Pekan lalu saya beli dua buah buku yang saya kira tentang traveler gitu. Ternyata hanya satu buku yang benar-benar tentang traveling. Satunya lagi lebih ke novel geografis gitu buat saya.
Novel geografis? Ada ngga sih istilah itu? Hahaha... entahlah. Intinya buku setebal 400 halaman itu berlatar dan berkisah tentang kehidupan pesisir di belahan timur Indonesia.
Asyik benar sepertinya novel itu buat gadis 8 tahun saya. Dia sukses menuntaskannya tidak lebih dari tiga hari. Dengan adegan air mata bercucuran beberapa kali. Saya aja belum berani membelah halamannya, takut kalau isinya terlalu berbobot untuk dicerna otak. Hahaha...
Jadi tadi saya minta dia menuliskan apa yang dia reguk dari novel itu. Dan dia menuliskan beberapa poin berikut:
1. Pengorbanan seorang ibu untuk anaknya.
2. Kasih sayang kepada teman.
3. Pengorbanan seorang kakak untuk adiknya.
4. Bertahan dan bersabar dalam kesulitan
5. Berusaha mendapatkan hidayah.
Nah, kan... berbobot banget, banyak korbannya... 😂😂😂
Jadi sebagai penghargaan atas enjoynya dia membaca novel itu, maka saya kasih dia bonus novel psikologi tentang disleksia dan novel biografi tentang "reach the dream" yang saya keruk-keruk dari kardus buku hasil benah-benah rak buku bulan lalu. Dan dia excited benget 😍😍😍
#ceritanongadgetactivityanakku
#funwithoutgadget
#homeschoolergirl
Jannah_UmmuZahro
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Maret 2017
Sabtu, 30 Mei 2015
Homeschooling Journal: Coloring, Cutting & Gluing Activity
Seorang sahabat saya pernah berkata, "Supaya anak bisa menulis rapih itu, salah satu caranya adalah dengan melatih keterampilan motorik halusnya."
Lalu, motorik halus itu apa sih?
Motorik halus adalah koordinasi otot-otot kecil, yang biasanya melibatkan sinkronisasi tangan dan jari-jari dengan mata. Menulis merupakan tingkat keterampilan motorik halus yang tinggi, istilahnya fine-fine motor skills. Nantinya, menulis merupakan kemampuan motorik halus yang sangat penting dalam proses belajar ananda.
Di usia yang lebih dini, banyak sekali bentuk-bentuk aktivitas motorik halus yang menarik dan menyenangkan yang bisa dilakukan ananda bersama orangtua, misalnya: bermain corat-coret di beragam media, fingerpaints, menjumput benda-benda kecil dengan jempol dan telunjuk, menggunting, menempel, mewarnai, meronce, mengikat tali, memasang kancing baju atau resleting, daaaaaaaan masih banyak lagi.
Anak saya sangat senang dengan aktivitas menggunting. Hanya saja, sekadar menggunting kayaknya cuma menghasilkan sampah deh. Karena itu, saya coba hunting lembar aktivitas yang tak sekadar menggunting, tapi juga mewarnai dan menempel sekaligus. Sehingga hasil guntingannya nggak terbuang. :D
Di internet, cukup banyak kok lembar kerja motorik halus yang bisa kita unduh dengan gratis. Tinggal dicetak, lalu bisa dikerjakan, deh. Salah satunya yang kami jadikan aktivitas belajar kemarin.
Oya, aktivitas mewarnai saya kembangkan lagi untuk belajar bahasa. Petunjuk warna di lembar aktivitas saya tulis di whiteboard dalam tiga bahasa: Indonesia - Inggris - Arab. Nah, sambil mewarnai, menggunting, dan menempel, anak juga menambah beberapa kosa kata dalam tiga bahasa.
Menguntungkan, bukan? :-)
Nah, ini dia hasilnya...
Cantik, ya? ^^
Selamat mencoba, semuanya... ^^
Lalu, motorik halus itu apa sih?
Motorik halus adalah koordinasi otot-otot kecil, yang biasanya melibatkan sinkronisasi tangan dan jari-jari dengan mata. Menulis merupakan tingkat keterampilan motorik halus yang tinggi, istilahnya fine-fine motor skills. Nantinya, menulis merupakan kemampuan motorik halus yang sangat penting dalam proses belajar ananda.
Di usia yang lebih dini, banyak sekali bentuk-bentuk aktivitas motorik halus yang menarik dan menyenangkan yang bisa dilakukan ananda bersama orangtua, misalnya: bermain corat-coret di beragam media, fingerpaints, menjumput benda-benda kecil dengan jempol dan telunjuk, menggunting, menempel, mewarnai, meronce, mengikat tali, memasang kancing baju atau resleting, daaaaaaaan masih banyak lagi.
Anak saya sangat senang dengan aktivitas menggunting. Hanya saja, sekadar menggunting kayaknya cuma menghasilkan sampah deh. Karena itu, saya coba hunting lembar aktivitas yang tak sekadar menggunting, tapi juga mewarnai dan menempel sekaligus. Sehingga hasil guntingannya nggak terbuang. :D
Di internet, cukup banyak kok lembar kerja motorik halus yang bisa kita unduh dengan gratis. Tinggal dicetak, lalu bisa dikerjakan, deh. Salah satunya yang kami jadikan aktivitas belajar kemarin.
![]() |
| Sumber gambar: http://kiboomukidssongs.com |
![]() |
| Asyik menempel setelah mewarnai dan menggunting Foto: dokumen pribadi |
![]() |
| Stimulasi motorik halus sekaligus verbal |
Oya, aktivitas mewarnai saya kembangkan lagi untuk belajar bahasa. Petunjuk warna di lembar aktivitas saya tulis di whiteboard dalam tiga bahasa: Indonesia - Inggris - Arab. Nah, sambil mewarnai, menggunting, dan menempel, anak juga menambah beberapa kosa kata dalam tiga bahasa.
Menguntungkan, bukan? :-)
Nah, ini dia hasilnya...
Cantik, ya? ^^
![]() |
| Dua ekor burung hasil coloring, cutting & gluing activity |
~eMJe~
Zahro's Homeschooling Journal
29052015
Rabu, 11 Februari 2015
Menakar Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar
| gambar diambil dari clipartpanda.com |
Case:
Lila masuk playgroup sebelum genap berusia 3 tahun. Masuk TK A usia kurang dari 4 tahun, dan TK B usia kurang dari 5 tahun. Tak terasa sebentar lagi sudah tahun ajaran baru. Sejumlah SD sudah mulai membuka pendaftaran siswa baru. Ayah dan bunda Lila merasa ragu mendaftarkan Lila ke SD, sebab di bulan Juli nanti usianya belum genap 6 tahun. Apakah usia Lila masih terlalu muda untuk masuk SD tahun ini? Apakah nanti Lila akan mengalami kesulitan jika masuk SD tahun ini? Tetapi bukankah Lila sudah terlampau lama di TK? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di pikiran ayah-bundanya.Meskipun merasa ragu, ayah-bunda Lila tetap melakukan survei ke beberapa sekolah dasar. Ternyata semua sekolah dasar swasta yang mereka kunjungi berkenan menerima siswa baru yang usianya belum mencapai 7 tahun, bahkan belum mencapai 6 tahun. Namun pihak sekolah mengemukakan bahwa nanti akan ada tes untuk mengetahui kesiapan anak masuk sekolah. Jika hasilnya siap, maka anak diterima. Jika belum siap, maka anak tidak bisa masuk ke sekolah tersebut. Ayah dan bunda Lila mengangguk-angguk setuju dengan prosedur tersebut, walau dalam hati masih bertanya-tanya, seperti apa sih yang dimaksud dengan siap masuk sekolah dasar? Apakah tanda siap masuk SD adalah kemampuan calistung? Ah, kalau hanya calistung, ayah dan bunda Lila sangat percaya diri. Lila sudah ikut les calistung sejak umur 4 tahun. Ayah dan bunda yakin dia pasti akan lulus.
Kenyataan pahit tentang tuntutan mampu calistung kepada anak usia dini
Kejadian di bawah ini benar-benar saya temui di sebuah TK:
- Hari Senin di ruang kelas sebuah TK, anak-anak kecil berusia 4 tahun tampak sibuk menulis di buku garis-garis mereka. Ada tugas menyalin kalimat dari bu guru.
- Hari Selasa mereka tampak membaca Iqro’. Satu per satu maju ke meja bu guru untuk dicek bacaannya.
- Hari Rabu masih di ruangan itu, anak-anak tampak menghitung angka-angka.
- Hari Kamis, di ruangan yang sama, anak-anak kecil itu riuh-rendah membaca kalimat-kalimat yang ditulis bu guru di papan tulis.
- Alhamdulillah, hari Jum’at tiba. Hari ini anak-anak memakai seragam olah-raga. Betapa ceria mereka mengikuti gerakan bu guru.
- Hari sabtu, mereka lebih sumringah lagi, sebab hari ini mereka belajar menggunting, melipat kertas, menggambar, juga mewarnai.
Membaca, menulis, dan berhitung atau biasa dikenal dengan istilah calistung adalah sejumlah kemampuan yang biasanya dipersiapkan ayah-bunda sebelum anak masuk sekolah dasar. Jika perlu, selain sekolah, anak juga diikutsertakan les membaca. Masyarakat umum meyakini bahwa kemampuan calistung adalah modal keberhasilan pendidikan anak saat memasuki sekolah dasar. Anak yang sudah mahir calistung, diyakini akan mudah menuntaskan tugas-tugas di sekolahnya kelak.
Sah-sah saja jika anak usia dini, menjelang masuk sd disiapkan kemampuan calistung dengan metode yang menyenangkan bagi mereka. Tetapi patut menjadi perhatian kita bersama, bahwa keberhasilan seorang anak dalam mengikuti proses belajar di kelas, tidak cukup hanya dengan bekal kemampuan calistung. Anak juga memerlukan aneka kemampuan dan keterampilan lainnya, misalnya kemampuan beradaptasi, kemampuan bersosialisasi, kemampuan mengelola emosi, kemandirian, keberanian, juga kemampuan berkomunikasi.
Anak yang sudah mahir calistung namun belum mau berpisah dengan orangtua tentu akan menghambatnya mengikuti aktivitas belajar dengan baik. Anak yang sudah mahir calistung namun terhambat perkembangan sosialnya juga akan mengalami hambatan dalam berinteraksi di sekolah.
Apakah yang dimaksud dengan kesiapan masuk sekolah dasar?
Ada dua hal yang biasanya perlu diperhatikan sebelum anak masuk sekolah dasar, yaitu:
- kematangan masuk sekolah (school maturity)
- kesiapan masuk sekolah (school readiness).
Kematangan secara biologis, selain ditunggu juga perlu didukung stimulasi. Stimulasi yang disajikan kepada anak akhirnya mewujudkan sebuah kesiapan. Perlu diingat bahwa stimulasi yang gencar, masif, dan intensif tidak akan bisa mempercepat kesiapan, sebab kesiapan memerlukan kematangan. Ada efek timbal balik antara nature (alami) dan nurture (stimulasi).
Kesiapan anak masuk sekolah dasar akan berbeda satu dengan yang lain, kapan akan dicapai. Hal ini sangat tergantung pada stimulasi yang diberikan dan kematangan yang dicapai. Sama halnya seorang anak yang berusia 6 bulan jika dipaksa untuk bisa berbicara pasti belum bisa karena organ-organ verbalnya belum matang. Tetapi mungkin saja ada anak usia 24 bulan belum mengeluarkan kata pertama karena kurang stimulasi.
Aspek-aspek Perkembangan Anak
Secara umum, ada empat aspek perkembangan anak yang kesemuanya semestinya berkembang optimal saat mempertimbangkan untuk mendaftarkan anak masuk SD. Orangtua bisa mengamati perkembangan ini dengan mengamati anak sehari-hari. Perkembangan tersebut antara lain:
1. Perkembangan Fisik dan Motorik
Untuk perkembangan motorik, berkaitan dengan kesiapan masuk sd orangtua perlu melihat bagaimana kematangan motorik halus anak. Kemampuan motorik halus akan mempengaruhi kemampuan anak menulis. Banyak aktivitas-aktivitas sederhana yang bisa diterapkan orangtua untuk melatih motorik halus anak, misalnya: menggunting, menempel, mewarnai, melipat, menggambar, menebalkan garis, dll. Orangtua juga perlu mengamati kemampuan anak memegang alat tulis dengan tepat.
2. Perkembangan Sosial
Kemampuan sosial akan mempengaruhi interaksi anak dengan teman sebayanya atau yang lebih tua darinya, misalnya guru atau kakak kelas. Amati apakah anak mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial baru, apakah anak mudah memulai pertemanan, dan bagaimana kemampuan anak menyelesaikan konflik dengan teman sebaya.
3. Perkembangan Emosi
Anak-anak yang hendak memasuki jenjang sekolah dasar perlu memiliki kematangan emosi yang baik. Model pembelajaran di sekolah dasar tentu berbeda jauh dengan saat anak masih di TK. Jumlah jam belajar, tingkat kesulitan pelajaran, dan tugas-tugas pasti mempengaruhi mood anak. Misal saat TK anak hanya belajar dari jam 8 sampai 10, ternyata di sekolah dasar anak harus belajar dari jam 7.30 sampai 12. Contoh lainnya saat TK anak banyak melakukan aktivitas otak kanan, misal bermain, bernyanyi, menggambar, mewarnai, menari. Tetapi di sekolah dasar anak banyak melakukan aktivitas yang melibatkan otak kiri.Orangtua perlu mengamati kematangan emosi anak dalam menghadapi perubahan ritme dari TK ke SD.
