Rasa-rasanya, sudah cukup lama Zahro tidak memberi pertanyaan rumit buat saya. Tapi dua hari ini pertanyaan-pertanyaan arti katanya dimulai lagi. Dia bertanya apa itu hakim, kabupaten, vaksin. Kata-kata baru yang dia ketahui asbab bisa membaca. Saya katakan padanya, "Nah, kakak sudah bisa punya kamus sekarang. Nanti kalau mau cari arti kata bisa dilihat di kamus." Hahaha...
Kemarin dia bertanya mengapa kereta api jalannya begitu cepat, sedangkan sepeda motor kami tidak bisa cepat. Saya jawab karena kereta api sendirian saja memakai jalannya, sedangkan di jalan yang kami lalui ada begitu banyak kendaraan yang menggunakan jalan yang sama. Lalu dia bertanya lagi, "Kalau kereta apinya ketemu sama kereta lain gimana?" Waah... dengan kecepatan seperti itu tidak boleh ketemu kereta lain di jalan yang sama. Nanti tabrakan, deh.
Ah ya, kemarin dia ngomel-ngomel saat di jalan macet dan ada kendaraan yang membunyikan klakson di belakang. "Sabar dong, Pak. Itu di depan ada mobil. Kakak aja sabar ini. Bikin Kakak kaget aja." Hahaha.
Saat berhenti di sebuah lampu merah, yang berhenti di sebelah kami adalah sebuah ojek motor. "Itu motor untuk apa, Mi?" Tanyanya. Saya celingak-celinguk mencari kendaraan aneh yang mungkin menarik perhatiannya. Tidak ada. Tiba-tiba Bapak ojek bertanya, "Umur berapa? Udah sekolah?" Dan saya baru paham setelah Pak Ojek dan penumpangnya pergi bahwa motor si Bapaklah yang ditanya Zahro, hehe. Motor kuning dengan Bapak berjaket dan berhelm kuning bertuliskan Ojek Motor. "Oooo... itu namanya ojek motor, Kak."
Z: Ojek motor itu apa?
U: Jadi misalnya kakak mau pergi ke suatu tempat, Kakak telefon Bapak itu, trus minta tolong dianterin. Nanti kalau udah nyampe, bayar deh. Misalnya Kakak mau ke mana?
Z: Ke Jakarta.
U: Hahaha... Kejauhan. Kapan nyampenya? Yang di sini-sini aja.
Z:Ya udah, ke Surabaya.
Hahaha, lucunya dirimu, Kak.
Saat Maghrib, dia sholatnya lama. Selepas sholat dia bertanya.
Z: Sholat Kakak bagus nggak, Mi?
U: Bagus. Kok bagus kenapa?
Z: Karena di hati Kakak ada sholat.
U: Ooo... Lha kalau pas sholatnya cakar ayam di hati Kakak ada apa?
Z: Ada api.
U: Ih, kok seram?
Z: Iya. Makanya sholatnya cakar ayam.
Kalau sholatnya bagus, di hati ini ada syurga.
Hahaha... analogi yang unik tentang sholat khusyuk by Zahro.
Nah ketika makan malam, dia bertanya dan menjawab sendiri?
Z: Mi, Lima tambah Enam berapa? Sebelas. Enam tambah lima berapa? Sebelas.
Pertanyaan bentuk itu adalah pertanyaan gaya neneknya Zahro. Neneknya senang bertanya berapa jumlah 3+7, 4+6, 5+5, 2+8, dst. Sepertinya sangat berkesan buatnya. Dan dia jadi suka bertanya dan menjawab sendiri penjumlahan seperti itu.
Tiba-tiba saja dia nanya,
Z: Mi, siapa sih yang ngasih nama satu, dua, tiga, empat, sampai setrilyun?
U: Maksudnya, Kak?
Z: Kenapa satu dinamai satu, dua dinamai dua, sampai setrilyun? Yang ngasih nama siapa?
#Haduh, Umi tersudut nggak bisa jawab. Hahaha...
~Zahro's Journal 25042014~
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Zahro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Zahro. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 April 2014
Selasa, 22 April 2014
Iseng ala Kak Zahro
Ada dua kejadian lucu yang beyond my imagination, bahwa Zahro ternyata bisa iseng dan usil juga. She's almost 6 years old. Nggak terasa udah gede anakku. Subhanallaah.
Kejadian pertama di suatu siang, saat kami tengah bersantai di hamparan kasur lipat, mau bobok siang maksudnya :-p. Cahaya matahari cukup terang menembus jendela kamar siang itu. Angin sepoi-sepoi yang berseliweran dari daun jendela yang saya buka lumayan menyejukkan udara kamar yang panas. Enjoyable deh pokoknya.
Saya nggak tahu apakah anak-anak lain seusianya masih seperti Zahro. Dia masih punya ritual berimajinasi, ngoceh ngalur ngidur sendiri sebelum tidur, seperti siang itu. Tiba-tiba dia bertanya kepada saya,
Zahro (Z): Mi, Kakak ada teka-teki. Apa yang kakinya empat berjalan pakai tongkat?
Hahaha, asli nih teka-teki belum pernah saya dengar sebelumnya.
Umi (U): Apa ya? Nggak tahu.
