Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Februari 2015

Menakar Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar

gambar diambil dari clipartpanda.com
Case:
Lila masuk playgroup sebelum genap berusia 3 tahun. Masuk TK A usia kurang dari 4 tahun, dan TK B usia kurang dari 5 tahun. Tak terasa sebentar lagi sudah tahun ajaran baru. Sejumlah SD sudah mulai membuka pendaftaran siswa baru. Ayah dan bunda Lila merasa ragu mendaftarkan Lila ke SD, sebab di bulan Juli nanti usianya belum genap 6 tahun. Apakah usia Lila masih terlalu muda untuk masuk SD tahun ini? Apakah nanti Lila akan mengalami kesulitan jika masuk SD tahun ini? Tetapi bukankah Lila sudah terlampau lama di TK? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di pikiran ayah-bundanya.

Meskipun merasa ragu, ayah-bunda Lila tetap melakukan survei ke beberapa sekolah dasar. Ternyata semua sekolah dasar swasta yang mereka kunjungi berkenan menerima siswa baru yang usianya belum mencapai 7 tahun, bahkan belum mencapai 6 tahun. Namun pihak sekolah mengemukakan bahwa nanti akan ada tes untuk mengetahui kesiapan anak masuk sekolah. Jika hasilnya siap, maka anak diterima. Jika belum siap, maka anak tidak bisa masuk ke sekolah tersebut. Ayah dan bunda Lila mengangguk-angguk setuju dengan prosedur tersebut, walau dalam hati masih bertanya-tanya, seperti apa sih yang dimaksud dengan siap masuk sekolah dasar? Apakah tanda siap masuk SD adalah kemampuan calistung? Ah, kalau hanya calistung, ayah dan bunda Lila sangat percaya diri. Lila sudah ikut les calistung sejak umur 4 tahun. Ayah dan bunda yakin dia pasti akan lulus.


Kenyataan pahit tentang tuntutan mampu calistung kepada anak usia dini
Kejadian di bawah ini benar-benar saya temui di sebuah TK:
  • Hari Senin di ruang kelas sebuah TK, anak-anak kecil berusia 4 tahun tampak sibuk menulis di buku garis-garis mereka. Ada tugas menyalin kalimat dari bu guru.
  • Hari Selasa mereka tampak membaca Iqro’. Satu per satu maju ke meja bu guru untuk dicek bacaannya.
  • Hari Rabu masih di ruangan itu, anak-anak tampak menghitung angka-angka.
  • Hari Kamis, di ruangan yang sama, anak-anak kecil itu riuh-rendah membaca kalimat-kalimat yang ditulis bu guru di papan tulis.
Sepanjang senin sampai kamis itu, sebagian kecil anak-anak itu tampak tekun mengerjakan tugas-tugas dari bu guru, khususnya anak perempuan. Tetapi anak laki-laki, tak berapa panjang konsentrasi mereka. Ada yang berlari, memanjat, berteriak, bahkan berguling-guling dengan sesama teman, tak lama setelah kelas dimulai. Di kelas sebelah – kelas anak yang lebih besar usianya, lebih parah keadaannya. Ibu guru bahkan sampai berteriak dari balik mejanya, meminta anak-anak untuk tenang.

  • Alhamdulillah, hari Jum’at tiba. Hari ini anak-anak memakai seragam olah-raga. Betapa ceria mereka mengikuti gerakan bu guru.
  • Hari sabtu, mereka lebih sumringah lagi, sebab hari ini mereka belajar menggunting, melipat kertas, menggambar, juga mewarnai.
Ketika saya bertanya kepada kepala sekolah mengapa porsi calistung di TK itu banyak sekali, begini jawaban beliau, “Kami serba-salah, Bu. Mengajarkan calistung sebenarnya bertentangan dengan prinsip dasar pendidikan anak usia dini. Tetapi setiap orangtua yang mendaftarkan anaknya pasti ingin kepastian bahwa anaknya lulus TK sudah bisa membaca. Kalau tidak maka mereka tidak jadi mendaftarkan anaknya sekolah di sini.”

Membaca, menulis, dan berhitung atau biasa dikenal dengan istilah calistung adalah sejumlah kemampuan yang biasanya dipersiapkan ayah-bunda sebelum anak masuk sekolah dasar. Jika perlu, selain sekolah, anak juga diikutsertakan les membaca. Masyarakat umum meyakini bahwa kemampuan calistung adalah modal keberhasilan pendidikan anak saat memasuki sekolah dasar. Anak yang sudah mahir calistung, diyakini akan mudah menuntaskan tugas-tugas di sekolahnya kelak.

Sah-sah saja jika anak usia dini, menjelang masuk sd disiapkan kemampuan calistung dengan metode yang menyenangkan bagi mereka. Tetapi patut menjadi perhatian kita bersama, bahwa keberhasilan seorang anak dalam mengikuti proses belajar di kelas, tidak cukup hanya dengan bekal kemampuan calistung. Anak juga memerlukan aneka kemampuan dan keterampilan lainnya, misalnya kemampuan beradaptasi, kemampuan bersosialisasi, kemampuan mengelola emosi, kemandirian, keberanian, juga kemampuan berkomunikasi.

Anak yang sudah mahir calistung namun belum mau berpisah dengan orangtua tentu akan menghambatnya mengikuti aktivitas belajar dengan baik. Anak yang sudah mahir calistung namun terhambat perkembangan sosialnya juga akan mengalami hambatan dalam berinteraksi di sekolah.


Apakah yang dimaksud dengan kesiapan masuk sekolah dasar?
Ada dua hal yang biasanya perlu diperhatikan sebelum anak masuk sekolah dasar, yaitu:
  1. kematangan masuk sekolah (school maturity) 
  2. kesiapan masuk sekolah (school readiness).
Kematangan mengacu pada pertumbuhan biologis yang perlu dicapai sebelum masuk sekolah, misalnya kematangan otak untuk memahami konsep membaca, menulis, menghitung, dan memahami sudut pandang orang lain. Kematangan tidak bisa dipercepat, karena sudah berproses sedemikian rupa secara alami. Biasanya anak matang secara biologis untuk memasuki sekolah dasar adalah pada usia 6 tahun. Karena itu pula yang dikatakan sebagai usia dini adalah usia 0-6 tahun. Secara fisiologis, pada usia 0-6 tahun otak kanan anak berkembang jauh lebih pesat. Sedangkan perkembangan pesat otak kiri baru dimulai sejak anak memasuki usia 7 tahun. Sedangkan sebagaimana kita ketahui, tuntutan pembelajaran di sekolah dasar umumnya lebih banyak melibatkan kemampuan otak kiri.

