Pekan lalu saya beli dua buah buku yang saya kira tentang traveler gitu. Ternyata hanya satu buku yang benar-benar tentang traveling. Satunya lagi lebih ke novel geografis gitu buat saya.
Novel geografis? Ada ngga sih istilah itu? Hahaha... entahlah. Intinya buku setebal 400 halaman itu berlatar dan berkisah tentang kehidupan pesisir di belahan timur Indonesia.
Asyik benar sepertinya novel itu buat gadis 8 tahun saya. Dia sukses menuntaskannya tidak lebih dari tiga hari. Dengan adegan air mata bercucuran beberapa kali. Saya aja belum berani membelah halamannya, takut kalau isinya terlalu berbobot untuk dicerna otak. Hahaha...
Jadi tadi saya minta dia menuliskan apa yang dia reguk dari novel itu. Dan dia menuliskan beberapa poin berikut:
1. Pengorbanan seorang ibu untuk anaknya.
2. Kasih sayang kepada teman.
3. Pengorbanan seorang kakak untuk adiknya.
4. Bertahan dan bersabar dalam kesulitan
5. Berusaha mendapatkan hidayah.
Nah, kan... berbobot banget, banyak korbannya... 😂😂😂
Jadi sebagai penghargaan atas enjoynya dia membaca novel itu, maka saya kasih dia bonus novel psikologi tentang disleksia dan novel biografi tentang "reach the dream" yang saya keruk-keruk dari kardus buku hasil benah-benah rak buku bulan lalu. Dan dia excited benget 😍😍😍
#ceritanongadgetactivityanakku
#funwithoutgadget
#homeschoolergirl
Jannah_UmmuZahro
Tampilkan postingan dengan label Homeschooling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homeschooling. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Maret 2017
Sabtu, 30 Mei 2015
Homeschooling Journal: Coloring, Cutting & Gluing Activity
Seorang sahabat saya pernah berkata, "Supaya anak bisa menulis rapih itu, salah satu caranya adalah dengan melatih keterampilan motorik halusnya."
Lalu, motorik halus itu apa sih?
Motorik halus adalah koordinasi otot-otot kecil, yang biasanya melibatkan sinkronisasi tangan dan jari-jari dengan mata. Menulis merupakan tingkat keterampilan motorik halus yang tinggi, istilahnya fine-fine motor skills. Nantinya, menulis merupakan kemampuan motorik halus yang sangat penting dalam proses belajar ananda.
Di usia yang lebih dini, banyak sekali bentuk-bentuk aktivitas motorik halus yang menarik dan menyenangkan yang bisa dilakukan ananda bersama orangtua, misalnya: bermain corat-coret di beragam media, fingerpaints, menjumput benda-benda kecil dengan jempol dan telunjuk, menggunting, menempel, mewarnai, meronce, mengikat tali, memasang kancing baju atau resleting, daaaaaaaan masih banyak lagi.
Anak saya sangat senang dengan aktivitas menggunting. Hanya saja, sekadar menggunting kayaknya cuma menghasilkan sampah deh. Karena itu, saya coba hunting lembar aktivitas yang tak sekadar menggunting, tapi juga mewarnai dan menempel sekaligus. Sehingga hasil guntingannya nggak terbuang. :D
Di internet, cukup banyak kok lembar kerja motorik halus yang bisa kita unduh dengan gratis. Tinggal dicetak, lalu bisa dikerjakan, deh. Salah satunya yang kami jadikan aktivitas belajar kemarin.
Oya, aktivitas mewarnai saya kembangkan lagi untuk belajar bahasa. Petunjuk warna di lembar aktivitas saya tulis di whiteboard dalam tiga bahasa: Indonesia - Inggris - Arab. Nah, sambil mewarnai, menggunting, dan menempel, anak juga menambah beberapa kosa kata dalam tiga bahasa.
Menguntungkan, bukan? :-)
Nah, ini dia hasilnya...
Cantik, ya? ^^
Selamat mencoba, semuanya... ^^
Lalu, motorik halus itu apa sih?
Motorik halus adalah koordinasi otot-otot kecil, yang biasanya melibatkan sinkronisasi tangan dan jari-jari dengan mata. Menulis merupakan tingkat keterampilan motorik halus yang tinggi, istilahnya fine-fine motor skills. Nantinya, menulis merupakan kemampuan motorik halus yang sangat penting dalam proses belajar ananda.
Di usia yang lebih dini, banyak sekali bentuk-bentuk aktivitas motorik halus yang menarik dan menyenangkan yang bisa dilakukan ananda bersama orangtua, misalnya: bermain corat-coret di beragam media, fingerpaints, menjumput benda-benda kecil dengan jempol dan telunjuk, menggunting, menempel, mewarnai, meronce, mengikat tali, memasang kancing baju atau resleting, daaaaaaaan masih banyak lagi.
Anak saya sangat senang dengan aktivitas menggunting. Hanya saja, sekadar menggunting kayaknya cuma menghasilkan sampah deh. Karena itu, saya coba hunting lembar aktivitas yang tak sekadar menggunting, tapi juga mewarnai dan menempel sekaligus. Sehingga hasil guntingannya nggak terbuang. :D
Di internet, cukup banyak kok lembar kerja motorik halus yang bisa kita unduh dengan gratis. Tinggal dicetak, lalu bisa dikerjakan, deh. Salah satunya yang kami jadikan aktivitas belajar kemarin.
![]() |
| Sumber gambar: http://kiboomukidssongs.com |
![]() |
| Asyik menempel setelah mewarnai dan menggunting Foto: dokumen pribadi |
![]() |
| Stimulasi motorik halus sekaligus verbal |
Oya, aktivitas mewarnai saya kembangkan lagi untuk belajar bahasa. Petunjuk warna di lembar aktivitas saya tulis di whiteboard dalam tiga bahasa: Indonesia - Inggris - Arab. Nah, sambil mewarnai, menggunting, dan menempel, anak juga menambah beberapa kosa kata dalam tiga bahasa.
Menguntungkan, bukan? :-)
Nah, ini dia hasilnya...
Cantik, ya? ^^
![]() |
| Dua ekor burung hasil coloring, cutting & gluing activity |
~eMJe~
Zahro's Homeschooling Journal
29052015
Selasa, 10 Februari 2015
Cooking Class: Carrot Cheese Cake ala Zahro
Sejak membeli kompor gas portable tiga pekan lalu, dengan pengantar bahwa kompor gas itu buat dia belajar masak, hampir tiap hari kakak Zahro minta diadakan cooking class. Syukurlah dia sangat menikmati aktivitas bernama siang-menyiangi. Semacam memetik atau memotong sayuran pasti dia buru. "Kakak aja!" kira-kira begitu deh seruannya kalau saya mau menyiangi sayuran.
Kalau memasak pake kompor gas portable itu, biasanya kita pasang di teras samping, menghadap taman. Mantap, kan? Macam liburan aja, hahaha. . .
Masakan pertamanya adalah sayur bening bayam, Esoknya dia minta bikin nutrijell. Setelah itu dia pengen bikin salad wortel yang diparut memanjang lalu dikasih topping mayonaise. Kemudian dia pengen masak sayur jagung putren. Positifnya ngikutin semangat masak-masaknya ini adalah dia jadi ngerasa bertanggungjawab buat ngabisin hasil jerih payahnya sendiri. Sambil dikomporin ummi, "Masakan paling enak adalah yang kita masak sendiri, Kak," hahaha. . .
Dan. . . gegara salad wortel, kak Zahro mendeklarasikan bahwa dia adalah penggemar wortel. Dengan pe-er kudu mencarikan masakan sederhana yang bisa dipraktekkan Zahro, ummi pun searching resep olahan wortel untuknya. Dan terpikirlah untuk membuat carrot cake.
"Emang wortel bisa dijadikan kue? Itu kan sayur?" tanyanya tak langsung percaya waktu ummi menawarkan buat bikin kue wortel. Setelah yakin bahwa ada kue yang bernama kue wortel, kami pun sepakat untuk mengeksekusinya.
So, pagi ini setelah beberes kamar, kami bergegas terbang ke dapur. Alhamdulillaah everything yang dibutuhkan ready. Most of the processes bikin kue wortel ini Zahro sendiri yang mengerjakan, mulai dari marut wortel, timbang tepung, gula, margarin, kocok adonan, sampai nuang adonan ke loyang. Ummi ngarah-ngarahin doang sambil sesekali bantuin kalo dia tampak kepayahan. Plus masukin loyang ke oven tentunya. Masih belum berani bangetlah ngelepas anak menghadapi api.
And, alhamdulillah buat ummi hasilnya sangat memuaskan untuk ukuran koki cilik macam Zahro. Rasa kuenya juga ueeenak sebab kami cocolin keju ke dalam adonannya, hehehe.
Buat yang pengen nyoba bikin, ini resepnya:
Bahan:
175 gram terigu protein sedang
150 gram margarin
100 gram gula pasir
3 butir telur
1/2 sdt baking powder
100 gram wortel parut
50 gram cream cheese
Kismis
Cara memasak:
Kocok gula pasir + margarin sampai lembut
Masukkan telur satu per satu bergantian dengan tepung yang sudah dicampur baking powder
Masukkan cream cheese
Masukkan wortel
Masukkan ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin
Taburi dengan kismis atau topping lain yang disukai
Oven sampai matang
Selamat mencoba. :-)
Hmm, besok masak apa lagi ya?^^
Djogdja, 10022015
~eMJe~
Kalau memasak pake kompor gas portable itu, biasanya kita pasang di teras samping, menghadap taman. Mantap, kan? Macam liburan aja, hahaha. . .
Masakan pertamanya adalah sayur bening bayam, Esoknya dia minta bikin nutrijell. Setelah itu dia pengen bikin salad wortel yang diparut memanjang lalu dikasih topping mayonaise. Kemudian dia pengen masak sayur jagung putren. Positifnya ngikutin semangat masak-masaknya ini adalah dia jadi ngerasa bertanggungjawab buat ngabisin hasil jerih payahnya sendiri. Sambil dikomporin ummi, "Masakan paling enak adalah yang kita masak sendiri, Kak," hahaha. . .
Dan. . . gegara salad wortel, kak Zahro mendeklarasikan bahwa dia adalah penggemar wortel. Dengan pe-er kudu mencarikan masakan sederhana yang bisa dipraktekkan Zahro, ummi pun searching resep olahan wortel untuknya. Dan terpikirlah untuk membuat carrot cake.
"Emang wortel bisa dijadikan kue? Itu kan sayur?" tanyanya tak langsung percaya waktu ummi menawarkan buat bikin kue wortel. Setelah yakin bahwa ada kue yang bernama kue wortel, kami pun sepakat untuk mengeksekusinya.
So, pagi ini setelah beberes kamar, kami bergegas terbang ke dapur. Alhamdulillaah everything yang dibutuhkan ready. Most of the processes bikin kue wortel ini Zahro sendiri yang mengerjakan, mulai dari marut wortel, timbang tepung, gula, margarin, kocok adonan, sampai nuang adonan ke loyang. Ummi ngarah-ngarahin doang sambil sesekali bantuin kalo dia tampak kepayahan. Plus masukin loyang ke oven tentunya. Masih belum berani bangetlah ngelepas anak menghadapi api.
And, alhamdulillah buat ummi hasilnya sangat memuaskan untuk ukuran koki cilik macam Zahro. Rasa kuenya juga ueeenak sebab kami cocolin keju ke dalam adonannya, hehehe.
