Senin, 09 Februari 2015

Learning, We Can Make It Simple

Saya mafhum, salah satu sumber kerisauan orangtua yang berminat menjadi praktisi homeschooling adalah kurikulum, jadwal belajar, dan materi pelajaran. Kami pun pernah mengalaminya. Rasa bahwa anak harus belajar sesuatu yang jelas setiap hari. Anggapan diri bahwa anak baru dinamakan berlajar jika dia duduk dengan kertas dan pulpen/pensil ada di depannya. Hal-hal semacam itu.

Saya baru merasa tenang setelah dikuatkan, bahwa homeschooling bukanlah memindahkah sekolahan ke rumah. Jadwal pelajaran kita tidak harus sesaklek jadwal pelajaran di sekolah. Demikian pula materi pelajarannya, kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak saja. Apalagi jika anak masih berusia dini, kita hanya perlu berpegang teguh pada prinsip learning by playing, lalu merancang kegiatan yang seru dengan prinsip itu.

Kadangkala, ide beraktivitas seru itu bisa datang tiba-tiba. Asalkan kita sudah punya mindset, bahwa kita bisa memetik pelajaran dari mana saja dan bisa belajar dari aktivitas apa saja. Insya Allah, ide-ide segar akan muncul seolah-olah begitu saja, tuing. . . tuing, hehehe. . .

Gambar di bawah ini salah satunya, aktivitas belajar yang bermula dari ketidaksengajaan.



Awalnya, anak saya sedang membolak-balik kisah-kisah moral berbahasa Inggris. Lantas dia membacanya sesuka hatinya. Tentu saja terdengar lucu jadinya. Saya sampai terbahak-bahak dibuatnya. Lalu saya memintanya membaca satu cerita utuh, sembari saya membenarkan pengucapan setiap kata yang dia baca. Ternyata dia sangat senang dengan pengalaman baru itu, bahwa dalam bahasa Inggris, tidak semua kata dibaca sesuai dengan yang tertulis.

Kemudian saya bertanya pada anak saya apakah dia ingin tahu apa sebenarnya isi cerita itu? Dan dia ingin mengetahuinya. Lalu saya maknai cerita itu.  Secara garis besar, cerita itu tentang rasa bersyukur dan berterima kasih. Lantas saya minta anak saya mengulangi pemaknaan yang saya sampaikan. Kemudian makna cerita itu kami diskusikan bersama. Nah, bisa dilihat kan, dari sesuatu yang sederhana bahkan tak sengaja, berapa banyak hal yang telah kami pelajari?

Mengambil inspirasi dari pelafalan kata bahasa Inggris, saya berinisiatif mengenalkan bentuk tertulis angka dalam bahasa Inggris pada anak saya. Sejauh ini, anak saya sudah tahu melafalkan one to ten, tapi dia belum tahu bagaimana sebenarnya lafal itu dalam bentuk tulis. Maka jadilah orat-oret di gambar yang saya lampirkan di atas. Dari orat-oret sederhana itu kami bermain kuis. Mulai dari melafalkan urut one to ten sampai saya bertanya acak, misal "Bahasa Inggris delapan?", "Lima?" "Empat?", dan seterusnya. Alhamdulillah dalam satu sesi bermain dia sudah mulai bisa melafalkan angka berbahasa Inggris dengan stimulus acak. 

So, demikianlah kira-kira contoh menyederhanakan bentuk belajar dan menemukan materi belajar yang menarik dan menyenangkan untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan kita menemukan cara-cara belajar seru dan menyenangkan lainnya. Happy learning. ^^

Zahro's HS Journal
Djogdja, 09022015
~eMJe~

Selasa, 03 Februari 2015

"Nggak Boleh Beli Pakai Uang Orang Lain": Sebuah Pendidikan Karakter

gambar diambil dari: http://shapreschool.org/
Kini, kata homeschooling terdengar sangat seksi dan menarik perhatian para orangtua. Tidak hanya
orangtua yang memiliki anak-anak usia sekolah, tetapi juga orangtua yang memiliki anak usia bayi, batita dan balita. Banyak yang bertanya kepada saya tentang apa yang sebaiknya diajarkan kepada anak usia dini mereka, bahkan menanyakan kurikulum apa yang bisa disusun untuk anak-anak yang masih berusia setahun-dua tahun.