4. Perkembangan Kognitif (intelektual)
Perkembangan kognitif tentu saja merupakan modalitas belajar. Perkembangan inilah yang sejak awal saya uraikan dalam tulisan ini. Perkembangan kognitif merupakan salah satu faktor penting yang akan mempengaruhi kemampuan anak dalam menyerap pembelajaran di sekolah.
Keempat aspek perkembangan tersebut perlu terpenuhi secara keseluruhan, karena satu sama lain akan saling menguatkan keberhasilan anak mengikuti aktivitas belajar di sekolah dasar.
Nah, para orangtua yang mempunyai anak-anak di TK B, bagaimana kesiapan masuk SD ananda?
Oleh: Miftahul Jannah, M.Psi., Psi*
*Educational Psychologist, Children's Activity Books Writer
1. Perkembangan Fisik dan Motorik
Untuk perkembangan motorik, berkaitan dengan kesiapan masuk sd orangtua perlu melihat bagaimana kematangan motorik halus anak. Kemampuan motorik halus akan mempengaruhi kemampuan anak menulis. Banyak aktivitas-aktivitas sederhana yang bisa diterapkan orangtua untuk melatih motorik halus anak, misalnya: menggunting, menempel, mewarnai, melipat, menggambar, menebalkan garis, dll. Orangtua juga perlu mengamati kemampuan anak memegang alat tulis dengan tepat.
2. Perkembangan Sosial
Kemampuan sosial akan mempengaruhi interaksi anak dengan teman sebayanya atau yang lebih tua darinya, misalnya guru atau kakak kelas. Amati apakah anak mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial baru, apakah anak mudah memulai pertemanan, dan bagaimana kemampuan anak menyelesaikan konflik dengan teman sebaya.
3. Perkembangan Emosi
Anak-anak yang hendak memasuki jenjang sekolah dasar perlu memiliki kematangan emosi yang baik. Model pembelajaran di sekolah dasar tentu berbeda jauh dengan saat anak masih di TK. Jumlah jam belajar, tingkat kesulitan pelajaran, dan tugas-tugas pasti mempengaruhi mood anak. Misal saat TK anak hanya belajar dari jam 8 sampai 10, ternyata di sekolah dasar anak harus belajar dari jam 7.30 sampai 12. Contoh lainnya saat TK anak banyak melakukan aktivitas otak kanan, misal bermain, bernyanyi, menggambar, mewarnai, menari. Tetapi di sekolah dasar anak banyak melakukan aktivitas yang melibatkan otak kiri.Orangtua perlu mengamati kematangan emosi anak dalam menghadapi perubahan ritme dari TK ke SD.
4. Perkembangan Kognitif (intelektual)
Perkembangan kognitif tentu saja merupakan modalitas belajar. Perkembangan inilah yang sejak awal saya uraikan dalam tulisan ini. Perkembangan kognitif merupakan salah satu faktor penting yang akan mempengaruhi kemampuan anak dalam menyerap pembelajaran di sekolah.
Keempat aspek perkembangan tersebut perlu terpenuhi secara keseluruhan, karena satu sama lain akan saling menguatkan keberhasilan anak mengikuti aktivitas belajar di sekolah dasar.
Nah, para orangtua yang mempunyai anak-anak di TK B, bagaimana kesiapan masuk SD ananda?
Oleh: Miftahul Jannah, M.Psi., Psi*
*Educational Psychologist, Children's Activity Books Writer
Senin, 09 Februari 2015
Learning, We Can Make It Simple
Saya mafhum, salah satu sumber kerisauan orangtua yang berminat menjadi praktisi homeschooling adalah kurikulum, jadwal belajar, dan materi pelajaran. Kami pun pernah mengalaminya. Rasa bahwa anak harus belajar sesuatu yang jelas setiap hari. Anggapan diri bahwa anak baru dinamakan berlajar jika dia duduk dengan kertas dan pulpen/pensil ada di depannya. Hal-hal semacam itu.
Saya baru merasa tenang setelah dikuatkan, bahwa homeschooling bukanlah memindahkah sekolahan ke rumah. Jadwal pelajaran kita tidak harus sesaklek jadwal pelajaran di sekolah. Demikian pula materi pelajarannya, kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak saja. Apalagi jika anak masih berusia dini, kita hanya perlu berpegang teguh pada prinsip learning by playing, lalu merancang kegiatan yang seru dengan prinsip itu.
Kadangkala, ide beraktivitas seru itu bisa datang tiba-tiba. Asalkan kita sudah punya mindset, bahwa kita bisa memetik pelajaran dari mana saja dan bisa belajar dari aktivitas apa saja. Insya Allah, ide-ide segar akan muncul seolah-olah begitu saja, tuing. . . tuing, hehehe. . .
Gambar di bawah ini salah satunya, aktivitas belajar yang bermula dari ketidaksengajaan.
So, demikianlah kira-kira contoh menyederhanakan bentuk belajar dan menemukan materi belajar yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan kita menemukan cara-cara belajar seru dan menyenangkan lainnya. Happy learning. ^^
Zahro's HS Journal
Djogdja, 09022015
~eMJe~
Saya baru merasa tenang setelah dikuatkan, bahwa homeschooling bukanlah memindahkah sekolahan ke rumah. Jadwal pelajaran kita tidak harus sesaklek jadwal pelajaran di sekolah. Demikian pula materi pelajarannya, kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak saja. Apalagi jika anak masih berusia dini, kita hanya perlu berpegang teguh pada prinsip learning by playing, lalu merancang kegiatan yang seru dengan prinsip itu.
Kadangkala, ide beraktivitas seru itu bisa datang tiba-tiba. Asalkan kita sudah punya mindset, bahwa kita bisa memetik pelajaran dari mana saja dan bisa belajar dari aktivitas apa saja. Insya Allah, ide-ide segar akan muncul seolah-olah begitu saja, tuing. . . tuing, hehehe. . .
Gambar di bawah ini salah satunya, aktivitas belajar yang bermula dari ketidaksengajaan.
Awalnya, anak saya sedang membolak-balik kisah-kisah moral berbahasa Inggris. Lantas dia membacanya sesuka hatinya. Tentu saja terdengar lucu jadinya. Saya sampai terbahak-bahak dibuatnya. Lalu saya memintanya membaca satu cerita utuh, sembari saya membenarkan pengucapan setiap kata yang dia baca. Ternyata dia sangat senang dengan pengalaman baru itu, bahwa dalam bahasa Inggris, tidak semua kata dibaca sesuai dengan yang tertulis.
Kemudian saya bertanya pada anak saya apakah dia ingin tahu apa sebenarnya isi cerita itu? Dan dia ingin mengetahuinya. Lalu saya maknai cerita itu. Secara garis besar, cerita itu tentang rasa bersyukur dan berterima kasih. Lantas saya minta anak saya mengulangi pemaknaan yang saya sampaikan. Kemudian makna cerita itu kami diskusikan bersama. Nah, bisa dilihat kan, dari sesuatu yang sederhana bahkan tak sengaja, berapa banyak hal yang telah kami pelajari?
Mengambil inspirasi dari pelafalan kata bahasa Inggris, saya berinisiatif mengenalkan bentuk tertulis angka dalam bahasa Inggris pada anak saya. Sejauh ini, anak saya sudah tahu melafalkan one to ten, tapi dia belum tahu bagaimana sebenarnya lafal itu dalam bentuk tulis. Maka jadilah orat-oret di gambar yang saya lampirkan di atas. Dari orat-oret sederhana itu kami bermain kuis. Mulai dari melafalkan urut one to ten sampai saya bertanya acak, misal "Bahasa Inggris delapan?", "Lima?" "Empat?", dan seterusnya. Alhamdulillah dalam satu sesi bermain dia sudah mulai bisa melafalkan angka berbahasa Inggris dengan stimulus acak.
So, demikianlah kira-kira contoh menyederhanakan bentuk belajar dan menemukan materi belajar yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan kita menemukan cara-cara belajar seru dan menyenangkan lainnya. Happy learning. ^^
Zahro's HS Journal
Djogdja, 09022015
~eMJe~
Selasa, 03 Februari 2015
"Nggak Boleh Beli Pakai Uang Orang Lain": Sebuah Pendidikan Karakter
| gambar diambil dari: http://shapreschool.org/ |
orangtua yang memiliki anak-anak usia sekolah, tetapi juga orangtua yang memiliki anak usia bayi, batita dan balita. Banyak yang bertanya kepada saya tentang apa yang sebaiknya diajarkan kepada anak usia dini mereka, bahkan menanyakan kurikulum apa yang bisa disusun untuk anak-anak yang masih berusia setahun-dua tahun.
Selalu saya katakan, jawabannya adalah TAUHID, AKHLAQ, & ADAB. Pendidikan tauhid akan menjadikan anak-anak kita mengenal penciptanya, pemiliknya, pemberi segala kesenangan dan kebahagiannya. Dia akan pandai bersyukur, mampu mengikat makna atas penciptaan semesta. Lanjutannya dia akan mengenal dan akrab dengan ibadah. Pendidikan akhlaq akan menjadikan anak-anak kita sosok-sosok yang cerdas secara sosial, mapan dalam bergaul, berkarakter. Pendidikan adab akan mengenalkannya kepada sunnah, manner sebagai seorang muslim/ah. Bagaimana seorang muslim/ah makan dan minum, tidur, berpakaian, keluar rumah, naik kendaraan, masuk dan keluar kamar mandi, sangat penting dan mendasar. Itulah yang terpenting untuk ditanamkan kepada anak-anak kita. Stimulasi lainnya? Cukup dengan bermain, karena dengan bermainlah anak usia dini belajar sesuatu.
Pendidikan nilai yang kita tanamkan kepada anak akan terbukti jika anak kita berinteraksi dengan orang lain. Pengalaman kami baru-baru ini menjadi buktinya. Suatu hari saya meminta tolong dibelikan sesuatu kepada asisten rumah tangga kami ke warung dekat rumah. Anak saya meminta ikut menemani. Saya ijinkan. Setiba di rumah, dia menunjukkan sebungkus cokelat dengan sumringah. Sebenarnya nilai cokelat itu tidaklah seberapa, tetapi bukan di situ poin pentingnya. Yang utama adalah, dia hanya meminta ijin untuk menemani, tidak meminta ijin untuk dibelikan apa-apa. Saat itu saya sadari, ada pendidikan nilai (baru) yang harus saya tanamkan kepadanya.
Saya tidak mengijinkan anak saya memakan cokelat itu. Saya tegaskan kepadanya bahwa saat meminta ijin, dia hanya meminta ijin untuk menemani, maka dia harus menepatinya. Anak saya tampak kaget dengan reaksi saya. Tetapi dia tidak mengajukan reasoning apapun.
Dengan wajah sedih dia bertanya, "Lalu permennya?"
"Silakan kakak sedekahkan," jawab saya.
Akhirnya permen itu dia berikan kepada asisten rumah tangga kami (yang mempunyai anak usia 5 tahun). Saya lantas mengajak anak saya ke kamar, seperti biasa, mendiskusikan pengalaman baru kami. Saya sampaikan kepadanya, bukan permennya yang menjadi bagian dari pembelajaran kali ini, sebab seandainya tadi dia meminta ijin untuk dibelikan sesuatu, insya Allah saya pasti mengijinkan.
Sebenarnya saat itu bisa saja saya menoleransi, "Ah, cuma cokelat kecil saja, harganya tak seberapa." Tetapi bisa jadi ada konsekuensi besar dari toleransi saya, anak saya akan terbiasa meminta dibelikan ini-itu kepada siapa saja yang mengajaknya ke warung, swalayan, atau lokasi belanja mana saja.
Dan benar, beberapa hari setelah kejadian tersebut, adik ipar saya mengajak anak saya (dan anaknya) pergi ke sebuah swalayan. Sepulang dari sana, adik ipar saya bercerita bahwa ketika dia menawarkan ini-itu kepada anak saya, dia menjawab, "Enggak usah, nggak boleh beli-beli pakai uang orang lain." Rasanya saya ingin menangis sambil tertawa mendengar cerita adik ipar saya. Demikian apa adanya anak saya menangkap makna dari pesan saya tentang menepati ijin, sampai-sampai omnya sendiri dia anggap "orang lain." Tetapi saya bersyukur, ada sebuah nilai (lagi) yang tertanam di dirinya.
Sungguh, sang pendidik bukanlah kita (orangtua). Anak-anak kitalah yang senantiasa menghadirkan pembelajaran baru bagi kita, untuk terus berusaha menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Wallahua'alam.
Djogdja, 03022015
~eMJe~
Minggu, 25 Januari 2015
The Second Step of Our Home Education
Finally, tahun ini puteri kami akan bersua dengan usianya yang ke-7. Usia umum anak-anak di negeri kita memasuki gerbang baru jenjang pendidikan mereka, yaitu sekolah dasar. Setahun lebih yang lalu, ketika keluarga kami memutuskan untuk menjadi bagian dari pelaku homeschooling di negeri ini, kami tidak tahu akan sampai kapan akan melakukannya.
Waktu bergulir, setahun berlalu, enam tahun usia anak kami telah lebih setengah. Dia sudah percaya diri menjawab, "Aku homeschooling" jika ada yang bertanya dia sekolah di mana. Tetapi, sehari-hari dia melihat anak-anak tetangga berkemeja putih dan rok merah berangkat sekolah, mencangklong tas di bahu mereka. Sering saya bertanya, "Kakak pengen sekolah?" yang selalu dia jawab dengan, "Kakak suka homeschooling, tapi pengen ada temannya." Memang banyak teman-teman saya yang ingin menitipkan anak-anak mereka untuk belajar bersama kami. Tetapi selalu saya tegaskan, homeschooling menuntut keterlibatan langsung dari orangtua.
