sekali, nih. Ale ingin menikmati cahaya matahari. Pasti banyak burung-burung yang terbang di atas langit samudera jika harinya cerah seperti ini. Masa kakek saja yang punya pengalaman seru. Ale juga mau, dong!” Jawab Ale dengan penuh semangat.
     “Ya, sudah. Tapi jangan kesorean, ya! Sebelum Ayah dan Ibumu pulang, pastikan kau sudah sampai di rumah. Dan jangan lupa pesan kakek ya anak baik, tolonglah hewan-hewan yang memerlukan bantuanmu.”
     “Siap, Kek! Ale pergi dulu ya, Kek.”
    Sambil bersiul riang, Ale mengayunkan delapan tangannya membelah lautan. Perlahan-lahan berenang naik hingga mencapai permukaan air. Benar saja, ratusan burung perairan sedang asyik terbang di atas langit samudera. Beberapa ekor elang terlihat menukik ke arah lautan untuk menangkap ikan.
      Ale berenang ke arah tebing kapur di dekat pantai agar lebih puas menonton para burung. Sesampainya di kaki tebing, dia merayap menaiki bebatuan dengan tangan-tangannya. Saat tiba di atas, Ale terkaget-kaget melihat seekor bangau sedang duduk sendirian sambil memandangi teman-temannya.
       “Halo, teman. Ngapain di sini sendirian?” Sapa Ale kepada sang bangau.
      "Eh, hai. Tadi aku terbentur tebing, karena keasyikan melihat cara elang menangkap ikan. Sekarang sayapku terasa sakit. Jadi aku istirahat sebentar di sini.” Jawab bangau yang juga kaget karena Ale tiba-tiba ada di sebelahnya.
      "Oh, begitu. Hahaha. . . lucu juga kamu ini. Sesama burung perairan bukannya sama saja cara menangkap ikannya? Kenapa harus memperhatikan cara terbang burung lain sampai cedera begitu?”
     "Jangan salah, teman. Walaupun kami sama-sama jenis burung, tapi kami juga punya perbedaan, lho. Seperti kamu. Kamu sering dianggap kembaran gurita, kan? Padahal cumi-cumi dan gurita kan berbeda.” Jawab bangau.
        “Gurita? Aku ini memang gurita.” Ale kebingungan.
        “Oh, kamu bukan cumi-cumi, ya? Hahaha. . . maaf, maaf. Kukira kamu adalah cumi-cumi."
      “Bukan! Lihatlah, tanganku ada delapan. Cumi-cumi punya sepuluh tangan.” Wah, jadi benar cerita kakek bahwa mereka sering dianggap mirip dengan cumi-cumi.
     “Ooo. . . hahaha. Begitulah, teman. Sebagaimana kamu dan cumi-cumi, walaupun sepertinya aku dan elang sama-sama burung, tetapi sebenarnya cara  kami terbang dan memperoleh makanan berbeda. Dan melihat elang terbang selalu menyenangkan, Gurita. Sebab mereka sangat cepat dan tangkas.”
       “Begitu, ya. Omong-omong, kamu sudah makan siang atau belum?” Tanya Ale pada si bangau.          
      “Sebentar lagi, kalau sayapku sudah tak terlalu sakit aku akan mencari makan.” Jawab bangau.
     “Tunggu sebentar ya, aku mau turun dulu ke air.” Ujar Ale. Dengan delapan tangannya, mudah saja bagi Ale untuk mencapai air dengan cepat. Setelah kembali ke tebing, Ale mengulurkan sesuatu ke arah bangau.
        “Nih, silakan dimakan.”
        Wah, ternyata Ale mengambilkan seekor ikan untuk makan siang bangau yang cedera.
        “Oh, terima kasih banyak, Gurita. Kamu baik sekali.”
       “Tak mengapa. Pertemuan kita hari ini mengingatkanku pada kakekku. Kata kakekku, anak yang senang menolong adalah anak yang baik. Aku kan anak yang baik!” Seru Ale sambil tertawa. Bangau juga ikut tertawa mendengar kata-kata Ale. Lantas tanpa basa-basi, dia langsung melahap ikan pemberian Ale.
     Setelah melihat-lihat keindahan samudera dan keramaian burung perairan bersama bangau, Ale pamit pulang. Ditemani matahari yang beranjak senja dan oleh-oleh pengalamannya, tak sabar rasanya Ale untuk bercerita pada kakeknya.