Selalu saya katakan, jawabannya adalah TAUHID, AKHLAQ, & ADAB. Pendidikan tauhid akan menjadikan anak-anak kita mengenal penciptanya, pemiliknya, pemberi segala kesenangan dan kebahagiannya. Dia akan pandai bersyukur, mampu mengikat makna atas penciptaan semesta. Lanjutannya dia akan mengenal dan akrab dengan ibadah. Pendidikan akhlaq akan menjadikan anak-anak kita sosok-sosok yang cerdas secara sosial, mapan dalam bergaul, berkarakter. Pendidikan adab akan mengenalkannya kepada sunnah, manner sebagai seorang muslim/ah. Bagaimana seorang muslim/ah makan dan minum, tidur, berpakaian, keluar rumah, naik kendaraan, masuk dan keluar kamar mandi, sangat penting dan mendasar. Itulah yang terpenting untuk ditanamkan kepada anak-anak kita. Stimulasi lainnya? Cukup dengan bermain, karena dengan bermainlah anak usia dini belajar sesuatu.

Pendidikan nilai yang kita tanamkan kepada anak akan terbukti jika anak kita berinteraksi dengan orang lain. Pengalaman kami baru-baru ini menjadi buktinya. Suatu hari saya meminta tolong dibelikan sesuatu kepada asisten rumah tangga kami ke warung dekat rumah. Anak saya meminta ikut menemani. Saya ijinkan. Setiba di rumah, dia menunjukkan sebungkus cokelat dengan sumringah. Sebenarnya nilai cokelat itu tidaklah seberapa, tetapi bukan di situ poin pentingnya. Yang utama adalah, dia hanya meminta ijin untuk menemani, tidak meminta ijin untuk dibelikan apa-apa. Saat itu saya sadari, ada pendidikan nilai (baru) yang harus saya tanamkan kepadanya.

Saya tidak mengijinkan anak saya memakan cokelat itu. Saya tegaskan kepadanya bahwa saat meminta ijin, dia hanya meminta ijin untuk menemani, maka dia harus menepatinya. Anak saya tampak kaget dengan reaksi saya. Tetapi dia tidak mengajukan reasoning apapun.
Dengan wajah sedih dia bertanya, "Lalu permennya?"
"Silakan kakak sedekahkan," jawab saya.
Akhirnya permen itu dia berikan kepada asisten rumah tangga kami (yang mempunyai anak usia 5 tahun). Saya lantas mengajak anak saya ke kamar, seperti biasa, mendiskusikan pengalaman baru kami. Saya sampaikan kepadanya, bukan permennya yang menjadi bagian dari pembelajaran kali ini, sebab seandainya tadi dia meminta ijin untuk dibelikan sesuatu, insya Allah saya pasti mengijinkan.

Sebenarnya saat itu bisa saja saya menoleransi, "Ah, cuma cokelat kecil saja, harganya tak seberapa." Tetapi bisa jadi ada konsekuensi besar dari toleransi saya, anak saya akan terbiasa meminta dibelikan ini-itu kepada siapa saja yang mengajaknya ke warung, swalayan, atau lokasi belanja mana saja.

Dan benar, beberapa hari setelah kejadian tersebut, adik ipar saya mengajak anak saya (dan anaknya) pergi ke sebuah swalayan. Sepulang dari sana, adik ipar saya bercerita bahwa ketika dia menawarkan ini-itu kepada anak saya, dia menjawab, "Enggak usah, nggak boleh beli-beli pakai uang orang lain." Rasanya saya ingin menangis sambil tertawa mendengar cerita adik ipar saya. Demikian apa adanya anak saya menangkap makna dari pesan saya tentang menepati ijin, sampai-sampai omnya sendiri dia anggap "orang lain." Tetapi saya bersyukur, ada sebuah nilai (lagi) yang tertanam di dirinya.

Sungguh, sang pendidik bukanlah kita (orangtua). Anak-anak kitalah yang senantiasa menghadirkan pembelajaran baru bagi kita, untuk terus berusaha menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Wallahua'alam.


Djogdja, 03022015
~eMJe~







Mengapa Saya Harus Menulis?