Akhir November 2014, sebelum suami saya berangkat ke Korea Selatan, kami bermusyawarah. Kami tawarkan kembali kepada ananda apakah dia ingin melanjutkan homeschooling atau masuk ke sekolah formal. Ketika itu dia menjawab, "Kalau homeschooling nggak ada temannya kakak mau sekolah aja." Akhirnya, kami sampai pada kesepakatan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah formal tahun ajaran baru nanti.
Awal Januari 2015, saya ajak ananda untuk survey ke beberapa sekolah dasar. Ada dua sekolah yang dia minati. Pilihan akhirnya jatuh pada salah satu sekolah islam terpadu yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di jeda waktu menunggu panggilan sekolah untuk observasi anak, saya mendapat undangan pertemuan dari Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN). Memang, sekalipun saya banyak masuk ke group-group homeschooling yang ada di facebook, tapi kami belum pernah sekalipun mengikuti aktivitas bersama karena seringkali tidak memungkinkan bagi kami mengikutinya (misal acara berupa camp).
Di pertemuan HSMN itu, alhamdulillah anak kami bertemu dengan seorang ananda shalihah yang seusia dia, Hazimah namanya. Saat itu juga mereka berteman. Tak menunda-nunda, saya dan ibunda Hazimah sepakat untuk bergerak bersama. Sejak itu, anak-anak kami bertemu tiga kali dalam sepekan, dua hari belajar apa saja (tahsin, bahasa, menggambar, mewarnai, menggunting, dll) dan satu hari belajar renang.
Dan. . . masya Allah dampaknya bagi ananda kami. Dia katakan kepada saya, "Mi, kakak mau homeschooling aja seterusnya." Pernyataan inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Tetapi masa depannya adalah miliknya, karena itu dia berhak menentukan di mana dan bagaimana dia ingin dididik. Kami sebagai orangtua hanya fasilitator saja.
Dan, inilah saya. Saya tetap menguji kesungguhannya. Saya tanya lagi, lagi, dan lagi tentang pilihannya, yang dengan tegas selalu dia jawab, "Kakak mau homeschooling aja." Saya katakan kepadanya, jika dia sudah memilih, maka dia harus bertanggungjawab pada pilihannya. Dia juga yang harus menyampaikan kepada eyang kakung dan eyang putrinya mengenai pilihan pendidikannya. Semuanya dia jawab dengan, "Iya."
Segera saya sampaikan keputusan ananda kepada suami, yang beliau sambut dengan hamdalah.
Bismillaah. . . semoga ALLAH mudahkan kami menjalaninya, the second step of our home education.
Djogdja, 25 Januari 2015
~eMJe~
Waktu bergulir, setahun berlalu, enam tahun usia anak kami telah lebih setengah. Dia sudah percaya diri menjawab, "Aku homeschooling" jika ada yang bertanya dia sekolah di mana. Tetapi, sehari-hari dia melihat anak-anak tetangga berkemeja putih dan rok merah berangkat sekolah, mencangklong tas di bahu mereka. Sering saya bertanya, "Kakak pengen sekolah?" yang selalu dia jawab dengan, "Kakak suka homeschooling, tapi pengen ada temannya." Memang banyak teman-teman saya yang ingin menitipkan anak-anak mereka untuk belajar bersama kami. Tetapi selalu saya tegaskan, homeschooling menuntut keterlibatan langsung dari orangtua.
Akhir November 2014, sebelum suami saya berangkat ke Korea Selatan, kami bermusyawarah. Kami tawarkan kembali kepada ananda apakah dia ingin melanjutkan homeschooling atau masuk ke sekolah formal. Ketika itu dia menjawab, "Kalau homeschooling nggak ada temannya kakak mau sekolah aja." Akhirnya, kami sampai pada kesepakatan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah formal tahun ajaran baru nanti.
Awal Januari 2015, saya ajak ananda untuk survey ke beberapa sekolah dasar. Ada dua sekolah yang dia minati. Pilihan akhirnya jatuh pada salah satu sekolah islam terpadu yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di jeda waktu menunggu panggilan sekolah untuk observasi anak, saya mendapat undangan pertemuan dari Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN). Memang, sekalipun saya banyak masuk ke group-group homeschooling yang ada di facebook, tapi kami belum pernah sekalipun mengikuti aktivitas bersama karena seringkali tidak memungkinkan bagi kami mengikutinya (misal acara berupa camp).
Di pertemuan HSMN itu, alhamdulillah anak kami bertemu dengan seorang ananda shalihah yang seusia dia, Hazimah namanya. Saat itu juga mereka berteman. Tak menunda-nunda, saya dan ibunda Hazimah sepakat untuk bergerak bersama. Sejak itu, anak-anak kami bertemu tiga kali dalam sepekan, dua hari belajar apa saja (tahsin, bahasa, menggambar, mewarnai, menggunting, dll) dan satu hari belajar renang.
Dan. . . masya Allah dampaknya bagi ananda kami. Dia katakan kepada saya, "Mi, kakak mau homeschooling aja seterusnya." Pernyataan inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Tetapi masa depannya adalah miliknya, karena itu dia berhak menentukan di mana dan bagaimana dia ingin dididik. Kami sebagai orangtua hanya fasilitator saja.
Dan, inilah saya. Saya tetap menguji kesungguhannya. Saya tanya lagi, lagi, dan lagi tentang pilihannya, yang dengan tegas selalu dia jawab, "Kakak mau homeschooling aja." Saya katakan kepadanya, jika dia sudah memilih, maka dia harus bertanggungjawab pada pilihannya. Dia juga yang harus menyampaikan kepada eyang kakung dan eyang putrinya mengenai pilihan pendidikannya. Semuanya dia jawab dengan, "Iya."
Segera saya sampaikan keputusan ananda kepada suami, yang beliau sambut dengan hamdalah.
Bismillaah. . . semoga ALLAH mudahkan kami menjalaninya, the second step of our home education.
Djogdja, 25 Januari 2015
~eMJe~
Minggu, 18 Mei 2014
Bermimpi Bersama Anak
Beberapa hari ini Saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku Einstein Never Used Flashcards. Sebuah buku yang membahas suatu metode untuk melejitkan kecerdasan anak, yaitu dengan mengembangkan kemampuan berbahasa. Saya pribadi termasuk yang meyakini bahwa kecerdasan verbal penting untuk dikembangkan pada anak sejak dini, karena dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, insyaALLAH kesempatannya untuk mengetahui berbagai hal baru akan terbuka sedemikian luas.
Ada hal lain yang sebenarnya sedang ingin saya gali dengan mendalam, yaitu tentang peran orang tua dalam melejitkan minat dan bakat anak InsyaALLAH saya akan berbicara tentang ini tanggal 24 Mei besok. Dalam perjalanan saya menggali tentang minat-bakat, cita-cita, future dreams, saya menemukan banyak kutipan-kutipan menggugah yang menarik dan inspiratif. Seperti ini contohnya:
Ah ya, ketika beberapa kali saya menyiapkan tema "Reach My Dreams" untuk anak SMP-SMA, saya begitu yakin akan apa saja yang ingin saya susun dan sampaikan. Tetapi ketika tema yang sama saya siapkan untuk para orang tua yang memiliki anak-anak usia dini, saya menjadi galau, gamang, khawatir. Saya takut salah menyusun kata dan membuat para orang tua salah menangkap maksud saya. Intinya, saya tidak ingin apa yang saya sampaikan nantinya membuat orang tua berlomba-lomba untuk membuat anak-anak mereka kehilangan masa bermain dengan mengikutkan anak-anak mereka ke berbagai after-school courses demi apa yang mereka sebut "melejitkan potensi".
Buat saya, apa yang sebenarnya penting ketika kita sebagai orang tua berbicara tentang kecerdasan, minat dan bakat anak?
1. Yakinilah Bahwa Setiap Anak Cerdas
Setiap anak yang lahir bukanlah ibarat kertas kosong, yang harus dilukis dan diukir oleh kedua orang tuanya. ALLAH Ta’ala menciptakan hamba-hamba-NYA dalam keadaan fitrah, yaitu dengan membekali potensi-potensi kebaikan pada dirinya. Bila anak tumbuh di lingkungan sehari-hari yang normal, beserta orang-orang yang mencintai dan mengajak mereka berkomunikasi, maka otak mereka akan tumbuh dengan semestinya.
2. Bermimpilah Bersamanya, Tetapi Jangan Bermimpi Untuk Dia
Sering kali ketika saya memberi pelatihan kepada mahasiswa di tahun-tahun awal atau pertengahan kuliah mereka saya bertanya, "Apakah jurusan kalian saat ini pilihan kalian sendiri?", "Apakah kalian sudah merasa bahwa kalian berada di jalan yang memang kalian pilih untuk masa depan kalian?" Sayangnya, masih sering saya temui bahwa mereka kuliah di jurusan yang merupakan minat orang tua mereka, bukan minat mereka sendiri. Mereka menyesal masuk ke jurusan itu, mereka merasa tidak cocok dengan mata kuliahnya, mereka merasa kesulitan mengikuti perkuliahan. Efeknya, mereka menjadi mahasiswa yang banyak mencari kesibukan dan kesenangan yang tidak berhubungan dengan kuliah mereka, mereka berpotensi menjadi mahasiswa yang terlambat lulus, bahkan sampai terancam DO.
Karena itu, saya kira penting saya sampaikan kepada orang tua yang mempunyai anak-anak masih berusia dini:
"Bila sebagai orang tua Anda mempunyai mimpi dan mimpi itu tidak/belum tercapai, janganlah wariskan mimpi itu kepada anak-anak Anda secara sepihak. Sebab anak-anak Anda berhak memiliki mimpi mereka sendiri. Jangan bermimpi untuk dia, tetapi bermimpilah bersamanya. Bersama-sama meraih mimpinya."
3. Amati Minat Anak dan Temukan Bakatnya
Saat ini sudah banyak fasilitas untuk mengetahui minat dan bakat anak dengan metode yang canggih dan mutakhir. Tetapi sebenarnya ada cara yang murah meriah untuk mengetahui bakat anak-anak kita. Prinsipnya, anak-anak kita pasti memiliki banyak hal yang ia minati, hal-hal yang ia sangat senang melakukannya. Nah, amatilah minat-minat tersebut. Fasilitas minat-minat itu. Di antara minat-minat anak kita, insyaALLAH pasti ada yang menjadi bakatnya.
Tetapi di sini poin penting dan kritisnya. Jangan sampai atas nama melejitkan bakat anak, orang tua sampai melanggar hak anak untuk memiliki waktu bermain dengan menyertakannya ke beragam kursus. Jangan buru-buru memasukkan anak Anda ke kursus tari, balet, melukis, musik, vokal, olah raga, dan lain-lain sebelum mengetahui apa yang sebenarnya diminati anak dan menjadi bakatnya. Di dalam buku yang pernah saya baca ada pernyataan, "Memperkaya lingkungan dengan memberikan terlalu banyak stimulus kepada anak belum tentu akan meningkatkan potensi anak. Bisa-bisa malah membuat anak menjadi jenuh."
4. Bermainlah Bersamanya
Satu lagi cara sederhana untuk melejitkan kecerdasan anak. Bermainlah bersamanya. Anak-anak kita akan belajar lebih banyak ketika kita bermain dengannya daripada ketika kita membelikan dia kotak cantik berisi peralatan dengan klaim “paling canggih” untuk membangun kecerdasan. Program komputer, siaran televisi, atau permainan edukatif di gadget mungkin saja interaktif, tetapi mereka tidak adaptif. Anak kita mungkin saja mempunyai pertanyaan yang amat kaya, tetapi komputer, gadget dan televisi tidak akan mampu menanggapi kekayaan pertanyaan mereka saat itu juga. Berbeda halnya ketika mereka berinteraksi dan bermain dengan kita. Objek yang sederhana pun bisa menjadi sumber belajar yang istimewa karena anak bisa berkomunikasi dua arah dengan kita.
5. Manfaatkan Apapun yang Ada di Sekitar
Saat kita berada di kendaraan, ada begitu banyak papan reklame, nama-nama jalan, nama-nama toko, dan gedung-gedung yang bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan anak. Bahkan tulisan di bungkus roti dan di kotak susu pun bisa kita manfaatkan untuk beraktivitas bersama anak.
6. Berdo'alah, Do'a Kebaikan Untuknya
Meraih masa depan itu ibarat sedang berkendaraan, menuju ke sebuah tempat. Orang berkendaraan jika ingin selamat sampai ke tujuan maka perlu tunaikan adab-adab perjalanan. Anak-anak TK pun diajarkan do'a naik kendaraan. Maka mendo'akan, do'a kebaikan untuk anak adalah keniscayaan bagi setiap orang tua yang mendambakan anak-anak mereka selamat dalam meraih mimpinya. Berdo'alah untuk mereka. . . selalu. . . setiap saat.
Wallahua'alam.