Z: Kucing udah kakek-kakek kakinya sakit.
Wakakaka. . . nggak nyangka si Kak Zahro bikin teka-teki begitu. Lucu, kan? Buat saya lucu banget, hehehe.
Nah kejadian kedua saat teman mainnya datang ke rumah. Kakak adik yang berdarah Sunda. Si Kakak biasa dipanggil Teteh oleh adiknya. Saat mereka sedang bermain, Zahro memanggil temannya yang besar.
Z: Teh. . . Teteh. . . Teteh celup.
Ahahaha. . . Ya ALLAH anakku. Syukurlah temannya nggak ngambek.
Well, I feel grateful dengan selera humor Zahro. Umi tunggu keisenganmu yang lain ya, Nak.
Jogja, 22042014
~eMJe~
| almost 6 years old Kak Zahro |
Kejadian pertama di suatu siang, saat kami tengah bersantai di hamparan kasur lipat, mau bobok siang maksudnya :-p. Cahaya matahari cukup terang menembus jendela kamar siang itu. Angin sepoi-sepoi yang berseliweran dari daun jendela yang saya buka lumayan menyejukkan udara kamar yang panas. Enjoyable deh pokoknya.
Saya nggak tahu apakah anak-anak lain seusianya masih seperti Zahro. Dia masih punya ritual berimajinasi, ngoceh ngalur ngidur sendiri sebelum tidur, seperti siang itu. Tiba-tiba dia bertanya kepada saya,
Zahro (Z): Mi, Kakak ada teka-teki. Apa yang kakinya empat berjalan pakai tongkat?
Hahaha, asli nih teka-teki belum pernah saya dengar sebelumnya.
Umi (U): Apa ya? Nggak tahu.
Z: Kucing udah kakek-kakek kakinya sakit.
Wakakaka. . . nggak nyangka si Kak Zahro bikin teka-teki begitu. Lucu, kan? Buat saya lucu banget, hehehe.
Nah kejadian kedua saat teman mainnya datang ke rumah. Kakak adik yang berdarah Sunda. Si Kakak biasa dipanggil Teteh oleh adiknya. Saat mereka sedang bermain, Zahro memanggil temannya yang besar.
Z: Teh. . . Teteh. . . Teteh celup.
Ahahaha. . . Ya ALLAH anakku. Syukurlah temannya nggak ngambek.
Well, I feel grateful dengan selera humor Zahro. Umi tunggu keisenganmu yang lain ya, Nak.
Jogja, 22042014
~eMJe~
Sabtu, 28 Desember 2013
-=Lidah Kakak Masih Lidah Susu, Belum Lidah Tetap=-
Membicarakan soal gigi selalu menjadi topik menarik bagi Zahro, siapapun yang dia temui. Tak bosan-bosan dia membahas perbedaan antara gigi anak-anak, gigi orang dewasa, dan gigi kakek-nenek. Jadi isi bahasannya adalah apakah teman bicaranya bergigi susu, gigi tetap atau gigi palsu.
Jika bertemu anak kecil maka dia akan mengatakan bahwa gigi mereka sama, yaitu sama-sama gigi susu.
Jika bertemu dengan orang dewasa maka dia mengatakan bahwa, "Gigi kakak gigi susu, kalau gigi Ibu gigi tetap, kan?"
Jika berbicara dengan neneknya dia sering mengulang-ulang mengatakan bahwa nenek bergigi palsu.
Satu kali dia katakan pada Umi, "Mi, giginya Umi gigi tetap palsu, kan?" Hahaha. . .
Well. . . that's a knowledge for her to understand the difference of teeth by age. So it's quite fun and it's okay.
But this morning, dia mencapai sebuah kesimpulan baru.
"Mi, kakak tuh belum bisa bilang air miral (maksudnya air mineral), karena lidah kakak masih lidah susu. Kalau lidah Umi udah lidah tetap, kan? Makanya bisa bilang air mineral."
Hahaha. . . Nah lho, itu bisa bilang?
#Celoteh lucu yang sudah semakin jarang muncul seiring pertumbuhannya. Always miss them. . . ^^
Jika bertemu anak kecil maka dia akan mengatakan bahwa gigi mereka sama, yaitu sama-sama gigi susu.
Jika bertemu dengan orang dewasa maka dia mengatakan bahwa, "Gigi kakak gigi susu, kalau gigi Ibu gigi tetap, kan?"
Jika berbicara dengan neneknya dia sering mengulang-ulang mengatakan bahwa nenek bergigi palsu.
Satu kali dia katakan pada Umi, "Mi, giginya Umi gigi tetap palsu, kan?" Hahaha. . .
Well. . . that's a knowledge for her to understand the difference of teeth by age. So it's quite fun and it's okay.
But this morning, dia mencapai sebuah kesimpulan baru.
"Mi, kakak tuh belum bisa bilang air miral (maksudnya air mineral), karena lidah kakak masih lidah susu. Kalau lidah Umi udah lidah tetap, kan? Makanya bisa bilang air mineral."
Hahaha. . . Nah lho, itu bisa bilang?
#Celoteh lucu yang sudah semakin jarang muncul seiring pertumbuhannya. Always miss them. . . ^^
Langganan:
Postingan (Atom)