Buat yang pengen nyoba bikin, ini resepnya:
Bahan:
175 gram terigu protein sedang
150 gram margarin
100 gram gula pasir
3 butir telur
1/2 sdt baking powder
100 gram wortel parut
50 gram cream cheese
Kismis
Cara memasak:
Kocok gula pasir + margarin sampai lembut
Masukkan telur satu per satu bergantian dengan tepung yang sudah dicampur baking powder
Masukkan cream cheese
Masukkan wortel
Masukkan ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin
Taburi dengan kismis atau topping lain yang disukai
Oven sampai matang
Selamat mencoba. :-)
Hmm, besok masak apa lagi ya?^^
Djogdja, 10022015
~eMJe~
Senin, 09 Februari 2015
Learning, We Can Make It Simple
Saya mafhum, salah satu sumber kerisauan orangtua yang berminat menjadi praktisi homeschooling adalah kurikulum, jadwal belajar, dan materi pelajaran. Kami pun pernah mengalaminya. Rasa bahwa anak harus belajar sesuatu yang jelas setiap hari. Anggapan diri bahwa anak baru dinamakan berlajar jika dia duduk dengan kertas dan pulpen/pensil ada di depannya. Hal-hal semacam itu.
Saya baru merasa tenang setelah dikuatkan, bahwa homeschooling bukanlah memindahkah sekolahan ke rumah. Jadwal pelajaran kita tidak harus sesaklek jadwal pelajaran di sekolah. Demikian pula materi pelajarannya, kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak saja. Apalagi jika anak masih berusia dini, kita hanya perlu berpegang teguh pada prinsip learning by playing, lalu merancang kegiatan yang seru dengan prinsip itu.
Kadangkala, ide beraktivitas seru itu bisa datang tiba-tiba. Asalkan kita sudah punya mindset, bahwa kita bisa memetik pelajaran dari mana saja dan bisa belajar dari aktivitas apa saja. Insya Allah, ide-ide segar akan muncul seolah-olah begitu saja, tuing. . . tuing, hehehe. . .
Gambar di bawah ini salah satunya, aktivitas belajar yang bermula dari ketidaksengajaan.
So, demikianlah kira-kira contoh menyederhanakan bentuk belajar dan menemukan materi belajar yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan kita menemukan cara-cara belajar seru dan menyenangkan lainnya. Happy learning. ^^
Zahro's HS Journal
Djogdja, 09022015
~eMJe~
Saya baru merasa tenang setelah dikuatkan, bahwa homeschooling bukanlah memindahkah sekolahan ke rumah. Jadwal pelajaran kita tidak harus sesaklek jadwal pelajaran di sekolah. Demikian pula materi pelajarannya, kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak saja. Apalagi jika anak masih berusia dini, kita hanya perlu berpegang teguh pada prinsip learning by playing, lalu merancang kegiatan yang seru dengan prinsip itu.
Kadangkala, ide beraktivitas seru itu bisa datang tiba-tiba. Asalkan kita sudah punya mindset, bahwa kita bisa memetik pelajaran dari mana saja dan bisa belajar dari aktivitas apa saja. Insya Allah, ide-ide segar akan muncul seolah-olah begitu saja, tuing. . . tuing, hehehe. . .
Gambar di bawah ini salah satunya, aktivitas belajar yang bermula dari ketidaksengajaan.
Awalnya, anak saya sedang membolak-balik kisah-kisah moral berbahasa Inggris. Lantas dia membacanya sesuka hatinya. Tentu saja terdengar lucu jadinya. Saya sampai terbahak-bahak dibuatnya. Lalu saya memintanya membaca satu cerita utuh, sembari saya membenarkan pengucapan setiap kata yang dia baca. Ternyata dia sangat senang dengan pengalaman baru itu, bahwa dalam bahasa Inggris, tidak semua kata dibaca sesuai dengan yang tertulis.
Kemudian saya bertanya pada anak saya apakah dia ingin tahu apa sebenarnya isi cerita itu? Dan dia ingin mengetahuinya. Lalu saya maknai cerita itu. Secara garis besar, cerita itu tentang rasa bersyukur dan berterima kasih. Lantas saya minta anak saya mengulangi pemaknaan yang saya sampaikan. Kemudian makna cerita itu kami diskusikan bersama. Nah, bisa dilihat kan, dari sesuatu yang sederhana bahkan tak sengaja, berapa banyak hal yang telah kami pelajari?
Mengambil inspirasi dari pelafalan kata bahasa Inggris, saya berinisiatif mengenalkan bentuk tertulis angka dalam bahasa Inggris pada anak saya. Sejauh ini, anak saya sudah tahu melafalkan one to ten, tapi dia belum tahu bagaimana sebenarnya lafal itu dalam bentuk tulis. Maka jadilah orat-oret di gambar yang saya lampirkan di atas. Dari orat-oret sederhana itu kami bermain kuis. Mulai dari melafalkan urut one to ten sampai saya bertanya acak, misal "Bahasa Inggris delapan?", "Lima?" "Empat?", dan seterusnya. Alhamdulillah dalam satu sesi bermain dia sudah mulai bisa melafalkan angka berbahasa Inggris dengan stimulus acak.
So, demikianlah kira-kira contoh menyederhanakan bentuk belajar dan menemukan materi belajar yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan kita menemukan cara-cara belajar seru dan menyenangkan lainnya. Happy learning. ^^
Zahro's HS Journal
Djogdja, 09022015
~eMJe~
Selasa, 03 Februari 2015
"Nggak Boleh Beli Pakai Uang Orang Lain": Sebuah Pendidikan Karakter
| gambar diambil dari: http://shapreschool.org/ |
orangtua yang memiliki anak-anak usia sekolah, tetapi juga orangtua yang memiliki anak usia bayi, batita dan balita. Banyak yang bertanya kepada saya tentang apa yang sebaiknya diajarkan kepada anak usia dini mereka, bahkan menanyakan kurikulum apa yang bisa disusun untuk anak-anak yang masih berusia setahun-dua tahun.
Selalu saya katakan, jawabannya adalah TAUHID, AKHLAQ, & ADAB. Pendidikan tauhid akan menjadikan anak-anak kita mengenal penciptanya, pemiliknya, pemberi segala kesenangan dan kebahagiannya. Dia akan pandai bersyukur, mampu mengikat makna atas penciptaan semesta. Lanjutannya dia akan mengenal dan akrab dengan ibadah. Pendidikan akhlaq akan menjadikan anak-anak kita sosok-sosok yang cerdas secara sosial, mapan dalam bergaul, berkarakter. Pendidikan adab akan mengenalkannya kepada sunnah, manner sebagai seorang muslim/ah. Bagaimana seorang muslim/ah makan dan minum, tidur, berpakaian, keluar rumah, naik kendaraan, masuk dan keluar kamar mandi, sangat penting dan mendasar. Itulah yang terpenting untuk ditanamkan kepada anak-anak kita. Stimulasi lainnya? Cukup dengan bermain, karena dengan bermainlah anak usia dini belajar sesuatu.
Pendidikan nilai yang kita tanamkan kepada anak akan terbukti jika anak kita berinteraksi dengan orang lain. Pengalaman kami baru-baru ini menjadi buktinya. Suatu hari saya meminta tolong dibelikan sesuatu kepada asisten rumah tangga kami ke warung dekat rumah. Anak saya meminta ikut menemani. Saya ijinkan. Setiba di rumah, dia menunjukkan sebungkus cokelat dengan sumringah. Sebenarnya nilai cokelat itu tidaklah seberapa, tetapi bukan di situ poin pentingnya. Yang utama adalah, dia hanya meminta ijin untuk menemani, tidak meminta ijin untuk dibelikan apa-apa. Saat itu saya sadari, ada pendidikan nilai (baru) yang harus saya tanamkan kepadanya.
Saya tidak mengijinkan anak saya memakan cokelat itu. Saya tegaskan kepadanya bahwa saat meminta ijin, dia hanya meminta ijin untuk menemani, maka dia harus menepatinya. Anak saya tampak kaget dengan reaksi saya. Tetapi dia tidak mengajukan reasoning apapun.
Dengan wajah sedih dia bertanya, "Lalu permennya?"
"Silakan kakak sedekahkan," jawab saya.
Akhirnya permen itu dia berikan kepada asisten rumah tangga kami (yang mempunyai anak usia 5 tahun). Saya lantas mengajak anak saya ke kamar, seperti biasa, mendiskusikan pengalaman baru kami. Saya sampaikan kepadanya, bukan permennya yang menjadi bagian dari pembelajaran kali ini, sebab seandainya tadi dia meminta ijin untuk dibelikan sesuatu, insya Allah saya pasti mengijinkan.
Sebenarnya saat itu bisa saja saya menoleransi, "Ah, cuma cokelat kecil saja, harganya tak seberapa." Tetapi bisa jadi ada konsekuensi besar dari toleransi saya, anak saya akan terbiasa meminta dibelikan ini-itu kepada siapa saja yang mengajaknya ke warung, swalayan, atau lokasi belanja mana saja.
Dan benar, beberapa hari setelah kejadian tersebut, adik ipar saya mengajak anak saya (dan anaknya) pergi ke sebuah swalayan. Sepulang dari sana, adik ipar saya bercerita bahwa ketika dia menawarkan ini-itu kepada anak saya, dia menjawab, "Enggak usah, nggak boleh beli-beli pakai uang orang lain." Rasanya saya ingin menangis sambil tertawa mendengar cerita adik ipar saya. Demikian apa adanya anak saya menangkap makna dari pesan saya tentang menepati ijin, sampai-sampai omnya sendiri dia anggap "orang lain." Tetapi saya bersyukur, ada sebuah nilai (lagi) yang tertanam di dirinya.
Sungguh, sang pendidik bukanlah kita (orangtua). Anak-anak kitalah yang senantiasa menghadirkan pembelajaran baru bagi kita, untuk terus berusaha menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Wallahua'alam.
Djogdja, 03022015
~eMJe~
Minggu, 25 Januari 2015
The Second Step of Our Home Education
Finally, tahun ini puteri kami akan bersua dengan usianya yang ke-7. Usia umum anak-anak di negeri kita memasuki gerbang baru jenjang pendidikan mereka, yaitu sekolah dasar. Setahun lebih yang lalu, ketika keluarga kami memutuskan untuk menjadi bagian dari pelaku homeschooling di negeri ini, kami tidak tahu akan sampai kapan akan melakukannya.
Waktu bergulir, setahun berlalu, enam tahun usia anak kami telah lebih setengah. Dia sudah percaya diri menjawab, "Aku homeschooling" jika ada yang bertanya dia sekolah di mana. Tetapi, sehari-hari dia melihat anak-anak tetangga berkemeja putih dan rok merah berangkat sekolah, mencangklong tas di bahu mereka. Sering saya bertanya, "Kakak pengen sekolah?" yang selalu dia jawab dengan, "Kakak suka homeschooling, tapi pengen ada temannya." Memang banyak teman-teman saya yang ingin menitipkan anak-anak mereka untuk belajar bersama kami. Tetapi selalu saya tegaskan, homeschooling menuntut keterlibatan langsung dari orangtua.
Akhir November 2014, sebelum suami saya berangkat ke Korea Selatan, kami bermusyawarah. Kami tawarkan kembali kepada ananda apakah dia ingin melanjutkan homeschooling atau masuk ke sekolah formal. Ketika itu dia menjawab, "Kalau homeschooling nggak ada temannya kakak mau sekolah aja." Akhirnya, kami sampai pada kesepakatan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah formal tahun ajaran baru nanti.