Belakangan ini, kegiatan menulis semakin diminati masyarakat. Tak hanya mereka yang bergelut di dunia sastra dan bahasa, minat menulis juga merambah ke beragam profesi lainnya, bahkan ibu rumah tangga. Tak hanya orang dewasa, kesempatan menulis di penerbit besar juga terbuka bagi anak-anak. Sekarang, profesi penulis seolah memiliki prestise tersendiri. Orang-orang bangga jika di profil pribadi akun sosial medianya tertulis indah, profesi: penulis.


Mengapa Kita Harus Menulis?
Ada banyak alasan yang membuat kita pantas menjadikan menulis sebagai bagian dari aktivitas kita.
  • Menulis itu mengekalkan pengalaman, dan membuat yang biasa tampak istimewa. Setiap kejadian yang kita alami, semua pemandangan yang kita lihat, orang-orang yang kita temui. Hal-hal yang tampaknya biasa kita lihat sehari-hari akan menjadi seni yang indah apabila kita tuturkan dalam tulisan, seolah-olah semuanya baru pertama kali kita lihat.
  • Menulis akan membuat nama kita hidup lebih lama. Jika secara fisik kita tidak bisa hidup selamanya, bukankah boleh saja jika kenangan kita hidup lebih lama? Karya tulis adalah salah satu cara merealisasikannya. 
  • Dengan menulis, kita memberikan sesuatu untuk dunia. Konsumsi masyarakat dunia saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah dunia, baik konsumsi makanan, hiburan, hingga informasi. Menulis bisa menjadikan kita mengurangi konsumsi kita, dan sebaliknya kita “membuat” sesuatu, lalu membaginya pada dunia.
  • Kita menulis untuk mengikat makna dan memberi makna. V. Frankl, seorang psikiater mengatakan bahwa pencarian utama manusia bukanlah kesenangan atau kebahagiaan, melainkan makna hidup, menulis adalah sarana bagi individu untuk menemukan makna bagi diri sendiri dan membantu orang lain menemukan makna.

Setiap orang pasti punya alasan pribadi yang unik ketika mereka memutuskan untuk menulis, diantaranya:
  • menyalurkan hobi, 
  • berbagi ilmu dan pengalaman pada sesama/aktualisasi diri,
  • berdakwah,
  • mengisi waktu luang dengan kegiatan positif,
  • releasing stress (mengurangi beban pikiran)
  • beropini dan menyalurkan imajinasi,
  • murah-meriah, nggak butuh banyak modal, suka-suka kapan melakukannya,
  • bisa menambah penghasilan ibu-ibu.
  • sebagai profesi. 
Dian Kristiani dalam bukunya Momwriter’s Diary menyatakan bahwa sejak memutuskan untuk total di dunia tulis menulis, beliau ingin menjadi professional, mengandalkan menulis sebagai mesin pencari nafkah. Bagaimana dengan Anda?

Minat VS Bakat
Apakah Anda berminat menjadi menulis? Sudahkah Anda mulai menulis? Ada banyak alasan seseorang “belum” juga mulai menulis, sekalipun ia sangat berminat. Salah satu yang sering dijadikan kambing hitam adalah bakat.
“Aku nggak bakat nulis, nggak mungkin jadi penulis.”
“Di keluarga guwe nggak mengalir darah penulis.”
“Pengen banget nulis, tapi. . . bla. . . bla. . . bla. . .”
Bakat merupakan suatu potensi atau kemampuan khusus dan lebih dominan dimiliki seseorang, yang dapat berkembang melalui proses latihan dan pendidikan intensif. Tetapi bakat hanya menyumbang 1% terhadap keberhasilan, sedang 99% adalah sumbangan minat, latihan, usaha, kerja keras, dan pengalaman.

Untuk menjadi seorang penulis, sesungguhnya tidak dibutuhkan bakat khusus. Setiap orang, bisa menulis. Apa pun latar belakangnya. Bukankah setiap kita adalah pencerita? Bukankah setiap hari, setiap waktu, misal ketika kita ketemu teman, saudara, kakak, adik, orangtua, kita pasti berbincang yang sesungguhnya sebagian besar isinya adalah cerita? Artinya, setiap kita sesungguhnya adalah pencerita. Hanya saja kita ditantang untuk menuangkan cerita kita tidak hanya secara lisan, melainkan tulisan.