Djogdja, 18052014
~eMJe~
Ada hal lain yang sebenarnya sedang ingin saya gali dengan mendalam, yaitu tentang peran orang tua dalam melejitkan minat dan bakat anak InsyaALLAH saya akan berbicara tentang ini tanggal 24 Mei besok. Dalam perjalanan saya menggali tentang minat-bakat, cita-cita, future dreams, saya menemukan banyak kutipan-kutipan menggugah yang menarik dan inspiratif. Seperti ini contohnya:
Ah ya, ketika beberapa kali saya menyiapkan tema "Reach My Dreams" untuk anak SMP-SMA, saya begitu yakin akan apa saja yang ingin saya susun dan sampaikan. Tetapi ketika tema yang sama saya siapkan untuk para orang tua yang memiliki anak-anak usia dini, saya menjadi galau, gamang, khawatir. Saya takut salah menyusun kata dan membuat para orang tua salah menangkap maksud saya. Intinya, saya tidak ingin apa yang saya sampaikan nantinya membuat orang tua berlomba-lomba untuk membuat anak-anak mereka kehilangan masa bermain dengan mengikutkan anak-anak mereka ke berbagai after-school courses demi apa yang mereka sebut "melejitkan potensi".
Buat saya, apa yang sebenarnya penting ketika kita sebagai orang tua berbicara tentang kecerdasan, minat dan bakat anak?
1. Yakinilah Bahwa Setiap Anak Cerdas
Setiap anak yang lahir bukanlah ibarat kertas kosong, yang harus dilukis dan diukir oleh kedua orang tuanya. ALLAH Ta’ala menciptakan hamba-hamba-NYA dalam keadaan fitrah, yaitu dengan membekali potensi-potensi kebaikan pada dirinya. Bila anak tumbuh di lingkungan sehari-hari yang normal, beserta orang-orang yang mencintai dan mengajak mereka berkomunikasi, maka otak mereka akan tumbuh dengan semestinya.
2. Bermimpilah Bersamanya, Tetapi Jangan Bermimpi Untuk Dia
Sering kali ketika saya memberi pelatihan kepada mahasiswa di tahun-tahun awal atau pertengahan kuliah mereka saya bertanya, "Apakah jurusan kalian saat ini pilihan kalian sendiri?", "Apakah kalian sudah merasa bahwa kalian berada di jalan yang memang kalian pilih untuk masa depan kalian?" Sayangnya, masih sering saya temui bahwa mereka kuliah di jurusan yang merupakan minat orang tua mereka, bukan minat mereka sendiri. Mereka menyesal masuk ke jurusan itu, mereka merasa tidak cocok dengan mata kuliahnya, mereka merasa kesulitan mengikuti perkuliahan. Efeknya, mereka menjadi mahasiswa yang banyak mencari kesibukan dan kesenangan yang tidak berhubungan dengan kuliah mereka, mereka berpotensi menjadi mahasiswa yang terlambat lulus, bahkan sampai terancam DO.
Karena itu, saya kira penting saya sampaikan kepada orang tua yang mempunyai anak-anak masih berusia dini:
"Bila sebagai orang tua Anda mempunyai mimpi dan mimpi itu tidak/belum tercapai, janganlah wariskan mimpi itu kepada anak-anak Anda secara sepihak. Sebab anak-anak Anda berhak memiliki mimpi mereka sendiri. Jangan bermimpi untuk dia, tetapi bermimpilah bersamanya. Bersama-sama meraih mimpinya."
3. Amati Minat Anak dan Temukan Bakatnya
Saat ini sudah banyak fasilitas untuk mengetahui minat dan bakat anak dengan metode yang canggih dan mutakhir. Tetapi sebenarnya ada cara yang murah meriah untuk mengetahui bakat anak-anak kita. Prinsipnya, anak-anak kita pasti memiliki banyak hal yang ia minati, hal-hal yang ia sangat senang melakukannya. Nah, amatilah minat-minat tersebut. Fasilitas minat-minat itu. Di antara minat-minat anak kita, insyaALLAH pasti ada yang menjadi bakatnya.
Tetapi di sini poin penting dan kritisnya. Jangan sampai atas nama melejitkan bakat anak, orang tua sampai melanggar hak anak untuk memiliki waktu bermain dengan menyertakannya ke beragam kursus. Jangan buru-buru memasukkan anak Anda ke kursus tari, balet, melukis, musik, vokal, olah raga, dan lain-lain sebelum mengetahui apa yang sebenarnya diminati anak dan menjadi bakatnya. Di dalam buku yang pernah saya baca ada pernyataan, "Memperkaya lingkungan dengan memberikan terlalu banyak stimulus kepada anak belum tentu akan meningkatkan potensi anak. Bisa-bisa malah membuat anak menjadi jenuh."
4. Bermainlah Bersamanya
Satu lagi cara sederhana untuk melejitkan kecerdasan anak. Bermainlah bersamanya. Anak-anak kita akan belajar lebih banyak ketika kita bermain dengannya daripada ketika kita membelikan dia kotak cantik berisi peralatan dengan klaim “paling canggih” untuk membangun kecerdasan. Program komputer, siaran televisi, atau permainan edukatif di gadget mungkin saja interaktif, tetapi mereka tidak adaptif. Anak kita mungkin saja mempunyai pertanyaan yang amat kaya, tetapi komputer, gadget dan televisi tidak akan mampu menanggapi kekayaan pertanyaan mereka saat itu juga. Berbeda halnya ketika mereka berinteraksi dan bermain dengan kita. Objek yang sederhana pun bisa menjadi sumber belajar yang istimewa karena anak bisa berkomunikasi dua arah dengan kita.
5. Manfaatkan Apapun yang Ada di Sekitar
Saat kita berada di kendaraan, ada begitu banyak papan reklame, nama-nama jalan, nama-nama toko, dan gedung-gedung yang bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan anak. Bahkan tulisan di bungkus roti dan di kotak susu pun bisa kita manfaatkan untuk beraktivitas bersama anak.
6. Berdo'alah, Do'a Kebaikan Untuknya
Meraih masa depan itu ibarat sedang berkendaraan, menuju ke sebuah tempat. Orang berkendaraan jika ingin selamat sampai ke tujuan maka perlu tunaikan adab-adab perjalanan. Anak-anak TK pun diajarkan do'a naik kendaraan. Maka mendo'akan, do'a kebaikan untuk anak adalah keniscayaan bagi setiap orang tua yang mendambakan anak-anak mereka selamat dalam meraih mimpinya. Berdo'alah untuk mereka. . . selalu. . . setiap saat.
Wallahua'alam.
Djogdja, 18052014
~eMJe~
Kamis, 15 Mei 2014
Cara Bertanam Cabai di Pekarangan
Kenapa posting tentang cara bertanam cabai? Karena tanaman cabai yang ditanam Zahro gagal panen saudara-saudara T.T. Satu hari Umi melihat ada putih-putih di daun cabai yang mulai besar itu. Kemudian daun-daunnya mulai berguguran. Sedih banget rasanya. Pengetahuan tentang bercocok-tanam Umi memang minim sekali. Nggak ada yang namanya sedia-sedia pupuk apalagi pembasmi hama. Modalnya cuma beli tanah kompos aja. Well, setelah posting tulisan ini insyaALLAH kami akan memulai lagi bercocok tanam dengan cara yang benar dan lebih sungguh-sungguh. :-D
Nah, bagaimanakah cara bertanam cabai yang benar?
Nah, bagaimanakah cara bertanam cabai yang benar?
Cara menanam cabe dalam pot atau polybag cukup mudah
dilakukan. Menanam cabe bisa dilakukan baik di dataran tinggi maupun dataran
rendah. Secara umum menanam cabe bisa dilakukan pada ketinggian 0-2000 meter
diatas permukaan laut. Suhu optimal bagi tanaman cabe ada pada kisaran 24-27oC,
namun masih bisa tahan terhadap suhu yang lebih dari itu. Sifat tersebut
tergantung dari jenis varietas cabe.
Salah satu jenis cabe yang cocok untuk ditanam di pekarangan
adalah cabe kerting. Jenis ini relatif lebih tahan terhadap iklim tropis dan
rasanya pedas banyak disukai di pasaran. Berikut ini kami paparkan tentang cara
menanam cabe keriting dalam polybag.
Penyemaian benih
Cara menanam cabe dalam polybag sebaiknya tidak langsung dilakukan dari benih atau biji. Pertama-tama benih cabe harus disemaikan terlebih dahulu. Proses penyemaian ini gunanya untuk menyeleksi pertumbuhan benih, memisahkan benih yang tumbuhnya kerdil, cacat atau berpenyakit. Selain itu juga untuk menunggu kesiapan bibit sampai cukup tahan ditanam di tempat yang lebih besar.
Tempat persemaian bisa berupa polybag ukuran kecil (8×9 cm), daun pisang, baki (tray) persemaian, atau petakan tanah. Cara yang paling ekonomis adalah dengan menyiapkan petakan tanah untuk media persemaian. Buat petakan tanah dengan ukuran secukupnya, campurkan kompos dengan tanah lalu aduk hingga rata. Butiran tanah dibuat sehalus mungkin agar perakaran bisa menembusnya dengan mudah. Buat ketebalan petakan tersebut 5-10 cm, diatasnya buat larikan dengan jarak 10 cm.
Masukkan benih cabe dalam larikan dengan jarak 7,5 cm kemudian siram untuk membasahi tanah dan tutup dengan abu atau tanah. Setelah itu tutup dengan karung goni basah selama 3-4 hari, pertahankan agar karung goni tetap basah. Pada hari ke-4 akan muncul bibit dari permukaan tanah, kemudian buka karung goni. Sebaiknya petakan ditudungi dengan plastik transparan untuk melindungi bibit cabe yang masih kecil dari panas berlebih dan siraman air hujan langsung. Tanaman cabe siap dipindahkan ke polybag besar setelah berumur 3-4 minggu, atau tanaman telah mempunyai 3-4 helai daun.
Penyiapan media tanam
Pilih polybag yang berukuran diatas 30 cm, agar media tanam
cukup kuat menopang pertumbuhan tanaman cabe yang rimbun. Selain polybag, bisa
juga digunakan pot dari jenis plastik, semen, tanah, atau keramik. Atau bisa
juga menggunakan wadah-wadah bekas yang tidak terpakai lagi, beri lubang pada
dasar wadah untuk saluran drainase.
Cara menanam cabe dalam polybag bisa menggunakan media tanam
dari campuran tanah, kompos, pupuk kandang, sekam padi, arang sekam, dan
lain-lainnya. Beberapa contoh komposisi media tanam diantaranya adalah:
(1)
Campuran tanah dengan kompos dengan komposisi 2:1,
(2) Campuran tanah, pupuk
kandang, dan arang sekam dengan komposisi 1:1:1, atau
(3) Campuran tanah dan
pupuk kandang dengan komposisi 2:1.
Apabila menggunakan pupuk kandang,
sebaiknya pilih pupuk yang telah matang. Buat media tanam sehalus mungkin dengan cara mengayaknya.
Campurkan sekitar 3 sendok NPK dalam setiap polybag. Aduk hingga campuran
tersebut benar-benar rata. Lapisi bagian dalam polybag dengan sabut kelapa,
pecahan genteng, atau pecahan styrofoam. Gunanya agar air tidak
menggenangi daerah perakaran tanaman.
Pemindahan bibit
Setelah bibit tanaman dan media tanam siap, pindahkan bibit
tanaman cabe dari tempat persemaian kedalam polybag. Lakukan pekerjaan ini saat
pagi hari atau sore hari, dimana matahari tidak terlalu terik untuk menghindari
stres pada tanaman. Lakukan pemindahan bibit dengan hati-hati, jangan sampai
terjadi kerusakan pada perakaran tanaman. Buat lubang tanam pada polybag
sedalam 5-7 cm. Apabila persemaian dilakukan di atas polybag atau daun pisang,
copot polybag dan daun pisang lalu masukan seluruh tanah dalam tempat
persemaian kedalam lubang tanam. Apabila persemaian dilakukan di atas petak
tanah atau tray, pindahkan dengan tanah yang menempel pada perakaran dan
masukkan kedalam lubang tanam.
Pemeliharaan dan perawatan
- Pemupukan, berikan pemupukan tambahan dengan dosis satu sendok makan NPK per polybag setiap bulannya. Atau apabila ingin menanam cabe secara organik, sebagai gantinya semprotkan pupuk organik cair pada masa pertumbuhan daun dan pertumbuhan buah. Tambahkan satu kepal kompos atau pupuk kandang kambing pada saat tanaman mau berbuah.
- Penyiraman, tanaman cabe sebaiknya disiram sekurang-kurangnya 3 hari sekali. Apabila matahari bersinar terik, siram tanaman setiap hari.
- Pengajiran, setelah tanaman cabe tumbuh sekitar 20 cm, berikan ajir bambu. Ajir ini berguna untuk menopang tanaman agar berdiri tegak.
- Perompesan, tunas-tunas muda yang tumbuh di ketiak daun sebaiknya dihilangkan (dirompes). Perompesan dimulai pada hari ke-20 setelah tanam, perompesan biasanya dilakukan tiga kali hingga terbentuknya cabang. Gunanya agar tanaman tidak tumbuh kesamping ketika batang belum terlalu kuat menopang.
- Hama dan penyakit, penggunaan pestisida sebaiknya hanya dilakukan apabila tanaman terlihat terserang hama atau sakit. Apabila terlihat ada hama putih semprot dengan pestida, bila terlihat ada bakal ulat semprot dengan insektisida secukupnya, kalau terlihat jamur gunakan fungisida.
Pemanenan
Umur cabe dari mulai tanam hingga panen bervariasi
tergantung jenis varietas dan lingkungan. Masa panen terbaik adalah saat buah
belum sepenuhnya berwarna merah, masih ada garis hijaunya. Buah seperti ini
sudah masuk bobot yang optimal dan buah cabe masih bisa tahan 2-3 hari sebelum
terjual oleh pedagang di pasar. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi
hari setelah embun kering. Hindari waktu panen pada malam dan siang hari.