Kematangan secara biologis, selain ditunggu juga perlu didukung stimulasi. Stimulasi yang disajikan kepada anak akhirnya mewujudkan sebuah kesiapan. Perlu diingat bahwa stimulasi yang gencar, masif, dan intensif tidak akan bisa mempercepat kesiapan, sebab kesiapan memerlukan kematangan. Ada efek timbal balik antara nature (alami) dan nurture (stimulasi).

Kesiapan anak masuk sekolah dasar akan berbeda satu dengan yang lain, kapan akan dicapai. Hal ini sangat tergantung pada stimulasi yang diberikan dan kematangan yang dicapai. Sama halnya seorang anak yang berusia 6 bulan jika dipaksa untuk bisa berbicara pasti belum bisa karena organ-organ verbalnya belum matang. Tetapi mungkin saja ada anak usia 24 bulan belum mengeluarkan kata pertama karena kurang stimulasi.

Aspek-aspek Perkembangan Anak
Secara umum, ada empat aspek perkembangan anak yang kesemuanya semestinya berkembang optimal saat mempertimbangkan untuk mendaftarkan anak masuk SD. Orangtua bisa mengamati perkembangan ini dengan mengamati anak sehari-hari. Perkembangan tersebut antara lain:
1. Perkembangan Fisik dan Motorik
Untuk perkembangan motorik, berkaitan dengan kesiapan masuk sd orangtua perlu melihat bagaimana kematangan motorik halus anak. Kemampuan motorik halus akan mempengaruhi kemampuan anak menulis. Banyak aktivitas-aktivitas sederhana yang bisa diterapkan orangtua untuk melatih motorik halus anak, misalnya: menggunting, menempel, mewarnai, melipat, menggambar, menebalkan garis, dll. Orangtua juga perlu mengamati kemampuan anak memegang alat tulis dengan tepat.
2. Perkembangan Sosial
Kemampuan sosial akan mempengaruhi interaksi anak dengan teman sebayanya atau yang lebih tua darinya, misalnya guru atau kakak kelas. Amati apakah anak mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial baru, apakah anak mudah memulai pertemanan, dan bagaimana kemampuan anak menyelesaikan konflik dengan teman sebaya.
3. Perkembangan Emosi
Anak-anak yang hendak memasuki jenjang sekolah dasar perlu memiliki kematangan emosi yang baik. Model pembelajaran di sekolah dasar tentu berbeda jauh dengan saat anak masih di TK. Jumlah jam belajar, tingkat kesulitan pelajaran, dan tugas-tugas pasti mempengaruhi mood anak. Misal saat TK anak hanya belajar dari jam 8 sampai 10, ternyata di sekolah dasar anak harus belajar dari jam 7.30 sampai 12. Contoh lainnya saat TK anak banyak melakukan aktivitas otak kanan, misal bermain, bernyanyi, menggambar, mewarnai, menari. Tetapi di sekolah dasar anak banyak melakukan aktivitas yang melibatkan otak kiri.Orangtua perlu mengamati kematangan emosi anak dalam menghadapi perubahan ritme dari TK ke SD.
4. Perkembangan Kognitif (intelektual)
Perkembangan kognitif tentu saja merupakan modalitas belajar. Perkembangan inilah yang sejak awal saya uraikan dalam tulisan ini. Perkembangan kognitif merupakan salah satu faktor penting yang akan mempengaruhi kemampuan anak dalam menyerap pembelajaran di sekolah.

Keempat aspek perkembangan tersebut perlu terpenuhi secara keseluruhan, karena satu sama lain akan saling menguatkan keberhasilan anak mengikuti aktivitas belajar di sekolah dasar.

Nah, para orangtua yang mempunyai anak-anak di TK B, bagaimana kesiapan masuk SD ananda?


Oleh: Miftahul Jannah, M.Psi., Psi*
*Educational Psychologist, Children's Activity Books Writer

Selasa, 06 Januari 2015

Idealis Penyelaras

Ada apa denganku? Hehehe. . . Entahlah. Mungkin kebanyakan mikir yang nggak penting. Maklum, punya hobi observasi diri sendiri. Aku, ngerasa bahwa aku sekarang bukan aku dengan karakaterku yang dulu. Ada yang berubah dariku, bahkan aku sendiri merasakannya. Proses berpikirku, caraku menilai sesuatu, reaksiku terhadap sesuatu, tak sama lagi. Dan hari ini aku makin makin makin memikirkan perubahan itu. Jadilah aku duduk di sini, meja kerja yang sudah sebulan kutinggal liburan. Hei, kemarin aku memberi pemandangan baru untuknya, wall stiker berbunga pink berteman menara pisa dan eiffel dan bertuliskan Bonjour Paris. Yeah, moga-moga makin nambah inspirasi menulis, hahaha. . . Eh, ada couples juga di wall stiker itu. Hwaa. . . jadi rindu suamiku.

Jadi. . . aku duduk di sini, menyalakan notebook merahku, lalu ingat bahwa aku harus beli snack buat kopdar Paberland di rumah siang nanti. Ditinggal lagi deh si meja. Balik-balik, kubukalah mbah gugel, kuketik kata kunci yang melintasi di pikiranku: menghindari konflik, lebih menyukai kerja individu. Yah, dua hal yang paling kurasakan saat ini. Hasil searchingku mengantarku ke tes kepribadian MBTI. Kubaca cepat, menelaah diri, dan mencapai hasil yang menurutku paling sesuai dengan keadaanku saat ini. Inilah personality-ku saat ini, and 100% I agree with the analysis, hahaha. . . Syukurlah ngga ada yang salah dengan gado-gado pemikiran dan perasaanku, karena memang itulah tipe kepribadianku. Ngga ada yang salah juga dengan hobiku mengobservasi/membaca karakter orang lain, karena memang itulah ciri kepribadianku. Ngga ada yang salah dengan kebiasaanku mencurahkan pemikiran dan perasaanku hanya pada sedikit orang yang kupercaya. Benar banget bahwa aku sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tepat sekali aku lebih menyukai hubungan yang harmonis dan tidak senang konflik. And yes, aku berani mengerahkan seluruh tekad dan cenderung keras kepala untuk mencapai target yang penting buatku. Dan yang lainnya. . . dan yang lainnya... indeed, that's I am. :D :D :D


INFJ : Introvert, Intuitif, Perasa, Penilai
Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.