-=Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Lomba Cerpen Gurita.=-

Minggu, 22 Desember 2013

-=Ibu Tukang Jamu=-

Ibu satu ini. . . Hobinya beberes rumah. Nggak bisa dia lihat ada yang kotor dan berantakan. Pasti akan langsung dia bersih dan rapikan. Beberapa kali kesempatan momong cucu jadi pengalaman melelahkan baginya, terutama saat momong cucunya yang laki-laki. Dia bersihkan ruang depan, dapur diberantakin si cucu. Dia bereskan dapur, bantal-bantal kursi di ruang depan sudah berhamburan lagi. Satu-dua kali tetap dia usahakan untuk membereskannya lagi. Sampai akhirnya dia kelelahan dan membiarkan saja cucunya berulah. Dengan senyuman "licik" suaminya berbisik, "Akhirnya nyerah juga dia." Hahaha. . .

Ibu satu ini juga jago masak. Luar biasa cita rasa masakan yang ia olah. Suaminya suka meledeknya begini di depan anak dan mantunya, "Mama kalian ini, wajahnya jelek, badannya gendut, rambut sudah putih, gigi sudah palsu. cuma satu kelebihannya. Jago masak. Kalau saja dia nggak jago masak, udah Abah tinggalkan dia." Dan mereka berdua akan berakhir dengan adegan cubit-cubitan. Hahaha. . .

Ibu satu ini, memilih menjadi guru agama daripada pedagang (sebagaimana sebagian besar saudara-saudaranya yang lain) karena dia ingin mendidik anak-anaknya dengan aqidah yang benar dan memiliki waktu yang berkualitas dengan anak-anaknya (yang menurutnya tidak dia dapatkan saat kecil karena orang tuanya sibuk berdagang di pasar).

Ibu satu ini, meski belum sekualitas Bunda Khadijah binti Khuwailid r.a., tetapi subhanallaah baktinya kepada suaminya. Rumit bagiku mengingat yang lalu-lalu, tetapi bakti yang ia lakukan kepada suaminya (yang Ramadhan lalu dijemput malaikatnya ALLAH) sangat jelas menunjukkan keikhlasan cintanya. Tak perlu kusebutkan semua, tapi ada satu hal yang sempat membuatnya amat sangat risau. Beberapa bulan sebelum meninggal sang suami membeli kaligrafi dari seorang penjual kaligrafi keliling. Saat itu belum lunas sang suami membayarnya. Dan sang penjual tak kunjung datang sampai sekitar dua bulan setelah sang suami meninggal. Semua amanah, tanggungan, dan hajat sang suami (yang diketahui) Ibu ini sudah ia tunaikan. Tinggal urusan kaligrafi itu saja yang masih belum selesai.

Sampai di suatu sore tak kuasa dia menahan tangis, "Abah, masih ada tanggunganmu yang belum kuselesaikan." Begitu bisiknya dalam tangisnya. Dia takut itu akan memperberat hisab suaminya. Dalam sholat dia meminta kepada ALLAH agar mendatangkan penjual kaligrafi itu. Karena dia tidak tahu bagaimana cara menghubunginya, sebab tidak mengetahui kontaknya. Katanya kepada ALLAH, jika penjual kaligrafi itu tidak datang-datang, maka dia akan bersedekah sejumlah kekurangan pembayaran kaligrafi tersebut. Terserah ALLAH nanti mau menilainya bagaimana.

Subhanallaah. . . sungguh ALLAH sayang pada hamba-NYA. Tak lama dari itu ALLAH menjawab kerisauannya. Datang seorang laki-laki mengucap salam dari balik pagar. Dapat ditebak, beliau adalah pedagang kaligrafi tersebut. Ternyata dia pulang ke Semarang selama beberapa waktu, membantu orang tuanya bertani. Si Ibu sempat menegurnya kenapa tidak datang mengambil sisa pembayaran kaligrafi. Sang penjual kaligrafi menjawab, "Karena saya percaya pada Bapak, Bu."

Terbayang, kan betapa lega hati Si Ibu? Ya, Dia sungguh-sungguh lega. Bahagia tak terkira.