Iwok Abqary mengatakan bahwa sebenarnya ketika seseorang sudah tertarik untuk belajar menulis, itu adalah modal yang cukup untuk memulai. Masalahnya, apakah modal tersebut bisa ditindaklanjuti dengan proses belajar yang konsisten atau tidak. Jika belajar menulis hanya sekedar iseng, atau tidak diseriusi dengan kegigihan untuk maju, hasilnya pun tidak akan maksimal. Orang yang mau belajar dan ingin berhasil pasti akan gigih, mencari tahu banyak hal, banyak membaca referensi, banyak bertanya pada penulis lainnya. Banyak faktor penting selain bakat yang dapat mendukung kemampuan seseorang menghasilkan karya tulis. Faktor penting apa yang Anda miliki?

Bagaimana Menumbuhkan dan Menjaga Motivasi Menulis?
  1. Beragam tips kepenulisan dapat kita akses dengan mudah, baik di buku, tabloid, koran, majalah, atau internet. Satu yang pasti, jika Anda ingin menjadi penulis, mulailah dengan MENULIS. Tulislah apapun yang bisa Anda tulis. Ketika Anda berkata pada diri sendiri bahwa Anda tidak tahu harus menulis apa, tulislah tentang ketidaktahuan itu. Itu saja telah membuat Anda memulai proses membiasakan diri menulis sesuatu. Sebab menulis adalah sebuah keterampilan, maka harus dilatih dengan cara rajin menulis.
  2. Setelah terbiasa menulis, rajin-rajinlah membaca dan menyerap ilmu pengetahuan dari mana saja. Seseorang yang cinta membaca belum tentu berminat menulis, tetapi seseorang yang berminat menulis, maka harus banyak membaca.
  3. Sekadar menulis sebenarnya gampang. Lihat saja betapa mudahnya kita menulis status di wall facebook atau berkicau di linimasa twitter. Tetapi menulis yang baik dan benar, tentu tidak gampang. Kita memerlukan amunisi untuk memperbaiki kualitas tulisan kita, misal dengan mengikuti kelas-kelas kepenulisan, baik online maupun offline.
  4. Cari tahu bidang apa yang Anda minati. Ciri bahwa suatu bidang kita minati adalah rasa ingin tahu yang selalu muncul setiap kali membaca atau berinteraksi dengan bidang tersebut. Dalamilah bidang itu.
  5. Biasakan menulis setiap hari. Buat target pribadi, dengan jam atau jumlah halaman. Bambang Irwanto menargetkan menulis satu cerpen setiap hari, demikian pula Dian Kristiani. Ada juga penulis yang menargetkan menulis 2-5 halaman setiap hari. Hitung saja, dengan konsistensi demikian Bambang Irwanto dan Dian Kristiani telah memiliki stok sekitar 30 cerita setiap bulan. Demikian pula penulis dengan target halaman, mereka menghasilkan 60-100 halaman setiap bulan. Jumlah itu telah layak untuk dijadikan sebuah buku.
  6. Rajin-rajinlah ke toko buku. Bayangkan betapa bahagianya jika di antara ratusan ribu buku di toko itu,buku yang Anda tulis terpajang di sana. Bayangkan ketika Anda menulis nama dan judul buku Anda di komputer pencari dan nama Anda keluar di daftar yang ready stock. Anda juga bisa menemukan inspirasi menulis dengan rajin berkunjung ke toko buku.
  7. Tidak perlu sempurna untuk yang pertama. Hampir semua penulis yang saya kenal mengatakan tulislah apapun yang ada di benak Anda tanpa perlu memikirkan benar-salah, perkara diksi, bahkan tanda baca. Setelah itu endapkan tulisan Anda beberapa hari, lalu baca kembali. Maka Anda akan membacanya dengan pandangan baru dan dapat melakukan swasunting ­(self-editing).
  8. Berikan penghargaan pada diri sendiri jika usaha Anda dalam dunia tulis menulis menghasilkan, misal tulisan Anda dimuat di media atau naskah Anda dilirik penerbit.
  9. Jadikan berbagai kesulitan dalam menulis sebagai tantangan, bukan hambatan. Kritik adalah anak tangga menuju kesuksesan, guru terbaik untuk menyempurnakan tulisan kita.
  10. Jalinlah hubungan baik dengan berbagai pihak yang dapat mendukung minat menulis, misal orang-orang yang terlibat di dunia penerbitan buku. Anda juga bisa bergabung dengan komunitas-komunitas kepenulisan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhhu, dia mengatakan:

“ Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi SAW yang memiliki hadits lebih banyak daripadaku, kecuali apa yang ada pada ‘Abdullah bin ‘Amr, karena sesungguhnya dia menulis, sementara aku tidak menulis.”