Awal Januari 2015, saya ajak ananda untuk survey ke beberapa sekolah dasar. Ada dua sekolah yang dia minati. Pilihan akhirnya jatuh pada salah satu sekolah islam terpadu yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di jeda waktu menunggu panggilan sekolah untuk observasi anak, saya mendapat undangan pertemuan dari Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN). Memang, sekalipun saya banyak masuk ke group-group homeschooling yang ada di facebook, tapi kami belum pernah sekalipun mengikuti aktivitas bersama karena seringkali tidak memungkinkan bagi kami mengikutinya (misal acara berupa camp).
Di pertemuan HSMN itu, alhamdulillah anak kami bertemu dengan seorang ananda shalihah yang seusia dia, Hazimah namanya. Saat itu juga mereka berteman. Tak menunda-nunda, saya dan ibunda Hazimah sepakat untuk bergerak bersama. Sejak itu, anak-anak kami bertemu tiga kali dalam sepekan, dua hari belajar apa saja (tahsin, bahasa, menggambar, mewarnai, menggunting, dll) dan satu hari belajar renang.
Dan. . . masya Allah dampaknya bagi ananda kami. Dia katakan kepada saya, "Mi, kakak mau homeschooling aja seterusnya." Pernyataan inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Tetapi masa depannya adalah miliknya, karena itu dia berhak menentukan di mana dan bagaimana dia ingin dididik. Kami sebagai orangtua hanya fasilitator saja.
Dan, inilah saya. Saya tetap menguji kesungguhannya. Saya tanya lagi, lagi, dan lagi tentang pilihannya, yang dengan tegas selalu dia jawab, "Kakak mau homeschooling aja." Saya katakan kepadanya, jika dia sudah memilih, maka dia harus bertanggungjawab pada pilihannya. Dia juga yang harus menyampaikan kepada eyang kakung dan eyang putrinya mengenai pilihan pendidikannya. Semuanya dia jawab dengan, "Iya."
Segera saya sampaikan keputusan ananda kepada suami, yang beliau sambut dengan hamdalah.
Bismillaah. . . semoga ALLAH mudahkan kami menjalaninya, the second step of our home education.
Djogdja, 25 Januari 2015
~eMJe~
Waktu bergulir, setahun berlalu, enam tahun usia anak kami telah lebih setengah. Dia sudah percaya diri menjawab, "Aku homeschooling" jika ada yang bertanya dia sekolah di mana. Tetapi, sehari-hari dia melihat anak-anak tetangga berkemeja putih dan rok merah berangkat sekolah, mencangklong tas di bahu mereka. Sering saya bertanya, "Kakak pengen sekolah?" yang selalu dia jawab dengan, "Kakak suka homeschooling, tapi pengen ada temannya." Memang banyak teman-teman saya yang ingin menitipkan anak-anak mereka untuk belajar bersama kami. Tetapi selalu saya tegaskan, homeschooling menuntut keterlibatan langsung dari orangtua.
Akhir November 2014, sebelum suami saya berangkat ke Korea Selatan, kami bermusyawarah. Kami tawarkan kembali kepada ananda apakah dia ingin melanjutkan homeschooling atau masuk ke sekolah formal. Ketika itu dia menjawab, "Kalau homeschooling nggak ada temannya kakak mau sekolah aja." Akhirnya, kami sampai pada kesepakatan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah formal tahun ajaran baru nanti.
Awal Januari 2015, saya ajak ananda untuk survey ke beberapa sekolah dasar. Ada dua sekolah yang dia minati. Pilihan akhirnya jatuh pada salah satu sekolah islam terpadu yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di jeda waktu menunggu panggilan sekolah untuk observasi anak, saya mendapat undangan pertemuan dari Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN). Memang, sekalipun saya banyak masuk ke group-group homeschooling yang ada di facebook, tapi kami belum pernah sekalipun mengikuti aktivitas bersama karena seringkali tidak memungkinkan bagi kami mengikutinya (misal acara berupa camp).
Di pertemuan HSMN itu, alhamdulillah anak kami bertemu dengan seorang ananda shalihah yang seusia dia, Hazimah namanya. Saat itu juga mereka berteman. Tak menunda-nunda, saya dan ibunda Hazimah sepakat untuk bergerak bersama. Sejak itu, anak-anak kami bertemu tiga kali dalam sepekan, dua hari belajar apa saja (tahsin, bahasa, menggambar, mewarnai, menggunting, dll) dan satu hari belajar renang.
Dan. . . masya Allah dampaknya bagi ananda kami. Dia katakan kepada saya, "Mi, kakak mau homeschooling aja seterusnya." Pernyataan inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Tetapi masa depannya adalah miliknya, karena itu dia berhak menentukan di mana dan bagaimana dia ingin dididik. Kami sebagai orangtua hanya fasilitator saja.
Dan, inilah saya. Saya tetap menguji kesungguhannya. Saya tanya lagi, lagi, dan lagi tentang pilihannya, yang dengan tegas selalu dia jawab, "Kakak mau homeschooling aja." Saya katakan kepadanya, jika dia sudah memilih, maka dia harus bertanggungjawab pada pilihannya. Dia juga yang harus menyampaikan kepada eyang kakung dan eyang putrinya mengenai pilihan pendidikannya. Semuanya dia jawab dengan, "Iya."
Segera saya sampaikan keputusan ananda kepada suami, yang beliau sambut dengan hamdalah.
Bismillaah. . . semoga ALLAH mudahkan kami menjalaninya, the second step of our home education.
Djogdja, 25 Januari 2015
~eMJe~
Kamis, 14 Agustus 2014
-=Zahro's HS Journal: Peluk & Hafalan Surah Al-Kafirun Story=-
Surah Al-Kafirun ada enam ayat. Ayat ke-3 dan ke-5 sama isinya. Sering ada yang salah baca, nggak? Hehehe... Kenyataannya, Zahro sering terlupa melafalkan ayat ke-4 dan ke-5 saat dia sholat. Begitu selesai tiga ayat, langsung aja dia baca "Lakum diinukum waliyadiin".
Dua hari yang lalu kami memutuskan untuk memperbaiki hafalan Al-Kafirun itu. Karena dia sudah mulai membaca Al-Qur'an, saya minta dia melihat Juz 'Amma anak yang full color dulu. Biar menarik maksudnya. Rupa-rupanya, di juz 'Amma itu ada bahasa Arab yang dilatinkan. Zahro merasa mudah membacanya, sehingga itu yang dia baca dan bukan tulisan Arabnya. Padahal ya kalau salah baca jadi salah bunyi. Malah tambah belepotan makhrajnya. Hehehe... Dan saya alpa, Zahro adalah tipe pembelajar dominan auditori, bukan visual. Kesimpulannya, perbaikan hafalan hari itu... gagal. :D
Lantas saya mencoba metode yang lain. Menyertakan stimulus suara untuknya. Tetap melihat juz 'Amma, sekaligus memutar mp3 Al-Kafirun dengan memilih Qari yang bacaanya tidak terlalu cepat. Alhamdulillaah ada progressnya metode ini. Meski saat murojaah tetap ada " tet-tot"nya, tapi dia udah ngeh mana yang benar dari bacaan yang saya respon "tet-tot" itu.
Sehari-hari, reward yang diminta Zahro amat sederhana. Peluk dia sebelum tidur. Kata Abinya, "Mahar yang amat mudah," hehehe. Karenanya, negative reinforcement Zahro juga sederhana, tidak dipeluk sebelum tidur. Pusing deh dia kalo udah terancam dapat negative reinforcement ini. :D
Nah, dia punya new habits yang bagus-bagus jelek sekarang. Makan sambil baca dan memperagakan yang dia baca. Meski sudah diingatkan berkali-kali untuk menyelesaikan makannya dulu, tetap aja bukunya diintip-intip. Walhasil dua kali nasinya tumpah, dan sekali berserakan remah-remahnya. Akhirnya kemarin terpaksa saya katakan, "Kakak malam ini tidak dipeluk ya, kesepakatannya tidak dilaksanakan. Nih nasinya sampai berserakan di mana-mana."
Well, kalau udah kena negative reinforcement begitu, usually setelahnya pembicaraan hanya akan seputar konfirmasi darinya bahwa hanya malam itu dia tidak dipeluk. Dia goda-goda saya juga pake kartu baca yang berisi kata "PELUK". "Mi, Kakak pengen dapat ini," kekeke...
Malam harinya, ih... Saya pengen peluk dia sebelum tidur. Tapi kan lagi jalanin kesepakatan? Gimana dong? Alhamdulillah ide datang.
Saya tanya dia, "Kak, dikasih quiz mau? Kalau bisa ntar dipeluk, deh."
"Mau!" jawabnya.
Dan quiznya adalah... Murojaah al-Kafirun tanpa "tet-tot", hahaha. Dia langsung sumringah dan mulai murojaah. MasyaAllah, sungguh-sungguh banget sampai tinggal satu aja "tet-tot" nya. Akhirnya... Dapat peluk deh. :-)
And we will have new activity before sleeping, yaitu... Quiz! :D
Djogdja, 14082014
~eMJe~
#homeschooling
#parenting
#journal
Dua hari yang lalu kami memutuskan untuk memperbaiki hafalan Al-Kafirun itu. Karena dia sudah mulai membaca Al-Qur'an, saya minta dia melihat Juz 'Amma anak yang full color dulu. Biar menarik maksudnya. Rupa-rupanya, di juz 'Amma itu ada bahasa Arab yang dilatinkan. Zahro merasa mudah membacanya, sehingga itu yang dia baca dan bukan tulisan Arabnya. Padahal ya kalau salah baca jadi salah bunyi. Malah tambah belepotan makhrajnya. Hehehe... Dan saya alpa, Zahro adalah tipe pembelajar dominan auditori, bukan visual. Kesimpulannya, perbaikan hafalan hari itu... gagal. :D
Lantas saya mencoba metode yang lain. Menyertakan stimulus suara untuknya. Tetap melihat juz 'Amma, sekaligus memutar mp3 Al-Kafirun dengan memilih Qari yang bacaanya tidak terlalu cepat. Alhamdulillaah ada progressnya metode ini. Meski saat murojaah tetap ada " tet-tot"nya, tapi dia udah ngeh mana yang benar dari bacaan yang saya respon "tet-tot" itu.
Sehari-hari, reward yang diminta Zahro amat sederhana. Peluk dia sebelum tidur. Kata Abinya, "Mahar yang amat mudah," hehehe. Karenanya, negative reinforcement Zahro juga sederhana, tidak dipeluk sebelum tidur. Pusing deh dia kalo udah terancam dapat negative reinforcement ini. :D
Nah, dia punya new habits yang bagus-bagus jelek sekarang. Makan sambil baca dan memperagakan yang dia baca. Meski sudah diingatkan berkali-kali untuk menyelesaikan makannya dulu, tetap aja bukunya diintip-intip. Walhasil dua kali nasinya tumpah, dan sekali berserakan remah-remahnya. Akhirnya kemarin terpaksa saya katakan, "Kakak malam ini tidak dipeluk ya, kesepakatannya tidak dilaksanakan. Nih nasinya sampai berserakan di mana-mana."
Well, kalau udah kena negative reinforcement begitu, usually setelahnya pembicaraan hanya akan seputar konfirmasi darinya bahwa hanya malam itu dia tidak dipeluk. Dia goda-goda saya juga pake kartu baca yang berisi kata "PELUK". "Mi, Kakak pengen dapat ini," kekeke...
Malam harinya, ih... Saya pengen peluk dia sebelum tidur. Tapi kan lagi jalanin kesepakatan? Gimana dong? Alhamdulillah ide datang.
Saya tanya dia, "Kak, dikasih quiz mau? Kalau bisa ntar dipeluk, deh."
"Mau!" jawabnya.
