Minggu, 29 Desember 2013

-=Pandai-pandai Memperlakukan Si Tabung Segi Empat=-

Ilustrasi tabung segi 4 (baca: Televisi)

Wahai kita, para orang tua. . . Jangan bingung bila anak-anak kita yang balita sudah tahu istilah love, pacar, pacaran apabila kita mengizinkan mereka mengkonsumsi tayangan televisi atau lagu-lagu yang isinya tentang itu. Karena mereka adalah perekam luar biasa.

Wahai kita, para orang tua. . . Jangan heran jika anak-anak kita sangat konsumtif terhadap berbagai jenis produk jika setiap hari kita membiarkan mereka melihat bermacam-macam iklan yang berseliweran di tabung segi empat yang konon bentuknya sekarang flat dengan ukuran super gede di rumah-rumah kita. Karena sesuatu yang baru senantiasa ingin mereka miliki.

Wahai kita, para orang tua. . . Berhentilah merasa lega jika anak-anak kita menjadi anteng, tenang, karena matanya, hatinya, dan fikirannya fokus pada tontonannya sehingga kita bebas melakukan kesibukan pribadi kita. Sebab tidak semua yang ia tonton baik dan pasti lebih banyak tidak baiknya. Dan pada akhirnya, kerepotan kita akan semakin bertambah-tambah jika televisi sudah menjadi candu baginya dan mempengaruhi fikir serta tingkah-polahnya. 

Para orang tua yang bekerja di luar rumah, pastikanlah bahwa waktu Anda di rumah bukan lagi milik tayangan televisi, melainkan milik anak. Sudah cukup sebagian besar waktu Anda untuk anak tersita oleh pekerjaan Anda, jangan lagi keberadaan Anda di rumah juga bukan milik mereka. 

Gantilah kegiatan menonton televisi dengan beraktivitas bersama anak. Libatkan mereka dalam aktivitas memasak, mencuci kendaraan, mengurus taman, menata kamar atau rumah, bersepeda, jalan-jalan ke toko buku atau ikut bermain peran dengan mereka. 

Berkomunikasilah dengan mereka. Minta anak menceritakan aktivitasnya saat Anda tidak bersamanya, ceritakan pula aktivitas Anda saat tidak bersamanya. Kegiatan ini sangat mengasyikkan dan sangat membantu dalam membangun kedekatan orang tua dan anak. Anak-anak itu pencerita yang handal dan juga pendengar yang imajinatif. Dengan cara ini, anak-anak juga akan tumbuh menjadi individu yang komunikatif.

Bacakan cerita untuk mereka. Yakinlah, anak-anak sangat senang dibacakan cerita. Tetapi ingat, sebelum membacakan cerita kepada anak, pastikan Anda sudah membaca cerita tersebut terlebih dahulu. Lagi-lagi ini adalah soal kepantasan dan kualitas sajian yang ingin kita berikan kepada anak. Kebiasaan membacakan cerita kepada anak adalah salah satu langkah mengenalkan anak kita untuk akrab dengan buku dan cinta membaca. 

Kenalkan anak pada aktivitas produktif yang melibatkan kognisi dan psikomotorik mereka. Misalnya mewarnai, menyusun balok atau puzzle, atau bermain bersama teman sebaya. Aktivitas-aktivitas ini apabila mereka menikmatinya, akan membuat mereka tidak terlalu merasa butuh menonton televisi.

Yang paling utama, awalilah dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Mulailah untuk membatasi waktu kita menonton televisi dan jika bisa, mulailah belajar untuk hidup tanpa tayangan televisi, terutama saat kita sedang bersama anak-anak kita.


#Hidup tanpa tayangan televisi itu tenang dan menyenangkan. Proved :) 

Sharing VS Collecting

I remember that my husband put some sticker on our fridge, but I just realized and made a deep thought of read it when I cleaned the fridge. It's written in it, 

-=Hidup bukanlah tentang apa yang kau miliki, tetapi apa yang bisa kau lakukan dengan apa yang kau miliki.=-

Indeed, sharing is better than collecting, by sharing you will get even more and more. InsyaALLAH fid dunya wal akhira
h. 