Ingin tahu hasil MBTI-mu? Silakan ke sini: https://penyala.wordpress.com/2012/04/21/test-kepribadian-mbti/

Minggu, 18 Mei 2014

Bermimpi Bersama Anak

Beberapa hari ini Saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku Einstein Never Used Flashcards. Sebuah buku yang membahas suatu metode untuk melejitkan kecerdasan anak, yaitu dengan mengembangkan kemampuan berbahasa. Saya pribadi termasuk yang meyakini bahwa kecerdasan verbal penting untuk dikembangkan pada anak sejak dini, karena dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, insyaALLAH kesempatannya untuk mengetahui berbagai hal baru akan terbuka sedemikian luas.

Ada hal lain yang sebenarnya sedang ingin saya gali dengan mendalam, yaitu tentang peran orang tua dalam melejitkan minat dan bakat anak InsyaALLAH saya akan berbicara tentang ini tanggal 24 Mei besok. Dalam perjalanan saya menggali tentang minat-bakat, cita-cita, future dreams, saya menemukan banyak kutipan-kutipan menggugah yang menarik dan inspiratif. Seperti ini contohnya:




Ah ya, ketika beberapa kali saya menyiapkan tema "Reach My Dreams" untuk anak SMP-SMA, saya begitu  yakin akan apa saja yang ingin saya susun dan sampaikan. Tetapi ketika tema yang sama saya siapkan untuk para orang tua yang memiliki anak-anak usia dini, saya menjadi galau, gamang, khawatir. Saya takut salah menyusun kata dan membuat para orang tua salah menangkap maksud saya. Intinya, saya tidak ingin apa yang saya sampaikan nantinya membuat orang tua berlomba-lomba untuk membuat anak-anak mereka kehilangan masa bermain dengan mengikutkan anak-anak mereka ke berbagai after-school courses demi apa yang mereka sebut "melejitkan potensi".

Buat saya, apa yang sebenarnya penting ketika kita sebagai orang tua berbicara tentang kecerdasan, minat dan bakat anak?

1. Yakinilah Bahwa Setiap Anak Cerdas
Setiap anak yang lahir bukanlah ibarat kertas kosong, yang harus dilukis dan diukir oleh kedua orang tuanya. ALLAH Ta’ala menciptakan hamba-hamba-NYA dalam keadaan fitrah, yaitu dengan membekali potensi-potensi kebaikan pada dirinya. Bila anak tumbuh di lingkungan sehari-hari yang normal, beserta orang-orang yang mencintai dan mengajak mereka berkomunikasi, maka otak mereka akan tumbuh dengan semestinya.

2. Bermimpilah Bersamanya, Tetapi Jangan Bermimpi Untuk Dia
Sering kali ketika saya memberi pelatihan kepada mahasiswa di tahun-tahun awal atau pertengahan kuliah mereka saya bertanya, "Apakah jurusan kalian saat ini pilihan kalian sendiri?", "Apakah kalian sudah merasa bahwa kalian berada di jalan yang memang kalian pilih untuk masa depan kalian?" Sayangnya, masih sering saya temui bahwa mereka kuliah di jurusan yang merupakan minat orang tua mereka, bukan minat mereka sendiri. Mereka menyesal masuk ke jurusan itu, mereka merasa tidak cocok dengan mata kuliahnya, mereka merasa kesulitan mengikuti perkuliahan. Efeknya, mereka menjadi mahasiswa yang banyak mencari kesibukan dan kesenangan yang tidak berhubungan dengan kuliah mereka, mereka berpotensi menjadi mahasiswa yang terlambat lulus, bahkan sampai terancam DO.

Karena itu, saya kira penting saya sampaikan kepada orang tua yang mempunyai anak-anak masih berusia dini:
"Bila sebagai orang tua Anda mempunyai mimpi dan mimpi itu tidak/belum tercapai, janganlah wariskan mimpi itu kepada anak-anak Anda secara sepihak. Sebab anak-anak Anda berhak memiliki mimpi mereka sendiri. Jangan bermimpi untuk dia, tetapi bermimpilah bersamanya. Bersama-sama meraih mimpinya."



3. Amati Minat Anak dan Temukan Bakatnya
Saat ini sudah banyak fasilitas untuk mengetahui minat dan bakat anak dengan metode yang canggih dan mutakhir. Tetapi sebenarnya ada cara yang murah meriah untuk mengetahui bakat anak-anak kita. Prinsipnya, anak-anak kita pasti memiliki banyak hal yang ia minati, hal-hal yang ia sangat senang melakukannya. Nah, amatilah minat-minat tersebut. Fasilitas minat-minat itu. Di antara minat-minat anak kita, insyaALLAH pasti ada yang menjadi bakatnya.

Tetapi di sini poin penting dan kritisnya. Jangan sampai atas nama melejitkan bakat anak, orang tua sampai melanggar hak anak untuk memiliki waktu bermain dengan menyertakannya ke beragam kursus. Jangan buru-buru memasukkan anak Anda ke kursus tari, balet, melukis, musik, vokal, olah raga, dan lain-lain sebelum mengetahui apa yang sebenarnya diminati anak dan menjadi bakatnya. Di dalam buku yang pernah saya baca ada pernyataan, "Memperkaya lingkungan dengan memberikan terlalu banyak stimulus kepada anak belum tentu akan meningkatkan potensi anak. Bisa-bisa malah membuat anak menjadi jenuh."

4. Bermainlah Bersamanya
Satu lagi cara sederhana untuk melejitkan kecerdasan anak. Bermainlah bersamanya. Anak-anak kita akan belajar lebih banyak ketika kita bermain dengannya daripada ketika kita membelikan dia kotak cantik berisi peralatan dengan klaim “paling canggih” untuk membangun kecerdasan. Program komputer, siaran televisi, atau permainan edukatif di gadget mungkin saja interaktif, tetapi mereka tidak adaptif. Anak kita mungkin saja mempunyai pertanyaan yang amat kaya, tetapi komputer, gadget dan televisi tidak akan mampu menanggapi kekayaan pertanyaan mereka saat itu juga. Berbeda halnya ketika mereka berinteraksi dan bermain dengan kita. Objek yang sederhana pun bisa menjadi sumber belajar yang istimewa karena anak bisa berkomunikasi dua arah dengan kita.

5. Manfaatkan Apapun yang Ada di Sekitar
Saat kita berada di kendaraan, ada begitu banyak papan reklame, nama-nama jalan, nama-nama toko, dan gedung-gedung yang bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan anak. Bahkan tulisan di bungkus roti dan di kotak susu pun bisa kita manfaatkan untuk beraktivitas bersama anak.

6. Berdo'alah, Do'a Kebaikan Untuknya
Meraih masa depan itu ibarat sedang berkendaraan, menuju ke sebuah tempat. Orang berkendaraan jika ingin selamat sampai ke tujuan maka perlu tunaikan adab-adab perjalanan. Anak-anak TK pun diajarkan do'a naik kendaraan. Maka mendo'akan, do'a kebaikan untuk anak adalah keniscayaan bagi setiap orang tua yang mendambakan anak-anak mereka selamat dalam meraih mimpinya. Berdo'alah untuk mereka. . . selalu. . . setiap saat.