Dan quiznya adalah... Murojaah al-Kafirun tanpa "tet-tot", hahaha. Dia langsung sumringah dan mulai murojaah. MasyaAllah, sungguh-sungguh banget sampai tinggal satu aja "tet-tot" nya. Akhirnya... Dapat peluk deh. :-)
And we will have new activity before sleeping, yaitu... Quiz! :D
Djogdja, 14082014
~eMJe~
#homeschooling
#parenting
#journal
Senin, 11 Agustus 2014
Membangun Semangat Belajar Bersama (Our Homeschooling's Notes)
Tak terasa telah 10 bulan kami menjalaninya. Satu tahun kurang dua bulan. Warna-warni hari yang kami lalui, beragam pengetahuan dan keterampilan baru yang kami capai bersama, menjadi nuansa indah di sini. . . di rumah kami.
Saya masih ingat, awalnya Zahro tidak begitu percaya diri dengan statusnya sebagai seorang anak homeschooling. Dan entah kenapa, siapapun orang baru yang kami temui (bahkan sampai saat ini) pasti bertanya "sekolah di mana?" kepada Zahro. Mungkin karena saya selalu membawa Zahro ke mana saja saya ada keperluan, bahkan di jam-jam yang seharusnya anak seusianya bersekolah. Tadinya Zahro selalu menyebut nama PAUD tempat dia pernah bersekolah setiap beroleh pertanyaan itu. Dia malu menyatakan dirinya homeschooling. Tetapi sekarang tidak lagi. Dia sudah percaya diri menjawab bahwa dia homeschooling, sekolahnya di rumah, bersama Uminya. Alhamdulillaah. . . :-)
Dalam perjalanannya, ternyata proses belajar kami adalah by target. Kami berorientasi pada target-target capaian. Setelah satu target kami capai, baru kami beranjak ke target selanjutnya. Di awal menjalani homeschooling saya menargetkan dua kemampuan krusial untuk Zahro, yaitu mampu membaca latin dan mampu membaca Al-Qur'an. Wah, ternyata Zahro tidak mampu mencapai keduanya sekaligus. Karenanya, ketika itu saya fokus pada kemampuan yang lebih sederhana, yaitu kemampuan membaca latin. Alhamdulillah progress-nya baik dan kemampuan ini bisa dicapai Zahro dengan cepat (catatannya ada di sini: journalbelajarmembaca).
Efek kemampuan membaca Zahro memang tidak langsung tampak saat itu juga. Sebab meski sudah mampu, dia belum terlampau lancar membaca. Dia belum lihai menempatkan bunyi huruf "e" apakah tebal ataukah tipis. Yang ada semua huruf "e" dia baca tebal sehingga jika dia membaca kata yang mengandung huruf "e", pasti selalu seperti orang Batak bicara. Tapi kami biarkan saja dia begitu. Dan benar, seiring berjalan waktu, semakin banyak naskah bacaan yang dia mamah, semakin terampil pula dia membaca.
Sepekan setelah Idul Fitri menjadi momen yang begitu berkesan buat saya. Sebab sejak saat itu saya menyaksikan Zahro mulai begitu lekat dengan buku. Dia mulai memanfaatkan setiap waktu luang yang dimilikinya dengan membaca. Kemampuan membacanya juga kian pesat. Sekarang alhamdulillah sangat mudah menemukan momen-momen seperti ini setiap hari.
Target kedua untuk Zahro adalah mampu membaca Al-Qur'an. Saya niatkan target ini bisa dicapai dalam waktu satu bulan, selama bulan Ramadhan, sembari meminta kepada Allah agar memandang niat ini. Awal Ramadhan kami memulai dengan Iqro' 3. Kami istiqomah untuk belajar mengaji di dua waktu, setelah shalat Subuh dan setelah shalat Maghrib. Di akhir Ramadhan alhamdulillaah Zahro telah mencapai Iqro' 6. Saya memutusukn untuk memperlancar bacaannya langsung di Al-Qur'an dengan catatan setiap hari Zahro harus terus mengulang materi-materi yang krusial, misal: perubahan bunyi huruf setelah tanwin, perubahan bunyi huruf pada waqaf, dll dengan merujuk pada materi di buku Deeniyat. Kebiasaan ini (mengaji setelah Subuh dan Maghrib) insyaAllah kami niatkan untuk terus berlanjut.
Nah, di Ramadhan kemarin Zahro sempat menyaksikan hafizh Qur'an. Menyaksikan anak-anak seusianya mempunyai hafalan Qur'an yang banyak menumbuhkan semangatnya. Karena itu kami juga memulai target baru, yaitu menghafal Qur'an. Satu hari satu baris. Zahro menghafal juz 30, Umi menghafal surah-surah pilihan dari Al-Qur'an (ex: QS. Al-Waqi'ah, Ar-Rahman, Al-Mulk, dll).
Satu lagi minat barunya. Ingin tahu kosa kata bahasa Inggris. Untuk yang satu ini Umi memutuskan tidak dulu menargetkan capaian tertentu. Model yang kami gunakan untuk kosa kata ini adalah menjawab pertanyaan Zahro. Kosa kata apa yang ingin dia ketahui bahasa Inggrisnya. Satu hari 5 kata.
Proses yang kami jalani membuat saya mafhum, bahwa dengan homeschooling bukan hanya anak yang belajar, orang tuanya pun harus terus dan ikut belajar bersama. Maka kami merancang salah satu ruang di rumah untuk menjadi ruang belajar kami. Simple dan bikin betah tentunya :D
Di ruangan itulah kami membaca, belajar, searching lembar aktivitas, dan saya berkreasi menyusun lembar-lembar aktivitas untuk anak usia dini. InsyaAllah lembar-lembar aktivitas yang saya susun semoga bisa menjadi buku yang dapat membantu menstimulasi tumbuh kembang anak usia dini lainnya.
Do'akan kami agar istiqomah. . .
Do'akan juga agar kami diberi Allah kemudahan untuk menghafal Qur'an. . .
Allahumma aamiin. . .
Djogdja, 11082014
~eMJe~
Saya masih ingat, awalnya Zahro tidak begitu percaya diri dengan statusnya sebagai seorang anak homeschooling. Dan entah kenapa, siapapun orang baru yang kami temui (bahkan sampai saat ini) pasti bertanya "sekolah di mana?" kepada Zahro. Mungkin karena saya selalu membawa Zahro ke mana saja saya ada keperluan, bahkan di jam-jam yang seharusnya anak seusianya bersekolah. Tadinya Zahro selalu menyebut nama PAUD tempat dia pernah bersekolah setiap beroleh pertanyaan itu. Dia malu menyatakan dirinya homeschooling. Tetapi sekarang tidak lagi. Dia sudah percaya diri menjawab bahwa dia homeschooling, sekolahnya di rumah, bersama Uminya. Alhamdulillaah. . . :-)
Dalam perjalanannya, ternyata proses belajar kami adalah by target. Kami berorientasi pada target-target capaian. Setelah satu target kami capai, baru kami beranjak ke target selanjutnya. Di awal menjalani homeschooling saya menargetkan dua kemampuan krusial untuk Zahro, yaitu mampu membaca latin dan mampu membaca Al-Qur'an. Wah, ternyata Zahro tidak mampu mencapai keduanya sekaligus. Karenanya, ketika itu saya fokus pada kemampuan yang lebih sederhana, yaitu kemampuan membaca latin. Alhamdulillah progress-nya baik dan kemampuan ini bisa dicapai Zahro dengan cepat (catatannya ada di sini: journalbelajarmembaca).
Efek kemampuan membaca Zahro memang tidak langsung tampak saat itu juga. Sebab meski sudah mampu, dia belum terlampau lancar membaca. Dia belum lihai menempatkan bunyi huruf "e" apakah tebal ataukah tipis. Yang ada semua huruf "e" dia baca tebal sehingga jika dia membaca kata yang mengandung huruf "e", pasti selalu seperti orang Batak bicara. Tapi kami biarkan saja dia begitu. Dan benar, seiring berjalan waktu, semakin banyak naskah bacaan yang dia mamah, semakin terampil pula dia membaca.
Sepekan setelah Idul Fitri menjadi momen yang begitu berkesan buat saya. Sebab sejak saat itu saya menyaksikan Zahro mulai begitu lekat dengan buku. Dia mulai memanfaatkan setiap waktu luang yang dimilikinya dengan membaca. Kemampuan membacanya juga kian pesat. Sekarang alhamdulillah sangat mudah menemukan momen-momen seperti ini setiap hari.
Target kedua untuk Zahro adalah mampu membaca Al-Qur'an. Saya niatkan target ini bisa dicapai dalam waktu satu bulan, selama bulan Ramadhan, sembari meminta kepada Allah agar memandang niat ini. Awal Ramadhan kami memulai dengan Iqro' 3. Kami istiqomah untuk belajar mengaji di dua waktu, setelah shalat Subuh dan setelah shalat Maghrib. Di akhir Ramadhan alhamdulillaah Zahro telah mencapai Iqro' 6. Saya memutusukn untuk memperlancar bacaannya langsung di Al-Qur'an dengan catatan setiap hari Zahro harus terus mengulang materi-materi yang krusial, misal: perubahan bunyi huruf setelah tanwin, perubahan bunyi huruf pada waqaf, dll dengan merujuk pada materi di buku Deeniyat. Kebiasaan ini (mengaji setelah Subuh dan Maghrib) insyaAllah kami niatkan untuk terus berlanjut.
Nah, di Ramadhan kemarin Zahro sempat menyaksikan hafizh Qur'an. Menyaksikan anak-anak seusianya mempunyai hafalan Qur'an yang banyak menumbuhkan semangatnya. Karena itu kami juga memulai target baru, yaitu menghafal Qur'an. Satu hari satu baris. Zahro menghafal juz 30, Umi menghafal surah-surah pilihan dari Al-Qur'an (ex: QS. Al-Waqi'ah, Ar-Rahman, Al-Mulk, dll).
Satu lagi minat barunya. Ingin tahu kosa kata bahasa Inggris. Untuk yang satu ini Umi memutuskan tidak dulu menargetkan capaian tertentu. Model yang kami gunakan untuk kosa kata ini adalah menjawab pertanyaan Zahro. Kosa kata apa yang ingin dia ketahui bahasa Inggrisnya. Satu hari 5 kata.
Proses yang kami jalani membuat saya mafhum, bahwa dengan homeschooling bukan hanya anak yang belajar, orang tuanya pun harus terus dan ikut belajar bersama. Maka kami merancang salah satu ruang di rumah untuk menjadi ruang belajar kami. Simple dan bikin betah tentunya :D
Di ruangan itulah kami membaca, belajar, searching lembar aktivitas, dan saya berkreasi menyusun lembar-lembar aktivitas untuk anak usia dini. InsyaAllah lembar-lembar aktivitas yang saya susun semoga bisa menjadi buku yang dapat membantu menstimulasi tumbuh kembang anak usia dini lainnya.
Do'akan kami agar istiqomah. . .
Do'akan juga agar kami diberi Allah kemudahan untuk menghafal Qur'an. . .
Allahumma aamiin. . .
Djogdja, 11082014
~eMJe~
Jumat, 16 Mei 2014
Al-Qur'an Recited by Sheikh Abu Bakr Al Shatri
| Sheikh Abu Bakr Al-Shatri |
Qur'an recited by Sheikh Abu Bakr Al-Shatri, ya.
Salah satu reciter favorit, selain Mishari Rasheed Al Afasy. :-)
Semoga bermanfaat.