#Let's start our day by make a determination in our heart to share anything we have. . . Our salaam, our smile, our things, our knowledges, or anything. . . 

Belanja Buku Sepanjang Desember 2013


As a woman, ada masa dalam kehidupanku ketika aku pengennya beli macam-macam baju.... But sekitar setahun ini, not anymore dan semoga tak terulang lagi. Memutuskan menjadi pelaku homeschooling alhamdulillaah juga turut menambah minat baca dan kerinduan pada toko buku. Ini buku2 edisi beli Desember 2013. Belinya pake uang yang tadinya ditujukan sebagai uang sekolah Zahro dan dari keuntungan dagang kecil-kecilan (sudah lepas zakat lho, ya... hehehe). Ada yang dibeli untuk bahan ajar Zahro, ada yang dibeli untuk bahan bercerita buat Zahro, ada yang dibeli untuk referensi tulisannya mother who wanna be a writer ini, ada yang dibeli karena menjadi syarat lomba nulis, ada yang dibeli karena isinya sangat inspiratif (syarat wajib dari buku yang membuatku pengen membacanya), dan ada juga yang dibeli karena bukunya best seller. #Yang nyengir paling depan tidak dibeli lho... 

Lagu Bangun Tidur Yang Ada Sholat Subuhnya

Zaman Zahro masih 2 years old, hehehe. . .
Setiap Zahro bangun pagi, urut-urutan komunikasi saya dengannya biasanya seperti ini:
1. Mengajaknya berdo'a bangun tidur.
2. Memintanya buang air kecil dan berwudhu.
3. Mengajaknya sholat Subuh berjama'ah (kalau dia bangun sebelum atau pas azan Subuh) atau memintanya sholat Subuh (jika dia bangun setelah saya selesai sholat Subuh).

Hari ini dia bangun setelah saya selesai sholat Subuh. Setelah urut-urutan itu disampaikan, dia berkomentar begini,  "Mi, Kakak tahu lagu Bangun tidur. Tapi di lagunya ga ada disuruh sholat Subuh." Hahaha. . .

Coba kita simak. Lagu bangun tidur itu isinya begini:
Bangun tidur 'ku terus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi kutolong Ibu
Membersihkan tempat tidurku.

Waaah. . . Lagunya mesti diganti nih.  Jadi begini:
Bangun tidur 'ku baca doa
Lalu aku mengambil wudhu.
Habis wudhu 'ku sholat Subuh
Tidak lupa membantu Ibu (yang ini dari Zahro kalimatnya, hehehe. . .)

Selamat berhari Ahad. . . Happy family time ^^

Bagaimana Berkomunikasi dengan Anak Usia Dini?

Gambar diperoleh dari http://www.exclusivechildcare.com
Anak usia dini biasanya mau berkomunikasi bila mereka merasa aman dan nyaman dengan suasana dan teman bicaranya. Berikut tips sederhana untuk berkomunikasi dengan anak usia dini:
1. Tunjukkan penerimaan Anda yang sempurna terhadap anak. Caranya, tunjukkan antusiasme yang besar saat anak berbicara. Tampilkan sikap tubuh yang positif dan apresiasi apapun yang disampaikan anak. Dengan cara itu, anak akan merasa bahwa apapun yang ia sampaikan dihargai, dan rasa percaya dirinya untuk berkomunikasi akan semakin berkembang.
2. Dengarkan yang disampaikan anak dengan serius. Tinggalkan dulu aktivitas Anda. Anak tahu bahwa dia tidak diperhatikan 100% jika Anda mengatakan bahwa Anda mendengarkannya tetapi Anda sambil memandang layar handphone atau memencet-mencet tombol hp Anda. Untuk membuat komunikasi terus berjalan, ajukan pertanyaan terbuka kepada anak, misalnya: Lalu? Trus gimana? Habis itu? 
3. Jangan lupakan kontak mata. Ini adalah bagian yang sangat penting dalam berkomunikasi dengana anak. Tubuh Anda jelas jauh lebih tinggi daripada anak. Karena itu, jangan buat anak Anda terpaksa mendongakkan kepalanya ketika berbicara dengan Anda, tetapi sejajarkanlah tubuh Anda dengan anak agar ia juga mudah memandang Anda.
4. Gunakan kata-kata yang sopan kepada anak, maka mereka juga akan terbiasa berkata sopan. Menggunakan kata-kata seperti tolong, maaf , terima kasih tidak hanya akan membuat mereka sopan tapi juga akan membuat mereka merasa dihargai.
5. Selalu gunakan kata-kata yang memotivasi mereka. Jangan pernah memutus semangat anak dengan mengatakan bahwa mereka tidak mampu/tidak bisa melakukan sesuatu. Selalu katakan bahwa Anda yakin bahwa insyaALLAH dia pasti bisa.