Wallahua'alam.

Djogdja, 18052014

~eMJe~

Kamis, 08 Mei 2014

Serba-serbi Homeschooling: Catatan Webinar Homeschooling Usia Sekolah Sesi #1

Saya masih ingat peristiwa selepas sholat Subuh enam bulan yang lalu. Ketika saya menanyakan hal yang amat penting kepada puteri saya Zahro (5 tahun). Hari itu saya meminta pendapatnya tentang sebuah keputusan besar. 
"Kak, gimana kalau kakak sekolah di rumah aja?" Seperti itulah kalimat saya waktu itu.
Lantas Zahro bertanya, "Gurunya siapa?"
"Gurunya Umi," jawab saya.
"Mau," jawabnya.
Ya, hari itu kami memulai sebuah proses pendidikan baru. Bersekolah di rumah.

Sebenarnya jauh sebelum itu, saya sudah membaca beberapa buku tentang homeschooling. Saya juga sudah bertemu dan mendengar kisah keluarga-keluarga yang menjadi praktisi homeschooling. Bahkan, saya pun sudah beromitmen bahwa suatu hari nanti kami akan menjadi praktisi homeschooling juga. Tetapi saya selalu beralasan, "Anak saya masih satu. Kalau homeschooling sendirian kan sepi?" Saya berharap bahwa Zahro tidak akan HS sendiri, melainkan dengan adiknya. Tetapi adik yang ditunggu tak kunjung datang sampai Zahro berusia 5 tahun. Do'akan ya biar Zahro ALLAH kasih adik. Aamiin :-)

Lalu apakah saya harus terus menunggu? Apakah hanya dengan Zahro sendiri maka homeschooling kami akan benar-benar hambar? Saya belum mencobanya, kan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya menguatkan saya untuk memulai keputusan besar kami.

Kami benar-benar learning by doing dalam menjalani homeschooling kami. Awalnya kami melakukan hal-hal yang acak saja. Menanam sayuran, membuat craft, jalan-jalan melihat tanaman di pinggir-pinggir jalan dekat rumah, mewarnai, tracing, mengerjakan worksheets math, belajar membaca, bercerita. Banyak juga, ya? Hahaha. . .



Well, semakin ke sini alhamdulillaah saya mulai menemukan beberapa komunitas homeschooling di dunia maya, khususnya facebook. Saya pun bergabung ke beberapa group komunitas tersebut. Ternyata fasilitas internet sangat banyak membantu dalam memenuhi sumber belajar dan informasi tentang homeschooling. Alhamdulillaah, ada manfaatnya juga saya langganan internet, kekeke.

Suatu hari saya jalan-jalan ke website rumahinspirasi. Betapa bahagianya saya ketika di situ saya menemukan informasi tentang webinar homeschooling usia sekolah. Sebenarnya rada menyesal sih karena ternyata sebelumnya sudah diadakan webinar HS usia dini. Tapi tak apalah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, hehehe. . . Akhirnya saya pun mendaftar menjadi peserta webinar tersebut.



Dan kemarin malam (07 Mei 2014) webinar sesi #1 telah saya ikuti dengan sangat memuaskan. Begitu banyak pencerahan-pencerahan yang saya peroleh dari penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala kemarin malam. Rasa-rasanya, tak pantas ilmu yang saya peroleh kemarin saya simpan sendiri, ya. Karena itu, saya ingin berbagi ilmu yang luar biasa bermanfaat itu di sini.

1. Apa itu homeschooling?
Kemarin malam Mas Aar mengawali sesi dengan menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian homeschooling. Jadi, homeschooling merupakan sebuah model pendidikan alternatif. Secara prinsipil, homeschooling adalah konsep pendidikan pilihan yang diselenggarakan di rumah, oleh orang tua. Ada banyak alasan sehingga sebuah keluarga memilih untuk menjadi praktisi HS. Alasan-alasan itu tentunya merupakan cerminan karakteristik dan kebutuhan keluarga tersebut. Ada keluarga yang saya ketahui memilih HS karena mempunyai anak dengan special needs yang kurang terfasilitasi di sekolah umum. Beberapa teman saya memilih HS karena ingin anak-anak mereka lebih fokus menghafal Al-Qur'an. Kalau Mbak Lala dan Mas Aar konsep HSnya mengutamakan kepada pengembangan skills. Nah, kami sendiri sebenarnya memilih HS karena ada beberapa idealisme kami tentang sebuah pendidikan yang kami pandang belum mampu dicover oleh sekolah pada umumnya. 

Oya, karena sejatinya homeschooling diselenggarakan di rumah dengan orang tua sebagai pendidiknya, maka orang tua yang keduanya bekerja dan memiliki anak yang masih kecil tidak disarankan untuk menyelenggarakan homeschooling.

2. Filosofi sekolah VS Homeschooling

Kemarin Mas Aar menyampaikan sebuah filosofi indah yang membedakan homeschooling dengan sekolah pada umumnya. Di dalam filosofi sekolah dikenal istilah "tabula rasa", seorang anak diibaratkan sebagai kertas kosong. Sekolah atau gurulah yang memamahkan ilmu kepada anak. Tetapi dalam filosofi homeschooling, seorang anak dipandang sebagai individu. Dia memiliki potensi, pendapat, dan sudut pandang. Dia bukanlah makhluk yang pasif. Kata Mas Aar lagi, ternyata makna kata education adalah "mengeluarkan". Karena itu, fungsi utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan potensi-potensi yang memang sudah ada dalam diri anak, bukan untuk memamahkan ilmu kepada anak.

Ah ya, penjelasan Mas Aar sungguh menguatkan kefahaman saya selama ini. ALLAH Ta'ala menciptakan anak-anak kita bukan sebagai kertas kosong. Tetapi ALLAH Ta'ala menciptakan anak kita, menitipkannya kepada kita, juga dengan menyertakan potensi-potensi kebaikan pada diri anak-anak kita. Tinggal bagaiman kita sebagai orang tua mendampingi, menemani, dan memfasilitasi agar potensi-potensi kebaikan itu tumbuh dan berkembang seiring pertumbuhan dan perkembangan mereka. MasyaALLAH. . . Laa quwwata illaa billaah.