- Al-Fatihah
- Al-Baqarah
- Ali-Imran
- An-Nisa'
- Al-Ma'idah
- Al-An'am
- Al-A'raf
- Al-Anfal
- At-Taubah
- Yunus
- Hud
- Yusuf
- Ar-Ra'd
- Ibrahim
- Al-Hijr
- An-Nahl
- Al-Isra'
- Al-Kahfi
- Maryam
- Thaha
- Al-Anbiya'
- Al-Hajj
- Al-Mu'minuun
- An-Nur
- Al-Furqan
- Asy-Syu'ara'
- An-Naml
- Al-Qasas
- Al-Ankabut
- Ar-Ruum
- Luqman
- As-Sajdah
- Al-Ahzab
- Saba'
- Fathr
- Yaa-Siin
- Ash-Shaffat
- Shad
- Az-Zumar
- Ghafir
- Fussilat
- Ash-Shura
- Az-Zukhruf
- Ad-Dukhan
- Al-Jathiya
- Al-Ahqaf
- Muhammad
- Al-Fath
- Al-Hujurat
- Qaf
- Adz-Dzariyat
- At-Thur
- An-Najm
- Al-Qamar
- Ar-Rahman
- Al-Waqi'ah
- Al-Hadiid
- Al-Mujadalah
- Al-Hasyr
- Al-Mumtahanah
- Ash-Shaff
- Al-Jumu'ah
- Al-Munafiquun
- At-Taghabuun
- At-Talaq
- At-Tahrim
- Al-Mulk
- Al-Qalam
- Al-Haaqqah
- Al-Ma'arij
- Nuh
- Jinn
- Al-Muzzammil
- Al-Muddatsir
- Al-Qiyamah
- Al-Insan
- Al-Mursalat
- An-Naba'
- An-Nazi'at
- 'Abasa
- At-Takwir
- Al-Infithar
- Al-Muthaffifin
- Al-Insyiqaq
- Al-Buruj
- At-Thariq
- Al-A'la
- Al-Ghasyiyah
- Al-Fajr
- Al-Balad
- Asy-Syams
- Al-Lail
- Ad-Dhuha
- Al-Insyirah
- At-Tiin
- Al-Alaq
- Al-Qadr
- Al-Bayyinah
- Al-Zalzalah
- Al-'Adiyat
- Al-Qari'ah
- At-Takatsur
- Al-'Ashr
- Al-Humazah
- Al-Fiil
- Al-Quraisy
- Al-Ma'un
- Al-Kautsar
- Al-Kafirun
- An-Nasr
- Al-Masad
- Al-Ikhlash
- Al-Falaq
- An-Naas
Resources:
www.assabile.com/abu-bakr-al-shatri-34/quran
http://www.mp3quran.net/eng/shatri_english.html
Djogdja, 16052014
~eMJe~
Kamis, 15 Mei 2014
Cara Bertanam Cabai di Pekarangan
Kenapa posting tentang cara bertanam cabai? Karena tanaman cabai yang ditanam Zahro gagal panen saudara-saudara T.T. Satu hari Umi melihat ada putih-putih di daun cabai yang mulai besar itu. Kemudian daun-daunnya mulai berguguran. Sedih banget rasanya. Pengetahuan tentang bercocok-tanam Umi memang minim sekali. Nggak ada yang namanya sedia-sedia pupuk apalagi pembasmi hama. Modalnya cuma beli tanah kompos aja. Well, setelah posting tulisan ini insyaALLAH kami akan memulai lagi bercocok tanam dengan cara yang benar dan lebih sungguh-sungguh. :-D
Nah, bagaimanakah cara bertanam cabai yang benar?
Nah, bagaimanakah cara bertanam cabai yang benar?
Cara menanam cabe dalam pot atau polybag cukup mudah
dilakukan. Menanam cabe bisa dilakukan baik di dataran tinggi maupun dataran
rendah. Secara umum menanam cabe bisa dilakukan pada ketinggian 0-2000 meter
diatas permukaan laut. Suhu optimal bagi tanaman cabe ada pada kisaran 24-27oC,
namun masih bisa tahan terhadap suhu yang lebih dari itu. Sifat tersebut
tergantung dari jenis varietas cabe.
Salah satu jenis cabe yang cocok untuk ditanam di pekarangan
adalah cabe kerting. Jenis ini relatif lebih tahan terhadap iklim tropis dan
rasanya pedas banyak disukai di pasaran. Berikut ini kami paparkan tentang cara
menanam cabe keriting dalam polybag.
Penyemaian benih
Cara menanam cabe dalam polybag sebaiknya tidak langsung dilakukan dari benih atau biji. Pertama-tama benih cabe harus disemaikan terlebih dahulu. Proses penyemaian ini gunanya untuk menyeleksi pertumbuhan benih, memisahkan benih yang tumbuhnya kerdil, cacat atau berpenyakit. Selain itu juga untuk menunggu kesiapan bibit sampai cukup tahan ditanam di tempat yang lebih besar.
Tempat persemaian bisa berupa polybag ukuran kecil (8×9 cm), daun pisang, baki (tray) persemaian, atau petakan tanah. Cara yang paling ekonomis adalah dengan menyiapkan petakan tanah untuk media persemaian. Buat petakan tanah dengan ukuran secukupnya, campurkan kompos dengan tanah lalu aduk hingga rata. Butiran tanah dibuat sehalus mungkin agar perakaran bisa menembusnya dengan mudah. Buat ketebalan petakan tersebut 5-10 cm, diatasnya buat larikan dengan jarak 10 cm.
Masukkan benih cabe dalam larikan dengan jarak 7,5 cm kemudian siram untuk membasahi tanah dan tutup dengan abu atau tanah. Setelah itu tutup dengan karung goni basah selama 3-4 hari, pertahankan agar karung goni tetap basah. Pada hari ke-4 akan muncul bibit dari permukaan tanah, kemudian buka karung goni. Sebaiknya petakan ditudungi dengan plastik transparan untuk melindungi bibit cabe yang masih kecil dari panas berlebih dan siraman air hujan langsung. Tanaman cabe siap dipindahkan ke polybag besar setelah berumur 3-4 minggu, atau tanaman telah mempunyai 3-4 helai daun.
Penyiapan media tanam
Pilih polybag yang berukuran diatas 30 cm, agar media tanam
cukup kuat menopang pertumbuhan tanaman cabe yang rimbun. Selain polybag, bisa
juga digunakan pot dari jenis plastik, semen, tanah, atau keramik. Atau bisa
juga menggunakan wadah-wadah bekas yang tidak terpakai lagi, beri lubang pada
dasar wadah untuk saluran drainase.
Cara menanam cabe dalam polybag bisa menggunakan media tanam
dari campuran tanah, kompos, pupuk kandang, sekam padi, arang sekam, dan
lain-lainnya. Beberapa contoh komposisi media tanam diantaranya adalah:
(1)
Campuran tanah dengan kompos dengan komposisi 2:1,
(2) Campuran tanah, pupuk
kandang, dan arang sekam dengan komposisi 1:1:1, atau
(3) Campuran tanah dan
pupuk kandang dengan komposisi 2:1.
Apabila menggunakan pupuk kandang,
sebaiknya pilih pupuk yang telah matang. Buat media tanam sehalus mungkin dengan cara mengayaknya.
Campurkan sekitar 3 sendok NPK dalam setiap polybag. Aduk hingga campuran
tersebut benar-benar rata. Lapisi bagian dalam polybag dengan sabut kelapa,
pecahan genteng, atau pecahan styrofoam. Gunanya agar air tidak
menggenangi daerah perakaran tanaman.
Pemindahan bibit
Setelah bibit tanaman dan media tanam siap, pindahkan bibit
tanaman cabe dari tempat persemaian kedalam polybag. Lakukan pekerjaan ini saat
pagi hari atau sore hari, dimana matahari tidak terlalu terik untuk menghindari
stres pada tanaman. Lakukan pemindahan bibit dengan hati-hati, jangan sampai
terjadi kerusakan pada perakaran tanaman. Buat lubang tanam pada polybag
sedalam 5-7 cm. Apabila persemaian dilakukan di atas polybag atau daun pisang,
copot polybag dan daun pisang lalu masukan seluruh tanah dalam tempat
persemaian kedalam lubang tanam. Apabila persemaian dilakukan di atas petak
tanah atau tray, pindahkan dengan tanah yang menempel pada perakaran dan
masukkan kedalam lubang tanam.
Pemeliharaan dan perawatan
- Pemupukan, berikan pemupukan tambahan dengan dosis satu sendok makan NPK per polybag setiap bulannya. Atau apabila ingin menanam cabe secara organik, sebagai gantinya semprotkan pupuk organik cair pada masa pertumbuhan daun dan pertumbuhan buah. Tambahkan satu kepal kompos atau pupuk kandang kambing pada saat tanaman mau berbuah.
- Penyiraman, tanaman cabe sebaiknya disiram sekurang-kurangnya 3 hari sekali. Apabila matahari bersinar terik, siram tanaman setiap hari.
- Pengajiran, setelah tanaman cabe tumbuh sekitar 20 cm, berikan ajir bambu. Ajir ini berguna untuk menopang tanaman agar berdiri tegak.
- Perompesan, tunas-tunas muda yang tumbuh di ketiak daun sebaiknya dihilangkan (dirompes). Perompesan dimulai pada hari ke-20 setelah tanam, perompesan biasanya dilakukan tiga kali hingga terbentuknya cabang. Gunanya agar tanaman tidak tumbuh kesamping ketika batang belum terlalu kuat menopang.
- Hama dan penyakit, penggunaan pestisida sebaiknya hanya dilakukan apabila tanaman terlihat terserang hama atau sakit. Apabila terlihat ada hama putih semprot dengan pestida, bila terlihat ada bakal ulat semprot dengan insektisida secukupnya, kalau terlihat jamur gunakan fungisida.
Pemanenan
Umur cabe dari mulai tanam hingga panen bervariasi
tergantung jenis varietas dan lingkungan. Masa panen terbaik adalah saat buah
belum sepenuhnya berwarna merah, masih ada garis hijaunya. Buah seperti ini
sudah masuk bobot yang optimal dan buah cabe masih bisa tahan 2-3 hari sebelum
terjual oleh pedagang di pasar. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi
hari setelah embun kering. Hindari waktu panen pada malam dan siang hari.
Tulisan ini jelas bukan tulisan Umi, ya. Tulisan ini Umi rangkum dari website alamtani. Silakan berkunjung ke www.alamtani.com untuk menemukan artikel pertanian yang menarik lainnya. Semoga bermanfaat.
Djogdja, 15052014
~eMJe~
Kamis, 08 Mei 2014
Serba-serbi Homeschooling: Catatan Webinar Homeschooling Usia Sekolah Sesi #1
Saya masih ingat peristiwa selepas sholat Subuh enam bulan yang lalu. Ketika saya menanyakan hal yang amat penting kepada puteri saya Zahro (5 tahun). Hari itu saya meminta pendapatnya tentang sebuah keputusan besar.
"Kak, gimana kalau kakak sekolah di rumah aja?" Seperti itulah kalimat saya waktu itu.
Lantas Zahro bertanya, "Gurunya siapa?""Gurunya Umi," jawab saya.
"Mau," jawabnya.
Ya, hari itu kami memulai sebuah proses pendidikan baru. Bersekolah di rumah.
Sebenarnya jauh sebelum itu, saya sudah membaca beberapa buku tentang homeschooling. Saya juga sudah bertemu dan mendengar kisah keluarga-keluarga yang menjadi praktisi homeschooling. Bahkan, saya pun sudah beromitmen bahwa suatu hari nanti kami akan menjadi praktisi homeschooling juga. Tetapi saya selalu beralasan, "Anak saya masih satu. Kalau homeschooling sendirian kan sepi?" Saya berharap bahwa Zahro tidak akan HS sendiri, melainkan dengan adiknya. Tetapi adik yang ditunggu tak kunjung datang sampai Zahro berusia 5 tahun. Do'akan ya biar Zahro ALLAH kasih adik. Aamiin :-)
Lalu apakah saya harus terus menunggu? Apakah hanya dengan Zahro sendiri maka homeschooling kami akan benar-benar hambar? Saya belum mencobanya, kan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya menguatkan saya untuk memulai keputusan besar kami.