Tulisan ini jelas bukan tulisan Umi, ya. Tulisan ini Umi rangkum dari website alamtani. Silakan berkunjung ke www.alamtani.com untuk menemukan artikel pertanian yang menarik lainnya. Semoga bermanfaat.
Djogdja, 15052014
~eMJe~
Kamis, 08 Mei 2014
Serba-serbi Homeschooling: Catatan Webinar Homeschooling Usia Sekolah Sesi #1
Saya masih ingat peristiwa selepas sholat Subuh enam bulan yang lalu. Ketika saya menanyakan hal yang amat penting kepada puteri saya Zahro (5 tahun). Hari itu saya meminta pendapatnya tentang sebuah keputusan besar.
"Kak, gimana kalau kakak sekolah di rumah aja?" Seperti itulah kalimat saya waktu itu.
Lantas Zahro bertanya, "Gurunya siapa?""Gurunya Umi," jawab saya.
"Mau," jawabnya.
Ya, hari itu kami memulai sebuah proses pendidikan baru. Bersekolah di rumah.
Sebenarnya jauh sebelum itu, saya sudah membaca beberapa buku tentang homeschooling. Saya juga sudah bertemu dan mendengar kisah keluarga-keluarga yang menjadi praktisi homeschooling. Bahkan, saya pun sudah beromitmen bahwa suatu hari nanti kami akan menjadi praktisi homeschooling juga. Tetapi saya selalu beralasan, "Anak saya masih satu. Kalau homeschooling sendirian kan sepi?" Saya berharap bahwa Zahro tidak akan HS sendiri, melainkan dengan adiknya. Tetapi adik yang ditunggu tak kunjung datang sampai Zahro berusia 5 tahun. Do'akan ya biar Zahro ALLAH kasih adik. Aamiin :-)
Lalu apakah saya harus terus menunggu? Apakah hanya dengan Zahro sendiri maka homeschooling kami akan benar-benar hambar? Saya belum mencobanya, kan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya menguatkan saya untuk memulai keputusan besar kami.
Kami benar-benar learning by doing dalam menjalani homeschooling kami. Awalnya kami melakukan hal-hal yang acak saja. Menanam sayuran, membuat craft, jalan-jalan melihat tanaman di pinggir-pinggir jalan dekat rumah, mewarnai, tracing, mengerjakan worksheets math, belajar membaca, bercerita. Banyak juga, ya? Hahaha. . .
Suatu hari saya jalan-jalan ke website rumahinspirasi. Betapa bahagianya saya ketika di situ saya menemukan informasi tentang webinar homeschooling usia sekolah. Sebenarnya rada menyesal sih karena ternyata sebelumnya sudah diadakan webinar HS usia dini. Tapi tak apalah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, hehehe. . . Akhirnya saya pun mendaftar menjadi peserta webinar tersebut.
Dan kemarin malam (07 Mei 2014) webinar sesi #1 telah saya ikuti dengan sangat memuaskan. Begitu banyak pencerahan-pencerahan yang saya peroleh dari penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala kemarin malam. Rasa-rasanya, tak pantas ilmu yang saya peroleh kemarin saya simpan sendiri, ya. Karena itu, saya ingin berbagi ilmu yang luar biasa bermanfaat itu di sini.
1. Apa itu homeschooling?
Kemarin Mas Aar menyampaikan sebuah filosofi indah yang membedakan homeschooling dengan sekolah pada umumnya. Di dalam filosofi sekolah dikenal istilah "tabula rasa", seorang anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Sekolah atau gurulah yang memamahkan ilmu kepada anak. Tetapi dalam filosofi homeschooling, seorang anak dipandang sebagai individu. Dia memiliki potensi, pendapat, dan sudut pandang. Dia bukanlah makhluk yang pasif. Kata Mas Aar lagi, ternyata makna kata education adalah "mengeluarkan". Karena itu, fungsi utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi yang memang sudah ada dalam diri anak, bukan untuk memamahkan ilmu kepada anak.
Kemarin malam Mas Aar mengawali sesi dengan menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian homeschooling. Jadi, homeschooling merupakan sebuah model pendidikan alternatif. Secara prinsipil, homeschooling adalah konsep pendidikan pilihan yang diselenggarakan di rumah, oleh orang tua. Ada banyak alasan sehingga sebuah keluarga memilih untuk menjadi praktisi HS. Alasan-alasan itu tentunya merupakan cerminan karakteristik dan kebutuhan keluarga tersebut. Ada keluarga yang saya ketahui memilih HS karena mempunyai anak dengan special needs yang kurang terfasilitasi di sekolah umum. Beberapa teman saya memilih HS karena ingin anak-anak mereka lebih fokus menghafal Al-Qur'an. Kalau Mbak Lala dan Mas Aar konsep HSnya mengutamakan kepada pengembangan skills. Nah, kami sendiri sebenarnya memilih HS karena ada beberapa idealisme kami tentang sebuah pendidikan yang kami pandang belum mampu dicover oleh sekolah pada umumnya.
Oya, karena sejatinya homeschooling diselenggarakan di rumah dengan orang tua sebagai pendidiknya, maka orang tua yang keduanya bekerja dan memiliki anak yang masih kecil tidak disarankan untuk menyelenggarakan homeschooling.
2. Filosofi sekolah VS Homeschooling
2. Filosofi sekolah VS Homeschooling
Kemarin Mas Aar menyampaikan sebuah filosofi indah yang membedakan homeschooling dengan sekolah pada umumnya. Di dalam filosofi sekolah dikenal istilah "tabula rasa", seorang anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Sekolah atau gurulah yang memamahkan ilmu kepada anak. Tetapi dalam filosofi homeschooling, seorang anak dipandang sebagai individu. Dia memiliki potensi, pendapat, dan sudut pandang. Dia bukanlah makhluk yang pasif. Kata Mas Aar lagi, ternyata makna kata education adalah "mengeluarkan". Karena itu, fungsi utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi yang memang sudah ada dalam diri anak, bukan untuk memamahkan ilmu kepada anak.
Ah ya, penjelasan Mas Aar sungguh menguatkan kefahaman saya selama ini. ALLAH Ta'ala menciptakan anak-anak kita bukan sebagai kertas kosong. Tetapi ALLAH Ta'ala menciptakan anak kita, menitipkannya kepada kita, juga dengan menyertakan potensi-potensi kebaikan pada diri anak-anak kita. Tinggal bagaiman kita sebagai orang tua mendampingi, menemani, dan memfasilitasi agar potensi-potensi kebaikan itu tumbuh dan berkembang seiring pertumbuhan dan perkembangan mereka. MasyaALLAH. . . Laa quwwata illaa billaah.
3. Model Pembelajaran Sekolah VS Homeschooling
3. Model Pembelajaran Sekolah VS Homeschooling
- Di Homeschooling, fungsi utama orang tua adalah sebagai fasilitator
Saya jadi ingat tulisan saya tentang cara sederhana untuk menumbuhkan kecerdasan anak-anak kita. Apa caranya? Diskusi. Dengan diskusi, kita akan menemukan pemikiran-pemikiran yang masih murni namun menakjubkan dari anak-anak kita. Satu contoh ketika saya berdiskusi dengan Zahro saat kami mencuci piring bersama. Zahro bertanya seperti ini:
Zahro: Mi, emangnya ini piring umurnya berapa?
Saya: Kenapa, Kak?
Z: Kok masih dimandikan?
Saat itu Saya bingung menjawabnya, karena kalau saya menjawab jujur jelas piring tersebut sudah lebih tua usianya daripada dia, karena dibeli sejak Saya dan suami baru menikah. Tetapi jika yang lebih tua daripada dia masih "dimandikan" dia pasti akan protes. Maka saya cuma berguman, “hmm. . . hmm. . .” Lantas dia menjawab sendiri,
Z: Ini masih kecil ini, Mi. Lihat kan badannya lebih kecil daripada Kakak.
S: Iya ya, Kak.
Lalu dia bertanya lagi,
Z: Trus dia sampai kapan dimandikan?
Kali ini saya menjawab pertanyaannya,
S: Dia sampai akhir hayatnya akan dimandikan terus, Kak.
Z: Sampai dipanggil ALLAH (meninggal) seperti Kakek?
S: Iya.
A: Sampai pecah! Serunya.
Saya: Kenapa, Kak?
Z: Kok masih dimandikan?
Saat itu Saya bingung menjawabnya, karena kalau saya menjawab jujur jelas piring tersebut sudah lebih tua usianya daripada dia, karena dibeli sejak Saya dan suami baru menikah. Tetapi jika yang lebih tua daripada dia masih "dimandikan" dia pasti akan protes. Maka saya cuma berguman, “hmm. . . hmm. . .” Lantas dia menjawab sendiri,
Z: Ini masih kecil ini, Mi. Lihat kan badannya lebih kecil daripada Kakak.
S: Iya ya, Kak.
Lalu dia bertanya lagi,
Z: Trus dia sampai kapan dimandikan?
Kali ini saya menjawab pertanyaannya,
S: Dia sampai akhir hayatnya akan dimandikan terus, Kak.
Z: Sampai dipanggil ALLAH (meninggal) seperti Kakek?
S: Iya.
A: Sampai pecah! Serunya.
Ya, akhirnya Zahro membuat kesimpulannya sendiri. Bisa dilihat kan bagaimana dialog sederhana bisa menstimulasi proses berpikir anak-anak kita? Diskusi-diskusi sederhana seperti itu tentu saja memang ada syaratnya, yaitu kita sebagai orang tua harus menyediakan waktu untuk mendengarkan anak dan menghargai pendapat-pendapatnya. Dan alhamdulillaah kesempatan itu banyak kami miliki karena menjalani homeschooling ini.
- Di Homeschooling, model pembelajarannya modular bukan tingkat/paket
Keistimewaan homeschooling lainnya yang semakin saya insyafi setelah mendengar penjelasan Mas Aar kemarin adalah tentang model pembelajarannya. Di sekolah, kita mengenal tingkat kelas atau paket pelajaran. Ketika anak tinggal kelas, maka dia harus mengulang semua pelajaran yang menjadi paket di tingkat tersebut, termasuk yang sebenarnya sudah dikuasai anak. Sedangkan di HS model pembelajarannya seperti di perguruan tinggi. Materi yang bisa dikuasai anak lebih cepat boleh dipelajari lebih cepat juga. Jadi bisa saja anak usia 10 tahun (setara kelas 4 SD) pelajaran matematikanya kelas 4, pelajaran sains-nya kelas 5, pelajaran bahasanya kelas 6. Nah, adapun pelajaran yang kurang atau cukup lama dikuasai anak tidak akan menghambat kemajuan pelajaran yang dikuasai anak. Asyik, ya? :-)
Saya jadi teringat lagi nih. Pernah satu hari saya berkunjung ke rumah teman yang punya anak kelas 2 SD. Waktu itu saya minta ditunjukin buku-buku pelajaran sekolahnya. Si anak mengambilkan buku pelajaran sains. Dan ternyata lumayan banyak dari materi di buku tersebut yang sudah dikuasai Zahro, khususnya materi tentang tumbuhan dan hewan. Berarti Zahro udah bisa belajar sains kelas 2 SD, dong? hehehe.
4. Materi Pelajaran & Waktu Belajar
Saya cukup sering ditanyain juga nih soal yang satu ini. Pake buku apa? Materi pelajarannya ambil dari mana? Dari mana aja bisa, hehehe. Kita boleh merujuk materi pelajaran diknas, dari buku-buku yang dijual di toko, boleh juga mengunduh dari sumber-sumber di internet. Sejauh ini saya pun begitu. Beberapa tema saya merujuk pada materi-materi dari diknas. Untuk math saya suka bikin material sendiri, ada juga yang saya unduh dari internet. Untuk sains saya suka lihat-lihat ke charlotte mason dan kids national geographic. Untuk craft kami sering ikut-ikut bikin karya yang dibuat Mister Maker. Karena sekarang saya ikut program menghafal Qur'an ODOL (One Day One Line) dengan metode KQM (Kauny Quantum Memory) via Whatsapp, Zahro juga suka ikut-ikutan menghafal sambil memperagakan. Jadi, sebenarnya sekolah di rumah pun sudah sangat kaya dengan beragam sumber belajar, yang penting sebagai orang tua sekaligus fasilitator kita harus terus belajar juga.
Beberapa aktivitas homeschooling Zahro
Tentang porsi pelajaran, Mas Aar menyampaikan itu bergantung kebutuhan keluarga. Apa yang menjadi fokus HS maka tema-tema berkaitan fokus tersebut tentu boleh banyak porsinya. Berkaitan dengan waktu belajar juga demikian. Kita menitikberatkan pada apa? Pada komitmen belajar atau kepada hasil belajar? Jika kita menitikberatkan pada komitmen belajar, maka kita boleh menetapkan waktu belajar yang tetap. Misalnya dari jam sekian sampai jam sekian. Akan tetapi jika yang menjadi fokus adalah hasil belajar, maka tak masalah belajarnya mau jam berapa dan berapa lama, yang penting target pelajaran tercapai. Poin penting yang harus dimiliki oleh setiap keluarga yang memilih homeschooling adalah mengenali apa yang sebenarnya ingin dibangun/dicapai keluarga. Apa yang menurut orang tua terbaik untuk keluarga dan anak.