3. Model Pembelajaran Sekolah VS Homeschooling
  • Di Homeschooling, fungsi utama orang tua adalah sebagai fasilitator
Pada umumnya, kita semua yang sekarang jadi orang tua tentu sudah merasakan, bahwa di setiap jenjang sekolah kita dulu, guru adalah orang yang mencurahkan ilmu kepada kepada siswanya. Sedangkan di homeschooling, fungsi utama orang tua bukanlah untuk mengajar, melainkan sebagai fasilitator. Anak-anak tidak diberikan instruksi satu arah, melainkan dengan lebih banyak diskusi.

Saya jadi ingat tulisan saya tentang cara sederhana untuk menumbuhkan kecerdasan anak-anak kita. Apa caranya? Diskusi. Dengan diskusi, kita akan menemukan pemikiran-pemikiran yang masih murni namun menakjubkan dari anak-anak kita. Satu contoh ketika saya berdiskusi dengan Zahro saat kami mencuci piring bersama. Zahro bertanya seperti ini:
Zahro: Mi, emangnya ini piring umurnya berapa?
Saya: Kenapa, Kak?
Z: Kok masih dimandikan?
Saat itu Saya bingung menjawabnya, karena kalau saya menjawab jujur jelas piring tersebut sudah lebih tua usianya daripada dia, karena dibeli sejak Saya dan suami baru menikah. Tetapi jika yang lebih tua daripada dia masih "dimandikan" dia pasti akan protes. Maka saya cuma berguman, “hmm. . . hmm. . .” Lantas dia menjawab sendiri,
Z: Ini masih kecil ini, Mi. Lihat kan badannya lebih kecil daripada Kakak.
S: Iya ya, Kak.
Lalu dia bertanya lagi,
Z: Trus dia sampai kapan dimandikan?
Kali ini saya menjawab pertanyaannya,
S: Dia sampai akhir hayatnya akan dimandikan terus, Kak.
Z: Sampai dipanggil ALLAH (meninggal) seperti Kakek?
S: Iya.
A: Sampai pecah! Serunya.

Ya, akhirnya Zahro membuat kesimpulannya sendiri. Bisa dilihat kan bagaimana dialog sederhana bisa menstimulasi proses berpikir anak-anak kita? Diskusi-diskusi sederhana seperti itu tentu saja memang ada syaratnya, yaitu kita sebagai orang tua harus menyediakan waktu untuk mendengarkan anak dan menghargai pendapat-pendapatnya. Dan alhamdulillaah kesempatan itu banyak kami miliki karena menjalani homeschooling ini.
  • Di Homeschooling, model pembelajarannya modular bukan tingkat/paket
Keistimewaan homeschooling lainnya yang semakin saya insyafi setelah mendengar penjelasan Mas Aar kemarin adalah tentang model pembelajarannya. Di sekolah, kita mengenal tingkat kelas atau paket pelajaran. Ketika anak tinggal kelas, maka dia harus mengulang semua pelajaran yang menjadi paket di tingkat tersebut, termasuk yang sebenarnya sudah dikuasai anak. Sedangkan di HS model pembelajarannya seperti di perguruan tinggi. Materi yang bisa dikuasai anak lebih cepat boleh dipelajari lebih cepat juga. Jadi bisa saja anak usia 10 tahun (setara kelas 4 SD) pelajaran matematikanya kelas 4, pelajaran sains-nya kelas 5, pelajaran bahasanya kelas 6. Nah,  adapun pelajaran yang kurang atau cukup lama dikuasai anak tidak akan menghambat kemajuan pelajaran yang dikuasai anak. Asyik, ya? :-)

Saya jadi teringat lagi nih. Pernah satu hari saya berkunjung ke rumah teman yang punya anak kelas 2 SD. Waktu itu saya minta ditunjukin buku-buku pelajaran sekolahnya. Si anak mengambilkan buku pelajaran sains. Dan ternyata lumayan banyak dari materi di buku tersebut yang sudah dikuasai Zahro, khususnya materi tentang tumbuhan dan hewan. Berarti Zahro udah bisa belajar sains kelas 2 SD, dong? hehehe.

4. Materi Pelajaran & Waktu Belajar
Saya cukup sering ditanyain juga nih soal yang satu ini. Pake buku apa? Materi pelajarannya ambil dari mana? Dari mana aja bisa, hehehe. Kita boleh merujuk materi pelajaran diknas, dari buku-buku yang dijual di toko, boleh juga mengunduh dari sumber-sumber di internet. Sejauh ini saya pun begitu. Beberapa tema saya merujuk pada materi-materi dari diknas. Untuk math saya suka bikin material sendiri, ada juga yang saya unduh dari internet. Untuk sains saya suka lihat-lihat ke charlotte mason dan kids national geographic. Untuk craft kami sering ikut-ikut bikin karya yang dibuat Mister Maker. Karena sekarang saya ikut program menghafal Qur'an ODOL (One Day One Line) dengan metode KQM (Kauny Quantum Memory) via Whatsapp, Zahro juga suka ikut-ikutan menghafal sambil memperagakan. Jadi, sebenarnya sekolah di rumah pun sudah sangat kaya dengan beragam sumber belajar, yang penting sebagai orang tua sekaligus fasilitator kita harus terus belajar juga.



Beberapa aktivitas homeschooling Zahro

Tentang porsi pelajaran, Mas Aar menyampaikan itu bergantung kebutuhan keluarga. Apa yang menjadi fokus HS maka tema-tema berkaitan fokus tersebut tentu boleh banyak porsinya. Berkaitan dengan waktu belajar juga demikian. Kita menitikberatkan pada apa? Pada komitmen belajar atau kepada hasil belajar? Jika kita menitikberatkan pada komitmen belajar, maka kita boleh menetapkan waktu belajar yang tetap. Misalnya dari jam sekian sampai jam sekian. Akan tetapi jika yang menjadi fokus adalah hasil belajar, maka tak masalah belajarnya mau jam berapa dan berapa lama, yang penting target pelajaran tercapai. Poin penting yang harus dimiliki oleh setiap keluarga yang memilih homeschooling adalah mengenali apa yang sebenarnya ingin dibangun/dicapai keluarga. Apa yang menurut orang tua terbaik untuk keluarga dan anak.