Kami benar-benar learning by doing dalam menjalani homeschooling kami. Awalnya kami melakukan hal-hal yang acak saja. Menanam sayuran, membuat craft, jalan-jalan melihat tanaman di pinggir-pinggir jalan dekat rumah, mewarnai, tracing, mengerjakan worksheets math, belajar membaca, bercerita. Banyak juga, ya? Hahaha. . .
Suatu hari saya jalan-jalan ke website rumahinspirasi. Betapa bahagianya saya ketika di situ saya menemukan informasi tentang webinar homeschooling usia sekolah. Sebenarnya rada menyesal sih karena ternyata sebelumnya sudah diadakan webinar HS usia dini. Tapi tak apalah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, hehehe. . . Akhirnya saya pun mendaftar menjadi peserta webinar tersebut.
Dan kemarin malam (07 Mei 2014) webinar sesi #1 telah saya ikuti dengan sangat memuaskan. Begitu banyak pencerahan-pencerahan yang saya peroleh dari penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala kemarin malam. Rasa-rasanya, tak pantas ilmu yang saya peroleh kemarin saya simpan sendiri, ya. Karena itu, saya ingin berbagi ilmu yang luar biasa bermanfaat itu di sini.
1. Apa itu homeschooling?
Kemarin Mas Aar menyampaikan sebuah filosofi indah yang membedakan homeschooling dengan sekolah pada umumnya. Di dalam filosofi sekolah dikenal istilah "tabula rasa", seorang anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Sekolah atau gurulah yang memamahkan ilmu kepada anak. Tetapi dalam filosofi homeschooling, seorang anak dipandang sebagai individu. Dia memiliki potensi, pendapat, dan sudut pandang. Dia bukanlah makhluk yang pasif. Kata Mas Aar lagi, ternyata makna kata education adalah "mengeluarkan". Karena itu, fungsi utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi yang memang sudah ada dalam diri anak, bukan untuk memamahkan ilmu kepada anak.
Kemarin malam Mas Aar mengawali sesi dengan menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian homeschooling. Jadi, homeschooling merupakan sebuah model pendidikan alternatif. Secara prinsipil, homeschooling adalah konsep pendidikan pilihan yang diselenggarakan di rumah, oleh orang tua. Ada banyak alasan sehingga sebuah keluarga memilih untuk menjadi praktisi HS. Alasan-alasan itu tentunya merupakan cerminan karakteristik dan kebutuhan keluarga tersebut. Ada keluarga yang saya ketahui memilih HS karena mempunyai anak dengan special needs yang kurang terfasilitasi di sekolah umum. Beberapa teman saya memilih HS karena ingin anak-anak mereka lebih fokus menghafal Al-Qur'an. Kalau Mbak Lala dan Mas Aar konsep HSnya mengutamakan kepada pengembangan skills. Nah, kami sendiri sebenarnya memilih HS karena ada beberapa idealisme kami tentang sebuah pendidikan yang kami pandang belum mampu dicover oleh sekolah pada umumnya.
Oya, karena sejatinya homeschooling diselenggarakan di rumah dengan orang tua sebagai pendidiknya, maka orang tua yang keduanya bekerja dan memiliki anak yang masih kecil tidak disarankan untuk menyelenggarakan homeschooling.
2. Filosofi sekolah VS Homeschooling
2. Filosofi sekolah VS Homeschooling
Kemarin Mas Aar menyampaikan sebuah filosofi indah yang membedakan homeschooling dengan sekolah pada umumnya. Di dalam filosofi sekolah dikenal istilah "tabula rasa", seorang anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Sekolah atau gurulah yang memamahkan ilmu kepada anak. Tetapi dalam filosofi homeschooling, seorang anak dipandang sebagai individu. Dia memiliki potensi, pendapat, dan sudut pandang. Dia bukanlah makhluk yang pasif. Kata Mas Aar lagi, ternyata makna kata education adalah "mengeluarkan". Karena itu, fungsi utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi yang memang sudah ada dalam diri anak, bukan untuk memamahkan ilmu kepada anak.
Ah ya, penjelasan Mas Aar sungguh menguatkan kefahaman saya selama ini. ALLAH Ta'ala menciptakan anak-anak kita bukan sebagai kertas kosong. Tetapi ALLAH Ta'ala menciptakan anak kita, menitipkannya kepada kita, juga dengan menyertakan potensi-potensi kebaikan pada diri anak-anak kita. Tinggal bagaiman kita sebagai orang tua mendampingi, menemani, dan memfasilitasi agar potensi-potensi kebaikan itu tumbuh dan berkembang seiring pertumbuhan dan perkembangan mereka. MasyaALLAH. . . Laa quwwata illaa billaah.
3. Model Pembelajaran Sekolah VS Homeschooling
3. Model Pembelajaran Sekolah VS Homeschooling
- Di Homeschooling, fungsi utama orang tua adalah sebagai fasilitator
Saya jadi ingat tulisan saya tentang cara sederhana untuk menumbuhkan kecerdasan anak-anak kita. Apa caranya? Diskusi. Dengan diskusi, kita akan menemukan pemikiran-pemikiran yang masih murni namun menakjubkan dari anak-anak kita. Satu contoh ketika saya berdiskusi dengan Zahro saat kami mencuci piring bersama. Zahro bertanya seperti ini:
Zahro: Mi, emangnya ini piring umurnya berapa?
Saya: Kenapa, Kak?
Z: Kok masih dimandikan?
Saat itu Saya bingung menjawabnya, karena kalau saya menjawab jujur jelas piring tersebut sudah lebih tua usianya daripada dia, karena dibeli sejak Saya dan suami baru menikah. Tetapi jika yang lebih tua daripada dia masih "dimandikan" dia pasti akan protes. Maka saya cuma berguman, “hmm. . . hmm. . .” Lantas dia menjawab sendiri,
Z: Ini masih kecil ini, Mi. Lihat kan badannya lebih kecil daripada Kakak.
S: Iya ya, Kak.
Lalu dia bertanya lagi,
Z: Trus dia sampai kapan dimandikan?
Kali ini saya menjawab pertanyaannya,
S: Dia sampai akhir hayatnya akan dimandikan terus, Kak.
Z: Sampai dipanggil ALLAH (meninggal) seperti Kakek?
S: Iya.
A: Sampai pecah! Serunya.
Saya: Kenapa, Kak?
Z: Kok masih dimandikan?
Saat itu Saya bingung menjawabnya, karena kalau saya menjawab jujur jelas piring tersebut sudah lebih tua usianya daripada dia, karena dibeli sejak Saya dan suami baru menikah. Tetapi jika yang lebih tua daripada dia masih "dimandikan" dia pasti akan protes. Maka saya cuma berguman, “hmm. . . hmm. . .” Lantas dia menjawab sendiri,
Z: Ini masih kecil ini, Mi. Lihat kan badannya lebih kecil daripada Kakak.
S: Iya ya, Kak.
Lalu dia bertanya lagi,
Z: Trus dia sampai kapan dimandikan?
Kali ini saya menjawab pertanyaannya,
S: Dia sampai akhir hayatnya akan dimandikan terus, Kak.
Z: Sampai dipanggil ALLAH (meninggal) seperti Kakek?
S: Iya.
A: Sampai pecah! Serunya.
Ya, akhirnya Zahro membuat kesimpulannya sendiri. Bisa dilihat kan bagaimana dialog sederhana bisa menstimulasi proses berpikir anak-anak kita? Diskusi-diskusi sederhana seperti itu tentu saja memang ada syaratnya, yaitu kita sebagai orang tua harus menyediakan waktu untuk mendengarkan anak dan menghargai pendapat-pendapatnya. Dan alhamdulillaah kesempatan itu banyak kami miliki karena menjalani homeschooling ini.
- Di Homeschooling, model pembelajarannya modular bukan tingkat/paket
Keistimewaan homeschooling lainnya yang semakin saya insyafi setelah mendengar penjelasan Mas Aar kemarin adalah tentang model pembelajarannya. Di sekolah, kita mengenal tingkat kelas atau paket pelajaran. Ketika anak tinggal kelas, maka dia harus mengulang semua pelajaran yang menjadi paket di tingkat tersebut, termasuk yang sebenarnya sudah dikuasai anak. Sedangkan di HS model pembelajarannya seperti di perguruan tinggi. Materi yang bisa dikuasai anak lebih cepat boleh dipelajari lebih cepat juga. Jadi bisa saja anak usia 10 tahun (setara kelas 4 SD) pelajaran matematikanya kelas 4, pelajaran sains-nya kelas 5, pelajaran bahasanya kelas 6. Nah, adapun pelajaran yang kurang atau cukup lama dikuasai anak tidak akan menghambat kemajuan pelajaran yang dikuasai anak. Asyik, ya? :-)
Saya jadi teringat lagi nih. Pernah satu hari saya berkunjung ke rumah teman yang punya anak kelas 2 SD. Waktu itu saya minta ditunjukin buku-buku pelajaran sekolahnya. Si anak mengambilkan buku pelajaran sains. Dan ternyata lumayan banyak dari materi di buku tersebut yang sudah dikuasai Zahro, khususnya materi tentang tumbuhan dan hewan. Berarti Zahro udah bisa belajar sains kelas 2 SD, dong? hehehe.
4. Materi Pelajaran & Waktu Belajar
Saya cukup sering ditanyain juga nih soal yang satu ini. Pake buku apa? Materi pelajarannya ambil dari mana? Dari mana aja bisa, hehehe. Kita boleh merujuk materi pelajaran diknas, dari buku-buku yang dijual di toko, boleh juga mengunduh dari sumber-sumber di internet. Sejauh ini saya pun begitu. Beberapa tema saya merujuk pada materi-materi dari diknas. Untuk math saya suka bikin material sendiri, ada juga yang saya unduh dari internet. Untuk sains saya suka lihat-lihat ke charlotte mason dan kids national geographic. Untuk craft kami sering ikut-ikut bikin karya yang dibuat Mister Maker. Karena sekarang saya ikut program menghafal Qur'an ODOL (One Day One Line) dengan metode KQM (Kauny Quantum Memory) via Whatsapp, Zahro juga suka ikut-ikutan menghafal sambil memperagakan. Jadi, sebenarnya sekolah di rumah pun sudah sangat kaya dengan beragam sumber belajar, yang penting sebagai orang tua sekaligus fasilitator kita harus terus belajar juga.
Beberapa aktivitas homeschooling Zahro
Tentang porsi pelajaran, Mas Aar menyampaikan itu bergantung kebutuhan keluarga. Apa yang menjadi fokus HS maka tema-tema berkaitan fokus tersebut tentu boleh banyak porsinya. Berkaitan dengan waktu belajar juga demikian. Kita menitikberatkan pada apa? Pada komitmen belajar atau kepada hasil belajar? Jika kita menitikberatkan pada komitmen belajar, maka kita boleh menetapkan waktu belajar yang tetap. Misalnya dari jam sekian sampai jam sekian. Akan tetapi jika yang menjadi fokus adalah hasil belajar, maka tak masalah belajarnya mau jam berapa dan berapa lama, yang penting target pelajaran tercapai. Poin penting yang harus dimiliki oleh setiap keluarga yang memilih homeschooling adalah mengenali apa yang sebenarnya ingin dibangun/dicapai keluarga. Apa yang menurut orang tua terbaik untuk keluarga dan anak.