Komunikasi yang baik dan efektif pada anak usia dini insyaALLAH akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara verbal, komunikatif dan percaya diri. 

Selamat mencoba. . . :)

Sandwich Apa Adanya

Ini sandwich memang apa adanya. . . karena dibuat setelah melihat apa yang ada di dapur dan di kulkas, hahaha. . .


Di dapur ada roti tawar kupas (tinggal 3 slices)
Ada chili sauce

Di kulkas, 
ada telur (tinggal 2 butir)
keju slice (tinggal 2 slices)
tomat (tinggal satu buah)
timun (baru dibeli kalo ini)
mayonaise (hampir kadaluwarsa booo', kekeke. . .)

Jadi demi memanfaatkan apa yang ada dibuatlah sandwich tersebut.

Rasanya. . . ga kalah deh sama resto punya, hehehe. . .

My Dream & The Background

Hidup di perantauan sejak sekolah menengah menyebabkan saya beroleh kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang budaya dan keluarga yang berbeda-beda. Ketika di sekolah menengah kepekaan itu barangkali belum terasah, karena saya pun masih remaja. Memang kerap terbetik rasa penasaran dan terajukan pertanyaan “mengapa begitu?” ketika saya menemukan perilaku yang bersumber dari kegalauan masa remaja pada teman-teman saya. Sampai kemudian perilaku yang semakin beragam saya temukan saat menapaki jenjang perkuliahan. Saya gemar mengamati dan menelaah perilaku orang-orang di sekitar saya. Saya renungkan mengapa seseorang menyikapi suatu hal dengan suatu cara, sementara orang lain menyikapi hal yang sama dengan cara yang berbeda. Saya pun melakukan pengamatan terhadap diri saya sendiri. Ketika saya bersikap terhadap sesuatu, mengambil keputusan atas sesuatu, apa hal terbesar yang mempengaruhi saya.

Pengamatan saya terhadap diri sendiri akhirnya sampai pada satu kesimpulan, bahwa nilai-nilai yang saya dapatkan dari orangtua, yang saya bawa dari keluarga, itulah yang sangat besar mempengaruhi sikap-sikap saya. Maka menurut saya hal yang sama berlaku bagi setiap orang. Dan sejak saat itu pula rasanya saya menemukan pada bidang apa saya ingin berkontribusi sebagai manusia, yakni pengasuhan.

Masa senggang kuliah dulu kerap saya habiskan di perempatan jalan dan stasiun kereta api; demi mengasah empati saya atas bocah-bocah cilik yang semestinya bermain-main di TK namun terpaksa menghabiskan harinya dengan menadahkan gelas bekas air mineral demi seratus-dua ratus rupiah. Bahkan ada di antara mereka yang sering saya temani sejak masih bayi, dimandikan sang ibu setiap sore di selokan besar dekat kampus, kini sudah beranjak remaja dan tetap menghabiskan hari-harinya di perempatan lampu jalan.

Memang, tangan saya terlampau kecil untuk resah saya yang besar. Karena itu, tangan kecil ini hanya bisa berharap dapat memberi sedikit kemanfaatan pada ummat dengan hal kecil dan sederhana yang mampu dilakukannya. Therefore everyone, just feel free if you want to consult about parenting or children education. Maybe I can help you by my educational background. For now, I have a dream to contribute something to parents and children by writing books. I’m still a newbie in this area. But I hope ALLAH will help me to make somethin’ good.


Cheer Up! ^^