5. Opportunities Homeschooling
Ada banyak sekali peluang yang dimiliki oleh keluarga yang memilih untuk menjadi praktisi HS. Antara lain:
  • Fleksibilitas pendidikan
Dengan HS maka model pendidikan dapat menyesuaikan dengan value keluarga. Apa yang penting buat keluarga kita? Hafalan Qur’an? Sosialisasi? Skill? Tinggal pilih. :-)
  • Fleksibilitas dana
Jika kita memilih menjadi praktisi HS, maka semua dana pendidikan akan fokus untuk pembelajaran anak. Kita tidak perlu membayar uang sekolah, uang seragam, dll. Kata Mas Aar akan lebih mudah untuk trip/jalan-jalan juga, hehehe. Tentu saja menyesuaikan keuangan keluarga.
  • Kustomisasi
Maksudnya apa, nih? Maksudnya, HS akan memberikan peluang kepada anak untuk bisa mengembangkan minatnya masing-masing. Yang suka gambar bisa banyak menggambar. Yang suka matematika bisa banyak mengeksplorasi matematika. Yang suka sains bisa melakukan banyak percobaan. Yang suka keterampilan bisa membuat aneka ragam craft, dll.
  • Eksplorasi dunia nyata
Ini dia satu lagi yang menyenangkan dari HS. Anak punya kesempatan yang banyak untuk bisa belajar dari dunia nyata. Misalnya saat ke pasar anak bisa belajar biologi, belajar bahasa, belajar ekonomi, juga belajar matematika. Well, we've did that, too. Sejak HS, kalau saya mengajak Zahro ke pasar atau ke toko saya bukan lagi sekedar belanja doang. Saya akan meminta Zahro untuk melakukan sendiri transaksi untuk barang-barang yang dia butuhkan, misalnya susu. Dengan bertransaksi itu dia sudah melakukan sosialisasi dan praktek ekonomi, kan? Hehehe. . .  Saya juga sering memintanya untuk mengenal dan menyebutkan nama-nama benda yang dijual. Misalnya cabai. Saya tunjukkan dan terangkan bahwa cabai itu jenisnya beragam. Ada cabai merah, cabai hijau, dan cabai rawit.
  • Kedekatan Keluarga 
Ini yang penting banget. Bonding/attachment/kedekatan keluarga. Saya merasakan betul bagaimana keluarga kami menjadi lebih kompak setelah kami menjalani homeschooling, sebab otomatis intensitas kebersamaan kami sekeluarga menjadi lebih banyak daripada sebelumnya. Nah, karena itu ayah dan ibu harus seide, sejalan, seiya-sekata dalam proses homeschooling di keluarga, supaya HSnya lancar dan berhasil.

6. Risiko Homeschooling
Bagaimanapun juga, HS tentu memiliki tantangan-tantangan atau risiko. Misalnya infrastruktur yang minim atau kurang memadai. Yang lainnya adalah tekanan baik dari keluarga maupun pemerintah. Kami pun mengalaminya juga, kok. Saat kami memutuskan homeschooling, yang paling menentang adalah nenek-nenek Zahro, Ibu saya dan Ibu mertua. Ibu saya sangat mengkhawatirkan perkembangan sosial Zahro, sementara Ibu mertua mengkhawatirkan perkembangan kognitif Zahro. Tetapi alhamdulillaah seiring waktu berjalan kami bisa membuktikan bahwa dengan homeschooling tidak membuat kekhawatiran-kekhawatiran mereka terwujud, malah sebaliknya.

Saya punya cara sendiri untuk tetap melibatkan Zahro pada banyak situasi sosial. Saya selalu membawanya ke tempat-tempat saya berkegiatan. Saat saya mengisi parenting class ke sekolah-sekolah, saat saya mengajar sebagai dosen tamu di sebuah sekolah tinggi, saat saya berkumpul dengan teman-teman komunitas IIDN Jogja, saat saya pergi mengaji, maka Zahro pasti ikut serta. Akhir-akhir ini, sore hari saya juga memberinya kesempatan untuk bermain sepeda bersama dengan teman-teman sebayanya yang tinggal di dekat rumah. Sering sekali teman-temannya kemudian dia ajak ke rumah kami untuk melakukan aktivitas yang dia kerjakan saat HS, misalnya mewarnai, membaca buku, dll. 

Adapun untuk tantangan pemerintah, jujur saja sejauh ini kami belum memikirkannya. Misalnya, bagaimana ujiannya nanti? Hehehe. . . nantilah itu. InsyaALLAH kami yakin ALLAH pasti akan beri kemudahan jika kami bersungguh-sungguh dalam proses ini. Toh tahun ini Zahro baru akan berusia 6 tahun. InsyaALLAH jalan yang akan dia lalui masih sangat panjang. Kami ingin menikmati dulu prosesnya. 

7. Legalitas Homeschooling
Nah, bagaimana posisi homeschooling dalam sistem pendidikan di Indonesia?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia ada 3 model pendidikan, yaitu:
– Formal: sekolah
– Non formal: kursus-kursus
– Informal: Homeschooling
artinya posisi HS jelas ada dalam model pendidikan di tanah air, ya.
Bagaimana dengan kelulusan? Bagaimana dengan ijazah?
Ada beberapa cara yang dijelaskan Mas Aar untuk memperoleh ijazah bagi anak HS, antara lain:
– Ikut ujian persamaan (paket A setara SD, paket B setara SMP, paket C setara SMA). 
Nah Ujian paket ini legalitasnya sama dengan Ujian Nasional. Dan ijazah paket C yang diterima legalitasnya sama dengan ijazah SMA. Jadi bisa digunakan kalau anak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
– Ikut Umbrella school. 
Model yang ini adalah anak terdaftar di sebuah sekolah formal, tetapi proses belajar di rumah. Anak hanya ikut ujian dan kegiatan-kegiatan tertentu saja. Biasanya kita tetap membayar uang sekolah untuk model ini. Sekolah yang mau jadi umbrella school juga cari sendiri, ya. Hehehe. . .
– Ujian Cambridge. 
Yang satu ini adalah ujian internasional. It's absolutely a new information buat saya. Kata Mas Aar ujian Cambridge ini per mata pelajaran. Dalam Cambridge ini ada istilah check point yang tujuannya hanya untuk melihat capaian pelajaran anak. Sedangkan yang untuk menentukan kelulusan ada yang namanya IGCSE dan A Level. Info selengkapnya bisa dilihat di sini.

Nah, bagaimana? Complete banget kan penjelasan Mas Aar dan Mbak Lala? :-) Itu baru satu sesi, lho. Masih ada 3 sesi lainnya. Saya merasa beruntung banget bisa ikut webinar ini. Wawasan bertambah, keyakinan untuk menjalani homeschooling pun semakin kuat. Semoga resume sederhana yang saya buat ini bisa menginspirasi keluarga-keluarga lain yang berniat homeschooling tapi belum tahu seluk-beluk homeschooling, ya.

