Senin, 09 Februari 2015

Learning, We Can Make It Simple

Saya mafhum, salah satu sumber kerisauan orangtua yang berminat menjadi praktisi homeschooling adalah kurikulum, jadwal belajar, dan materi pelajaran. Kami pun pernah mengalaminya. Rasa bahwa anak harus belajar sesuatu yang jelas setiap hari. Anggapan diri bahwa anak baru dinamakan berlajar jika dia duduk dengan kertas dan pulpen/pensil ada di depannya. Hal-hal semacam itu.

Saya baru merasa tenang setelah dikuatkan, bahwa homeschooling bukanlah memindahkah sekolahan ke rumah. Jadwal pelajaran kita tidak harus sesaklek jadwal pelajaran di sekolah. Demikian pula materi pelajarannya, kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak saja. Apalagi jika anak masih berusia dini, kita hanya perlu berpegang teguh pada prinsip learning by playing, lalu merancang kegiatan yang seru dengan prinsip itu.

Kadangkala, ide beraktivitas seru itu bisa datang tiba-tiba. Asalkan kita sudah punya mindset, bahwa kita bisa memetik pelajaran dari mana saja dan bisa belajar dari aktivitas apa saja. Insya Allah, ide-ide segar akan muncul seolah-olah begitu saja, tuing. . . tuing, hehehe. . .

Gambar di bawah ini salah satunya, aktivitas belajar yang bermula dari ketidaksengajaan.



Awalnya, anak saya sedang membolak-balik kisah-kisah moral berbahasa Inggris. Lantas dia membacanya sesuka hatinya. Tentu saja terdengar lucu jadinya. Saya sampai terbahak-bahak dibuatnya. Lalu saya memintanya membaca satu cerita utuh, sembari saya membenarkan pengucapan setiap kata yang dia baca. Ternyata dia sangat senang dengan pengalaman baru itu, bahwa dalam bahasa Inggris, tidak semua kata dibaca sesuai dengan yang tertulis.

Kemudian saya bertanya pada anak saya apakah dia ingin tahu apa sebenarnya isi cerita itu? Dan dia ingin mengetahuinya. Lalu saya maknai cerita itu.  Secara garis besar, cerita itu tentang rasa bersyukur dan berterima kasih. Lantas saya minta anak saya mengulangi pemaknaan yang saya sampaikan. Kemudian makna cerita itu kami diskusikan bersama. Nah, bisa dilihat kan, dari sesuatu yang sederhana bahkan tak sengaja, berapa banyak hal yang telah kami pelajari?

Mengambil inspirasi dari pelafalan kata bahasa Inggris, saya berinisiatif mengenalkan bentuk tertulis angka dalam bahasa Inggris pada anak saya. Sejauh ini, anak saya sudah tahu melafalkan one to ten, tapi dia belum tahu bagaimana sebenarnya lafal itu dalam bentuk tulis. Maka jadilah orat-oret di gambar yang saya lampirkan di atas. Dari orat-oret sederhana itu kami bermain kuis. Mulai dari melafalkan urut one to ten sampai saya bertanya acak, misal "Bahasa Inggris delapan?", "Lima?" "Empat?", dan seterusnya. Alhamdulillah dalam satu sesi bermain dia sudah mulai bisa melafalkan angka berbahasa Inggris dengan stimulus acak. 

So, demikianlah kira-kira contoh menyederhanakan bentuk belajar dan menemukan materi belajar yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan kita menemukan cara-cara belajar seru dan menyenangkan lainnya. Happy learning. ^^

Zahro's HS Journal
Djogdja, 09022015
~eMJe~

2 komentar:

  1. Orang tua memang harus kreatif bin inovatif ya mak. Tfs ya

    Happy learning jg mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyess, Mak. . . Makasih udah mampir ya, Mak :-)

      Hapus