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Termasuk kebodohan jika kamu memburu kijang, 
setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.
(Imam Syafi’I rahmatullahu’alaih)


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.“
(Pramoedya Ananta Toer)





Referensi:
Akhiles, E. 2013. Silabus Menulis Fiksi dan Nonfiksi. Jogjakarta: Diva Press.
Khalida, P & Mastuti, I. 2012. Bukan Buku Best Seller. Jogjakarta: Pena Matahari.
Kristiani, D. 2014. Momwriter’s Diary. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.



Internet
“Motivasi Menulis”
http://menuliskreatif.com/2013/11/belajar-menulis-dengan-menulis/

“Why We Write: Four Reasons”
http://thewritepractice.com/why-we-write/

“Make Time to Write: 10 Tips for Daily Writing”
http://www.writersdigest.com/tip-of-the-day/make-time-to-write-10-tips-for-daily-writing



*Miftahul Jannah, M.Psi., Psi. adalah seorang psikolog pendidikan, praktisi homeschooling, peminat parenting, dan penulis bacaan anak, khususnya buku-buku aktivitas untuk anak usia dini.

Minggu, 25 Januari 2015

Pengasuhan, Ibarat Menjaga Permata Titipan

Apabila seseorang yang begitu mulia dan sangat Anda hormati datang kepada Anda lalu berkata, "Kutitipkan padamu permata. Tolong kau jaga baik-baik. Suatu hari nanti akan kuambil kembali permata ini." Kira-kira, apakah Anda akan sungguh-sungguh menjaga permata titipan itu? Tentu saja, bukan? Sudahlah itu permata, yang menitipkan seseorang yang mulia dan sangat Anda hormati lagi. Mana mungkin Anda sembarangan dan seenak hati memperlakukan permata itu. Saya yakin Anda pasti akan menyimpannya di tempat yang istimewa dan memperlakukannya secara istimewa pula. Membalutnya dengan kain yang lembut, menempatkannya di tempat yang indah.

Sebenarnya, yang saya ibaratkan dengan permata tadi adalah anak-anak kita. Kita semua mengakui bukan bahwa anak-anak kita merupakan titipan ALLAH Ta'ala? Mereka bukan milik kita, melainkan milik ALLAH Ta'ala. Dialah ALLAH Ta'ala, Raja segala Raja, Pencipta segala sesuatu. Tidak ada satu tetes air pun turun ke bumi tanpa ijin-Nya. Tidak ada satu helai daun pun yang gugur tanpa pengetahuan-Nya. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemelihara, Maha Segalanya. ALLAH, dengan segala kebaikannya telah menitipkan penyejuk mata, penghangat qalbu, ke rumah-rumah kita. Suatu hari nanti, DIA akan bertanya bagaimana kita memperlakukan apa yang DIA titipkan kepada kita.

Semoga ALLAH beri kita kemampuan untuk menjaga dan merawat amanah dari-Nya. Jangan sampai pada saatnya nanti kita dituntut oleh anak-anak kita, karena mereka merasa tidak kita perlakukan dengan layak, sebagaimana harusnya sebuah permata diperlakukan dengan baik.
Wallahua'alam. . .


Djogdja, 25 Januari 2015
~eMJe~

The Second Step of Our Home Education

Finally, tahun ini puteri kami akan bersua dengan usianya yang ke-7. Usia umum anak-anak di negeri kita memasuki gerbang baru jenjang pendidikan mereka, yaitu sekolah dasar. Setahun lebih yang lalu, ketika keluarga kami memutuskan untuk menjadi bagian dari pelaku homeschooling di negeri ini, kami tidak tahu akan sampai kapan akan melakukannya.