5. Opportunities Homeschooling
Ada banyak sekali peluang yang dimiliki oleh keluarga yang memilih untuk menjadi praktisi HS. Antara lain:
- Fleksibilitas pendidikan
- Fleksibilitas dana
- Kustomisasi
- Eksplorasi dunia nyata
- Kedekatan Keluarga
6. Risiko Homeschooling
Bagaimanapun juga, HS tentu memiliki tantangan-tantangan atau risiko. Misalnya infrastruktur yang minim atau kurang memadai. Yang lainnya adalah tekanan baik dari keluarga maupun pemerintah. Kami pun mengalaminya juga, kok. Saat kami memutuskan homeschooling, yang paling menentang adalah nenek-nenek Zahro, Ibu saya dan Ibu mertua. Ibu saya sangat mengkhawatirkan perkembangan sosial Zahro, sementara Ibu mertua mengkhawatirkan perkembangan kognitif Zahro. Tetapi alhamdulillaah seiring waktu berjalan kami bisa membuktikan bahwa dengan homeschooling tidak membuat kekhawatiran-kekhawatiran mereka terwujud, malah sebaliknya.
Saya punya cara sendiri untuk tetap melibatkan Zahro pada banyak situasi sosial. Saya selalu membawanya ke tempat-tempat saya berkegiatan. Saat saya mengisi parenting class ke sekolah-sekolah, saat saya mengajar sebagai dosen tamu di sebuah sekolah tinggi, saat saya berkumpul dengan teman-teman komunitas IIDN Jogja, saat saya pergi mengaji, maka Zahro pasti ikut serta. Akhir-akhir ini, sore hari saya juga memberinya kesempatan untuk bermain sepeda bersama dengan teman-teman sebayanya yang tinggal di dekat rumah. Sering sekali teman-temannya kemudian dia ajak ke rumah kami untuk melakukan aktivitas yang dia kerjakan saat HS, misalnya mewarnai, membaca buku, dll.
Adapun untuk tantangan pemerintah, jujur saja sejauh ini kami belum memikirkannya. Misalnya, bagaimana ujiannya nanti? Hehehe. . . nantilah itu. InsyaALLAH kami yakin ALLAH pasti akan beri kemudahan jika kami bersungguh-sungguh dalam proses ini. Toh tahun ini Zahro baru akan berusia 6 tahun. InsyaALLAH jalan yang akan dia lalui masih sangat panjang. Kami ingin menikmati dulu prosesnya.
7. Legalitas Homeschooling
Nah, bagaimana posisi homeschooling dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Nah, bagaimana posisi homeschooling dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia ada 3 model pendidikan, yaitu:
– Formal: sekolah
– Non formal: kursus-kursus
– Informal: Homeschooling
– Non formal: kursus-kursus
– Informal: Homeschooling
artinya posisi HS jelas ada dalam model pendidikan di tanah air, ya.
Bagaimana dengan kelulusan? Bagaimana dengan ijazah?
Ada beberapa cara yang dijelaskan Mas Aar untuk memperoleh ijazah bagi anak HS, antara lain:
– Ikut ujian persamaan (paket A setara SD, paket B setara SMP, paket C setara SMA).
Nah Ujian paket ini legalitasnya sama dengan Ujian Nasional. Dan ijazah paket C yang diterima legalitasnya sama dengan ijazah SMA. Jadi bisa digunakan kalau anak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
– Ikut Umbrella school.
– Ikut Umbrella school.
Model yang ini adalah anak terdaftar di sebuah sekolah formal, tetapi proses belajar di rumah. Anak hanya ikut ujian dan kegiatan-kegiatan tertentu saja. Biasanya kita tetap membayar uang sekolah untuk model ini. Sekolah yang mau jadi umbrella school juga cari sendiri, ya. Hehehe. . .
– Ujian Cambridge.
– Ujian Cambridge.
Yang satu ini adalah ujian internasional. It's absolutely a new information buat saya. Kata Mas Aar ujian Cambridge ini per mata pelajaran. Dalam Cambridge ini ada istilah check point yang tujuannya hanya untuk melihat capaian pelajaran anak. Sedangkan yang untuk menentukan kelulusan ada yang namanya IGCSE dan A Level. Info selengkapnya bisa dilihat di sini.
Nah, bagaimana? Complete banget kan penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala? :-) Itu baru satu sesi, lho. Masih ada 3 sesi lainnya. Saya merasa beruntung banget bisa ikut webinar ini. Wawasan bertambah, keyakinan untuk menjalani homeschooling pun semakin kuat. Semoga resume sederhana yang saya buat ini bisa menginspirasi keluarga-keluarga lain yang berniat homeschooling tapi belum tahu seluk-beluk homeschooling, ya.
Hmm. . . saya udah nggak sabar menantikan webinar sesi #2.
Tunggu resume saya selanjutnya, ya. . . :-)
Djogdja, 08052014
~eMJe~
Rabu, 07 Mei 2014
Workshop CHC's Cognitive Theory with Kevin McGrew
Aduh, mau istiqomah nulis di blog itu memang memerlukan niat yang kuat dan kesungguhan luar biasa ya. Faktanya, target nulis sehari satu tulisan aja belum tercapai, hahaha. Tapi nggak papa, yang penting tetap berusaha posting saat bisa dan ingat. :D
Well, kali ini Umi mau cerita pengalaman istimewa Senin (05052014) kemarin. Jadi ceritanya, Umi termasuk orang yang beruntung karena bisa ikut kelas CHC's Cognitive Theory with Kevin McGrew yang merupakan kerjasama Yayasan Dharma Bermakna dan Fakultas Psikologi UGM. Workshop ini merupakan salah satu proses dalam penyusunan alat tes inteligensi yang akan disusun oleh Psi UGM dan YDB, yang mana Umi mendaftarkan diri sebagai salah seorang penulis aitemnya. Workshop yang sangat menarik ini berlangsung di ruang A203 Fakultas Psikologi UGM, diikuti oleh dosen-dosen di bidang pendidikan dan perkembangan UGM, tim AJT, pihak YDB dan perwakilan dari beberapa universitas dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Apa sih CHC itu? Jenis ayam goreng baru, ya? Hohoho. . . Bukan. CHC itu adalah salah satu teori tentang inteligensi (kecerdasan) dan si Pak Kevin McGrew ini adalah Director of the Institute for Applied Psychometrics, tokoh yang masih aktif meneliti teori tersebut dan mengembangkan alat ukur yang berdasar pada teori itu.
Menariknya apa? Jujur, buat Umi teori ini baru banget. Jadi, excitednya luar biasa mengikuti kelasnya. Walaupun kudu buka mata dan telinga lebar-lebar seharian penuh. Biar ngga ada kalimat dia yang kelewatan dan tak terjemahkan. Maklum, si Pak Kevin ini belum pernah ke Indonesia, jadi ngomongnya dia cepat banget kayak pesawat jet :-p.
Buat Umi sendiri, yang paling menyenangkan tentu saja karena Umi jadi tahu warna-warni inteligensi dari sudut pandang CHC dan bagaimana proses membuat sebuah aitem tes. Untuk mengukur suatu aspek kecerdasan maka kita bisa membuatnya dengan cara seperti ini dengan model soal seperti ini. Sungguh-sungguh menarik. Untuk memudahkan kami memahami, Pak Kevin langsung menyajikan contoh-contoh aitem tes kepada kami. Kelasnya jadi serasa ikut kuis, hahaha. . .
Dalam teori CHC, domain kompetensi individu (baca: inteligensi) dibagi menjadi beberapa, yaitu conceptual domain, practical domain, social-emotional domain, dan physical domain. Tetapi kemarin kami hanya belajar conceptual domain. Nah, domain konseptual itu sendiri masih terbagi menjadi banyak aspek kecerdasan, antara lain: Fluid reasoning (Gf), Short-term working Memory (Gwm), Long-ter retrieval (Glr), Processing speed (Gs), Visual Processing (Gv), Comprehension-Knowledge (Gc), Auditory Processing (Ga), dan Psychomotor abilities (Gp). Banyak banget dan kayaknya nggak usah Umi jelaskan satu per satu, ya :D
Salah satu bentuk pertanyaan yang juga bisa Ayah-Bunda gunakan bersama anak-anak di rumah adalah model seperti ini:
1. kaki : sepatu = kepala : ? (jika kaki pakai sepatu, maka kepala pakai?)
2. ayah : Ibu = kakek : ? (jika ayah pasangannya ibu, maka kakek pasangannya?)
3. burung : terbang = ikan : ? (jika burung terbang, maka ikan?)
Waktu Umi cobakan kepada Zahro sungguh mengasyikkan dan dia sangat suka.
Meskipun kami hanya belajar tentang domain konseptual, tetapi Kevin menyampaikan suatu hal yang sangat penting juga. Menurutnya, jika dia harus memilih diantara dua domain inteligensi untuk dimiliki seorang anak, maka dia katakan dia akan memilih domain konseptual dan sosial-emosional. Mengapa? Dia mencontohkan dirinya sendiri. Rupanya saat kecil Kevin pernah mengalami kesukaran membaca. Kesukaran membaca tentu sangat mengganggu proses belajar, ya. Tetapi dia adalah orang yang tidak mudah putus asa, gigih, tangguh dan passionate. Karena itu dia bisa mengatasi kesulitan membaca yang dialaminya sehingga berhasil menjadi seorang ilmuwan seperti sekarang. Artinya, meskipun seorang anak secara kognitif tidak luar biasa, tetapi jika secara sosial-emosional dia tangguh, maka insyaALLAH dia akan bisa mengatasi keterbatasannya. Nah, tampaknya pernyataan dia itu salah satu yang sangat berkesan sepanjang workshop kemarin.
Workshop yang sangat menarik itu berakhir rada molor memang, seharusnya jam 16 jadi jam 16.30, karena peserta sangat antusias untuk bertanya. Walhasil, meskipun panitia meminta ada foto bersama, tapi Umi langsung kabur aja ke parkiran, udah ninggalin anak 9 jam-an euy. Lagian gue juga nggak akan dicariin kok, hehehe. Thank you so much ilmunya ya Kevin McGrew.
Semoga menjadi inspirasi juga untuk yang lainnya.
Djogdja, 07052014
~eMJe~
Well, kali ini Umi mau cerita pengalaman istimewa Senin (05052014) kemarin. Jadi ceritanya, Umi termasuk orang yang beruntung karena bisa ikut kelas CHC's Cognitive Theory with Kevin McGrew yang merupakan kerjasama Yayasan Dharma Bermakna dan Fakultas Psikologi UGM. Workshop ini merupakan salah satu proses dalam penyusunan alat tes inteligensi yang akan disusun oleh Psi UGM dan YDB, yang mana Umi mendaftarkan diri sebagai salah seorang penulis aitemnya. Workshop yang sangat menarik ini berlangsung di ruang A203 Fakultas Psikologi UGM, diikuti oleh dosen-dosen di bidang pendidikan dan perkembangan UGM, tim AJT, pihak YDB dan perwakilan dari beberapa universitas dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Apa sih CHC itu? Jenis ayam goreng baru, ya? Hohoho. . . Bukan. CHC itu adalah salah satu teori tentang inteligensi (kecerdasan) dan si Pak Kevin McGrew ini adalah Director of the Institute for Applied Psychometrics, tokoh yang masih aktif meneliti teori tersebut dan mengembangkan alat ukur yang berdasar pada teori itu.
Menariknya apa? Jujur, buat Umi teori ini baru banget. Jadi, excitednya luar biasa mengikuti kelasnya. Walaupun kudu buka mata dan telinga lebar-lebar seharian penuh. Biar ngga ada kalimat dia yang kelewatan dan tak terjemahkan. Maklum, si Pak Kevin ini belum pernah ke Indonesia, jadi ngomongnya dia cepat banget kayak pesawat jet :-p.
Buat Umi sendiri, yang paling menyenangkan tentu saja karena Umi jadi tahu warna-warni inteligensi dari sudut pandang CHC dan bagaimana proses membuat sebuah aitem tes. Untuk mengukur suatu aspek kecerdasan maka kita bisa membuatnya dengan cara seperti ini dengan model soal seperti ini. Sungguh-sungguh menarik. Untuk memudahkan kami memahami, Pak Kevin langsung menyajikan contoh-contoh aitem tes kepada kami. Kelasnya jadi serasa ikut kuis, hahaha. . .
Dalam teori CHC, domain kompetensi individu (baca: inteligensi) dibagi menjadi beberapa, yaitu conceptual domain, practical domain, social-emotional domain, dan physical domain. Tetapi kemarin kami hanya belajar conceptual domain. Nah, domain konseptual itu sendiri masih terbagi menjadi banyak aspek kecerdasan, antara lain: Fluid reasoning (Gf), Short-term working Memory (Gwm), Long-ter retrieval (Glr), Processing speed (Gs), Visual Processing (Gv), Comprehension-Knowledge (Gc), Auditory Processing (Ga), dan Psychomotor abilities (Gp). Banyak banget dan kayaknya nggak usah Umi jelaskan satu per satu, ya :D
![]() |
| Taksonomi Teori CHC |
Salah satu bentuk pertanyaan yang juga bisa Ayah-Bunda gunakan bersama anak-anak di rumah adalah model seperti ini:
1. kaki : sepatu = kepala : ? (jika kaki pakai sepatu, maka kepala pakai?)
2. ayah : Ibu = kakek : ? (jika ayah pasangannya ibu, maka kakek pasangannya?)
3. burung : terbang = ikan : ? (jika burung terbang, maka ikan?)
Waktu Umi cobakan kepada Zahro sungguh mengasyikkan dan dia sangat suka.