5. Opportunities Homeschooling
Ada banyak sekali peluang yang dimiliki oleh keluarga yang memilih untuk menjadi praktisi HS. Antara lain:
- Fleksibilitas pendidikan
- Fleksibilitas dana
- Kustomisasi
- Eksplorasi dunia nyata
- Kedekatan Keluarga
6. Risiko Homeschooling
Bagaimanapun juga, HS tentu memiliki tantangan-tantangan atau risiko. Misalnya infrastruktur yang minim atau kurang memadai. Yang lainnya adalah tekanan baik dari keluarga maupun pemerintah. Kami pun mengalaminya juga, kok. Saat kami memutuskan homeschooling, yang paling menentang adalah nenek-nenek Zahro, Ibu saya dan Ibu mertua. Ibu saya sangat mengkhawatirkan perkembangan sosial Zahro, sementara Ibu mertua mengkhawatirkan perkembangan kognitif Zahro. Tetapi alhamdulillaah seiring waktu berjalan kami bisa membuktikan bahwa dengan homeschooling tidak membuat kekhawatiran-kekhawatiran mereka terwujud, malah sebaliknya.
Saya punya cara sendiri untuk tetap melibatkan Zahro pada banyak situasi sosial. Saya selalu membawanya ke tempat-tempat saya berkegiatan. Saat saya mengisi parenting class ke sekolah-sekolah, saat saya mengajar sebagai dosen tamu di sebuah sekolah tinggi, saat saya berkumpul dengan teman-teman komunitas IIDN Jogja, saat saya pergi mengaji, maka Zahro pasti ikut serta. Akhir-akhir ini, sore hari saya juga memberinya kesempatan untuk bermain sepeda bersama dengan teman-teman sebayanya yang tinggal di dekat rumah. Sering sekali teman-temannya kemudian dia ajak ke rumah kami untuk melakukan aktivitas yang dia kerjakan saat HS, misalnya mewarnai, membaca buku, dll.
Adapun untuk tantangan pemerintah, jujur saja sejauh ini kami belum memikirkannya. Misalnya, bagaimana ujiannya nanti? Hehehe. . . nantilah itu. InsyaALLAH kami yakin ALLAH pasti akan beri kemudahan jika kami bersungguh-sungguh dalam proses ini. Toh tahun ini Zahro baru akan berusia 6 tahun. InsyaALLAH jalan yang akan dia lalui masih sangat panjang. Kami ingin menikmati dulu prosesnya.
7. Legalitas Homeschooling
Nah, bagaimana posisi homeschooling dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Nah, bagaimana posisi homeschooling dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia ada 3 model pendidikan, yaitu:
– Formal: sekolah
– Non formal: kursus-kursus
– Informal: Homeschooling
– Non formal: kursus-kursus
– Informal: Homeschooling
artinya posisi HS jelas ada dalam model pendidikan di tanah air, ya.
Bagaimana dengan kelulusan? Bagaimana dengan ijazah?
Ada beberapa cara yang dijelaskan Mas Aar untuk memperoleh ijazah bagi anak HS, antara lain:
– Ikut ujian persamaan (paket A setara SD, paket B setara SMP, paket C setara SMA).
Nah Ujian paket ini legalitasnya sama dengan Ujian Nasional. Dan ijazah paket C yang diterima legalitasnya sama dengan ijazah SMA. Jadi bisa digunakan kalau anak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
– Ikut Umbrella school.
– Ikut Umbrella school.
Model yang ini adalah anak terdaftar di sebuah sekolah formal, tetapi proses belajar di rumah. Anak hanya ikut ujian dan kegiatan-kegiatan tertentu saja. Biasanya kita tetap membayar uang sekolah untuk model ini. Sekolah yang mau jadi umbrella school juga cari sendiri, ya. Hehehe. . .
– Ujian Cambridge.
– Ujian Cambridge.
Yang satu ini adalah ujian internasional. It's absolutely a new information buat saya. Kata Mas Aar ujian Cambridge ini per mata pelajaran. Dalam Cambridge ini ada istilah check point yang tujuannya hanya untuk melihat capaian pelajaran anak. Sedangkan yang untuk menentukan kelulusan ada yang namanya IGCSE dan A Level. Info selengkapnya bisa dilihat di sini.
Nah, bagaimana? Complete banget kan penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala? :-) Itu baru satu sesi, lho. Masih ada 3 sesi lainnya. Saya merasa beruntung banget bisa ikut webinar ini. Wawasan bertambah, keyakinan untuk menjalani homeschooling pun semakin kuat. Semoga resume sederhana yang saya buat ini bisa menginspirasi keluarga-keluarga lain yang berniat homeschooling tapi belum tahu seluk-beluk homeschooling, ya.
Hmm. . . saya udah nggak sabar menantikan webinar sesi #2.
Tunggu resume saya selanjutnya, ya. . . :-)
Djogdja, 08052014
~eMJe~
Jumat, 02 Mei 2014
Pohon Bunga Dari Kertas Minyak
Hari Rabu lalu, kami melihat salah satu episode Mister Maker di youtube. Nah, di episode itu si Mister membuat craft berbentuk siput dari kertas minyak yang diuwel-uwel. Jadilah kami berencana untuk membuat yang sama. Tampaknya amat mudah mendapatkan bahannya. Proses mengerjakannya juga sederhana.
Sore harinya kami membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di stationary dekat rumah. Kertas minyak beberapa warna, mata-mataan, spidol besar dan lem kertas. Di rumah masih ada asturo yang belum digunakan, jadi tak perlu beli lagi.
Nah, tadi saat kami akan mengerjakan, Umi baru sadar kalau Umi lupa mengingat kemarin itu yang kami lihat Mister Maker season dan episode berapa, ya? Hahaha... Masalahnya, Umi tidak ingat gambar pola siputnya seperti apa. Wah, kalau mengklik sembarang episode tentu akan menghabiskan banyak waktu. Rasanya tidak efisien. Tapi akan diapakan kertas minyak yang sudah dibeli? Kalau nggak jadi bikin apa-apa si kakak pasti kecewa berat. Bisa diambekin Uminya :D.
Alhamdulillaah Umi sempat juga sembarang klik episode, dan yang muncul adalah Mister Maker sedang membuat pohon dari biji-bijian. Ibarat ada lampu mendadak nyala di samping kepala Umi, Aha! Kenapa nggak bikin pohon-pohonan aja dari kertas minyak? Dengan konsep yang sama, dimodifikasi dengan bahan yang ada.
Akhirnya kami pun membuat pohon-pohonan dari kertas minyak. Mengambil ranting kering sebagai kayu dan dahan dari pohon di depan rumah, memotong kertas minyak jadi ukuran kecil lalu diuwel-uwel, menempelnya dengan lem di atas asturo, jadilah pohon kertas minyak kami.
And, this is the processes:
Sore harinya kami membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di stationary dekat rumah. Kertas minyak beberapa warna, mata-mataan, spidol besar dan lem kertas. Di rumah masih ada asturo yang belum digunakan, jadi tak perlu beli lagi.
Nah, tadi saat kami akan mengerjakan, Umi baru sadar kalau Umi lupa mengingat kemarin itu yang kami lihat Mister Maker season dan episode berapa, ya? Hahaha... Masalahnya, Umi tidak ingat gambar pola siputnya seperti apa. Wah, kalau mengklik sembarang episode tentu akan menghabiskan banyak waktu. Rasanya tidak efisien. Tapi akan diapakan kertas minyak yang sudah dibeli? Kalau nggak jadi bikin apa-apa si kakak pasti kecewa berat. Bisa diambekin Uminya :D.
Alhamdulillaah Umi sempat juga sembarang klik episode, dan yang muncul adalah Mister Maker sedang membuat pohon dari biji-bijian. Ibarat ada lampu mendadak nyala di samping kepala Umi, Aha! Kenapa nggak bikin pohon-pohonan aja dari kertas minyak? Dengan konsep yang sama, dimodifikasi dengan bahan yang ada.
Akhirnya kami pun membuat pohon-pohonan dari kertas minyak. Mengambil ranting kering sebagai kayu dan dahan dari pohon di depan rumah, memotong kertas minyak jadi ukuran kecil lalu diuwel-uwel, menempelnya dengan lem di atas asturo, jadilah pohon kertas minyak kami.
And, this is the processes:
![]() |
| Menggunting Asturo |
![]() |
| Menguwel-uwel kertas minyak :-) |
![]() |
| Menempel ranting dan kertas minyak |
![]() |
| Merapihkan asturo |
![]() |
| Pohon dari kertas minyak sudah jadi :-D |
Alhamdulillaah Kak Zahro really enjoy the activity :-)
-=Zahro's HS Journal, 02052014=-
Selasa, 22 April 2014
Zahro's HS Journal: Belajar Membaca, Sebuah Proses
Dulu zaman saya masih SMP, di sekolah kami pernah digalakkan program gemar membaca. Salah satu bentuknya adalah dengan mewajibkan semua siswa membawa buku bacaan ke manapun akan pergi saat jam istirahat. Asal jangan dibawa ke toilet, kekeke. Apakah cuma dipegang-pegang, apakah dibaca satu halaman, satu paragraf, satu kalimat, atau cuma huruf pertamanya doang terserah. Yang penting jam istirahat wajib pegang buku. "Membaca adalah jendela dunia" merupakan kalimat yang sangat tenar kala itu. Program itu lumayan berefek positif buat saya. Saya jadi senang membaca. . . novel. Hahaha. . . Bukan sembarang novel lho, ya. Tapi novel klasik semacam Siti Nurbaya, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan sejenisnya. Intinya saya jadi senang membaca.
Nah. . . poin dari tulisan saya bukan itu sebenarnya, tapi tetap masih seputar membaca. Jadi, sebagai seorang Ibu, saya menerjemahkan kalimat al-ummu madrasatul uula secara sangat eksplisit. Mimpi saya, bila ALLAH beri kemampuan saya ingin sekali semua first knowledge Zahro ia dapatkan dari saya. Membaca tentu saja menjadi bagian di dalamnya. Karena itu saat dia masih sekolah, sebelum kami memutuskan HS, saya menyampaikan kepada gurunya bahwa saya tidak menempatkan kewajiban mengajarkan Zahro membaca kepada guru.
Sampai akhirnya kami memulai homeschooling Zahro memang belum bisa membaca. Karena itu membaca menjadi bagian dari proses belajar kami di rumah. Saya sengaja mempraktekkan ilmu yang saya pelajari dari latar belakang pendidikan saya, yaitu mengajarkan membaca pada saat anak sudah mencapai usia siap membaca. Sederhana tujuannya. Sekedar ingin melihat apakah faktor kematangan itu berpengaruh terhadap proses belajarnya. Dan ternyata, dalam amatan saya cukup berpengaruh saudara-saudara, proses belajar membaca Zahro tidak lama. Sekitar 2 pekan jika semua hari yang dipakai untuk belajar membaca ditotal.
Kami tidak belajar membaca setiap hari. Hanya satu sampai tiga kali dalam sepekan. Waktunya juga singkat saja. sekitar 5-10 menit. Saya menggunakan beberapa media peraga dalam proses ini.
1. Buku yang beredar di pasaran.
Ada 3 buku yang kami gunakan. Tujuannya, untuk melihat buku mana yang paling efektif. Semua buku yang kami gunakan secara umum menggunakan metode yang sama, yaitu metode suku kata.