Hmm. . . saya udah nggak sabar menantikan webinar sesi #2.
Tunggu resume saya selanjutnya, ya. . . :-)


Djogdja, 08052014
~eMJe~

Rabu, 07 Mei 2014

Workshop CHC's Cognitive Theory with Kevin McGrew

Aduh, mau istiqomah nulis di blog itu memang memerlukan niat yang kuat dan kesungguhan luar biasa ya. Faktanya, target nulis sehari satu tulisan aja belum tercapai, hahaha. Tapi nggak papa, yang penting tetap berusaha posting saat bisa dan ingat. :D

Well, kali ini Umi mau cerita pengalaman istimewa Senin (05052014) kemarin. Jadi ceritanya, Umi termasuk orang yang beruntung karena bisa ikut kelas CHC's Cognitive Theory  with Kevin McGrew yang merupakan kerjasama Yayasan Dharma Bermakna dan Fakultas Psikologi UGM. Workshop ini merupakan salah satu proses dalam penyusunan alat tes inteligensi yang akan disusun oleh Psi UGM dan YDB, yang mana Umi mendaftarkan diri sebagai salah seorang penulis aitemnya. Workshop yang sangat menarik ini berlangsung di ruang A203 Fakultas Psikologi UGM, diikuti oleh dosen-dosen di bidang pendidikan dan perkembangan UGM, tim AJT, pihak YDB dan perwakilan dari beberapa universitas dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Apa sih CHC itu? Jenis ayam goreng baru, ya? Hohoho. . . Bukan. CHC itu adalah salah satu teori tentang inteligensi (kecerdasan) dan si Pak Kevin McGrew ini adalah Director of the Institute for Applied Psychometrics, tokoh yang masih aktif meneliti teori tersebut dan mengembangkan alat ukur yang berdasar pada teori itu.




Menariknya apa? Jujur, buat Umi teori ini baru banget. Jadi, excitednya luar biasa mengikuti kelasnya. Walaupun kudu buka mata dan telinga lebar-lebar seharian penuh. Biar ngga ada kalimat dia yang kelewatan dan tak terjemahkan. Maklum, si Pak Kevin ini belum pernah ke Indonesia, jadi ngomongnya dia cepat banget kayak pesawat jet :-p.

Buat Umi sendiri, yang paling menyenangkan tentu saja karena Umi jadi tahu warna-warni inteligensi dari sudut pandang CHC dan bagaimana proses membuat sebuah aitem tes. Untuk mengukur suatu aspek kecerdasan maka kita bisa membuatnya dengan cara seperti ini dengan model soal seperti ini. Sungguh-sungguh menarik. Untuk memudahkan kami memahami, Pak Kevin langsung menyajikan contoh-contoh aitem tes kepada kami. Kelasnya jadi serasa ikut kuis, hahaha. . .

Dalam teori CHC, domain kompetensi individu (baca: inteligensi) dibagi menjadi beberapa, yaitu conceptual domain, practical domain, social-emotional domain, dan physical domain. Tetapi kemarin kami hanya belajar conceptual domain. Nah, domain konseptual itu sendiri masih terbagi menjadi banyak aspek kecerdasan, antara lain: Fluid reasoning (Gf), Short-term working Memory (Gwm), Long-ter retrieval (Glr), Processing speed (Gs), Visual Processing (Gv), Comprehension-Knowledge (Gc), Auditory Processing (Ga), dan Psychomotor abilities (Gp). Banyak banget dan kayaknya nggak usah Umi jelaskan satu per satu, ya :D


Taksonomi Teori CHC

Salah satu bentuk pertanyaan yang juga bisa Ayah-Bunda gunakan bersama anak-anak di rumah adalah model seperti ini:
1. kaki : sepatu =  kepala :   ? (jika kaki pakai sepatu, maka kepala pakai?)
2. ayah : Ibu  =  kakek  :   ? (jika ayah pasangannya ibu, maka kakek pasangannya?)
3. burung  :  terbang = ikan  :  ? (jika burung terbang, maka ikan?)
Waktu Umi cobakan kepada Zahro sungguh mengasyikkan dan dia sangat suka.

Meskipun kami hanya belajar tentang domain konseptual, tetapi Kevin menyampaikan suatu hal yang sangat penting juga. Menurutnya, jika dia harus memilih diantara dua domain inteligensi untuk dimiliki seorang anak, maka dia katakan dia akan memilih domain konseptual dan sosial-emosional. Mengapa? Dia mencontohkan dirinya sendiri. Rupanya saat kecil Kevin pernah mengalami kesukaran membaca. Kesukaran membaca tentu sangat mengganggu proses belajar, ya. Tetapi dia adalah orang yang tidak mudah putus asa, gigih, tangguh dan passionate. Karena itu dia bisa mengatasi kesulitan membaca yang dialaminya sehingga berhasil menjadi seorang ilmuwan seperti sekarang. Artinya, meskipun seorang anak secara kognitif tidak luar biasa, tetapi jika secara sosial-emosional dia tangguh, maka insyaALLAH dia akan bisa mengatasi keterbatasannya. Nah, tampaknya pernyataan dia itu salah satu yang sangat berkesan sepanjang workshop kemarin.

Workshop yang sangat menarik itu berakhir rada molor memang, seharusnya jam 16 jadi jam 16.30, karena peserta sangat antusias untuk bertanya. Walhasil, meskipun panitia meminta ada foto bersama, tapi Umi langsung kabur aja ke parkiran, udah ninggalin anak 9 jam-an euy.  Lagian gue juga nggak akan dicariin kok, hehehe.  Thank you so much ilmunya ya Kevin McGrew.

Semoga menjadi inspirasi juga untuk yang lainnya.

Djogdja, 07052014
~eMJe~

Kamis, 24 April 2014

Parenting: Membangun Kelekatan Ayah-Anak

Anak-anak kita membutuhkan kedekatan dan kelekatan tidak hanya kepada Ibunya saja, tetapi juga kepada Ayahnya. Seorang Ayah, bukan hanya penjemput rizqi keluarga. Sebagaimana seorang pemimpin yang akan ditanya mengenai kepemimpinannya, maka Ayah akan ditanya tentang keluarganya di akhirat nanti. Bagaimana Ayah akan menjawab pertanyaan ALLAH nanti jika dia tidak terlibat dalam pengasuhan anaknya?

Anak laki-laki yang dekat dengan Ayahnya pasti bisa seru-seruan bareng, ya. Sedang anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh rasa aman (secure) di dalam dirinya. Banyak saya temui remaja perempuan yang berpacaran dan saya tanya apa alasan mereka berpacaran, hampir semua beralasan agar mendapat kasih sayang dari sosok laki-laki. Kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari Ayah mereka.

Jika ada yang bertanya kepada saya, "Anak Ibu dekat nggak sama Ayahnya?"
Hari ini, saya dengan bahagia mengatakan bahwa antara anak saya dengan Abinya sudah terjalin bonding atau kelekatan yang kuat. Bila 3-5 tahun yang lalu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada saya, maka saya pasti ragu menjawabnya. Mengapa? Karena memang kelekatan antara anak saya dan Abinya tidak terbentuk sejak awal kelahirannya.