Meskipun kami hanya belajar tentang domain konseptual, tetapi Kevin menyampaikan suatu hal yang sangat penting juga. Menurutnya, jika dia harus memilih diantara dua domain inteligensi untuk dimiliki seorang anak, maka dia katakan dia akan memilih domain konseptual dan sosial-emosional. Mengapa? Dia mencontohkan dirinya sendiri. Rupanya saat kecil Kevin pernah mengalami kesukaran membaca. Kesukaran membaca tentu sangat mengganggu proses belajar, ya. Tetapi dia adalah orang yang tidak mudah putus asa, gigih, tangguh dan passionate. Karena itu dia bisa mengatasi kesulitan membaca yang dialaminya sehingga berhasil menjadi seorang ilmuwan seperti sekarang. Artinya, meskipun seorang anak secara kognitif tidak luar biasa, tetapi jika secara sosial-emosional dia tangguh, maka insyaALLAH dia akan bisa mengatasi keterbatasannya. Nah, tampaknya pernyataan dia itu salah satu yang sangat berkesan sepanjang workshop kemarin.
Workshop yang sangat menarik itu berakhir rada molor memang, seharusnya jam 16 jadi jam 16.30, karena peserta sangat antusias untuk bertanya. Walhasil, meskipun panitia meminta ada foto bersama, tapi Umi langsung kabur aja ke parkiran, udah ninggalin anak 9 jam-an euy. Lagian gue juga nggak akan dicariin kok, hehehe. Thank you so much ilmunya ya Kevin McGrew.
Semoga menjadi inspirasi juga untuk yang lainnya.
Djogdja, 07052014
~eMJe~
Jumat, 02 Mei 2014
Pohon Bunga Dari Kertas Minyak
Hari Rabu lalu, kami melihat salah satu episode Mister Maker di youtube. Nah, di episode itu si Mister membuat craft berbentuk siput dari kertas minyak yang diuwel-uwel. Jadilah kami berencana untuk membuat yang sama. Tampaknya amat mudah mendapatkan bahannya. Proses mengerjakannya juga sederhana.
Sore harinya kami membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di stationary dekat rumah. Kertas minyak beberapa warna, mata-mataan, spidol besar dan lem kertas. Di rumah masih ada asturo yang belum digunakan, jadi tak perlu beli lagi.
Nah, tadi saat kami akan mengerjakan, Umi baru sadar kalau Umi lupa mengingat kemarin itu yang kami lihat Mister Maker season dan episode berapa, ya? Hahaha... Masalahnya, Umi tidak ingat gambar pola siputnya seperti apa. Wah, kalau mengklik sembarang episode tentu akan menghabiskan banyak waktu. Rasanya tidak efisien. Tapi akan diapakan kertas minyak yang sudah dibeli? Kalau nggak jadi bikin apa-apa si kakak pasti kecewa berat. Bisa diambekin Uminya :D.
Alhamdulillaah Umi sempat juga sembarang klik episode, dan yang muncul adalah Mister Maker sedang membuat pohon dari biji-bijian. Ibarat ada lampu mendadak nyala di samping kepala Umi, Aha! Kenapa nggak bikin pohon-pohonan aja dari kertas minyak? Dengan konsep yang sama, dimodifikasi dengan bahan yang ada.
Akhirnya kami pun membuat pohon-pohonan dari kertas minyak. Mengambil ranting kering sebagai kayu dan dahan dari pohon di depan rumah, memotong kertas minyak jadi ukuran kecil lalu diuwel-uwel, menempelnya dengan lem di atas asturo, jadilah pohon kertas minyak kami.
And, this is the processes:
Sore harinya kami membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di stationary dekat rumah. Kertas minyak beberapa warna, mata-mataan, spidol besar dan lem kertas. Di rumah masih ada asturo yang belum digunakan, jadi tak perlu beli lagi.
Nah, tadi saat kami akan mengerjakan, Umi baru sadar kalau Umi lupa mengingat kemarin itu yang kami lihat Mister Maker season dan episode berapa, ya? Hahaha... Masalahnya, Umi tidak ingat gambar pola siputnya seperti apa. Wah, kalau mengklik sembarang episode tentu akan menghabiskan banyak waktu. Rasanya tidak efisien. Tapi akan diapakan kertas minyak yang sudah dibeli? Kalau nggak jadi bikin apa-apa si kakak pasti kecewa berat. Bisa diambekin Uminya :D.
Alhamdulillaah Umi sempat juga sembarang klik episode, dan yang muncul adalah Mister Maker sedang membuat pohon dari biji-bijian. Ibarat ada lampu mendadak nyala di samping kepala Umi, Aha! Kenapa nggak bikin pohon-pohonan aja dari kertas minyak? Dengan konsep yang sama, dimodifikasi dengan bahan yang ada.
Akhirnya kami pun membuat pohon-pohonan dari kertas minyak. Mengambil ranting kering sebagai kayu dan dahan dari pohon di depan rumah, memotong kertas minyak jadi ukuran kecil lalu diuwel-uwel, menempelnya dengan lem di atas asturo, jadilah pohon kertas minyak kami.
And, this is the processes:
![]() |
| Menggunting Asturo |
![]() |
| Menguwel-uwel kertas minyak :-) |
![]() |
| Menempel ranting dan kertas minyak |
![]() |
| Merapihkan asturo |
![]() |
| Pohon dari kertas minyak sudah jadi :-D |
Alhamdulillaah Kak Zahro really enjoy the activity :-)
-=Zahro's HS Journal, 02052014=-
Kamis, 24 April 2014
Parenting: Membangun Kelekatan Ayah-Anak
Anak-anak kita membutuhkan kedekatan dan kelekatan tidak hanya kepada Ibunya saja, tetapi juga kepada Ayahnya. Seorang Ayah, bukan hanya penjemput rizqi keluarga. Sebagaimana seorang pemimpin yang akan ditanya mengenai kepemimpinannya, maka Ayah akan ditanya tentang keluarganya di akhirat nanti. Bagaimana Ayah akan menjawab pertanyaan ALLAH nanti jika dia tidak terlibat dalam pengasuhan anaknya?
Anak laki-laki yang dekat dengan Ayahnya pasti bisa seru-seruan bareng, ya. Sedang anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh rasa aman (secure) di dalam dirinya. Banyak saya temui remaja perempuan yang berpacaran dan saya tanya apa alasan mereka berpacaran, hampir semua beralasan agar mendapat kasih sayang dari sosok laki-laki. Kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari Ayah mereka.
Jika ada yang bertanya kepada saya, "Anak Ibu dekat nggak sama Ayahnya?"
Hari ini, saya dengan bahagia mengatakan bahwa antara anak saya dengan Abinya sudah terjalin bonding atau kelekatan yang kuat. Bila 3-5 tahun yang lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada saya, maka saya pasti ragu menjawabnya. Mengapa? Karena memang kelekatan antara anak saya dan Abinya tidak terbentuk sejak awal kelahirannya.
Barangkali ada yang terkejut jika mengetahui kenyataan bahwa saat anak saya bayi, Abinya hanya hitungan jari menggendongnya. Ya, hitungan jari. Bahkan mungkin tak sampai semua jari tangan. Ketika itu alasannya karena takut pakaiannya terkena najis. Alasan yang berlebihan buat saya. Mungkin bagi yang lain juga iya, kan? Masa sih hanya karena takut najis sampai tega tidak menggendong anak sendiri? Tapi itulah kenyataannya. Dampaknya tentu saja sudah terbayangkan, saat toddler Zahro tidak dekat bahkan cenderung takut kepada Abinya.
Saking risaunya, saya ingat sekali suatu kali saya sampai mengatakan kepada suami saya, "Umi tidak bertanggungjawab jika anak Abi tidak dekat dan tidak sayang kepada Abinya."
Ada satu alasan yang amat sering diulang-ulang suami saya, "Aku tidak tahu bagaimana seharusnya dan sebaiknya bersikap kepada anak, karena waktu kecil aku tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari Papa."
Pernyataan suami saya membuat saya mafhum. Ah ya, suami saya tidak punya contoh bagaimana seorang ayah terlibat dalam pengasuhan anak. Memang, Papa mertua saya selalu bertugas di luar kota. Sampai saya menikah dengan suami pun masih seperti itu.
Saya yakin, selain suami saya ada banyak sosok Ayah yang pada masa kecilnya mempunyai ruang kosong dari peran dan kasih ayah mereka. Tapi beberapa orang yang saya kenal ada yang mengambil pelajaran dari kekosongan itu dengan tidak melakukan hal yang sama kepada anak mereka. Mereka menjadi ayah yang sangat peduli, sangat dekat dan terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.
Tentu saja sayapun ingin suami saya juga menjadi bagian dari Ayah yang seperti itu. Saya tidak mau alasan suami saya menjadi pembenaran bahwa dia berhak untuk tidak dekat dengan anaknya. Karena dia tidak merasakan kasih sayang Papa saat dia kecil, maka anaknya boleh tidak merasakan kasih sayang. Hello, anaknya punya hak untuk mendapat kasih sayangnya.
So, what should I do? Saya tidak boleh dong hanya menyalahkan doang lalu tinggal diam. Mau sampai kapan kalau cuma menunggu?
Maka saya pun memulai ikhtiyar saya, sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu. Sebuah misi membangunkan kelekatan antara Zahro dan Abinya. Apa yang saya lakukan? Bermula dari hal-hal sederhana saja. Ketika Zahro meminta saya membantunya melakukan sesuatu, misalnya membuka bungkusan makanan, maka saya minta dia agar meminta bantuan kepada Abinya. Ketika Abinya pamit membeli sesuatu ke swalayan dekat rumah, maka saya katakan kepada Zahro, "Sana minta ikut sama Abi." Akhirnya setiap Abinya akan pergi ke tempat yang tidak jauh dan tidak lama Zahro selalu minta ikut. Minta ditemani naik sepeda, minta diantarkan berenang ke homestay dekat rumah, makan sepiring berdua, berangkat dari hal-hal kecil dan sederhana itulah mereka menjalin kelekatan. Dan. . . hari ini saya bisa melihat cinta dan kasih sayang telah tumbuh di antara mereka berdua. Sampai sekarang, saya selalu memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk punya father-daughter moment.
Jadi, ketika seorang Ibu melihat ada fatherless di dalam keluarga, barangkali kita bisa mengulurkan tangan untuk membantu melekatkan anak-anak kita dengan Ayah mereka dengan memberi mereka kesempatan untuk mempunyai momen ayah-anak. InsyaALLAH kebersamaaan yang berulang, momen-momen sederhana namun berharga itu akan menumbuhkan cinta di antara mereka. Wallahua'am.
Momen-momen indah ayah-anak yang sempat terekam:
24042014
~eMJe~
Anak laki-laki yang dekat dengan Ayahnya pasti bisa seru-seruan bareng, ya. Sedang anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh rasa aman (secure) di dalam dirinya. Banyak saya temui remaja perempuan yang berpacaran dan saya tanya apa alasan mereka berpacaran, hampir semua beralasan agar mendapat kasih sayang dari sosok laki-laki. Kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari Ayah mereka.
Jika ada yang bertanya kepada saya, "Anak Ibu dekat nggak sama Ayahnya?"
Hari ini, saya dengan bahagia mengatakan bahwa antara anak saya dengan Abinya sudah terjalin bonding atau kelekatan yang kuat. Bila 3-5 tahun yang lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada saya, maka saya pasti ragu menjawabnya. Mengapa? Karena memang kelekatan antara anak saya dan Abinya tidak terbentuk sejak awal kelahirannya.
Barangkali ada yang terkejut jika mengetahui kenyataan bahwa saat anak saya bayi, Abinya hanya hitungan jari menggendongnya. Ya, hitungan jari. Bahkan mungkin tak sampai semua jari tangan. Ketika itu alasannya karena takut pakaiannya terkena najis. Alasan yang berlebihan buat saya. Mungkin bagi yang lain juga iya, kan? Masa sih hanya karena takut najis sampai tega tidak menggendong anak sendiri? Tapi itulah kenyataannya. Dampaknya tentu saja sudah terbayangkan, saat toddler Zahro tidak dekat bahkan cenderung takut kepada Abinya.
Saking risaunya, saya ingat sekali suatu kali saya sampai mengatakan kepada suami saya, "Umi tidak bertanggungjawab jika anak Abi tidak dekat dan tidak sayang kepada Abinya."
Ada satu alasan yang amat sering diulang-ulang suami saya, "Aku tidak tahu bagaimana seharusnya dan sebaiknya bersikap kepada anak, karena waktu kecil aku tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari Papa."
Pernyataan suami saya membuat saya mafhum. Ah ya, suami saya tidak punya contoh bagaimana seorang ayah terlibat dalam pengasuhan anak. Memang, Papa mertua saya selalu bertugas di luar kota. Sampai saya menikah dengan suami pun masih seperti itu.
Saya yakin, selain suami saya ada banyak sosok Ayah yang pada masa kecilnya mempunyai ruang kosong dari peran dan kasih ayah mereka. Tapi beberapa orang yang saya kenal ada yang mengambil pelajaran dari kekosongan itu dengan tidak melakukan hal yang sama kepada anak mereka. Mereka menjadi ayah yang sangat peduli, sangat dekat dan terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.
Tentu saja sayapun ingin suami saya juga menjadi bagian dari Ayah yang seperti itu. Saya tidak mau alasan suami saya menjadi pembenaran bahwa dia berhak untuk tidak dekat dengan anaknya. Karena dia tidak merasakan kasih sayang Papa saat dia kecil, maka anaknya boleh tidak merasakan kasih sayang. Hello, anaknya punya hak untuk mendapat kasih sayangnya.