Waktu bergulir, setahun berlalu, enam tahun usia anak kami telah lebih setengah. Dia sudah percaya diri menjawab, "Aku homeschooling" jika ada yang bertanya dia sekolah di mana. Tetapi, sehari-hari dia melihat anak-anak tetangga berkemeja putih dan rok merah berangkat sekolah, mencangklong tas di bahu mereka. Sering saya bertanya, "Kakak pengen sekolah?" yang selalu dia jawab dengan, "Kakak suka homeschooling, tapi pengen ada temannya." Memang banyak teman-teman saya yang ingin menitipkan anak-anak mereka untuk belajar bersama kami. Tetapi selalu saya tegaskan, homeschooling menuntut keterlibatan langsung dari orangtua.

Akhir November 2014, sebelum suami saya berangkat ke Korea Selatan, kami bermusyawarah. Kami tawarkan kembali kepada ananda apakah dia ingin melanjutkan homeschooling atau masuk ke sekolah formal. Ketika itu dia menjawab,  "Kalau homeschooling nggak ada temannya kakak mau sekolah aja." Akhirnya, kami sampai pada kesepakatan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah formal tahun ajaran baru nanti.

Awal Januari 2015, saya ajak ananda untuk survey ke beberapa sekolah dasar. Ada dua sekolah yang dia minati. Pilihan akhirnya jatuh pada salah satu sekolah islam terpadu yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah kami. Di jeda waktu menunggu panggilan sekolah untuk observasi anak, saya mendapat undangan pertemuan dari Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN). Memang, sekalipun saya banyak masuk ke group-group homeschooling yang ada di facebook, tapi kami belum pernah sekalipun mengikuti aktivitas bersama karena seringkali tidak memungkinkan bagi kami mengikutinya (misal acara berupa camp).

Di pertemuan HSMN itu, alhamdulillah anak kami bertemu dengan seorang ananda shalihah yang seusia dia, Hazimah namanya. Saat itu juga mereka berteman. Tak menunda-nunda, saya dan ibunda Hazimah sepakat untuk bergerak bersama. Sejak itu, anak-anak kami bertemu tiga kali dalam sepekan, dua hari belajar apa saja (tahsin, bahasa, menggambar, mewarnai, menggunting, dll) dan satu hari belajar renang.

Dan. . . masya Allah dampaknya bagi ananda kami. Dia katakan kepada saya, "Mi, kakak mau homeschooling aja seterusnya." Pernyataan inilah sebenarnya yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Tetapi masa depannya adalah miliknya, karena itu dia berhak menentukan di mana dan bagaimana dia ingin dididik. Kami sebagai orangtua hanya fasilitator saja.

Dan, inilah saya. Saya tetap menguji kesungguhannya. Saya tanya lagi, lagi, dan lagi tentang pilihannya, yang dengan tegas selalu dia jawab, "Kakak mau homeschooling aja." Saya katakan kepadanya, jika dia sudah memilih, maka dia harus bertanggungjawab pada pilihannya. Dia juga yang harus menyampaikan kepada eyang kakung dan eyang putrinya mengenai pilihan pendidikannya. Semuanya dia jawab dengan, "Iya."

Segera saya sampaikan keputusan ananda kepada suami, yang beliau sambut dengan hamdalah.

Bismillaah. . . semoga ALLAH mudahkan kami menjalaninya, the second step of our home education.

Djogdja, 25 Januari 2015
~eMJe~




Rabu, 14 Januari 2015

Orangtua yang baik adalah...

Apakah orangtua yang baik adalah yang sempurna pengasuhannya? Tidak pernah melakukan kesalahan dalam mengasuh anak-anak mereka? Kenyataannya, dari sekian banyak kelas pengasuhan yang saya ikuti, pembicaranya adalah mereka yang pernah melakukan kesalahan dalam pengasuhannya. Sejumlah orangtua menakjubkan yang saya kenal juga pernah melakukan kesalahan dalam praktik parenting mereka. Tetapi, mereka merefleksi diri dari kesalahan itu dan memperbaiki kualitas pengasuhan mereka. Itulah menurut saya yang membuat mereka menjadi orangtua yang baik.