Barangkali ada yang terkejut jika mengetahui kenyataan bahwa saat anak saya bayi, Abinya hanya hitungan jari menggendongnya. Ya, hitungan jari. Bahkan mungkin tak sampai semua jari tangan. Ketika itu alasannya karena takut pakaiannya terkena najis. Alasan yang berlebihan buat saya. Mungkin bagi yang lain juga iya, kan? Masa sih hanya karena takut najis sampai tega tidak menggendong anak sendiri? Tapi itulah kenyataannya. Dampaknya tentu saja sudah terbayangkan, saat toddler Zahro tidak dekat bahkan cenderung takut kepada Abinya.

Saking risaunya, saya ingat sekali suatu kali saya sampai mengatakan kepada suami saya, "Umi tidak bertanggungjawab jika anak Abi tidak dekat dan tidak sayang kepada Abinya."

Ada satu alasan yang amat sering diulang-ulang suami saya, "Aku tidak tahu bagaimana seharusnya dan sebaiknya bersikap kepada anak, karena waktu kecil aku tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari Papa."

Pernyataan suami saya membuat saya mafhum. Ah ya, suami saya tidak punya contoh bagaimana seorang ayah terlibat dalam pengasuhan anak. Memang, Papa mertua saya selalu bertugas di luar kota. Sampai saya menikah dengan suami pun masih seperti itu.

Saya yakin, selain suami saya ada banyak sosok Ayah yang pada masa kecilnya mempunyai ruang kosong dari peran dan kasih ayah mereka. Tapi beberapa orang yang saya kenal ada yang mengambil pelajaran dari kekosongan itu dengan tidak melakukan hal yang sama kepada anak mereka. Mereka menjadi ayah yang sangat peduli, sangat dekat dan terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka.

Tentu saja sayapun ingin suami saya juga  menjadi bagian dari Ayah yang seperti itu. Saya tidak mau alasan suami saya menjadi pembenaran bahwa dia berhak untuk tidak dekat dengan anaknya.  Karena dia tidak merasakan kasih sayang Papa saat dia kecil, maka anaknya boleh tidak merasakan kasih sayang. Hello, anaknya punya hak untuk mendapat kasih sayangnya.

So, what should I do? Saya tidak boleh dong hanya menyalahkan doang lalu tinggal diam. Mau sampai kapan kalau cuma menunggu?

Maka saya pun memulai ikhtiyar saya, sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu. Sebuah misi membangunkan kelekatan antara Zahro dan Abinya. Apa yang saya lakukan? Bermula dari hal-hal sederhana saja. Ketika Zahro meminta saya membantunya melakukan sesuatu, misalnya membuka bungkusan makanan, maka saya minta dia agar meminta bantuan kepada Abinya. Ketika Abinya pamit membeli sesuatu ke swalayan dekat rumah, maka saya katakan kepada Zahro, "Sana minta ikut sama Abi." Akhirnya setiap Abinya akan pergi ke tempat yang tidak jauh dan tidak lama Zahro selalu minta ikut. Minta ditemani naik sepeda, minta diantarkan berenang ke homestay dekat rumah, makan sepiring berdua, berangkat dari hal-hal kecil dan sederhana itulah mereka menjalin kelekatan. Dan. . . hari ini saya bisa melihat cinta dan kasih sayang telah tumbuh di antara mereka berdua. Sampai sekarang, saya selalu memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk punya father-daughter moment.

Jadi, ketika seorang Ibu melihat ada fatherless di dalam keluarga, barangkali kita bisa mengulurkan tangan untuk membantu melekatkan anak-anak kita dengan Ayah mereka dengan memberi mereka kesempatan untuk mempunyai momen ayah-anak. InsyaALLAH kebersamaaan yang berulang, momen-momen sederhana namun berharga itu akan menumbuhkan cinta di antara mereka. Wallahua'am.

Momen-momen indah ayah-anak yang sempat terekam:

Makan yoghurt berdua ^^

Makan nasi sepiring berdua ^^

Pompa ban sepeda berdua ^^





























24042014
~eMJe~

Jumat, 24 Januari 2014

-=Mitos Mozart VS Stimulasi Al-Qur'an=-

Penelitian menunjukkan bahwa musik klasik, khususnya mozart tidak akan menambah kecerdasan bayi. Kenyataannya, mitos bahwa mendengar mozart akan menambah kecerdasan berangkat dari penelitian Francis Rauscher, Ph.D, profesor di University of Wisconsin dkk di kampus Oshkosh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mendengar sonata Mozart salama 10 menit, 79 orang mahasiswa bisa menyelesaikan salah satu bagian dalam tes Stanford Binet, yaitu "kemampuan visual-ruang" dengan lebih baik. Skor mereka meningkat 9-10 poin setelah mendengar Sonata karya Mozart untuk dua piano dalam kunci D Mayor K 448 (saya tulis apa adanya, aslinya kaga ngerti, hehehe). Ternyata, dampak perlakuan tersebut hanya bertahan 8-10 menit. Mendengar Mozart ternyata hanya mempengaruhi suasana hati pendengar, tetapi bukan inteligensi mereka secara keseluruhan. Efek ketenangan setelah mendengar Mozartlah yang membuat hasil tes mereka menjadi lebih baik. Akan tetapi media telah menyebarkan mitos bahwa setiap bayi perlu diperdengarkan musik klasik agar sel otaknya berfungsi. Beralih pada Al-Qur'an, I've prove it by myself bahwa anak saya mudah melafalkan kembali surah-surah pendek yang biasa dia dengar saat masih dalam kandungan. Surah pertama yang berhasil dia lafalkan kembali adalah Al-Fatihah di usia 2 tahun. Saya yakin banyak orang tua memiliki pengalaman yang sama. Cepat-lambat dan banyak-sedikit hafalan Qur'an anak, saya yakin perkara do'a, ikhtiar, kesungguhan, motivasi, dan stimulasi orang tua saja yang membedakannya. Berkait dengan efek ketenangan yang diperoleh dengan mendengar musik klasik, tentunya tidak perlu kita ragukan bahwa dengan membaca dan mendengar Al-Qur'an kita akan mendapat efek yang sama bahkan jauh lebih dahsyat. Amat menarik sepertinya menemukan relasi stimulasi Al-Qur'an terhadap fungsi-fungsi kecerdasan anak. Kalau ada penelitian yang sudah menemukannya bolehlah saya dibagi ya.
~eMJe, 24 Januari 2014~