So, what should I do? Saya tidak boleh dong hanya menyalahkan doang lalu tinggal diam. Mau sampai kapan kalau cuma menunggu?
Maka saya pun memulai ikhtiyar saya, sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu. Sebuah misi membangunkan kelekatan antara Zahro dan Abinya. Apa yang saya lakukan? Bermula dari hal-hal sederhana saja. Ketika Zahro meminta saya membantunya melakukan sesuatu, misalnya membuka bungkusan makanan, maka saya minta dia agar meminta bantuan kepada Abinya. Ketika Abinya pamit membeli sesuatu ke swalayan dekat rumah, maka saya katakan kepada Zahro, "Sana minta ikut sama Abi." Akhirnya setiap Abinya akan pergi ke tempat yang tidak jauh dan tidak lama Zahro selalu minta ikut. Minta ditemani naik sepeda, minta diantarkan berenang ke homestay dekat rumah, makan sepiring berdua, berangkat dari hal-hal kecil dan sederhana itulah mereka menjalin kelekatan. Dan. . . hari ini saya bisa melihat cinta dan kasih sayang telah tumbuh di antara mereka berdua. Sampai sekarang, saya selalu memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk punya father-daughter moment.
Jadi, ketika seorang Ibu melihat ada fatherless di dalam keluarga, barangkali kita bisa mengulurkan tangan untuk membantu melekatkan anak-anak kita dengan Ayah mereka dengan memberi mereka kesempatan untuk mempunyai momen ayah-anak. InsyaALLAH kebersamaaan yang berulang, momen-momen sederhana namun berharga itu akan menumbuhkan cinta di antara mereka. Wallahua'am.
Momen-momen indah ayah-anak yang sempat terekam:
![]() |
| Makan yoghurt berdua ^^ |
![]() |
| Makan nasi sepiring berdua ^^ |
![]() |
| Pompa ban sepeda berdua ^^ |
24042014
~eMJe~
Rabu, 23 April 2014
It's about Beauty & Hijab
Since three weeks ago, every Thursday ba'da Asar saya dan suami diminta mengisi kelas mentoring teman-teman mahasiswa LP3I Yogyakarta. Suami saya mengisi kelas putera, saya mengisi kelas puteri. Di akhir sesi pekan lalu saya bertanya kepada adik-adik yang saya dampingi,
"Ada request untuk pekan depan?"
Nah, mereka meminta sesi tentang hijab.
Well, sambil nyiapin presentasi sekalian aja saya share ke sini, hehehe.
Waduh, jadi ingat tulisan saya My Hijab Story masih part 1, part 2-nya entah kapan, kekeke.
Bicara perempuan itu biasanya identik dengan kata cantik, beautiful, beauty. . . gitu deh, ya. Cantik itu klasiknya lekat dengan wujud kulit putih, rambut panjang, tubuh langsing (versi iklan, kekeke. . .). Tapi saya yakin semua perempuan tidak sesempit itu mendefinisikan istilah cantik. For me, sederhananya kecantikan seorang muslimah adalah seperti di bawah ini:
Di buku anak saya (Serba-serbi Al-Qur'an by Kak Eka Wardhana, Ruman Pensil Publisher), ada kisah tentang akhlaq Luqmanul Hakim. Kita bisa belajar tentang kecantikan dari kisah tersebut. Begini isinya:
"Ada request untuk pekan depan?"
Nah, mereka meminta sesi tentang hijab.
Well, sambil nyiapin presentasi sekalian aja saya share ke sini, hehehe.
Waduh, jadi ingat tulisan saya My Hijab Story masih part 1, part 2-nya entah kapan, kekeke.
Bicara perempuan itu biasanya identik dengan kata cantik, beautiful, beauty. . . gitu deh, ya. Cantik itu klasiknya lekat dengan wujud kulit putih, rambut panjang, tubuh langsing (versi iklan, kekeke. . .). Tapi saya yakin semua perempuan tidak sesempit itu mendefinisikan istilah cantik. For me, sederhananya kecantikan seorang muslimah adalah seperti di bawah ini:
Cantik versi saya ^^
Di buku anak saya (Serba-serbi Al-Qur'an by Kak Eka Wardhana, Ruman Pensil Publisher), ada kisah tentang akhlaq Luqmanul Hakim. Kita bisa belajar tentang kecantikan dari kisah tersebut. Begini isinya:
Saking pandai dan bijaksananya, Luqman dijuluki "Luqmanul Hakim", yang artinya "Luqman yang Bijaksana". Kepada anak-anaknya dia memberi nasihat:
"Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan ALLAH, sesungguhnya menyekutukan (ALLAH) benar-benar kezaliman yang besar." (QS Luqman: 12-13).
Sesungguhnya Luqman bukanlah seorang Nabi ataupun Raja. Ia hanya seorang penggembala. Suatu hari Sang Majikan meminta Luqman menyembelih seekor kambing dan mengambil daging yang paling enak dari kambing tersebut. Maka Luqman menyuguhkan lidah dan hati.
Beberapa hari kemudian Sang Majikan meminta Luqman menyembelih seekor kambing lagi. Tetapi kali ini dia meminta diambilkan daging yang paling tidak enak. Kali ini Luqman kembali menyajikan lidah dan hati. Hal ini tentu saja membuat majikannya keheranan. Ia menyampaikan rasa herannya kepada Luqman. Luqman menjawab,
"Kedua bagian itu adalah yang paling enak jika benar-benar baik. Dan menjadi yang paling tidak enak jika benar-benar buruk."
Maknanya, baik-buruknya diri kita sebagai manusia dapat dilihat dari baik dan buruknya hati dan lidah kita.
Nah, bagaimana soal hijab? Wajib nggak sih muslimah itu berhijab? Kita jawab dengan firman ALLAH Ta'ala aja ya. Rupa-rupanya ALLAH sudah kasih tahu kita soal pakaian di dalam Al-Qur'an, lho.
Bagaimana dengan kewajiban jilbab?
Lalu, syarat-syarat busana muslimah itu seperti apa sih? Para ulama mempersyaratkan busana muslimah berdasarkan penelitian dalil Al-Qur’an & As-Sunnah sebagai berikut:
Harus menutupi seluruh tubuh, hanya saja ada perbedaan pendapat dlm hal menutup wajah & kedua telapak tangan. Dalilnya adalah QS. An-Nuur : 31 serta QS. Al-Ahzab : 59 di atas. Sebagian ulama memfatwakan bahwa diperbolehkan membuka wajah & kedua telapak tangan, hanya saja menutupnya adalah sunnah & bukan sesuatu yang wajib.
Pakaian itu pada hakikatnya bukan dirancang sebagai perhiasan. Dalilnya adalah ayat yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang bisa tampak.” (QS. An-Nuur : 31) Penulis Fiqhu Sunnah li Nisaa’ berpendapat bahwa mengenakan jilbab yang berwarna hitam lebih utama karena itu merupakan kebiasaan para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pakaian itu harus tebal, tak boleh tipis supaya tak menggambarkan apa yang ada di baliknya. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan dua golongan penghuni neraka yang salah satunya adalah para perempuan yang berpakaian tapi telanjang (sebagiamana tercantum dalam Shahih Muslim) Maksud dari hadits itu adalah para perempuan yang mengenakan pakaian yang tipis sehingga justru menggambarkan lekuk tubuh & tak menutupinya.
Harus longgar, tak boleh sempit atau ketat karena akan menampakkan bentuk atau sebagian dari bagian tubuhnya.
Tidak perlu diberi wangi-wangian. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW:
“Perempuan manapun yang memakai wangi-wangian kemudian berjalan melewati sekelompok orang agar mereka mencium keharumannya maka dia adalah perempuan pezina.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud & Tirmidzi dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari).
Tidak boleh menyerupai pakaian kaum lelaki. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian perempuan & perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud & Ahmad dgn sanad sahih)
Bukan pakaian yang menunjukkan ada maksud untuk mencari popularitas, yaitu segala jenis pakaian yang dipakai utk mencari ketenaran di hadapan orang-orang, baik pakaian itu sangat mahal harganya –untuk memamerkan kakayaannya- atau sangat murah harganya –untuk menampakkan kezuhudan dirinya.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakai busana popularitas di dunia maka Allah akan mengenakan busana kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar api di dalamnya.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah dgn sanad hasan lighairihi).
(Rujukan: Fiqhu Sunnah li Nisaa’)
Nah, gambar satu ini saya rasa penting untuk saya sertakan karena masih banyak sekali saya lihat muslimah yang memakai jilbab dengan gaya berikut.
Nah, kira-kira itu dulu share tentang hijab kita, ya. Satu lagi pesan saya kutipkan dari buku The Ideal Muslimah:
Mudah-mudahan tulisan sederhana di atas ada manfaatnya, ya.
Kebenaran hanya milik ALLAH Ta'ala.
Semoga ALLAH mampukan kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan menebarkan kebaikan.
Wallahua'lam,
23042014
~eMJe~
"Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan ALLAH, sesungguhnya menyekutukan (ALLAH) benar-benar kezaliman yang besar." (QS Luqman: 12-13).
Sesungguhnya Luqman bukanlah seorang Nabi ataupun Raja. Ia hanya seorang penggembala. Suatu hari Sang Majikan meminta Luqman menyembelih seekor kambing dan mengambil daging yang paling enak dari kambing tersebut. Maka Luqman menyuguhkan lidah dan hati.
Beberapa hari kemudian Sang Majikan meminta Luqman menyembelih seekor kambing lagi. Tetapi kali ini dia meminta diambilkan daging yang paling tidak enak. Kali ini Luqman kembali menyajikan lidah dan hati. Hal ini tentu saja membuat majikannya keheranan. Ia menyampaikan rasa herannya kepada Luqman. Luqman menjawab,
"Kedua bagian itu adalah yang paling enak jika benar-benar baik. Dan menjadi yang paling tidak enak jika benar-benar buruk."
Maknanya, baik-buruknya diri kita sebagai manusia dapat dilihat dari baik dan buruknya hati dan lidah kita.
Nah, bagaimana soal hijab? Wajib nggak sih muslimah itu berhijab? Kita jawab dengan firman ALLAH Ta'ala aja ya. Rupa-rupanya ALLAH sudah kasih tahu kita soal pakaian di dalam Al-Qur'an, lho.
QS Al-A'raf ayat 26
Bagaimana dengan kewajiban jilbab?
QS Al-Ahzab: 59
Lalu, syarat-syarat busana muslimah itu seperti apa sih? Para ulama mempersyaratkan busana muslimah berdasarkan penelitian dalil Al-Qur’an & As-Sunnah sebagai berikut:
Harus menutupi seluruh tubuh, hanya saja ada perbedaan pendapat dlm hal menutup wajah & kedua telapak tangan. Dalilnya adalah QS. An-Nuur : 31 serta QS. Al-Ahzab : 59 di atas. Sebagian ulama memfatwakan bahwa diperbolehkan membuka wajah & kedua telapak tangan, hanya saja menutupnya adalah sunnah & bukan sesuatu yang wajib.
Pakaian itu pada hakikatnya bukan dirancang sebagai perhiasan. Dalilnya adalah ayat yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang bisa tampak.” (QS. An-Nuur : 31) Penulis Fiqhu Sunnah li Nisaa’ berpendapat bahwa mengenakan jilbab yang berwarna hitam lebih utama karena itu merupakan kebiasaan para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pakaian itu harus tebal, tak boleh tipis supaya tak menggambarkan apa yang ada di baliknya. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan dua golongan penghuni neraka yang salah satunya adalah para perempuan yang berpakaian tapi telanjang (sebagiamana tercantum dalam Shahih Muslim) Maksud dari hadits itu adalah para perempuan yang mengenakan pakaian yang tipis sehingga justru menggambarkan lekuk tubuh & tak menutupinya.
Harus longgar, tak boleh sempit atau ketat karena akan menampakkan bentuk atau sebagian dari bagian tubuhnya.
Tidak perlu diberi wangi-wangian. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW:
“Perempuan manapun yang memakai wangi-wangian kemudian berjalan melewati sekelompok orang agar mereka mencium keharumannya maka dia adalah perempuan pezina.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud & Tirmidzi dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari).
Tidak boleh menyerupai pakaian kaum lelaki. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian perempuan & perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud & Ahmad dgn sanad sahih)
Bukan pakaian yang menunjukkan ada maksud untuk mencari popularitas, yaitu segala jenis pakaian yang dipakai utk mencari ketenaran di hadapan orang-orang, baik pakaian itu sangat mahal harganya –untuk memamerkan kakayaannya- atau sangat murah harganya –untuk menampakkan kezuhudan dirinya.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakai busana popularitas di dunia maka Allah akan mengenakan busana kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar api di dalamnya.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah dgn sanad hasan lighairihi).
(Rujukan: Fiqhu Sunnah li Nisaa’)
Nah, gambar satu ini saya rasa penting untuk saya sertakan karena masih banyak sekali saya lihat muslimah yang memakai jilbab dengan gaya berikut.
Jilbab punuk unta
Nah, kira-kira itu dulu share tentang hijab kita, ya. Satu lagi pesan saya kutipkan dari buku The Ideal Muslimah:
Mudah-mudahan tulisan sederhana di atas ada manfaatnya, ya.
Kebenaran hanya milik ALLAH Ta'ala.
Semoga ALLAH mampukan kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan menebarkan kebaikan.
Wallahua'lam,
23042014
~eMJe~
Label:
Inspirasi,
Kisah Hikmah,
pendidikan,
Tentang iman
Langganan:
Postingan (Atom)

