Kesimpulan saya:
Zahro lebih mudah belajar suku kata yang menggabungkan satu konsonan dengan semua vokal. Misal: ba bi bu be bo, ca ci cu ce co, dst. daripada yang metodenya a ba ca da, i bi ci di. Mengapa? Menurut saya nih ya, karena dia adalah anak dengan gaya belajar audio, dia mudah mengingat bunyi suku kata, tetapi agak sulit menghafal visualnya. Karena itu jika dia lupa cara membaca satu suku kata, dia akan menzaharkan suara lalu suara itu dia cocokkan ke visual suku katanya.
Dengan metode tersebut, alhamdulillah dalam 3-4 sesi Zahro sudah lulus membaca suku kata terbuka.
2. Flash cards.
Saat Zahro bayi saya pernah membeli flash cards. Tapi sayang, Zahro tidak berminat, hehehe. Nah, dari flash cards yang ada saya pilah-pilah kartu yang berisi kata dengan suku kata terbuka. Dengan kartu-kartu itulah Zahro memperlancar membaca suku kata terbukanya.
3. Memanfaatkan program Word di komputer
Untuk menambah dan memperlancar kemampuan membaca suku kata terbuka, saya menuliskan kalimat sederhana yang bermakna untuk dibaca Zahro. MasyaALLAH, girangnya luar biasa jika Zahro tahu bahwa dia sudah bisa membaca kalimat bermakna.
Sampai di situ proses belajar suku kata terbuka kami. Untuk suku kata tertutup proses belajar kami sudah mulai acak dengan tetap menggunakan media-media di atas. Sesekali dengan buku, sesekali dengan memintanya menebak kata yang saya tuliskan di komputer, sesekali dengan membaca pictoral book.
Nah. . . poin dari tulisan saya bukan itu sebenarnya, tapi tetap masih seputar membaca. Jadi, sebagai seorang Ibu, saya menerjemahkan kalimat al-ummu madrasatul uula secara sangat eksplisit. Mimpi saya, bila ALLAH beri kemampuan saya ingin sekali semua first knowledge Zahro ia dapatkan dari saya. Membaca tentu saja menjadi bagian di dalamnya. Karena itu saat dia masih sekolah, sebelum kami memutuskan HS, saya menyampaikan kepada gurunya bahwa saya tidak menempatkan kewajiban mengajarkan Zahro membaca kepada guru.
Sampai akhirnya kami memulai homeschooling Zahro memang belum bisa membaca. Karena itu membaca menjadi bagian dari proses belajar kami di rumah. Saya sengaja mempraktekkan ilmu yang saya pelajari dari latar belakang pendidikan saya, yaitu mengajarkan membaca pada saat anak sudah mencapai usia siap membaca. Sederhana tujuannya. Sekedar ingin melihat apakah faktor kematangan itu berpengaruh terhadap proses belajarnya. Dan ternyata, dalam amatan saya cukup berpengaruh saudara-saudara, proses belajar membaca Zahro tidak lama. Sekitar 2 pekan jika semua hari yang dipakai untuk belajar membaca ditotal.
Kami tidak belajar membaca setiap hari. Hanya satu sampai tiga kali dalam sepekan. Waktunya juga singkat saja. sekitar 5-10 menit. Saya menggunakan beberapa media peraga dalam proses ini.
1. Buku yang beredar di pasaran.
Ada 3 buku yang kami gunakan. Tujuannya, untuk melihat buku mana yang paling efektif. Semua buku yang kami gunakan secara umum menggunakan metode yang sama, yaitu metode suku kata.
Kesimpulan saya:
Zahro lebih mudah belajar suku kata yang menggabungkan satu konsonan dengan semua vokal. Misal: ba bi bu be bo, ca ci cu ce co, dst. daripada yang metodenya a ba ca da, i bi ci di. Mengapa? Menurut saya nih ya, karena dia adalah anak dengan gaya belajar audio, dia mudah mengingat bunyi suku kata, tetapi agak sulit menghafal visualnya. Karena itu jika dia lupa cara membaca satu suku kata, dia akan menzaharkan suara lalu suara itu dia cocokkan ke visual suku katanya.
Dengan metode tersebut, alhamdulillah dalam 3-4 sesi Zahro sudah lulus membaca suku kata terbuka.
![]() |
| Salah satu buku yang kami gunakan |
2. Flash cards.
Saat Zahro bayi saya pernah membeli flash cards. Tapi sayang, Zahro tidak berminat, hehehe. Nah, dari flash cards yang ada saya pilah-pilah kartu yang berisi kata dengan suku kata terbuka. Dengan kartu-kartu itulah Zahro memperlancar membaca suku kata terbukanya.
![]() |
| Membaca dan menuliskan kembali kata di flash card |
Untuk menambah dan memperlancar kemampuan membaca suku kata terbuka, saya menuliskan kalimat sederhana yang bermakna untuk dibaca Zahro. MasyaALLAH, girangnya luar biasa jika Zahro tahu bahwa dia sudah bisa membaca kalimat bermakna.
![]() |
| Kalimat sederhana yang saya tulis lalu saya print |
Nah, hari ini momennya sangat menyenangkan. Zahro berhasil membaca tiga halaman buku favoritnya saat masih toddler, tentang anak tikus yang ingin tahu makna kasih sayang dengan lancar. Barokallaah ya Nak, dan semangat membaca terus. ^-^
Jogja, 22042014
~eMJe~
![]() |
| Zahro's Favorite Book |
Playdough ala Umi dan Kak Zahro
Menjadi bagian dari pelaku homeschooling (unschooling sih tepatnya) yang masih amatiran, tentu menuntut kemauan belajar yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar, upaya untuk menjelajah informasi terus-menerus, mencari sumber aktivitas yang menarik yang tak putus, dan yang lain-lain lagi. Jujur, kadang-kadang ide beraktivitas yang menyenangkan mentok, maka harus puter-puter otak, telusur-telusur ide kreatif. Nah, di tulisan ini saya mau share salah satu aktivitas menyenangkan kami, yaitu making a homemade playdough.
Salah satu aktivitas yang paling disenangi Zahro adalah yang berhubungan dengan tepung. Nggak bisa lihat tepung deh dia pokoknya. The most favorite food Zahro juga berhubungan dengan tepung, yaitu roti jala. Pada tahu, kan? It's so simple to make it. We just need flavor (tepung terigu), garam, minyak, dan air hangat. Saya punya alat untuk membuat jalanya sih, oleh-oleh dari Mama waktu beliau jalan-jalan ke Malaysia. Karena itu kalau udah lihat tepung udah deh, "Mi, kakak mau aduk-aduk." Kaga ngerti ya dia kalau tepung itu bahan makanan, bukan mainan, hehehe. . . Saya emang pernah sih kasih dia mainan tepung sama air. Mungkin momen itu sangat berkesan buatnya. Tapi jangan sering-sering dong Kak, mubaziiiir. :D
Okay, back to the topic. Jadi ceritanya saya pernah belikan Zahro beberapa set playdough. Lumayan harganya, satu set 25.000-40.000 rupiah. Satu set isinya beberapa box kecil playdough warna-warni plus cetakan-cetakan. Playdough-playdough itu sering dia bawa kalau ikut saya ke mana-mana, plus dimainin juga kalau ada anak-anak datang ke rumah. Akhirnya sampailah ajal semua playdough itu, mengeras, hancur menjadi remahan-remahan, dan tercampur aduk.
Beli lagi? Iiih. . . isinya dikit harganya lumayan. Nah, datanglah ide. Kenapa kami nggak buat playdough sendiri aja? Saya langsung searching cara membuat playdough saat itu juga. Ide membuat playdough saya sampaikan kepada Zahro. Dan keesokan harinya kamipun merealisasikannya. This is it, guys.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat playdough adalah:
Tepung (saya nggak nakar-nakar pake timbangan)
Garam
Baking powder
Minyak
Air hangat
Pewarna (boleh pewarna makanan boleh pewarna lukisan asal yang safe for children ya). Kalau kami pakenya pewarna lukisan karena nggak punya pewarna makanan.
Ini dia nih wujudnya:
Saya juga menyiapkan box-box kosong untuk playdough yang sudah jadi nanti. Boxnya memanfaatkan box playdough Zahro yang udah rusak isinya. Ada wujud pewarnanya juga tuh.
Proses membuatnya sederhana saja. Tepung + garam + baking soda dicampur. Beri ruang di bagian tengah. Tuang minyak, lalu tuang air perlahan-lahan sambil adonan diuleni hingga kalis. Almost all of that activities dikerjakan Zahro sendiri.
Setelah adonan kalis, kami membagi adonan menjadi bagian kecil-kecil agar mudah membagi warnanya. Setelah itu masing-masing bagian diberi warna yang berbeda, lalu ditempatkan di box masing-masing. Dan. . . jadi deh.
Nah, mudah kan bikinnya? Selain mudah, hemat juga, hehehe. Agar playdoughnya tahan lama jika sedang tidak digunakan masukkan playdough ke dalam lemari es. Jika tidak maka playdough akan cepat berjamur. Bila playdough menjadi keras setelah dimasukkan ke lemari es, diamkan dulu di suhu ruang sebelum dipakai bermain. Selamat mencoba and have a great moment with our children.
Zahro HS Journal, 22042014
~eMJe~
Salah satu aktivitas yang paling disenangi Zahro adalah yang berhubungan dengan tepung. Nggak bisa lihat tepung deh dia pokoknya. The most favorite food Zahro juga berhubungan dengan tepung, yaitu roti jala. Pada tahu, kan? It's so simple to make it. We just need flavor (tepung terigu), garam, minyak, dan air hangat. Saya punya alat untuk membuat jalanya sih, oleh-oleh dari Mama waktu beliau jalan-jalan ke Malaysia. Karena itu kalau udah lihat tepung udah deh, "Mi, kakak mau aduk-aduk." Kaga ngerti ya dia kalau tepung itu bahan makanan, bukan mainan, hehehe. . . Saya emang pernah sih kasih dia mainan tepung sama air. Mungkin momen itu sangat berkesan buatnya. Tapi jangan sering-sering dong Kak, mubaziiiir. :D
Okay, back to the topic. Jadi ceritanya saya pernah belikan Zahro beberapa set playdough. Lumayan harganya, satu set 25.000-40.000 rupiah. Satu set isinya beberapa box kecil playdough warna-warni plus cetakan-cetakan. Playdough-playdough itu sering dia bawa kalau ikut saya ke mana-mana, plus dimainin juga kalau ada anak-anak datang ke rumah. Akhirnya sampailah ajal semua playdough itu, mengeras, hancur menjadi remahan-remahan, dan tercampur aduk.
Beli lagi? Iiih. . . isinya dikit harganya lumayan. Nah, datanglah ide. Kenapa kami nggak buat playdough sendiri aja? Saya langsung searching cara membuat playdough saat itu juga. Ide membuat playdough saya sampaikan kepada Zahro. Dan keesokan harinya kamipun merealisasikannya. This is it, guys.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat playdough adalah:
Tepung (saya nggak nakar-nakar pake timbangan)
Garam
Baking powder
Minyak
Air hangat
Pewarna (boleh pewarna makanan boleh pewarna lukisan asal yang safe for children ya). Kalau kami pakenya pewarna lukisan karena nggak punya pewarna makanan.
Ini dia nih wujudnya:
![]() |
| Bahan-bahan |
![]() |
| Box dan pewarnanya |
![]() |
| Zahro sedang menguleni tepung |
![]() |
| Bagi-bagi playdough |
![]() |
| Coloring |
![]() |
| Hasil akhir |
Zahro HS Journal, 22042014
~eMJe~
Langganan:
Postingan (Atom)




