Seorang sahabat saya mengaku begitu asyik dengan gadget padahal batitanya ada di sebelahnya. Dia melakukan kesalahan tidak hadir secara utuh saat menemani batitanya bermain. Suatu hari gadget itu terjatuh ke selokan, dan dia meyakini bahwa itu adalah cara Allah menegurnya untuk memperbaiki pengasuhannya. Sekarang, dia selalu hadir seutuhnya saat menemani batitanya bermain.

Salah seorang pakar parenting yang pernah saya ikuti kelasnya mengatakan bahwa mulanya dia adalah seseorang yang mudah marah kepada anak-anaknya. Akibatnya, anak-anaknya menjadi anak-anak yang juga mudah marah. Belajar dari kesalahan itu beliau memperbaiki diri dan kualitas pengasuhannya. Itulah yang menjadi modal beliau berbagi dan akhirnya menjadi pakar pengasuhan.

Artinya, siapapun mungkin, boleh, bahkan pasti pernah melakukan kesalahan dalam praktik pengasuhan. Yang menjadikan kita orangtua yang baik atau tidak adalah apakah kita bersedia berubah dan memperbaiki diri setelah mengetahui kesalahan pengasuhan yang kita lakukan. 

Yuk, terus evaluasi kualitas pengasuhan kita. Observasi diri sendiri dan baca perilaku anak. Sebab, apapun praktik pengasuhan yang kita lakukan, hasilnya dapat kita baca dari perilaku anak. Semoga Allah beri kita taufik untuk senantiasa belajar menjadi orangtua yang baik. Aamiin. . .




Djogdja, 13 Januari 2015
~eMJe~


Selasa, 06 Januari 2015

Idealis Penyelaras

Ada apa denganku? Hehehe. . . Entahlah. Mungkin kebanyakan mikir yang nggak penting. Maklum, punya hobi observasi diri sendiri. Aku, ngerasa bahwa aku sekarang bukan aku dengan karakaterku yang dulu. Ada yang berubah dariku, bahkan aku sendiri merasakannya. Proses berpikirku, caraku menilai sesuatu, reaksiku terhadap sesuatu, tak sama lagi. Dan hari ini aku makin makin makin memikirkan perubahan itu. Jadilah aku duduk di sini, meja kerja yang sudah sebulan kutinggal liburan. Hei, kemarin aku memberi pemandangan baru untuknya, wall stiker berbunga pink berteman menara pisa dan eiffel dan bertuliskan Bonjour Paris. Yeah, moga-moga makin nambah inspirasi menulis, hahaha. . . Eh, ada couples juga di wall stiker itu. Hwaa. . . jadi rindu suamiku.

Jadi. . . aku duduk di sini, menyalakan notebook merahku, lalu ingat bahwa aku harus beli snack buat kopdar Paberland di rumah siang nanti. Ditinggal lagi deh si meja. Balik-balik, kubukalah mbah gugel, kuketik kata kunci yang melintasi di pikiranku: menghindari konflik, lebih menyukai kerja individu. Yah, dua hal yang paling kurasakan saat ini. Hasil searchingku mengantarku ke tes kepribadian MBTI. Kubaca cepat, menelaah diri, dan mencapai hasil yang menurutku paling sesuai dengan keadaanku saat ini. Inilah personality-ku saat ini, and 100% I agree with the analysis, hahaha. . . Syukurlah ngga ada yang salah dengan gado-gado pemikiran dan perasaanku, karena memang itulah tipe kepribadianku. Ngga ada yang salah juga dengan hobiku mengobservasi/membaca karakter orang lain, karena memang itulah ciri kepribadianku. Ngga ada yang salah dengan kebiasaanku mencurahkan pemikiran dan perasaanku hanya pada sedikit orang yang kupercaya. Benar banget bahwa aku sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tepat sekali aku lebih menyukai hubungan yang harmonis dan tidak senang konflik. And yes, aku berani mengerahkan seluruh tekad dan cenderung keras kepala untuk mencapai target yang penting buatku. Dan yang lainnya. . . dan yang lainnya... indeed, that's I am. :D :D :D


INFJ : Introvert, Intuitif, Perasa, Penilai
Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.




Ingin tahu hasil MBTI-mu? Silakan ke sini: https://penyala.wordpress.com/2012/04/21/test-kepribadian-mbti/