Ibu ini beberapa waktu lalu cerita kalau sekarang dia jualan jamu. Hahaha. . . kesannya kurang kerjaan, ya? Tapi tidak. Dia hanya berusaha mencari celah-celah kebaikan dalam kekosongan yang ditinggalkan pasangan hidupnya. Waktu-waktu yang biasanya mereka habiskan berdua saja; pagi hari saat sarapan, sore hari saat mengobrol di teras rumah sambil menikmati teh panas dan goreng pisang, tengah malam saat tahajjud bersama, sudah tidak bisa lagi dia nikmati.

Si Ibu yang mendadak jadi tukang jamu ini promosi, jamunya enak dan sehat, dibuat dari enam belas macam jamu-jamuan, diolah secara tradisional dan higienis. Dari penjualan jamunya dia bisa menghasilkan sekitar 300 ribu. Uang itu dengan tambahan dari zakat penghasilannya kemudian dia belikan bahan pokok dan setiap bulan dia hantarkan ke beberapa pondok tahfidz dan panti asuhan, ditemani anak bungsunya Farhan Zamzamy dan anak mantunya Winda Siregar . Kemarin Ibu ini bilang, momen-momen ke pondok tahfidz dan panti asuhan sekarang jadi momen yang selalu dia rindukan.

Sungguh. . .
Dia. . .
adalah salah satu wanita akhir zaman yang menginspirasiku.
Dia. . .
Ibuku.

#Terima kasih untuk semuanya Mom. I can't describe it. . . Cuma bisa bilang "Semoga Bunda disayang ALLAH." We Love U. T.T  *Hug*





Flowers Are Red

Lagu ini bukan karya saya, hehehe. Tetapi suka banget karena kritis dan semestinya menggelitik para guru dan orang tua jika meresapi maknanya. 

"Pelangi itu berwarna-warni, 
sinar mentari di pagi hari juga berwarna-warni, 
lalu kenapa bunga harus berwarna merah dan daun harus berwarna hijau saja?" 

Lesson learned yang dapat saya petik dari lagu ini. . . Amat penting bagi setiap orang tua dan/atau guru untuk mengapresiasi setiap proses belajar anak, karena setiap saat dalam kehidupan seorang anak hakikatnya adalah proses belajar. Imajinasi mereka masih bebas dan berwarna-warni. Izinkanlah untuk berkembang, jangan langsung kita sekat-sekat.



By : Zain Bhikha (Original lyrics by Harry Chapin)

A little boy went first day at school
He got some crayons and he started to draw
He put colors all over the paper
For colors was what he saw
The teacher said, "What you doin' young man?"
"I'm paintin' flowers, see?" 
"Well this is not the time for art young man,
And anyway flowers are green and red.
There's a time for everything young man
a way it should be done
You've got to show concern for everyone else,
for you're not the only one." 
And she said...
"Flowers are red
Green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
than the way they always have been seen "
But the little boy said...
"There are so many colors in the rainbow
So many colors in the morning sun
So many colors in the flower and I see every one" 

Well, the teacher said… "You're sassy.
There's a way that things should be
And you'll paint flowers the way they are
So repeat after me..."
She said,
"Flowers are red 
Green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen "
But the little boy said again...
"There are so many colors in the rainbow
So many colors in the morning sun
So many colors in the flower and I see every one" 

Well, the teacher put him in a corner
She said… "It's for your own good…
And you won't come out 'til you get it right
responding like you should."
Well, finally he got lonely
Frightened thoughts filled his head
And he went up to that teacher
And this is what he said,
"Flowers are red, green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen"

Well, time went by like it always does
he moved to another town
And the little boy went to another school
And this is what he found
The teacher there was smilin'
She said, "Painting should be fun
And there are so many colors in a flower
So let's paint everyone." 
That little boy painted flowers
In neat rows of green and red
And when the teacher asked him "why",
this is what he said, 
"Flowers are red, green leaves are green
There's no need to see flowers any other way
Than the way they always have been seen."

But there must still be a way to have our children say,
There are so many colors in the rainbow
So many colors in the morning sun
So many colors in the flower and I see every one
There are so many colors in the rainbow
So many colors in the morning sun
So many colors in the flower and I see every one.

Sabtu, 21 Desember 2013

Self Reflection

Sesungguhnya orang yang beriman akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa kehidupan yang dialaminya. Bahwa semua peristiwa kehidupan bertalian erat dengan seberapa dekat tautan hatinya kepada Rabbnya.

Setiap peristiwa kehidupan hendaknya mampu menjadi jembatan untuk meneguhkan keyakinan kita bahwa selalu ada campur tangan ALLAH atas apa-apa yang berlaku terhadap diri kita. Kata ALLAH,
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa : 79)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah swt. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berarti dari dirimu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri, sebagaimana firman-Nya :
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

Cinta-Kekayaan-Kesuksesan

Seorang wanita keluar dari rumahnya dan melihat tiga orang lelaki tua berjanggut putih sedang duduk-duduk di halaman rumahnya. Wanita tersebut tidak mengenali mereka. Katanya, "Saya tidak kenal kalian, tapi kalian pasti lapar. Silakan masuk dan makanlah di rumah kami."
Sakah seorang di antara mereka bertanya,
"Suamimu ada di rumah?"
Jawab sang wanita, 
"Dia sedang pergi."
Lelaki tersebut menjawab,
"Kalau begitu kami tidak bisa masuk."

Sore harinya suami wanita tersebut pulang ke rumah. Wanita itu menceritakan tentang tiga lelaki tua tadi kepadanya. "Persilakanlah mereka masuk." Ujar suaminya.
Wanita itu keluar rumah untuk mempersilakan ketiga lelaki tua untuk masuk.
"Kami tidak bisa masuk bersama-sama." Ujar mereka.
"Kenapa?" Tanya wanita itu.
Salah seorang di antara mereka menjawab, "Namanya adalah Kekayaan," seraya menunjuk satu orang di antara mereka. "Namanya Kesuksesan, dan aku adalah Cinta." Kemudian dia menambahkan, "Masuklah dan bicarakan dengan keluargamu siapa di antara kami yang ingin kalian undang masuk lebih dulu."

Wanita tersebut menyampaikan kata-kata lelaki tua tadi kepada suaminya. Suaminya menjawab, "Menarik sekali! Jika demikian undanglah Kekayaan untuk masuk lebih dulu, agar dia memenuhi rumah kita dengan kekayaan!"
Sang istri tidak setuju, "Suamiku, kenapa bukan Kesuksesan saja yang kita undang lebih dulu?"

Menantu perempuan mereka mendengar pembicaraan orang tuanya dari dalam kamar. Dia mengatakan, "Bukankah lebih baik jika kita undang Cinta untuk masuk lebih dulu? Rumah kita akan dipenuhi dengan cinta!"
"Baiklah, kita ikuti saran anak menantu kita," ujar sang suami kepada istrinya. "Undanglah Cinta untuk masuk lebih dulu."

Wanita tersebut keluar menemui tiga lelaki tua dan menyampaikan pesan suaminya.
"Yang mana di antara kalian yang bernama Cinta? Silakan masuk ke rumah kami."

Lelaki tua bernama Cinta bangkit dan berjalan menuju rumah. Kedua lelaki tua yang lain mengikutinya dari belakang. Terkaget-kaget, wanita itu bertanya, "Saya hanya mengundang Cinta, kenapa kalian ikut masuk?"

Lelaki tua menjawab bersama-sama, "Jika kalian mengundang Kekayaan atau Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Tetapi karena kalian mengundang Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga menyertainya. Karena di mana ada Cinta, maka di situ ada Kekayaan dan Kesuksesan."

-=The story was translated from 100 Moral Stories=-

Jumat, 20 Desember 2013

Opening

Omong-omong soal menulis, terasa lama sekali tak kucatatkan jejak-jejak kehidupan yang telah terlewati... Sejak menyandang status istri (hehe...kurang lebih begitu). Entah kenapa rasa rindu untuk mengalirkan ekspresi-ekspresiku kian membuncah saja hari ini. Nah, jadilah Mencatat Jejak ini membuka kembali ruang-ruangku tuk mencatatkan jejak... Mudah-mudahanan manfaat untukku dan siapa saja yang ikut membaca.

Oh ya, aku senang dengan sebutan MJ.Ariseno... Sebab aku senang dengan penyandingan nama suami dengan nama istri. Tapi aku tak menemukan posisi yang tepat untuk Saktia Ari Seno dengan Miftahul Jannah. Lucu to ya kalau namaku jadi Miftahul Jannah Sakti hehehe... kalau Miftahul Jannah Ariseno kayaknya panjang banget gitu...jadilah kupilih MJ.Ariseno (lumayanlah ...:))

Yup... Welcome...welcome...welcome...